Anda di halaman 1dari 52

Anestetika Umum dan

Anestetika Lokal
ANESTETIKA UMUM
 Adalah obat-obat yang dapat menimbulkan
anestesia (Latin: an=tanpa, aistesia:perasaan)
 Yakni keadaan depresi umum yang bersifat
reversibel di susunan saraf pusat dimana seluruh
kesadaran ditiadakan sehingga agak mirip keadaan
pingsan.
 Digunakan pada pembedahan dengan maksud
merintangi rangsangan nyeri (analgesia), memblokir
reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan
serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi)
 Anestetika umum menekan semua jaringan
yang dapat dirangsang, seperti neuron
sentral, otot jantung serta otot polos
 Sensitivitas jaringan berbeda terhadap
anestesi, oleh sebab itu efek penekanan
sistem pernafasan dan kardiovaskular dapat
dikurangi dengan mengatur konsentrasi.
Taraf-taraf Pembiusan
1. Tahap Analgesia:
Kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang, dan
terjadi euforia (rasa nyaman) yang disertai
impian-impian yang mirip halusinasi. Eter dan
nitrogen monoksida memberikan anestesi yang
baik pada taraf ini, halothan dan tiopental pada
taraf berikutnya.
2. Tahap Induksi
Pada tahap ini terjadi kegelisahan dan kehilangan
kesadaran.
3. Tahap Anaestetika
Pernafasan menjadi dangkal dan cepat, secara
teratur seperti pada keadaan tidur (pernafasan
perut), gerakan mata dan refleks mata menghilang,
otot-otot menjadi lemas.
4. Pelumpuhan sumsum tulang
Pada tahap ini kerja jantung dan pernafasan
terhenti, tahap ini sedapat mungkin dihindarkan.
Pada hakekatnya recovery (kembalinya kesadaran)
berlangsung dalam urutan terbalik.
Premedikasi
Premedikasi adalah obat yang diberikan sebelum anestesi,
biasanya 1 jam sebelum induksi dimulai.
Tujuan Premedikasi adalah :
1. Menimbulkan rasa nyaman pada pasien
(menghilangkan kekhawatiran, membuat amnesia,
menimbulkan analgesia), contoh: morfin atau petidin,
juga sedative seperti klorpromazin, diazepam atau
pentobarbital
2. Memudahkan/memperlancar induksi, pemeliharaan,
dan sadar dari anestesi
3. Mengurangi dosis anestesi
4. Mengurangi hypersalivasi, bradikardi, mual dan muntah
pasca anestesi, contoh: atropin, skopolamin
5. Mengurangi stress fisiologis, misalnya pernafasan
6. Mengurangi keasaman lambung
Morfin
 Dosis: im : 5-10 mg (0,1-0,2 mg/kgBB)
 Keuntungan:
- Mengurangi kecemasan pasien preoperasi
- Menghindari takipneu agar anestesi berjalan tenang dan
dalam.
 Kerugian:
- Terjadi perpanjangan waktu pemulihan
- Spasme dan kolik biliaris dan ureter
- Konstipasi
- Retensi urine
- Hipotensi
- Depresi pernafasan
Fenobarbital
 Dosis: 100-200 mg oral atau im
 Keuntungan:
- masa pemulihan tidak diperpanjang
Antikolinergik :Atropin
 Guna: mencegah hypersekresi ludah dan
bronkus
 Dosis :0,4-0,6 mg i.m, mula kerja 10-15 menit,
lama kerja 90 menit
Diazepam
 Dosis: Dewasa : im: 10 mg, oral 5-10 mg, maks:
15 mg
 Dosis sedasi anestesi regional: 5-10 mg iv,
diosis induksi 0,1-0,2 mg/kgBB
 Guna: sedatif
Obat Pelumpuh Otot
 Guna: memudahkan dan mengurangi cedera
akibat tindakan laringoskopi, intubasi trakea,
dan memberikan relaksasi otot dalam
pembedahan.
Pelumpuh Otot Non Depolarisasi
 Pavulon (pankuronium bromida)
Mula kerja menit kedua dan ketiga, durasi kerja 30-40
menit. Dosis awal 0,08 mg/kgBB intravena, dosis
pemeliharaan ½ dosis awal. Kemasan ampul 2 ml
berisi 4 mg pavulon. Mempunyai efek akumulasi.
 Tracrium (atakurium besylate)

Diisolasi dari tanaman Leontice leontapetalium,


metabolisme cepat dalam darah, pada dosis i.v 0,5-
0,6 mmg/kgBB mula kerja 2-3 menit, selama 15-35
menit. Dosis pemeliharaan 0,1-0,2 mg/kgBB intravena.
Obat Lain: Vekuronium, Rokuronium
Pelumpuh Otot Depolarisasi
 Suksametonium (suksinil kolin)
mula kerja 1-2 menit, dosis inkubasi 1-1,5
mg/kgBB I.V
Antagonis pelumpuh otot Non Depolarisasi

 Prostigmin (Neostogmin)
adalah anti kolin esterase yang dapat mencegah
hidrolisa dan menimbulkan akumulasi asetilkolin.
Efek muskarinik : Bradikardi, hiperperistaltik,
spasme saluran cerna, pembentukan sekret jalan
nafas dan liur, bronkospasme, berkeringat dan
kontraksi vesika urinaria.
Dosis : 0,5 mg bertahap sampai 5 mg , biasa diberi
bersama atropin 1-1,5 mg
PENGGOLONGAN ANESTESI UMUM

 Menurut cara penggunaan dibagi dalam dua kelompok


1. Anestetika Inhalasi : Diberikan sebagai gas melalui
saluran pernafasan. Keuntungannya adalah resorbsi yang
cepat melalui paru-paru begitu juga ekskresinya melalui
alveoli, biasanya dalam keadaan tidak berubah.
Pemberiannya dapat dihentikan setiap waktu bila
diperlukan. Waktu pemulihan anestesi inhalasi tergantung
kecepatan pelepasannya di otak seteleh obat yang
diinspirasi paru menurun. Obat golongan ini ada dua
bentuk :
a. Berbentuk cair: Eter, kloroform, halothane
b. Berbentuk gas : N2O, sikloprofan, kloretil
2. Anestetika injeksi: Contoh obat golongan ini adalah barbital
ultra short acting seperti tiopental dan heksobarbital
Mekanisme Kerja Anestesi Umum

 Teori tertua adalah teori Meyer-Overton yang


membuktikan adanya hubungan antara sifat lipofilik
suatu zat dengan daya anestesinya.
 Teori terbaru menerangkan bahwa anestetika umum
membentuk hidrat dengan air yang stabil dibawah
pengaruh protein susunan saraf pusat. Hidrat gas ini
dapat menghindari transisi sinaps, dan dengan demikian
mengakibatkan anestesi.
Efek Samping Obat (ESO)
Anestesi Umum
1. Menekan Pernafasan :
• Enfluran dan isofluran mempunyai efek paling lemah.

• Eter dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan.

• Anestesi umum dapat mendepresi fungsi mukosilia,


akibatnya terjadi penumpukan mukus sehingga dapat
terjadi infeksi saluran nafas.
• Kecuali N2O dan eter, anestesi umum menurunkan

volume paru-paru dan meningkatkan frekuensi


pernafasan.
ESO Anestesi Umum (lanj)
2. Kardiovaskular
• Anestesi umum mengurangi kontraksi jantung,
sehingga menurunkan tekanan darah arteri,
terutama halothane dan metoksifluran, efek paling
ringan terjadi pada eter.
• Bradikardi sering terlihat pada halothane
• Kombinasi N2O dengan halothane dan enfluran
dapat menghasilkan rangsangan susunan saraf
pusat, dengan demikian efek samping depresi
jantung dapat dikurangi.
ESO Anestesi Umum (lanj)
3. Merusak hati: terutama pada senyawa halogen
Contoh: Kloroform, dapat terjadi hepatitis pasca bedah,
dengan tingkat kejadian pada petugas 7:250.000, dan
pada penelitian lain 1:35.000
4. Merusak ginjal
Contoh Metoksifluran
5. Otak : meningkatkan aliran darah serebrum krn
penurunan tahanan vaskular serebrum, hal ini sering
tidak diharapkan terutama pada pasien trauma capitis
dan tumor yang mengalami peningkatan tekanan
intrakranial. Peningkatan aliran darah ke otak
menyebabkan peningkatan volume darah serebrum, dan
meningkatkan tekanan intrakranial. N2O paling kecil,
halothane paling besar.
Pengobatan Jangka Panjang dan
Pembedahan

Obat-obat yang tidak boleh dihentikan sebelum


pembedahan
1. Kortikosteroid pada pasien atrofi adrenal
Bila penggunaan kortikosteroid dihentikan pada
pasien yang mendapatkan pengobatan
kortikosteroid, maka dapat terjadi hipotensi yang
parah selama proses pembedahan dan pasca
operasi.
2. Obat-obat lain: analgesik, antiepilepsi, antiparkinson,
bronkodilator, antihipertensi, obat kardiovaskuler,
obat glaukoma, hormon thyroid, dan antithyroid.
Obat-obat yang harus dihentikan sebelum
pembedahan
1. Kontrasepsi oral kombinasi
Dihentikan 4 minggu sebelum pembedahan
(operasi besar) dengan mengganti kontrasepsi
alternatif. Hal ini karena adanya tromboemboli.
2. Monoamin Oksidase Inhibitor
Harus dihentikan 2 minggu sebelum pembedahan
ANESTESI LOKAL
Adalah obat-obat yang dapat merintangi secara
reversibel penerusan impuls-impuls saraf ke
susunan saraf pusat pada penggunaan lokal,
dan dengan demikian mengurangi rasa nyeri,
gatal-gatal, panas atau dingin.
PERSYARATAN ANESTESI LOKAL
1. Tidak merangsang jaringan
2. Tidak menyebabkan kerusakan permanen pada
susunan saraf pusat
3. Toksisitas sistemik rendah
4. Efektif dengan jalan injeksi atau penggunaan
setempat pada selaput lendir.
5. Waktu mula kerja sesingkat mungkin, masa kerja
cukup lama
6. Dapat larut dalam air dan stabil terhadap
pemanasan
Mekanisme Kerja Anestesi Lokal
 Pusat mekanisme kerja anestesi lokal adalah membran sel.
Anestesi lokal menghambat inpuls dengan cara mencegah
kenaikan permeabilitas membran terhadap ion-ion natrium
yang diperlukan oleh sel-sel saraf untuk menghantarkan
impuls. Pada waktu bersamaan ambang kepekaan
terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat yang
pada akhirnya memblokir penerusan (konduksi) impuls.
 Diperkirakan bahwa pada proses stabilisasi membran
terhadap ion-ion kalsium memegang peranan penting yakni
molekul besar mengambil alih fungsinya, dengan demikian
membran sel menjadi lebih padat dan stabil serta dapat
lebih baik melawan segala perubahan permeabilitas.
Kerja Sistemik Anestesi Lokal
1. Susunan Saraf Pusat
Setelah resorbsi obat timbul stimulasi, kemudian
eksitasi, gemetaran dan konvulsi. Stimulasi
susunan saraf pusat ini disusul dengan depresi
dan kematian dapat terjadi akibat terhambatnya
pernafasan. Obat yang paling kuat merangsang
SSP adalah kokain dan anestesi lokal sintetik
efeknya relatif lebih ringan.
2. Sistem Kardiovaskular
Pemberian sistemik anestesi lokal dalam dosis tinggi
terutama mempengaruhi otot jantung (myokardium) dan
mengakibatkan antara lain penurunan kepekaan
terhadap rangsangan listrik, kecepatan penurunan
impuls dan daya kontraksi jantung. Berdasarkan sifat
kardiodepresif tersebut, lidokain dan prokainamida
sering digunakan sebagai anti aritmia.
3. Vasodilatasi
Pada dosis agak besar anestetika lokal dapat
mencapai aliran darah, obat ini menimbulkan
vasodilatasi umum akibat langsung blokade saraf-
saraf adrenergik. Sifat ini nyata terlihat pada
prokain, sitokain, tetrakain dan buvikain dan
mempertinggi resiko efek toksis. Akan tetapi prokain
bersifat vasokonstriktif.
Toksisitas dan Efek Samping Anestesi Lokal
 Toksisitasnya tergantung kepada keseimbangan antara
kecepatan penyerapannya dg kecepatan destruksinya.
Pemberian bersama adrenalin dapat mengurangi
toksisitas.
 Kebanyakan anestesi lokal didestruksi di hati melalui
hidrolisa gugus esternya, oleh sebab itu penggunaannya
harus hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati.
 Efek samping anestesi lokal terjadi akibat kerja
kardiodepresifnya dan efek stimulasi terhadap SSP
 Anestesi lokal dapat pula menimbulkan reaksi
hipersensitisasi berupa dermatitis alergi sampai dapat
menimbulkan shock anafilaktik.
 Anestesi lokal golongan PABA dapat melawan aktivitas
antibakteri golongan sulfonamida (cth:co-trimoxazole)
Penggunaan Anestesi Lokal
1. Anestesi Infiltrasi
Untuk tujuan ini obat diinjeksikan di ujung saraf guna
meniadakan rasa sakit di kulit atau jaringan misalnya
pada daerah kecil di kulit atau gusi (pencabutan gigi,
sirkumsisi)
2. Anestesi Konduksi
Dengan jalan injeksi ditempat dimana saraf banyak
terkumpul hingga tercapai anestesi yang lebih luas
misalnya daerah lengan, kaki, dll
3. Menghilangkan nyeri luka pada selaput lendir mata,
hidung, mulut dan tenggorokan, rektum (pada hemoroid),
dan uretra. Biasanya obat dibuat dalam bentuk tetes
mata, tetes hidung, suppositoria atau salep.
Kombinasi Anestesi Lokal Dengan
Vasokonstriktor

Vasokonstriktor yang sering dipakai adalah adrenalin,


tujuannya adalah:
1. Memperpanjang daya kerja anestesi lokal
2. Memperlambat penyerapan obat ke aliran darah
sistemik
3. Mengurangi toksisitas sistemik
4. Mengurangi perdarahan pada tempat operasi

Larutan dengan vasokonstriktor harus digunakan


dengan hati-hati pada jari tangan, hidung, penis,
dan kuping karena ada resiko terjadi ganggren.
Penggolongan Anestesi Lokal
 Golongan ester PABA:
Contoh: benzokain, prokain, oksibuprokain,
butakain, dan tetrakain
 Golongan senyawa amida:
Contoh: lidokain, prilokain, mevikain,
buvikain, sinkokain
 Golongan lain-lain:
Contoh: kokain, benzilalkohol, fenol
Lidokain (Lignokain, Xylokain, Lidonest,
lidonest hyperbarik, pehacain)

 Indikasi: Untuk anestesi infiltrasi, dan regional


 Efek Samping: Mengantuk, pusing, sukar bicara,
hipotensi, konvulsi
 Perhatian : Abestesi infiltrasi harus dibawah
pengawasan dokter ahli anestesi
 Dosis: disesuaikan dengan berat badan pasien,
200 mg (atau 500 mg bila dikombinasi dengan
adrenalin) Injeksi: 0,5-5%, salep 2,5-5%, larutan
tenggorokan 2-4%
 Sediaan: Injeksi lidokain HCl 5%, lidokain comp 2%
dengan adrenalin 1:200.000
Buvikain (Marcain, Marcain Spinal)
 Indikasi: Untuk anestesi spinal
 KI: Tidak boleh digunakan pada anestesi regional iv
(Blocking bier)
 ESO = lidokain
 P: larutan 0,75% tidak boleh diberikan pada blokade
epidural dalam obsestrik
 Dosis: Infiltrasi 0,25% (hingga 60ml), Bloking saraf
perifer 0,25% (maks 60ml), 0,5% (maks 30 ml),
Blokade epidural 0,5-0,75% (maks 20ml)
Prilokain (Prilonest)
 Indikasi: Anestesi regional iv, blokade saraf,
anestesi dental.
 Dosis diatur sesuai lokaksi pembedahan dan
respon pasien sampai maksimal 400 mg