Anda di halaman 1dari 9

ARTI DAN REALISASI FUNGSI

TEKSTUAL DALAM SEMIOTIKA


BAHASA

Kelompok 7
Pebrini Ginting 2182131007
Keren Luber Br Sembiring 2183131017
PENGERTIAN

 Fungsi Tekstual adalah fungsi bahasa untuk


merangkai pengalaman. Realitas dalam alam
semesta yang sudah direalisasikan kedalam
pengalaman linguistik (fungsi eksperiensial)
dipertukarkan dengan mitrabicara dalam
bentuk interaksi atau percakapan (fungsi
antarpesona).
B. REALISASI
 Fungsi Tekstual direalisasikan secara struktural dan
takstruktural. Realisasi Struktural mencakupi
Struktur Tema-Rema dan Lama-Baru.
a. Tema dan Rema
1. Identifikasi Tema
Klausa berisi pesan yang disampaikan pembicara kepada
mitrabicaranya. Tema memiliki titik mula pesan, titik
awal, atau titik bertolak nya pesan yang disampaikan
dalam klausa. Rema adalah pesan berikutnya setelah
tema. Tema direalisasikan berbeda lintas bahasa. Pada
dasarnya Tema diidentifikasi berdasarkan dua cara,
yakni berdasarkan urutan dan pemarkah. Tema dalam
bahasa indonesia dan Inggris ditetapkan berdasar pada
ururan.
2. Tema Tunggal dan Majemuk

Berdasarkan Komposisinya atau unsur yang membangun


nya, Tema dapat berupa Tema tunggal dan Majemuk.
Tema tunggal adalah tema yang terjadi dari satu unsur
fungsional klausa.
Sedangkan tema majemuk adalah tema yang terdiri dari
satu atau lebih unsur klausa
Berdasarkan unsur yang membentuknya, Tema Majemuk
terdiri dari Tema Tekstual, Tema Antarpersona, dan Tema
Topik.
3. Tema Lazim dan Tidak Lazim
Tema Lazim menunjukkan kecenderungan pemunculan atau
penggunaan Tema oleh penutur bahasa. Kriteria yang digunakan
adalah kontinum dari titik lazim di ujung satu rentang atau
kontinum dan tidak lazim atau tidak umum di ujung rentang atau
kontinum itu. Kelaziman Tema dihubungkan dengan makna
antarpersona, yakni dengan aspek modus dan fungsi ujar. Tema
lazim terjadi jika Tema berimpit dengan subjek. Dengan kata
lain, jika Tema subjek tidak berimpit dengan subjek, dalam
keadaan itu Tema disebut tidak lazim.
4. Sistem Jejaring
Berdasarkan komposisinya, Tema dapat berupa Tema tunggal (tu)
atau Tema Majemuk (ma). Berdasarkan kelazimannya, Tema
dapat berupa Tl dan Ttl. Jika kedua jenis Tema ini digambarkan
dalam sistem jejaring, empat jenis Tema diperoleh seperti
contoh dibawah ini:
 Tema [tunggal/lazim] (Ttul)
 Tema [tunggal tidak lazim] (Ttutl)
 Tema [majemuk/lazim (Tmal), dan
 Tema [majemuk/tidak lazim] (Tmatl).
 5. Pengembangan Klausa Menjadi Teks atas Dasar Tema-
Rema

Tema dan Rema dalam Klausa merupakan dasar


pengembangan satu klausa menjadi teks yang lebih besar
atau wacana. Terdapat 8 pola pengembangan 1 klausa
menjadi teks. Yakni pola;
1. Sungsang Rema ke Tema
2. Pola Sungsang Tema ke Rema
3. Pola pengembangan dari Tema ke Tema
4. Pola pengembangan dari Rema ke Tema
5. Pola pengembangan dari Tema ke Rema
6. Pola pengembangan dari Rema ke Rema
7. Pola pengembangan kesatuan Tema - Rema ke Tema,
8. Pola pengembangan kesatuan Tema - Rema ke Rema
b. Lama dan Baru

Tema - Rema merupakan realisasi fungsi tekstual dari


perspektif pembicara. Dalam proses interaksi seorang
pembicara melalui pesan yang akan disampaikannya dari
Tema, yang berdasarkan Tema kemudian diikuti pesan
dalam Rema.
Tema - Rema menjadi panduan bagi pembicara dalam
menyampaikan pesan, sementara Lama - Baru menjadi
acuan bagi pendengar dalam menangkap atau memahami
informasi.
c. Kohesi
Kohesi adalah keberpautan makna dalam teks, yang tidak
bersifat struktural seperti Tema - Rema dan Lama - Baru.
Kohesi mencakupi empat unsur, yakni ;
1. Rujukan, menunjukkan penyampaian Partisipan dan
pemantauan atau penjajakan kembali partisipan itu
setelah pertama sekali disampaikan.
2. Lesapan, adalah penghilangan satu unit linguistik, yang
dapat ditemukan kembali dengan rujukan ke konteks
(Linguistik dan sosial).
3. Substitusi, menyatakan penghilangan satu unit linguistik,
tetapi unit linguistik itu digantikan oleh unit linguistik lain,
seperi ini, itu, begini, begitu, dan sebagainya.
4. Konjungsi, Berfungsi menautkan dua klausa atau lebih.
Dengan keberpautan satu klausa dengan klausa yang lain,
pesan yang disampaikan merupakan satu kesatuan.
 Kesimpulan
Fungsi Tekstual adalah fungsi bahasa untuk
merangkai pengalaman. Realitas dalam alam
semesta yang sudah direalisasikan kedalam
pengalaman linguistik (fungsi eksperiensial)
dipertukarkan dengan mitrabicara dalam bentuk
interaksi atau percakapan (fungsi antarpesona).
Dalam penyampaian dan pertukaran pengalamannya
kepada Mitrabicara, seseorang atau peñutur bahasa
secara konvensìonal menyusun pengalaman atau
pesan yang disampaikan itu dalam satu kesatuan
atau keterkaitan agar mudah dipahami. Dengan kata
lain, setiap unit pesan terkait dengan pesan
sebelumnya dan relevan ke pesan berikutnya.
Kerelevanan 1 unit pengalaman dengan unit yang
lain merupakan konteks linguistik pemakaian bahasa
dan merupakan realisasi fungsi tekstual.