Anda di halaman 1dari 11

8 TAHAPAN DALAM

PERENCANAAN
AUDIT
Sit Dolor Amet
Delapan tahap dalam perencanaan
audit
◦ Penerimaan klien dan pembuatan rencana audit awal
◦ Memperoleh pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien
◦ Menilai risiko bisnis klien
◦ Melaksanakan prosedur analitis pendahuluan
◦ Menetapkan materialitas dan menilai risiko yang dapat diterima dan resiko pengendalian
◦ Memahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian
◦ Mengumpulkan informasi untuk menilai risiko kecurangan
◦ Menyusun strategi audit keseluruhan dan program audit
Prosedur penilaian resiko
◦ Standar audit (SA 315) mewajibkan auditor untuk memperoleh
pemahaman atas entitas dan lingkungannya, termasuk pengendalian
internalnya, untuk menilai risiko kesalahan penyajian material dalam
laporan keuangan klien.
◦ Pada bagian ini auditor fokus pada pemahaman tentang rancangan
maupun implementasi pengendalian internal. Secara bersama-sama,
prosedur-prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai bisnis dan
lingkungannya, termasuk pengendalian internal, mencerminkan prosedur-
prosedur penilaian risiko yang dilakukan auditor untuk menilai kesalahan
penyajian material dalam laporan keuangan.
Prosedur audit
lebih lanjut
“Auditor harus
merancang dan
mengimplementasikan
prosedur audit lebih
lanjut yang sifat, saat
dan luasnya didasarkan
pada dan merupakan
respons terhadap risiko
kesalahan penyajian
material yang telah
dinilai pada tingkat
asersi.
JENIS JENIS PENGUJIAN
DALAM PROSEDUR
AUDIT LEBIH LANJUT
Pengujian pengendalian
  Pengujian pengendalian, baik secara manual maupun otomatis dapat mencakup jenis bukti berikut ini perlu
dicatat bahwa ketiga prosedur yang pertama sama seprti yang digunakan untuk mendapatkan pemahaman
atas pengendalian internal).
◦ Melakukan Tanya jawab yang memadai dengan personel klien
◦ Memeriksa dokumen , catatan dan laporan
◦ Mengganti aktivitas terkait pengendalian
◦ Mengerjakan ulang prosedur-prosedur klien.
Auditor melakukan penelusuran sistem sebagai dari prosedur untuk mendapatkan pemahaman sebagai upaya
membantunya dalam melakukan Apakah pengendalian sudah diterapkan . Penelusuran biasnya diterapkan
pada satu atau beberapa transaksi dan pengikuti transaksi tersebut disepanjang pemrosesanya. Sebagai
contoh , auditor memilih sebuah transaksi penjualan untuk melakukan penelusuran sistem persetujuan kredit,
kemudian mengikuti persetujuan kredit dari awal transaksi penjualan hingga mendapatkan kredit. Standar ke-
2 PCAOB mengharuskan auditor untuk melakukan penelusuran disemua proses yang penting.
Pengujian subtantif golongan
transaksi
Pengujian subtantif merupakan prosedur yang dirancang untuk menguji salah saji rupiah (sering kali
disebut salah saji moneter)yang secarah langsung berpengaruh pada ketetapan saldo laporan
keuangan. Auditor mengendalikan tiga jenis pengujian subtantif, ketiga jenis itu adalah
◦ •pengujian subtantif transaksi
◦ •prosedur analitis subtantif
◦ •pengujian terperinci saldo.
Pengujian subtantif transaksi digunakan untuk menentukan apakah keenam tujuan audit terkait
transaksi penjualan adalah transaksi penjualan benar-benar terjadi (tujuan keterjadian) dan transaksi
penjualan yang ada telah dicatat (tujuan kelengkapan).
Prosedur Analitis
Prosedur analitis melibatkan perbandingan-perbandingan jumlah dicatat dengan ekspektasi yang
dikembangkan oleh auditor. Standar audit mengharuskan prosedur analitis dilakukan selama
perencanaan dan penyelesaiaan audit. Meskipun tidak mengharuskan , prosedur analitis juga dapat
dilakukan untuk mengaudit saldo akun .
Dua tujuan utama dari prosedur analaitis dalam mengaudit saldo akun adalah untuk:
◦ 1.      Menandai adanya kemungkinan salah saji dalam laporan keuangan
◦ 2.      Memberikan bukti subtantif
Prosedur analitis yang dilakukan selama tahap perencanaan audit biasanya berbeda dari yang
dilakukan dalam tahap pengujian. Bahkan misalnya auditor, menghitung margin kotor selama fase
perencanaan, auditor biasanya melakukanya dengan menggunakan data interim. Selanjutnya selama
menguji saldo akhir akun auditor akan menghitung ulang rasio dengan menggunakanndata setahun
penuh. Jika auditor yakin jika prosedur analitis tambahan atau memutuskan untuk memodifikasi
pengujian terperinci saldo.
Pengujian terperinci saldo
◦ Pengujian terperinci saldo memfokuskan pada saldo akhir buku besar baik untuk
akuk-akun neraca maupun laba rugi. Penekanan utama dalam sebagian besar
pengujian atas perincian saldo adalah pada neraca. Misalnya termasuk konfirmasi
atas saldo pelanggan untuk akun piutang dagang . pengujian saldo akhir sangat
penting karena bukti yang biasanya didaptakan dari suatu sumber yang
independen dipandng sangat dipercaya . seperti halnya untuk transaksi pengujian
auditor atas perincian saldo juga harus memebuhi semua tujuan audit terkait saldo
untuk setiap akun-akun neraca yang signifikan
Ringkasan jenis pengujian
◦ Auditor menghadapi risiko salah saji material yang terindentifikasi melalui prosedur
pengukuran risiko dengan menggunakan keempat jenis prosedur audit lanjutan
untuk mendapatkan keyakinan audit dalam mengaudit siklus penjualan dan
penagihan. Pengujian pengendalian membantu auditor dalam mengevaluasi apakah
pengendalian terhadap transaksi dalam siklus tersebut telah cukup efektif untuk
mendukung pengurangan pengendalian risiko pengendalian, sehingga
memungkinkan pengurangan pengujian subtantif. Pengujian pengendalian juga
membentuk dasar laporan auditor atas pengendalian internal terhadap laporan
keuangan untuk klien-klien yang merupakan perusahaan publik.
Title Lorem Ipsum

LOREM IPSUM DOLOR SIT AMET, NUNC VIVERRA IMPERDIET ENIM.


CONSECTETUER ADIPISCING ELIT. FUSCE EST. VIVAMUS A TELLUS.

PELLENTESQUE HABITANT MORBI


TRISTIQUE SENECTUS ET NETUS.