Anda di halaman 1dari 25

IODI/IODOMETRI

IODIMETRI

Iodimetri : titrasi langsung


Definisi :
penetapan kadar zat uji (reduktor) yang
langsung dititer dengan larutan iodium
sebagai pentiter.
Iodium merupakan oksidator yang relatif
lebih kuat dengan nilai potensial oksidasi
sebesar ± 0,535 V, sehingga akan
mengoksidasi senyawa – senyawa yang
mempunyai potensial reduksi yang lebih
kecil dibanding iodium.
Zat yang bersifat reduktor seperti asam
askorbat, Natrium askorbat, Na2S2O3 dan
sediaan injeksinya, metampiron.
Pentiter : I2
Indikator : Amylum (kanji)
Titik akhir : munculnya warna biru sebagai
reaksi antara iodium dengan amylum.
Reaksi kimia umum :
Zat uji (reduktor) produk + e
-
I2 + 2e 2I
Kegunaan Iodimetri

Asam askorbat (C6H8O6)


Na.askorbat
Metampiron (antalgin)
Na2S2O3 dan sediaan injeksinya
IODOMETRI

Iodometri : titrasi tak langsung


Definisi :
penetapan kadar zat uji (oksidator) dimana
zat uji mula – mula direaksikan dengan ion
iodida berlebih kemudian iodium yang
terbentuk dititrasi dengan larutan titer
tiosulfat.
Reaksi kimia :
Zat uji (oksidator) +KI I2
I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6
Pentiter : Na2S2O3
Indikator : Amylum /kanji (ditambahkan saat
menjelang titik akhir)
Titik akhir : hilangnya warna biru
Fungsi : untuk menetapkan kadar zat
oksidator seperti CuSO4. 5H2O , Cl2.
Indikator kanji harus dibuat segar karena
karena kanji merupakan media pertumbuhan
mikroba.
Apabila larutan kanji ingin disimpan lama
maka perlu diawetkan dengan penambahan
raksa (II) iodida.
Pada iodometri indikator amylum
ditambahkan menjelang titik akhir titrasi
karena bila ditambahkan sejak awal kompleks
iod amylum yang terjadi sukar dipecah pada
titik ekivalen sehingga mempengaruhi
hilangnya warna biru.
Larutan Titer
Pada iodi/iodometri ada 2 macam larutan titer
:
1. Larutan titer iodium
2. Larutan titer Na2S2O3
a. Larutan Titer Iodium

Iodium sukar larut dalam air, tetapi mudah larut


dalam garamnya yang akan membentuk ion
triiodida. Hal ini sekaligrunkan tekanan uap iodium
sehungga kesalahan akibat menguapnya iodium
dapat dicegah.
Reaksi :
I2 + I- I3-
Larutan titer iodium dibuat dengan melarutkan
iodium kedalam larutan KI pekat kemudian
diencerkan dengan air hingga volume tertentu.
Cara Pembuatan

Menurut FI edisi III, larutan iodium 0,1 N


dibuat dengan melarutkan 12,69 g iodium P
kedalam 18 g KI P dalam 100 mL
air,kemudian diencerkan dengan air hingga
1000 mL. Larutan iodium yang lebih encer
(0,02 N ; 0,001 N). Dibuat dengan
mengencerkan larutan iodium 0,1 N.
Penyimpanan

Larutan titer iodium disimpan dalam wadah


coklat bersumbat kaca.
Pembakuan

Sebagai baku primer : Arsen trioksida (As2O3) atau


larutan Na2S2O3 yang telah dibakukan.
Cara pembakuan :
150 mg As2O3 P yang ditimbang saksama dilarutkan
dalam 20 mL NaOH 1 N, jika perlu dihangatkan.
Kemudian larutan diencerkan dengan 40 mL air,
ditambahkan 2 tetes larutan jingga metil P dan HCl
encer P hingga terjadi warna merah jambu. Kemudian
ditambahkan 2 gram Na2CO3 P lalu diencerkan dengan
50 mL air dan akhirnya dititrasi dengan larutan iodium
menggunakan indikator kanji P.
1 mL iodium 0,1 N setara dengan 4,946 mg As2O3.
b. Larutan Titer Na2S2O3

Larutan ini dipakai untuk mentitrasi iodium pada titrasi


iodometri dalam suasana netral atau asam lemah.
Reaksi kimia :
2S2O32- + I2 S4O62- + 2I-
Dalam basa kuat, oksidasi dapat berlangsung sebagai
berikut :
S2O32- + 4 I2 + 10 OH- 2 SO42- + 8 I- + 5H2O
Dalam suasana asam, tiosulfat terurai sebagai berikut :
S2O32- + H+ HSO3 - + S
Kekeruhan seperti susu terjadi akibat endapan
belerang. Akan tetapi, reaksi ini berjalan lebih
lambat daripada reaksi tiosulfat dengan
iodium, sehingga titrasi masih bisa dilakukan
dalam suasana asam.
Pembuatan

Menurut FI edisi III : 26 g Na2S2O3 P dan 200


mg Na2CO3 P dilarutkan dalam air bebas CO2
segar hingga 1000 mL.
Penambahan Na2CO3 berfungsi untuk
mencegah penguraian tiosulfat.
Penyimpanan

Larutan titer Na2S2O3 disimpan dalam wadah


tertutup rapat.
Pembakuan

Sebagai baku primer menurut FI edisi III yaitu K 2Cr2O7.


Caranya :
210 mg K2Cr2O7 P yang sebelumnya telah dikeringkan
pada suhu 120oC selama 4 jam. Timbang saksama,
dilarutkan dalam labu 500 mL bersumbat kaca.
Kemudian ditambahkan dengan cepat 3 g KI P, 2 g
Na2CO3 P, 5 mL HCl P. Labu segera ditutup,
digoyangkan hingga tercampur, lalu dibiarkan
ditempat gelap selama 10 menit. dinding sebelah
dalam labu dibilas dengan air, lalu dititrasi dengan
Na2S2O3 menggunakan indikator kanji P.
1 mL I2 0,1 N setara dengan 4,903 mg K2Cr2O7.
Reaksi kimia pada pembakuan

K2Cr2O7 + 6KI + 14 HCl 8KCl + 2CrCl3 +


3I2 + 7H2O
2- 2-
Oks : 2S2O3 S 4O 6 + 2e
-
Red : I2 + 2e 2I
2- 2- -
Redoks : 2S2O 3 + I2 S4O 6 + 2I
Kegunaan Iodometri

Klorin (Cl2)
CuSO4. 5 H2O
Asanm hidroksi benzoat dan turunannya
Asetofenetidin
Sinkofen
Penisilin
Alkaloid turunan xantin
Bobot Ekivalen

Pada iodo/iodimetri BE nya setara dengan 1


mol I atau 1 mol elektron.
Perhitungan

1. Iodimetri : mgrek reduktor = mgrek I2


2. Iodometri : mgrek oksidator = mgrek
Na2S2O3