Anda di halaman 1dari 32

Obat Saluran Nafas

(ISPA & PPOK)

FARMAKOLOGI I
Oleh
apt. Fitra Fauziah, M.Farm
STIFARM PADANG
Definisi
Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang
umum terjadi pada masyarakat. Infeksi saluran napas
berdasarkan infeksinya terbagi menjadi saluran napas atas dan
saluran napas bawah. Infeksi saluran napas atas meliputi
rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis,
otitis. Saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronkus,
alveoli seperti bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia.
Etiologi
• Iritan yang terhirup (asap, asap rokok, debu) atau
teraspirasi (postnasal drip, benda asing, isi lambung).
• Semua gangguan yang menyebabkan inflamasi, konstriksi,
kompresi jalan napas.
• Asma
• TBC
• Kanker paru-paru
• Interstitial lung disease, pneumonia
• CHF
• ACE-inhibitor (captopril).
Patofisiologi

ISPA terjadi karena infeksi antara bakteri dan flora normal


di saluran napas. Infeksi oleh bakteri, virus dan jamur dapat
merubah kolonisasi bakteri. Timbul pertahanan pada jalan
napas seperti filtrasi udara inspirasi dirongga hidung, refleks
batuk, refleksi epiglotis, pembersihan mukosilier dan
fagositosis. Karena menurunnya daya tahan tubuh penderita
maka bakteri patogen dapat melewati mekanisme sistem
pertahanan tersebut akibatnya terjadi invasi di daerah-daerah
saluran pernapasan atas maupun bawah.
Tanda dan Gejala

Gejala ISPA sedang: Gejala ISPA berat:


Pernapasan lebih dari Bibir atau kulit membiru
Gejala ISPA ringan: 50 kali per menit Pernapasan berbunyi
Batuk Demam mengorok
Serak Tenggorokan berwarna Pernapasan menciut
Pilek merah Nadi cepat lebih dari 60
Demam Timbul bercak-bercak kali per menit
pada kulit Tenggorokan berwarna
Pernapasan berbunyi merah
Terapi Nonfarmakologi
• Kompres air hangat
• Hindari polusi udara
• Istirahat yang cukup
• Pastikan memperbanyak
minum
Terapi Farmakologi

1. Antihistamin (penghambat resepetor H1)


2. Agonis alfa adrenergik (dekongestan)
3. Kortikosteroid
4. Bronkodilator
5. Mukolitik
1. Antihistamin (Penghambat Reseptor H1)

• Farmakodinamik: antagonisme terhadap histamin, AH1


mengahambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus
dan bermacam-macam otot polos, selain itu AH1 bermanfaat
untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau keadaan lain
yang disertai pelepasan histamin endogen berlebih.
• Farmakokinetik: setelah pemberian oral atau parenteral, AH1
diabsorpsi secara baik. Efeknya timbul 15-30 menit setelah
pemberian oral maksimal setelah 1-2 jam.
• Indikasi: AH1 berguna untuk pengobatan simtomatik
berbagai penyakit alergi dan mencegah atau mengobati
mabuk perjalanan.
• Efek samping: pada dosis terapi semua AH1 menimbulkan
efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-
kadang hilang bila pengobatan diteruskan.
• Pengobatan: pengobatan diberikan secara simpatomimetik
dan suportif karena tidak ada antidotum spesifik.
• Perhatian: sopir atau pekerja yang memerlukan
kewaspadaan yang menggunakan AH1 harus diperingatkan
tentang kemungkinan timbulnya kantuk.
Golongan dan contoh Dosis dewasa Masa kerja Aktivitas komentar
obat antikolinerjik

ANTIHISTAMIN GOLONGAN I

Etanolamin
-karbinoksamin 4-8 mg 3-4 jam +++ Sedasi ringan sampai sedang
-difenhidramin 25-50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, anti-motion sicness
-dimenhidrinat 50 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, anti-motion sicness

Etilenediamin
-pirilamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang
-tripelenamin 25-50 mg 4-6 jam + Sedasi sedang
Piperazin
-hidroksizin 25-100 mg 6-24 jam ? Sedasi kuat
-siklizin 25-50 mg 4-6 jam - Sedasi ringan, anti-motion sicness
-meklizin 25-50 mg 12-24 jam - Sedasi ringan, anti-motion sicness

Alkilamin
-klorfeniramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan, komponen obat flu
-bromfeniramin 4-8 mg 4-6 jam + Sedasi ringan
Derivat fenotiazin
-prometazin 10-25 mg 4-6 jam +++ Sedasi kuat, antiemetik

ANTIHISTAMIN GENERASI II

-asetamizol 10 mg <24 jam - Mula kerja lambat


-feksofenadin 60 mg 12-24 jam - Resiko aritmia lebih rendah
-loratadin 10 mg 24 jam - Masa kerja lebih lama
-setrizin 5-10 mg 12-24 jam
2. Agonis alfa adrenergik (dekongestan)

• Contoh obat: efedrin, pseudoefedrin dan


fenilpropanolamin.
• Efedrin:
 Efedrin adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan yang
disebut efedra atau ma huang.
 Farmakodinamik: efek farmakodinamik efedrin sama seperti
epi. Perbedaanya adalah efedrin bukan katekolamin, maka
efektif pada pemberian oral, masa kerjanya jauh lebih
panjang, efek sentralnya jauh lebih kuat.
 MK: efedrin bekerja pada reseptor alfa, beta1 dan beta 2.
Efek perifer efedrin melalui kerja langsung dan melalui
pelepasan NE endogen.
• Fenilpropanolamin: efek farmakodinamik
fenilpropanolamin menyerupai efedrin dan potensinya
hampir sama dengan efedrin kecuali bahwa obat ini kurang
menimbulkan perangsangan SSP.
• Pseudoefedrin: merupakan salah satu dari enantiomer
efedrin. Cara kerjanya serupa efedrin tetapi potensinya
lebih rendah.
3. Kortikosteroid

• Kortikosteroid bekerja mengatur mekanisme humoral


maupun seluler dari respon inflamsi dengan cara
menghambat aktivasi dan infiltrasi eosinofil, basofil dan
mast cell ke tempat inflamasi serta mengurangi produksi
dan pelepasan faktor-faktor inflamasi.
• Obat golongan ini diberikan untuk rhinitas jika antihistamin
sudah tidak efektif.
• Untuk mengurangi efek samping sistemiknya kortikosteroid
sering diberikan melalui topikal.
• Contoh obat: dexametason, flutikason dan triamsinolon.
• Dexametason merupakan kortikosteroid yang sering
digunakan dengan dosis dewasa 0,75-9 mg/ kg/ hari dan
0,08-0,3 mg/ kg/ hari untuk anak terbagi dalam 2-4 dosis.
4. Bronkodilator
• Indikasi: bronkodilator biasanya digunakan pada ISPA
bawah pada kasus bronkhitis kronis dengan obstruksi
pernapasan.
• Bronkodilator terdiri dari dua agen yaitu beta adrenoceptor
agonist yang biasa diberikan secara inhalasi baik dalam
bentuk uap maupun serbuk kering.
• MK: bronkodilator bekerja dengan cara melebarkan
bronkus dan merelaksasi otot-otot pada saluran
pernapasan.
• Konstriksi bronkus dapat diredakan atau dikurangi dengan
pemberian agonis beta 2 atau pemberian antagonis
kolinergik serta golongan xantin.
1. Agonis Beta 2
• MK: menyebabkan bronkodilatasi, meningkatkan klirens
mukosiliari, stabilitas sel mast dan menstimulasi otot skelet.
• Contoh obat: salbutamol, terbutalin, fenoterol, pirbuterol,
salmeterol, formeterol.
• Farmakokinetik: salbutamol di absorpsi baik dalam saluran
pencernaan ketika digunakan secara per oral.
• Farmakodinamik: awal kerja dari salbutamol melalui rute
per oral adalah 30 menit dan kadar tertinggi dalam plasma
dicapai dalam waktu 3-5 jam dan mempunyai waktu paruh
selama 4-6 jam.
• Efek samping: dapat menyebabkan tremor otot rangka,
palpitasi, takikardia, ketegangan saraf, sakit kepala.
2. Metil xantin
• MK: menghambat enzim fosfodiesterase yang
menyebabkan bronkodilatasi.
• Farmakodinamik: meningkatkan kesiagaan dan mengurangi
kelelahan, pada otot polos bekerja sebagai bronkodilatasi.
• Contoh obat: kafein, teobromin, teofilin
• Efek samping: mual, muntah, pada orang-orang tertentu
dapat menimbulkan muka merah (flusing).
• Karena efek sampingnya lebih besar dan efektivitasnya
lebih kecil jika dibanding dengan agonis beta 2
menyebabkan teofilin lebih jarang digunakan.
3. Kolinergik
• Indikasi: antikolinergik tidak secara luas digunakan sebagai
terapi asma atau bronkodilator, diberikan jika obat-obat lain
kurang efektif atau hanya sebagai tambahan pada agonis
beta 2.
• Efek samping: mulut kering karena berkurangnya sekresi
kelenjar.
• Contoh obat: ipatropium bromid yang pemberiannya
melalui inhalasi.
5. Mukolitik
• Indikasi: mukolitik biasanya digunakan sebagai terapi tambahan
bronkhitis dan pneumonia.
• MK: bekerja dengan mengencerkan mukus sehingga mudah
dieskpektorasi. Asetilsistein bekerja dengan cara membuka ikatan
gugus sulfidril pada mukoprotein sehingga menurunkan viskositas
mukus, obat ini lebih sering digunakan, serta dapat diberikan secara
nebulasi maupun oral.
• Contoh obat dan dosis:
 Asetilsistein 200 mg, 3 x sehari
 Bromheksin 8 mg, 2-3 x sehari
 Gauifenesin 100 mg, 3 x sehari
 Gliseril guaikolat 50-100 mg, 2-3 x sehari.
PPOK
(Penyakit Paru Obstruktif Kronis)
Definisi

Menurut “The National Hart, Lung and Blood Insitute


(NHLBI)” dan WHO, PPOK didefinisikan sebagai penyakit yang
ditandai oleh terbatasnya saluran udara yang progresif yang
tidak sepenuhnya dapat pulih kembali. Kondisi paling umum
yang menyebabkan PPOK adalah bronkhitis kronis dan
enfisema.
Faktor Resiko

• Paparan asap rokok


• Polusi udara di dalam maupun di luar ruangan
• Masalah paru dalam masa kanak-kanak atau gestasional
• Genetik (defisiensi antitripsin alfa-1).
Patofisiologi

PPOK terjadi sekunder terhadap respons inflamsi


abnormal pada paru yang disebabkan terutama oleh rokok,
tetapi bisa juga karena faktor genetik, polusi udara, atau
paparan terhadap gas-gas berbahaya lainnya.
Limitasi aliran udara kronik yang merupkan karakter PPOK
disebabkan oleh inflamasi dan remodelling jalan napas
(penyakit jalan napas kecil), kerusakan alveoli, dan penurunan
elastisitas paru, yang menyebabkan kolabs jalan napas
terutama selama ekspirasi. Inflamasi paru lebih lanjut
diperparah oleh stres oksidatif dan kelebihan proteinase
dalam paru, yang menyebabkan perubahan patologis pada
paru.
Penatalaksanaan
1. Terapi Nonfarmakologi
• Rehabilitasi
• Terapi oksigen
• Ventilator support
• Surgical therapy
2. Terapi Farmakologi
• Bronkodilator
• Antiinflamasi
• Antibiotika
• Mukolitik
• Antitusif
Bronkodilator
Indikasi: bronkodilator biasanya digunakan pada ISPA bawah
pada kasus bronkhitis kronis dengan obstruksi pernapasan.
Bronkodilator terdiri dari dua agen yaitu beta adrenoceptor
agonist yang biasa diberikan secara inhalasi baik dalam
bentuk uap maupun serbuk kering.
MK: bronkodilator bekerja dengan cara melebarkan bronkus
dan merelaksasi otot-otot pada saluran pernapasan.
Konstriksi bronkus dapat diredakan atau dikurangi dengan
pemberian agonis beta 2 atau pemberian antagonis
kolinergik serta golongan xantin.
1. Agonis Beta 2
• MK: menyebabkan bronkodilatasi, meningkatkan klirens
mukosiliari, stabilitas sel mast dan menstimulasi otot skelet.
• Contoh obat: salbutamol, terbutalin, fenoterol, pirbuterol,
salmeterol, formeterol.
• Farmakokinetik: salbutamol di absorpsi baik dalam saluran
pencernaan ketika digunakan secara per oral.
• Farmakodinamik: awal kerja dari salbutamol melalui rute per
oral adalah 30 menit dan kadar tertinggi dalam plasma
dicapai dalam waktu 3-5 jam dan mempunyai waktu paruh
selama 4-6 jam.
• Efek samping: dapat menyebabkan tremor otot rangka,
palpitasi, takikardia, ketegangan saraf, sakit kepala.
. Metil xantin
• MK: menghambat enzim fosfodiesterase yang
menyebabkan bronkodilatasi.
• Farmakodinamik: meningkatkan kesiagaan dan
mengurangi kelelahan, pada otot polos bekerja
sebagai bronkodilatasi.
• Contoh obat: kafein, teobromin, teofilin
• Efek samping: mual, muntah, pada orang-orang
tertentu dapat menimbulkan muka merah (flusing).
• Karena efek sampingnya lebih besar dan
efektivitasnya lebih kecil jika dibanding dengan agonis
beta 2 menyebabkan teofilin lebih jarang digunakan.
3. Kolinergik
Indikasi: antikolinergik tidak secara luas digunakan
sebagai terapi asma atau bronkodilator, diberikan jika
obat-obat lain kurang efektif atau hanya sebagai
tambahan pada agonis beta 2.
Efek samping: mulut kering karena berkurangnya sekresi
kelenjar.
Contoh obat: ipatropium bromid yang pemberiannya
melalui inhalasi.
Antiinflamasi

• Golongan: inhaled corticosteroid (ICS), terapi inhaler triple,


oral glukokortikoid.
• Pilihan utama bentuk metilprednisolon atau prednison.
Untuk penggunaan jangka panjang pada PPOK stabil hanya
bila diuji steroid positif. Pada eksaserbasi dapat digunakan
dalam bentuk oral atau sistemik.
• Efek samping: candidiasis mulut, suara parau, kulit memar
dan pneumonia.
Antibiotika
Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan antibiotik
secara regular dapat menurunkan laju eksaserbasi.
Azitromycin (250 mg/ hari atau 500 mg 3 kali perminggu) atau
eritromycin (500 mg 2 kali per hari) dalam satu tahun dapat
menurunkan resiko eksaserbasi. Azithromycin berhubungan
dengan peningkatan insiden resistensi bakteri dan gangguan
pendengaran.
Mukolitik

• Indikasi: mukolitik biasanya digunakan sebagai terapi tambahan


bronkhitis dan pneumonia.
• MK: bekerja dengan mengencerkan mukus sehingga mudah
dieskpektorasi. Asetilsistein bekerja dengan cara membuka ikatan
gugus sulfidril pada mukoprotein sehingga menurunkan viskositas
mukus, obat ini lebih sering digunakan, serta dapat diberikan secara
nebulasi maupun oral.
• Contoh obat dan dosis:
 Asetilsistein 200 mg, 3 x sehari
 Bromheksin 8 mg, 2-3 x sehari
 Gauifenesin 100 mg, 3 x sehari
 Gliseril guaikolat 50-100 mg, 2-3 x sehari.
Antitusif

• MK: antitusif bekerja dengan menekan batuk dengan mengurangi


iritasi lokal di saluran nafas, yaitu pada reseptor iritan perifer
dengan cara anastesi langsung ataupun secara tidak langsung
mempengaruhi lendir saluran napas.
• Indikasi: batuk kering tidak produktif
• Contoh obat: kodein, dekstrometorfan, uap mentol.
• Efek samping: mudah mengantuk, menyebabkan psikosis pada
dosis besar.
• Peringatan: kehamilan dan menyusui.
• Dosis: dekstrometorfan tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan
15 mg/ 5 mL. Dosis dewasa 10-30 mg diberikan 3-4 kali sehari.