Anda di halaman 1dari 18

PUG DALAM

PERENCANAAN,
PELAKSANAAN DAN
ANGGARAN YANG
RENPONSIF GENDER
YANG DIMAKSUD DENGAN PENGANGGARAN YANG RESPONSIF
GENDER

Bukanlah penganggaran yang terpisah bagi laki-laki dan perempuan,


melainkan bentuk keberpihakan terhadap salah satu jenis kelamin
yang tertinggal;
Mengintegrasikan permasalahan gender ke dalam proses
penganggaran
 komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan gender;
Dirumuskan berdasarkan hasil analisis yang berperspektif gender.
PENGANGGARAN YANG RESPONSIF GENDER

untuk mewujudkan keadilan, kepatutan, dan menegakkan


kesetaraan laki-laki dan perempuan.
Untuk memastikan berkurang atau menghilangkan tingkat
kesenjangan gender
Untuk meningkatkan kinerja pemerintah melalui pengintegrasian
permasalahan gender.
Meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan partisipasi masyarakat
Bentuk Realisasi Komitmen Pemerintah terhadap berbagai
kesepakataninternational seperti CEDAW,Beijing Platform For Action
dan Human Right,MDGs.
TIGA KATEGORI ANGGARAN YANG BERPERSPEKTIF GENDER

1. Alokasi anggaran khusus bagi perempuan dan anak, yaitu alokasi


belanja yang diperuntukkan bagi laki – laki saja atau perempuan
saja atau anak laki – laki saja atau anak perempuan saja.
2. Aloksi anggaran untuk Pengarusutamaan Gender, yaitu: alokasi
anggaran untuk untuk penyiapan perangkat pendukungbagi pelak-
sana pengarusutamaan gender di berbagai bidang pembangunan.
Contoh: Sosialisasi konsep gender, kajian isu gender,Lokakarya
perumusan dokumen perencanaan dan kebijakan publik.
3. Aloksi anggaran yang responsif gender, yaitu Alokasi anggaran
yang telah mengakomodasikan permasalahan gender.
Contoh : penyediaan fasilitas penitipan anak di tempat kerja,
penyediaan fasilitas toilet yang proposional untuk laki –laki dan
perempuan, Modifikasi jembatan penyeberangan, penyediaan
tempat duduk bagi perempuan hamil, pemberian beasiswa atau
pelatihan kerja yang proposional bagi laki – laki dan perempuan
berdasarkan analisis gender.
Apa tujuan dari penganggaran yang responsif gender?

Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para


pengambil keputusan tentang berbagai isu – isu
gender dan pengitegrasiannya;
Memberikan solusi kegiatan afirmatif terhadap
kebutuhan praktis gender;
Menyerasikan kebijakan penganggaran yang lebih
responsif gender untuk mengakomodasikan
permasalahan gender.
TUJUAN PENYUSUNAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER

1. Merumuskan aspirasi, kepentingan dan kebutuhan laki-laki dan


perempuan secara adil.
2. Merumuskan kebutuhan praktis dan strategis gender.
3. Menghindari diskriminasi laki-perempuan yang mampu (Able),
cacat tidak mampu (disable) dan orang cacat tapi mampu
(Difable),children (Anak-2) dan elderly(Lansia)
4. Mengarahkan kemajuan taraf hidup laki dan perempuan menuju
kesetaraan akses, peran,kontrol dan manfaat hasil pembangunan
5. Mewujudkan transparansi, efisien,partisipasi akuntabilitas dan
terukur (tepat) sehingga produk pembangunan bermanfaat secara
adil untuk laki & perempuan
Apa tujuan dari penganggaran yang responsif gender?

Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para


pengambil keputusan tentang berbagai isu – isu
gender dan pengitegrasiannya;
Memberikan solusi kegiatan afirmatif terhadap
kebutuhan praktis gender;
Menyerasikan kebijakan penganggaran yang lebih
responsif gender untuk mengakomodasikan
permasalahan gender.
LANGKAH PRAKTIS MENYUSUN ANGGARAN RESPONSIF GENDER

1. Melakukan pemetaan mengenai kondisi Lk & Pr, tentukan ada tidaknya


kesenjangan gender (data terpilah);
2. Menelaah kebijakan/program/kegiatan yang ada saat ini, apakah netral,
bias, atau responsif gender;
3. Melakukan analisis permasalahan dan kebutuhan yang perlu
diakomodasikan dalam proses penganggaran;
4. Menentukan alokasi belanja sesuai dengan hasil analisis yang
perspektif gender;
5. Melakukan monitoring apakah dalam pelaksanaan anggaran telah
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan;
6. Mengevaluasi apakah anggaran yang perspektif gender telah
membawa perubahan yang mengarah pada KKG.
SASARAN YANG INGIN DICAPAI

1. Adanya kesamaan pemahaman tentang alokasi anggaran yang


berperspektif gender;
2. Dipahaminya sistem dan proses penganggaran yang berperspektif
gender;
3. Tersebarnya alokasi anggaran yang responsif gender diberbagai
bidang pembangunan dan tidak hanya terfokus di bidang
Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Perempuan.
FORMULASI KEBIJAKAN YANG RESPONSIF GENDER

Mencari solusi and merumuskan alternatif kebijakan baru untuk


mengurangi kesenjangan gender (responsif gender)
Susun indikator keberhasilan
Susunan rencana tindak (kegiatan operasional dan sasaran)
Pelaksanaan
Monev
PUG DALAM PELAKSANAAN
 Pelaksanaan kebijakan , program dan kegiatan pembangunan nasional
yang berspektif gender diselenggarakan setelah tahap-tahap
perencanaan dan responsif gender dilakukan;
 Pelaksanaan PUG perlu didukung dan diefektifkan dengan:
 Pemampuan pelaksanaan pengarusutamaan gender;
 Penyusunan perangkat (analisis, pemantauan-evaluasi)
pengarusutamaan
 Pembentukan mekanisme pelaksanaan pengarusutamaan gender:
 Forum komunikasi
 Kelompok kerja
 Stering Comittee
 Focal point, dll
 Pembuatan kebijakan formal yang mampu secara mengembangkan
komitmen segenap jajaran pemerintah, propinsi, kabupaten dan kota
dalam upaya PUG
 Pembentukan kelembagaan dan penguatan kapasitas PUG untuk
pmerintah, propinsi Kabupaten/Kota.
 Pembentukan mekanisme jaringan yang melibatkan semua stakeholder
dalam proses pembangunan
APA KONDISI AWAL DAN KOMPONEN
KUNCI YANG DIPERLUKAN BAGI
PELAKSANAAN PUG

KONDISI KOMPONEN
AWAL AWAL

Peraturan perundang-undangan
-Tindak lanjut ratifikasi Konvensi
1. Komitmen politik Internasional;
2. Kerangka kebijakan -Penyusunan sistem dan mekanisme
3. Struktur dan mekanisme akuntabilitas yang responsif gender;
pemerintahan -Pelembagaan institusi PUG;
4. Sumber Daya -Unit PUG, Focal point, kelompok kerja;
5. Sistem Informasi dan data -Forum dan lain-lain;
6. Alat Analisis -SDM
7. Masyarakat madani -Sumber Dana
Data dan statistik yang terpilah menurut
jenis kelamin
Analisis gender
-Akan diupayakan secara bertahap lahirnya Keppres, PP dan UU tentang
KKG;
- Tahun 2001. 18 sektor sudah mendapat sosialisasi;
-Tahun 2001 sudah memiliki beberapa focal point
- Tahun 2002 memebentuk Komite Nasional PUG ( lintas sektor)
MERUBAH PERILAKU

BUTA
PEKA MAWAS
SADAR PEDULI
GENDER GENDER
GENDE GENDER GENDER
R

Apa Peran Mengapa


Apa ada masalah?
gender? gender ada
Masalah apa?
Siapa? pembedaan
Diskriminasi Mengapa?
?
Permasalahan dalam pelaksanaan PUG

Pemahaman yang kurang tepat terhadap


PUG yang diidentikkan dengan
program/kegiatan yang berkaitan dengan
perempuan karena gender masih dianggap
urusan perempuan

PUG masih dimaknai sebagai suatu program


dari pada sebagai suatu strategi yang menjadi
bagian dari prioritas pembangunan
PERMASALAHAN…

Persoalan lintas sektoral (lemahnya leading sektor


di pusat)

Unit Sekretariat Jenderal Depkumham dan Kanwil


sebagai pelaksana dan sebagai vocal point
gender, kurang di pandang sebagai fasilitator
untuk PUG.

Kurangnya landasan ilmiah yang mengacu pada


hasil penelitian.
Permasalahan…
Kurangnya komitmen politik (political will) and
leadership dari lembaga eksekutif, yudikatif
dan legislatif .
Kerangka kebijakan (policy framework) yang
ada belum dilaksanakan secara optimal
karena kurangnya komitmen yang baik pusat,
propinsi maupun kabupaten/kota dalam
perwujudan keadilan dan kesetaraan gender.
Prioritas masih rendah
UPAYA-UPAYA:
- PEMBENTUKAN FOCAL POINT
- SENSITIVIS PARA PENGAMBIL KEPUTUSAN
- SENSITIVIS PARA PENGELOLA PROGRAM
- PELATIHAN ANALISIS GENDER
- PELATIHAN ANGGARAN RESPONSIF GENDER
TERIMAH KASIH