Anda di halaman 1dari 23

EKONOMI MIKRO

Konsums
Produksi
i

Islamic
Perspective
Prod
uksi

Pengertian Produksi Prod


uksi

Secara konvensional, produksi diartikan sebagai proses menghasilkan atau


menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber
daya yang ada.

Karf (1992)
• Tidak hanya menghasilkan barang secara fisik (quantity)
• Mengedepankan moral-etic dalam produksi (quality)
• Sebagai sarana untuk mencapai tujuan kebahagiaan dunia
dan akhirat.
Al Haq (1996)
• Tujuan produksi adalah memenuhi kebutuhan barang dan
jasa
• Menempatkan produksi sebagai fardlu kifayah
Faktor Produksi

Tenaga Kerja Bahan Baku/SDA Modal

Adalah segala daya dan Tanah meliputi segala Capital adalah bagian dari
upaya yang dicurahkan sesuatu yang ada di dalam harta kekayaan yang
dalam menghasilkan dan dan di luar ataupun disekitar digunakan untuk
meningkatkan kegunaan bumi yang menjadi sumber- menghasilkan barang dan
barang dan jasa, baik dalam sumber ekonomi, seperti jasa, seperti mesin, alat
bentuk teoretis (pemikiran, pertambangan, pasir, tanah produksi, equipment,
ide, konsep) maupun pertanian, sungai dan lain gedung,transportasi dan lain
aplikatif (tenaga, gerakan) sebagainnya. sebagainya. Dalam
yang sesuai dengan syariah. kapitalisme capital berhak
mendapat bunga sebagai
kompensasi pinjaman
Fungsi Produksi
C  Konsekuensi selalu berupa Bunga
L  Upah, Eksploitasi buruh kecil untuk menurunkan cost/biaya
R  Terbatas, Pemilikan individu, konsekuensi Beli atau sewa
T  Tidak semua orang bisa, Biaya tinggi

Q = f (C, L, R, T)

C  No Bunga/Profit Sharing (Q.S. Ali Imran: 130, Q.S. Al Baqarah: 278-279).


L  Upah, ekplotasi buruh (HR. Ibnu Majah‫َف َعـرـ ُق ُهـ‬ َ ‫) َأـ ْع ُطوـا ا َألـ ِجـير َأـ ْج ُرـهـ َ ق َبْـ‬
ِ‫لْأـن َ ّـَّج‬
َ ‫يـــ‬ َ َ
R  Cukup, Kesejahteraan Bersama, tidak diakui kepemilikan mutlak
(QS 5 Al Ma-idah:17)
T  Optimalisasi teknologi untuk kemaslahatan bersama
Faktor-faktor Produksi

SUMBER DAYA ALAM


ُ‫ُز فَنُ ْخ ِر ُج ِب ِه زَرْ ًعا تَأْ ُك ُل ِم ْنه‬
ِ ‫ض ْال ُجر‬
ِ ْ‫ق َ ْال َما َء إِلَى اأْل َر‬
ُ ‫أَ َولَ ْم يَ َر ْوا أَنَّا نَسُو‬
‫ُون‬
َ ‫ْصر‬ ِ ‫أَ ْن َعا ُمهُ ْم َوأَ ْنفُ ُسهُ ْم ۖ أفَاَل يُب‬

QS As-Sajdah 32:27 – “Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya


kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu
kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan
hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak
memperhatikan?”

َ ‫ات َما َك َس ْبمُت ْ َو ِم َّما َأخ َْر ْجنَا لَمُك ْ ِم َن اَأْل ْر ِض َواَل تَ َي َّم ُموا الْ َخ ِب‬
َ ‫يث ِم ْن ُه تُ ْن ِف ُق‬
‫ون‬ ِ ‫اَي َأهُّي َا اذَّل ِ َين َءا َمنُوا َأنْ ِف ُقوا ِم ْن َط ِ ّي َب‬
‫َولَ ْسمُت ْ ِبآ ِخ ِذي ِه اَّل َأ ْن تُ ْغ ِمضُ وا ِفي ِه َوا ْعلَ ُموا َأ َّن اهَّلل َ غَيِن ٌّ مَح ِ ي ٌد‬
Al-Baqarah ; 267 - “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan
‫ِإ‬
Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang
Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang
buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan
ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji
Faktor-faktor Produksi
TENAGA KERJA

ِ ْ‫هُ َو أَ ْن َشأ َ ُك ْم ِم َن اأْل َر‬


‫ض َوا ْستَ ْع َم َر ُك ْم ِفيهَا فَا ْستَ ْغفِرُوهُ ثُ َّم تُوبُوا إِلَ ْي ِه‬
QS Huud 61 - ... Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmurnya [726] ...
[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

HR Bukhari Muslim – “Tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang memakan
makanan, kecuali jika makanan itu diperolehnya dari hasil jerih payahnya sendiri.
Jika ada seseorang di antara kamu mencari kayu bakar, kemudian mengumpulkan
kayu itu dan mengikatnya dengan tali lantas memikulnya di punggungnya,
sesungguhnya itu lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain.”

HR Bukhari - Diriwayatkan tentang Abu Umamah yang berkata, bahwa pada waktu
Nabi SAW melihat sebuah bajak dan beberapa peralatan pertanian lain, “ Saya
mendengan Nabi SAW berkata: ‘Tidaklah ini masuk ke rumah suatu kaum selain
menimbulkan kehinaan’ ”.
Faktor-faktor Produksi

MODAL
َ ُ‫َو َما تُ ْنفِقُوا ِم ْن َخي ٍْر فَأِل َ ْنفُ ِس ُك ْم ۚ َو َما تُ ْنفِق‬
‫ون إِاَّل ا ْبتِ َغا َء َوجْ ِه هَّللا ِ ۚ َو َما تُ ْنفِقُوا‬
‫ون‬َ ‫ظلَ ُم‬ْ ُ‫ف إِلَ ْي ُك ْم َوأَ ْنتُ ْم اَل ت‬َّ ‫ِم ْن َخي ٍْر يُ َو‬
QS Al-Baqarah 272 - ... Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan
(di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah
kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah.
Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan
diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan
dianiaya (dirugikan).
OPTIMALISASI: SDA – TENAGA KERJA –
MODAL

HR Bukhari – Nabi mengatakan, “Seseorang yang mempunyai


sebidang tanah harus menggarap tanahnya sendiri, dan
jangan membiarkannya. Jika tidak digarap, dia harus
memberikannya kepada orang lain untuk mengerjakannya.
Tetapi bila kedua-duanya tidak dia lakukan – tidak digarap,
tidak pula diberikan kepada orang lain untuk
mengerjakannya – maka hendaknya dipelihara/dijaga sendiri.
Namun kami tidak menyukai hal ini.”
Tujuan Produksi

Tujuan produksi dalam islam


adalah untuk memberikan
Mashlahah yang maksimum
Dalam konsep ekonomi bagi konsumen. Walaupun
konvensional (kapitalis) dalam ekonomi islam tujuan
produksi dimaksudkan utamannya adalah
untuk memperoleh laba memaksimalkan mashlahah,
sebesar besarnya (profit memperoleh laba tidaklah
seeker/profit maximizer) dilarang selama berada dalam
bingkai tujuan dan hukum
islam.
Di dalam perspektif bisnis modern saat ini, pandangan tentang maksimalisasi
keuntungan sebagai tujuan perusahaan telah mengalami sedikit perubahan. Traditional
Theory yang memandang maksimalisasi keuntungan sebagai tujuan perusahaan
dianggap tidak lagi memadai karena dua hal, yaitu: (1). Kesulitan dalam mencapai
keuntungan maksimum, dan (2) perusahaan sering kali memiliki tujuan-tujuan yang lain.
(Sloman, 1991)
Realita ….
 Beberapa penelitian menunjukan adanya perbedaan pendapatan
tentang hubungan antara pendapatan dengan kebahagiaan.
Easterlin (1974) menyimpulkan bahwa terdapat paradoks antara
pendapatan perkapita dengan tingkat kebahagiaan. Dalam
penelitian tersebut mengungkapkan bahwa, peningkatan dalam
pendapatan di negara industri seperti Amerika Serikat tidak
membuat seseorang menjadi lebih bahagia. Perbedaan hasil studi
empiris ditunjukan oleh Diener et al (2001) dan Di Tella (2003)
yang menemukan adanya pengaruh positif tingkat pendapatan
terhadap tingkat kebahagiaan. Untuk kelompok negara miskin,
tingkat pendapatan berpengaruh kuat terhadap tingkat
kebagahiaan (Diener et al 2001).
KAIDAH-KAIDAH PRODUKSI

Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap


tahapan produksi.

Mencegah kerusakan di muka bumi, termasuk


membatasi polusi, memelihara keserasian, dan
ketersediaan sumber daya alam

Memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat serta


mencapai kemakmuran

Memperhatikan tujuan kemandirian umat

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik


kualitas spiritual maupun mental dan fisik
Teori Konsumsi dalam Islam

Pengertian Tujuan

Konsumsi dalam ekonomi Islam Tujuan mengkonsumsi


adalah Upaya memenuhi kebutuhan
dalam Islam adalah
baik jasmani maupun rohani
sehingga mampu memaksimalkan untuk memaksimalkan
fungsi kemanusiaannya sebagai maslahah, (kebaikan)
hamba Allah SWT untuk BUKAN
mendapatkan kesejahteraan atau memaksimalkan
kebahagiaan di dunia dan akhirat kepuasan (maximum
(falah). utility)
Dasar Prilaku Konsumsi

 Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 87-88


Dasar Prilaku Konsumsi
 Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 27-28
Dasar Prilaku Konsumsi
 Al Hadist
Hadist yang menyatakan “Makanlah ketika lapar dan
berhentilah sebelum kenyang”

ْ َ‫نَ ْح ُن قَ ْو ٌم الَ نَأْ ُك ُل َحتَّى نَ ُج ْو َع َوإِ َذا أَ َك ْلنَا الَ ن‬


‫شبَ ُع‬
“Kami adalah kaum yang tidak makan sampai kami lapar
dan jika kami makan maka kami tidak (sampai) kenyang.”
Inti
Konsumsi Seorang “Semakin tinggi pendapatan dan
keimanan sesorang maka semakin
Muslim tinggi pengeluarannya untuk hal-
hal yang bernilai ibadah
sedangkan pengeluaran untuk
memenuhi kebutuhan dasar tidak
akan banyak pertambahannya
bahkan cenderung turun”

Tingkat konsumsi
seseorang itu (terutama
Muslim) didasarkan pada
tingkat pendapatan dan
keimanan.
Kesejahteraan dalam Islam

Menurut Imam Al-Ghazali, Agama (al-


dien),
kesejahteraan suatu masyarakat
tergantung kepada pencarian dan
pemeliharaan lima tujuan dasar: intelek atau hidup atau
akal (aql). jiwa (nafs),
1) agama (al-dien),
Kesejahteraan
2) hidup atau jiwa (nafs),
3) keluarga atau keturunan (nasl) ,
4) harta atau kekayaan (maal), dan harta atau
keluarga
atau
kekayaan
keturunan
5) intelek atau akal (aql). (maal),
(nasl) ,
Manusia senang
mengumpulkan kekayaan dan
kepemilikan yang bermacam
ragam. Bila ia sudah memiliki dua lembah emas,
maka ia juga akan menginginkan lembah
emas yang ketiga.

Ia berusaha untuk mengatasi ketakutan


Kenapa?? Karena manusia memiliki aspirasi ini dgn mengumpulkan lebih banyak
yang tinggi. Ia selalu berfikir bahwa lagi. Tetapi ketakutan semacam ini
kekayaan yang sekarang cukup mungkin tidak akan berakhir bahkan bila ia
tidak akan terpuaskan atau mungkin akan memiliki semua harta didunia.”
hancur sehingga ia akan membutuhkan (Al-Ghazali-Ihya Ulumuddin)
kekayaan yang lebih banyak lagi.

Utility / Kepuasan Kepuasan ?


• Konsep Kebutuhan dan Keinginan

Konsep need yang bersifat terbatas dan want yang


bersifat unlimited sesungguhnya adalah metode
yang diberikan Allah kepada manusia agar tetap
berkeinginan kaya namun rela berbagi dan memilih
hidup sederhana.
Konsep Kebutuhan dan Keinginan
Konsumsi yang sesuai kebutuhan
atau hajat adalah konsumsi
terhadap barang dan jasa yang
benar-benar dibutuhkan untuk
hidup secara wajar.

Konsumsi yang sesuai dengan


keinginan atau syahwat
merupakan konsumsi yang
cenderung berlebihan, mubazir
dan boros.
Kebutuhan
(hajat)

Tahsiniya
t
Hajiyaat • kebutuhan di atas
• Pemenuhan hajiyat dan di
bawah tabzir atau
kebutuhan kemewahan
(konsumsi) hanya
untuk
Dhoruriya mempermudah
atau menambah
t kenikmatan.
Kebutuhan ini
• kebutuhan dasar bukan merupakan
dimana apabila kebutuhan primer.
tidak dipenuhi
maka kehidupan
Teori Homo Economicus dan Homo Islamicus

Dalam Islam, manusia Homo Economicus


bukan homo economicus (Manusia Ekonomi)
tapi homo Islamicus. adalah suatu sebutan
Homo Islamicus yaitu orang awam terhadap
manusia ciptaan Allah mereka yang senantiasa
SWT yang harus berorientasikan dan
melakukan segala sesuatu mendewa-dewakan
sesuai dengan syariat profit,produktivitas,moda
Islam, termasuk prilaku l dan hal-hal yang berbau
konsumsinya materi lainnya