Anda di halaman 1dari 12

KARAKTERISTIK DAN PENDIDIKAN ANAK TUNA DAKSA DAN TUNA LARAS

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK VI
KHAIRUL ARIFIN
ARDIAN
SRI PRATIWI
PENGERTIAN ANAK TUNA DAKSA

Anak tuna daksa sering disebut dengan istilah anak


cacat tubuh, cacat fisik, dan cacat ortopedi. Istilah
tuna daksa berasal dari kata tuna yang berarti rugi
atau kurang dan daksa yang berarti tubuh.

Tuna daksa adalah anak yang memiliki anggota


tubuh tidak sempurna, sedangkan istilah cacat tubuh
dan cacat fisik dimaksudkan untuk menyebut anak
cacat pada anggota tubuhnya, bukan cacat indra nya.
KLASIFIKASI ANAK TUNA DAKSA

Penggolongan anak tuna daksa bermacam-macam.


Salah satu diantaranya dilihat dari system kelainannya
yang terdiri dari:
a.   Kelainan pada system cerebral (celebral system)
b. Kelainan pada system otot dan rangka (musculus
skeletal system)
KARAKTERISTIK ANAK TUNA DAKSA

a.  Karakteristik
c. Karakteristik
b. Karakteristik fisik/kesehatan
akademik
social/emosional
Karakteristik akademik Anak tuna daksa
Anak tuna daksa biasanya selain
anak tuna daksa meliputi
menunjukkan bahwa konsep mengalami cacat tubuh 
cirri khas kecerdasan,
diri dan respon serta sikap juga mengalami
kemampuan kognisi,
masyarakat yang negative gangguan lain seperti
persepsi dan simbolisasi
terhadap anak tuna daksa sakit gigi, gangguan
mengalami kelainan karena
mengakibatkan anak tuna bicara dan gangguan
terganggunya system
daksa merasa  tidak mampu, motorik.
cerebral sehingga
tidak berguna, dan menjadi
mengalami hambatan dalam
rendah diri.
belajar dan mengurus diri.
CARA MENGATASI TUNA DAKSA
a. Mendidik anak tuna daksa/cacat tubuh di rumah sendiri 
Pada proses ini yang diutamakan pendidikan agama. Berikan latihan-
latihan yang sesuai dengan terapi fisik, terapi kerja, terapi bicara yang
diberikan oleh lembaga tempat latihan. Berikan tugas yang menuntut
tanggung jawab dan latihan disiplin seperti anak yang lain. 

b. Permainan yang dapat diikuti anak cacat tubuh. 


Untuk memenuhi kebutuhan bermain, permainan yang digu­nakan adalah
yang sesuai dengan kemampuan dan kecacatannya. Bagi anak yang cacat
tubuh dengan kecerdasannya yang normal, semua permainan dapat diikuti
asal tidak memerlukan ketangkasan anggota tubuh. Bagi anak cacat tubuh
dengan kemunduran mental, hendaknya disesuaikan dengan permainan
yang sederhana dan disesuaikan. 

c. Partisipasi yang dapat diberikan kepada anak cacat. 


Partisipasi voluntir dalam kegiatan kepramukaan, olahraga, darmawisata,
kesenian atau keterampilan, dan sosialisasi. Memberi­kan bea siswa.
LAYANAN PENDIDIKAN ANAK TUNA DAKSA

Layanan Pendidikan Anak Tuna Daksa


- Pendekatan guru kelas, pelaksanaannya semua mata pelajaran yang diajarkan
dikelas tersebut disampaikan oleh satu guru, biasanya dilaksanakan pada kelas
kecil.
- Pendekatan guru mata pelajaran/bidang studi, pelaksanaan pengajarannya oleh
banyak guru sesuai dengan bidang studinya masing-masing.
- Pendekatan campuran, pelaksanaannya disampaikan oleh guru kelas juga oleh guru
bidang studi. Pengajaran tim, pelaksanaannya satu mata pelajaran disampaikan oleh
tim /beberapa orang guru.
PENGERTIAN KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK ANAK TUNA LARAS

Pengertian Anak Tuna Laras

• Anak tunalaras adalah anak-anak yang mengalami gangguan perilaku, yang


ditunjukkan dalam aktivitas sehari-hari, baik di sekolah maupun  dalam
lingkungan sosialnya.

Klasifikasi

• Kalsifikasi yang dikemukakan oleh Rosembera, dkk. (1992), anak tunalaras


dapat dikelomppokkan atas tingkah laku yang berisiko tinggi dan rendah
dan yang berisiko tinggi, yaitu hiperaktif, agresif, pembangkang,
delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan sosial, sedangkan
yang berisiko rendah, yaitu autisme dan skizofrenia.

Karakteristik

• Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku memeperlihatkan ciri-ciri:


suka berkelahi, memukul, menyerang, mengamuk, membangkang,
menantang, merusak milik sendiri atau milik orang lain.
• Anak yang sering merasa cemas dan menarik diri, dengan ciri-ciri khawatir,
cemas, ketakutan, kaku, pemalu, segan, menarik diri, terasing, tak
berteman.
• Anak yang kurang dewasa, dengan ciri-ciri, yaitu pelamun, kaku,
berangan-angan, pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk, pembosan, dan
kotor.
• Anak yang agresif bersosialisasi, dengan ciri-ciri, yaitu mempunyai
komplotan jahat, mencuri bersama kelompoknya, loyal terhadap teman
FAKTOR PENYEBAB TUNA LARAS

 Faktor Biologi
Perilaku dan emosi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam diri
sendiri.
• Faktor Keluarga
Faktor dari keluarga yang dimaksud adalah adanya patologis hubungan dalam
keluarga.
• Faktor Sekolah
Ada beberapa anak mengalami gangguan emosi dan perilaku ketika mereka mulai
bersekolah.
 Faktor Budaya
Daniel P. Hallahan, dkk (2009: 274), menuliskan “values and behavioral
standards are communicated to children through a variety of cultural condition,
demands, prohibition, and models.” Yang dimaksudkan adalah standar nilai-nilai
perilaku anak didapat melalui tuntutan-tuntutan maupun larangan-larangan, dan
model yang disajikan oleh kondisi budaya.
CARA MENGATASI TUNA LARAS

Berikut solusi yang tepat dalam mengatasi anak-anak yang


mengalami gangguan, diantaranya:
a. Orang tua dan guru harus ikut serta dalam mengawasi kegiatan
apa saja yang mau dilakukan oleh anak tersebut
b. Orang tua dan guru juga harus slalu memperingati dan
memberikan contoh dalam kehidupannya bahwa itu tidak perlu
dilihat bahkan ditiru karna dapat merugikan diri sendiri maupun
orang lain.
c. Orang tua dan guru harus sabar dalam membimbing dan
mengawasi anak yang mengalami gangguan tersebut.
d. Orang tua dan guru juga dituntut agar slalu memberikan motivasi
bahwa dia bisa kita pun juga bisa. Agar tidak ada lagi perbedaan
antara anak normal maupun anak yang berkebutuhan atau yang
mengalami gangguan.
LAYANAN TUNA LARAS

1.  Bentuk atau model layanan dan teknik pendekatan


a.  Model biogenetik
b.  Model behavioral (tingkah laku)
c.  Model psikodinamika
d.  Model ekologis

2. Tempat layanan
a.  Tempat khusus
b.  Tempat integrasi (terpadu)
FASILITAS TUNA LARAS
  Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras
Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras relatif sama dengan
fasilitas pendidikan untuk anak normal pada umumnya. Fasilitas
ruangan kelas tidak menggunakan benda-benda kecil yang terbuat
dari bahan yang keras, sehingga mempermudah mereka untuk
mengambil dan melemparnya. Fasilitas lain lebih berkaitan dengan
ruangan terapi dan sarana terapi. Terapi tesebut meliputi :
·      Ruangan fisioterapi dan peralatannya, yaitu peralatan yang
lebih diarahkan pada upaya peregangan otot dan sendi, dan
pembentukan otot, misalnya: barbel, box tinju, dan sebagainya.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH