Anda di halaman 1dari 26

Manajemen dan

Administrasi Pembangunan
Perencanaan Wilayah dan Kota
Universitas Tanjungpura

Dosen :Dr.Erni Yuniarti,, ST, MSi

Nama : Syarif Muhamad Rizal


Nim : D1091181005
Kewenangan dan tugas
kelembagaan manajemen
pembangunan wilayah dan kota
Defenisi kelembagaan

Kata kelembagaan merujuk kepada sesuatu bersifat mantap yang hidup di
 dalammasyarakat serta berfungsi untuk tujuan"tujuan
tertentu. kelembagaan merupakan
kelompok"kelompok sosial yang menjalankan masyarakat.
Kelembagaan dapat diartikan pula sebagai jejaring yang terbentuk dari sejumlah
mungkin puluhan sampai ratusan interaksi. Kelembagaanterdiri dari berbagai unsur
penting didalamnya yang saling terintegrasi.
Kelembagaan manajemen
Kelembagaan dalam manajemen pembangunan wilayah dan kota dapat dilihat pada proses 
perencanaan tata ruang sesuai dengan Undang-undang no 26  tahun 2007 yang Meliputi
tahap perencanaan pemanfaatan dan pengendalian. Dalam hal ini manajemen ruang
merupakan proses manajemen dari kondisi atau keadaan ruang saat ini menuju sistem yang
 dikehendaki berdasarkan pada suatu kondisi yang ideal.
Kewenangan dan tugas kelembagaan dalam manajemen
pembangunan Wilayah dan kota dapat dilihat pada setiap
tahap proses perencanaan tersebut yaitu :

Pengawasan dan
Pengendalian
Pelaksanaan
Perencanaan
Perencanaan
Proses pada tahapan ini meliputi penyusunan dan penetapan
rencana. Pada Undang - Undang no. 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan nasional (SPPN)

 Rancangan rencana pembangunan nasional


/daerah
 Rancangan kerja departemen /lembaga SPPD
 Musyawarah perencanaan pembangunan
(Musrenbang)
 Rancangan akhir rencana pembangunan
Lingkup Perencanaan Nasional dan Daerah ( UU No. 25 Tahun 2004
tentang SPPN
 Rencana pembangunan jangka panjang daerah
 Rencana pembangunan jangka menegah daerah
Perencana-perencana  Rencana strategi satuan kerja perangkat daerah
Daerah  Rencana kerja pemerintah daerah
 Rencana kerja satuan perangkat daerah

 Rencana pembangunan jangka panjang nasional


 Rencana pembangunan jangka menegah nasional
Perencana-perencana  Rencana strategi kementrian lembaga
Nasional  Rencana kerja pemerintah
 Rencana kerjakementrian lembaga
Setelah penyusunan rencana selesai dilaksanakan maka ditetapkanlah
rencana tersebut yaitu:

 RPJP nasional ditetapkan dengan UU dan RJP


daerah ditetapkan dengan peraturan daerah

 RPJM ditetapkan dengan peraturan presiden/kepala


Daerah

 RKP/RKPD dengan peraturan presiden/kepala daerah


Proses Penyusunan dan Penetapan RPJP Nasional

Tujuan pemerintah negara indonesia dalam UUD Negara


1 Republik Indonesia Tahun 1945

Kementrian Menyusu Rancangan Awal RPJP : Visi,


2 Misi, Arah Pembangunan Nasional

3 Menteri Menyelengarakan Musrenbang RPJP

Kementrian Menyusu Rancangan Akhir RPJP : Visi,


4 Misi, Arah Pembangunan Nasional

5 Penetapan RPJP

Digunakan sebagai pedoman RPJP daerah dan RPJM


6
Nasional
Proses Penyusunan dan Penetapan RPJP Daerah

1 RPJP Nasional

Kepala bapeda Menyusun Rancangan Awal RPJPD :


2 Visi, Misi, Arah Pembangunan Nasional

3 Kepala Bapeda Menyelengarakan Musrenbang RPJPD

Kepala bapeda Menyusun Rancangan Akhir RPJPD :


4 Visi, Misi, Arah Pembangunan Nasional

5 Penetapan RPJPD

6 Digunakan sebagai pedoman RPJM Daerah


Proses Penyusunan dan Penetapan RPJM
Proses Penyusunan dan
Penetapan RKP/RKPD
Mekanisme
Musrenbang dan Alur
Pembiayaannya
Pelaksanaan
Dalam tahapan pelaksanaan maka hasil dari musrenbang yang telah ditetapkan
diilplementasikan dalam kebijakan-kebijakan. tahap ini, memiliki elemen pokok berupa
koordinasi antar stakeholder agar terwujud good Governance yang efektif (dalam pencapaian
tujuan) dan efisien (dalam pemanfaatan sumber daya). 
Pengawasan dan Pengendalian

Pengendalian merupakan penggabungan dari pengawasan dan tindakan korektif.


Pengawasan adalah segala yang berkaitan dengan proses
penilikan, penjagaan serta pengarahan yang dilakukan dengan sungguh-
sungguh agar obyek yang diawasi berjalan menurut semestinya.

Pengendalian adalah suatu rangkaian kegiatan yang menc
akup pengawasan atas kemajuan kegiatan serta pemanfaa
tan hasil pengawasan tersebut untuk melaksanakan
tindakan korektif dalam rangka mengarahkan pelaksanaan
kegiatan agar sesuaidengan tujuan yang telah ditetapkan
Bentuk-bentuk Pengawasan

1 Pengawasan fungsional (Wasnal)

2 Pengawasan Legislatif (wasleg)

3 Pengawasan Masyarakat (wasmas)

4 Pengawasan Melekat (waskat)
Organisasi untuk perencanaan
pembangunan
PERAN ORGANISASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
INDONESIA
Dengan sistem pemerintahan yang desentralistik, maka organisasi
perencanaan pembangunan nasional (selanjutnya disebut Bappenas) akan harus
mempunyai peran yang berbeda dari peran yang dijalakannya pada saat ini.
Sejalan dengan fungsi pemerintah yang bergeser dari pelaksana menjadi
pengarah, maka peran Bappenas juga menyesuaikan dengan peran pemerintah
itu. Masa depan suatu bangsa akan ditentukan oleh sejauhmana bangsa itu dapat
memenangkan dalam persaingan antar bangsa-bangsa, maka Bappenas perlu
menjadi institusi yang dapat memberi masukan strategis dan berkualitas kepada
Presiden selaku pengambil kebijakan utama bangsa. Untuk menyiapkan Indonesia
memasuki dekade 2020an maka Bappenas harus melakukan transformasi dari
lembaga penyusun rencana jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek
(tahunan) menjadi lembaga perumus tindakan strategis bangsa dalam jangka
menengah berdasarkan pandangan jangka panjang. Dalam menjalankan fungsi
yang baru tersebut, Bappenas perlu mengikutsertakan lebih banyak pihak dalam
merumuskan rencana-rencana strategis.
POSTUR ORGANISASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN

NASIONAL

Pola Koordinasi dan Integrasi antar Bidang dan Fungsi


1 Pembangunan di dalam Organisasi

Pola Koordinasi dan Integrasi antar Bidang dan Fungsi


2 Pembangunan dengan Pemangku Kepentingan

3 Kuantitas dan Kualitas SDM Bappenas

4 Budaya Organisasi Bappenas

5 Dan Nilai-nilai Inti Bappenas


Pemikiran dan tuntutan baru tentang
kewenangan dan tugas kelembagaan
manajemen pembangunan

Kewenangan pemerintah, seperti new public management (NPM),


pemerintahan katalis, pemerintahan milik rakyat, pemerintahan yang kompetitif,
pemerintahan yang digerakkan oleh misi, pemerintahan yang berorientasi hasil,
pemerintahan yang berorientasi pelanggan, pemerintahan wirausaha,
pemerintahan yang berorientasi pasar, pemerintahan yang antisipatif, dan
pemerintahan desentralisasi. 
New Public Management (NPM)

Pemikiran pemerintahan model ini pertama kali digagas


oleh Osborne dan Gaebler pada tahun 1992. Model
pemerintahan ini adalah suatu bentuk pemerintahan dan
administratif publik yang mampu bekerja sama secara
efisien, yakni mampu memenuhi kebutuhan rakyat. 

Pemerintahan Katalis
Model pada pemikiran pemerintahan ini lebih
menitikberatkan pada mengarahkan ketimbang
mengayuh. Sehingga pemerintahan ini menfokuskan
untuk mengarahkan, secara aktif mereka membentuk
masyarakat, negara dan bangsanya.
Pemerintahan Milik Masyarakat

Pemerintahan pada pemikiran ini mengalihkan


kepemilikan dari birokrasi ke masyarakat merupakan
suatu pelayanan yang profesional. 
Pemerintahan yang Kompetitif
Pada dasarnya konpetisi tidak akan memecahkan semua
masalah, namun kompetisi memegang kunci pembuka
kisi-kisi birokrasi yang melumpuhkan begitu banyak
lembaga pemerintah. 
Pemerintahan yang digerakkan oleh misi
Organisasi yang digerakkan oleh misi memberi
kebebasan kepada para karyawannya dalam mencapai
misi organisasi dengan metode paling efektif yang dapat
mereka temukan. Membuat organisasi yang digerakkan
Pemerintahan yang berorientasi hasil oleh misi sangat penting bagi sebuah organisasi
pemerintah.
Pemerintah wirausaha berusaha mengubah bentuk
penghargaan dan insentif.
Pemerintahan berorientasi pelanggan
Badan pemerintah memperoleh sebagian besar dana dari
badan legislatif dan sebagian besar pelanggan mereka
bersifat captive, pelanggan ‘paksa’, singkatnya para
pelanggan mempunyai sedikit alternatif terhadap jasa
yang disediakan oleh pemerintah. 
Pemerintahan wirausaha
Pada pemerintahan wirausaha ini, seorang manager
berubah menjadi seorang wirausaha dan mengubah laba
menjadi penggunaan publik. Menghasilkan uang melalui
pembebanan biaya, lalu membelanjakannya untuk
menabung, sehingga investasi mendapatkan hasil.
Pemerintahan berorientasi pasar
Pemerintahan pada model yang berorientasi pasar
terbiasa membuat program yang cenderung membentuk
sistem pemberian jasa yang terfragmantasi, program tidak
swakoreksi, program jarang mati, program jarang
mencapai skala kebutuhan untuk membuat dampak yang
berarti, program biasanya menggunakan perintah bukan
insentif. 
Pemerintahan antisipatif

Pemerintahan ini adalah model tradisional yang birokratis


memusatkan pada penyediaan jasa untuk memerangi
masalah. Untuk mengahadapi masalah kesehatan,
pemerintah mendanai pelayanan perawatan kesehatan.
Dan untuk menghadapi kejahatan pemerintah mendanai
lebih banyak polisi.

Pemerintahan desentralisasi

Pemerintahan ini membentuk hirarki menuju partisipasi


dan tim kerja. Mendesentralisasi organisasi publik
melalui manajemen partisipatif.
TERIMAKASIH