Anda di halaman 1dari 23

MUAL DAN MUNTAH

FARMAKOLOGI I
Oleh
apt. Fitra Fauziah, M.Farm
STIFARM PADANG
Definisi
Mual (nausea) adalah sensasi subyektif yang tidak
menyenangkan dengan perasaan ingin muntah (retching).
Muntah (emesis/ vomiting) adalah suatu gerakan ekspulsi
yang kuat dari isi lambung dan gastrointestinal melalui mulut.
Muntah merupakan hasil dari sebuah refleks yang kompleks
dan kombinasi dari sistem saraf otonom (simpatis dan para
simpatis) dan sistem saraf motorik dengan eferen berasal dari
pusat muntah yang diteruskan ke nervus vagus dan neuron
motorik yang dipersarafi otot-otot intraabdominal.
Etiologi

Muntah diakibatkan oleh stimulasi dari pusat muntah di


sumsum-sambung (medulla oblongata) dan berlangsung
menurut beberapa mekanisme, yaitu:

Akibat rangsangan
langsung dari saluran
cerna Melalui kulit otak
(cortex cerebri) Secara tak
langsung melalui
CTZ
Penyebab-penyebab Penginduksi Pusat
Muntah
Patofisiologi

Terdapat 3 fase emesis, yaitu:

Vomiting atau muntah,


Nausea, berupa Retcing, yaitu gerakan
yaitu pengeluaran isi
kebutuhan untuk yang diusahakan otot
lambung yang disebabkan
segera muntah atau perut dan dada
oleh retroperistaltis
mual sebelum muntah
gastrointestinal
CTZ Terjadi
rangsanga
Adanya Pusat n ke pusat
rangsangan pengatur saliva, Mual-
Korteks
impuls muntah di pusat muntah
serebral
afferent medulla pernafasan
faringeal,
Viseral saluran
afferent cerna, dan
otot perut.
Proses Terjadinya Mual-Muntah
Manifestasi Klinik

• Mual muntah sederhana


Muncul kadang-kadang, terjadi gangguan ketidakseimbangan
cairan elektrolit, bukan disebabkan oleh pemberian atau
penggunaan zat-zat berbahaya.
• Mual muntah kompleks
Muncul lebih sering, tidak dapat diatasi oleh terapi tunggal
emesis, disebabkan oleh zat-zat yang berbahaya dan keadaan
yang psikogenik.
Tujuan Terapi

Untuk mencegah atau menghilangkan mual dan muntah,


dan seharusnya tanpa timbulnya efek yang tidak dikehendaki
secara klinis pada pasien.
Penata Laksanaan
• Terapi Nonfarmakologi
1. Pasien dengan keluhan sederhana, menghindari makanan
tertentu atau moderasi asupan makanan yang lebih baik.
2. Pasien dengan gejala penyakit sistemik sebaiknya
mengobati kondisi yang mendasarinya.
3. Antisispasi mual muntah pada pasien terapi kanker
dengan memberi profilaksis antiemetik.
• Terapi farmakologi
Obat-obat yang digunakan untuk terapi mual-muntah:
1. Antasida
2. Antagonis reseptor histamin
3. Antihistamin-antikolinerjik
4. Fenotiazin
5. Butirofenon
6. Kortikosteroid
7. Metoklopramid
1. Antasida
• Mekanisme kerja: menetralkan asam lambung atau
meningkatkannya (bekerja lokal pada salurancerna).
• Diberikan diantara waktu makan dan sebelum tidur, atau
ketika gejala akan muncul.
• Efek samping: Al(OH)3 menyebabkan diare, Mg(OH)3
menyebabkan konstipasi.
• Peringatan: pasien dengan gangguan ginjal
• Kotra indikasi: hipofosfatemia
• Contoh: Al(OH)3 dan atau Mg(OH)3.
• Dosis: 15-30 mL setiap 4 jam jika perlu
2. Antagonis Reseptor Histamin
• MK: mengurangi sekresi asam lambung yang distimulasi histamin
dengan memblok secara kompetitif reseptor H2 histamin.
• Peringatan: untuk pasien gangguan ginjal dan hati, dosis
dikurangi.
• Efek samping: efek samping yang kadang-kadang muncul pada
pengguanaan semua jenis antagonis reseptor H2 adalah ruam
kulit, efek samping yang dilaporkan jarang muncul adalah sakit
kepala, disfungsi hati, gangguan darah, bradikardia, bingung,
urtirian, angiodema, serta nefritis interstisial dan impotensi (pada
penggunaan simetidin).
• Contoh: simetidin, ranitidin, nizatidin, famotidin.
Dosis Lazim
• Ranitidin: 75 mg 2 x sehari (pagi dan malam)
• Simetidin 200 mg 2 x sehari (pagi dan malam)
• Famotidin 10 mg 2 x sehari
• Nizatidin 200 mg 2 x sehari
3. Antihistamin-kolinergik
• MK: obat golongan ini mengantagonis reseptor histamin
dan kolonergik yang ada pada CTZ.
• Farmakodinamik: efek perangsang histamin terhadap
sekresi cairan lambung tidak dapat dihambat oleh AH1.
• Farmakokinetik: setelah pemberian oral atau parenteral,
AH1 diabsorpsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit
setelah pemberian oral dan maksimal setelah 1-2 jam.
• Indikasi: AH1 berguna untuk pengobatan simpatomimetik
berbagai penyakit alergi dan mencegah atau mengobati
mabuk perjalanan.
• Efek samping: pada dosis terapi semua AH1 menimbulkan
efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-
kadang hilang bila pengobatan diteruskan.
• Pengobatan: pengobatan diberikan secara simpatomimetik
dan suportif karena tidak ada antidotum spesifik.
• Perhatian: sopir atau pekerja yang memerlukan
kewaspadaan yang menggunakan AH1 harus diperingatkan
tentang kemungkinan timbulnya kantuk.
Golongan dan contoh Dosis dewasa Masa kerja Aktivitas komentar
obat antikolinerjik

ANTIHISTAMIN GOLONGAN I

Etanolamin
-karbinoksamin 4-8 mg 3-4 jam +++ Sedasi ringan sampai sedang
-difenhidramin 25-50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, anti-motion sicness
-dimenhidrinat 50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, anti-motion sicness

Etilenediamin
-pirilamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang
-tripelenamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang

Piperazin
-hidroksizin 25-100 mg 6-24 jam ? Sedasi kuat
-siklizin 25-50 mg 4-6 jam - Sedasi ringan, anti-motion sicness
-meklizin 25-50 mg 12-24 jam - Sedasi ringan, anti-motion sicness

Alkilamin
-klorfeniramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan, komponen obat flu
-bromfeniramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan

Derivat fenotiazin
-prometazin 10-25 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, antiemetik

ANTIHISTAMIN GENERASI II

-asetamizol 10 mg <24 jam - Mula kerja lambat


-feksofenadin 60 mg 12-24 jam - Resiko aritmia lebih rendah
-loratadin 10 mg 24 jam - Masa kerja lebih lama
-setrizin 5-10 mg 12-24 jam
4. Fenotiazin
• MK: fenotiazin merupakan obat antipsikotik yang menimbulkan efek
farmakologi dengan mempengaruhi mekanisme dopaminergik, yaitu dengan
bekerja sebagai antagonis pada reseptor dopamin, memblok dopamin
sehingga tidak dapat berinteraksi dengan reseptor.
• Farmakodinamik: efek farmakologik klorpromazin dan antipsikosis lainnya
meliputi efek pada susunan saraf pusat, sistem otonom, dan sistem endokrin.
• Farmakokinetik: kebanyakan antipsikosis absorpsi sempurna, sebagian
diantaranya mengalami metabolisme lintas pertama.
• Efek samping: batas keamanan CPZ cukup lebar, sehingga obat ini cukup
aman.
• Contoh: klorpromazin, proklorperazin, prometazin.
• Sediaan: klorpromazin tersedia dalam bentuk tablet 25 mg dan 100 mg.
selain itu juga tersedia dalam bentuk larutan suntik 25 mg/mL.
5. Butirofenon
• Golongan Butirofenon, contoh obat: haloperidol.
• Indikasi: untuk menenangkan keadaan mania pasien psikosis
yang karena hal tertentu tidak dapat diberi fenotiazin.
• Farmakodinamik: struktur haloperidol berbeda dengan
fenotiazin, tetapi butirofenon memperlihatkan banyak sifat
fenotiazin. Pada orang normal, efek haloperidol mirip
fenotiazin piperazin.
• Farmakokinetik: haloperidol cepat diserap dari saluran cerna.
Kadar puncaknya dalam plasma tercapai dalam waktu 2-6 jam
sejak menelan obat, menetap sampai 72 jam dan masih dapat
ditemukan di dalam plasma selama berminggu-minggu.
• Efek samping: haloperidol menimbulkan reaksi
ekstrapiramidal dengan insiden yang tinggi, terutama pada
pasien muda. Haloperidol sebaiknya tidak diberikan pada
wanita hamil sampai terdapat bukti bahwa obat ini tidak
menimbulkan efek teratogenik.
• Indikasi: indikasi utama haloperidol ialah untuk psikosis.
• Sediaan: haloperidol tersedia tersedia dalam bentuk tablet
0,5 mg dan 1,5 mg. selain itu juga tersedia dalam bentuk
sirup 5 mg/ 100 mL dan ampul 5 mg/ mL.
6. Kortikosteroid
• Kortikosteroid dari korteks adrenal mempengaruhi fungsi fisiologis
termasuk metabolisme karbohidrat, protein dan lemak, keseimbangan
elektrolit dan air dan fungsi normal sistem kardiovaskular, sistem saraf,
ginjal dan otot skeletal.
• Farmakokinetik: absorpsi dari glukokortikoid seperti hidrokortison dan
analog sintesisnya cukup efektif bila diberikan per oral, karena
kortikosteroid diabsorpsi dengan baik secara oral. Obat ini juga dapat
diberikan dengan cara intravena, intramuskular, subkutan dan jalur topikal.
• Farmakodinamik: kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan
sintesis protein. Hormon memasuki sel jaringan yang responnya melalui
membran plasma secara difusi pasif kemudian bereaksi dengan reseptor
protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan membentuk kompleks
reseptor steroid.
• Efek samping: berbagai efek samping dapat ditimbulkan pada
penggunaan kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid tanpa
peringatan dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang bisa
bersifat sementara ataupun permanen yang pada level lokal
maupun sistemik. Efek samping lokal pada penggunaan
kortikosteroid biasanya terjadi pada daerah kulit, jaringan
lunak, atau daerah periatikuler di daerah injeksi. Reaksi
sistemik dari kortikosteroid terjadi pada berbagai sistem organ.
• Kontra indikasi:kortikosteroid digunakan lebih hati-hati pada
pasien dengan gangguan jantung, pasien dengan riwayat ulkus
peptikum, paisen diabetes melitus dan riwayat hipertensi.
• Contoh obat: prednisolon, prednison, metilprednisolon,
betametason,deksametason, triamsinolon.
7. Metoklopramid
• Indiksi: mual dan muntah yang disebabkan oleh obat,
muntah pada kehamilan, gangguan saluran cerna,
anoreksia, ulkus peptikum.
• Kontra indikasi: pasien epilepsi, perdarahan GI, obstruksi
atau perforasi pheochromocytoma.
• Perhatian: pasien gagal ginjal, menyusui dan hamil.
• Kategori kehamilan: B