Anda di halaman 1dari 15

Elfrida Hazna P.

M
10117048
S1 Farmasi C
Farmakoterapi II
Apa Beda Stroke Iskemik dan Stroke Hemorrhage?

1. Stroke Iskemik (Stroke Sumbatan), Stroke yang paling sering


terjadi

- Stroke Emboli : Bekuan darah atau plak yang terbentuk di dalam


jantung atau pembuluh arteri besar yang terangkut menuju otak 

- Stroke Trombotik : Bekuan darah atau plak yang terbentuk di dalam


pembuluh arteri yang mensuplai darah ke otak.
2. Stroke Hemoragik (Stroke Berdarah)

- Perdarahan Intraserebral : Pecahnya pembuluh darah dan darah


masuk ke dalam jaringan yang menyebabkan sel-sel otak mati sehingga
berdampak pada kerja otak berhenti. Penyebab tersering
adalah Hipertensi

- Perdarahan Subarachnoid : Pecahnya pembuluh darah yang


berdekatan dengan permukaan otak dan darah bocor di antara otak dan
tulang tengkorak. Penyebabnya bisa berbeda-beda, tetapi biasanya
karena pecahnya aneurisma
Sumber : P2PTM Kemenkes RI
Komplikasi Stroke Apa Saja?
Komplikasi dapat dikelompokkan berdasarkan :
- Dalam hal imobilisasi :  Infeksi pernapasan, nyeri tekan, konstipasi dan tromboflebitis
- Dalam hal paralisis :  Nyeri pada daerah punggung, dislokasi sendi deformitas,
 dan terjatuh
- Dalam hal kerusakan otak : Epilepsi dan sakit kepala
- Hidrosepalus (Fransisca B Batticaca,2008)

Komplikasi stroke menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi:


1. Hipoksia serebral
diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak
bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian
oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hemotokrit pada tingkat
dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.
2. Aliran darah serebral
bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah
serebral. Hidrasi adekuat (cairan intravena) harus menjamin penurunan vesikositas
darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi atau hipotensi ekstrem perlu
perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi
meluasnya area cedera.

3. Embolisme serebral
dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dari katup jantung
prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah keotak dan selanjutnya
menurunkan aliran darah serebral.
Review Jurnal Neuroproktektan Pada Stroke
Terapi pengobatan neuroprotektan pada stroke :
1. Voltage-gated cation channels
a. Sodium and calcium receptor antagonists
Enecadin adalah neuroprotektan yang disintesis secara kimia saat ini sedang menjalani
pengembangan klinis. Memberi sifat neuroprotektif dengan memblokir baik natrium dan
saluran kalsium. Enecadin telah terbukti sebagai neuroprotektan efektif pada cedera
hipoksia parah pada hewan. Molekul telah terbukti memberikan perlindungan terhadap
cedera iskemik sumsum tulang belakang dengan mencegah
nekrosis neuron dan apoptosis.
b. Potassium receptor openers

2. Glutamate receptor antagonists


a. AMPA receptor antagonists

3. Magnesium
Magnesium berperan ganda dalam proses fisiologis yang mungkin penting untuk iskemia.
Magnesium bisa menjadi kalsium channel blocker dan tegangan fisiologis tergantung
penghambat masuknya reseptor kalsium yang dimediasi oleh NMDA.
4. Free radical scavengers: antioxidants
Edaravone (3-methyl-1-phenyl-2-pyrazolin-5-one)

5. Opioid receptor antagonists


a. Endogenous opioids menginduksi kerusakan iskemik dengan menargetkan
reseptor opioid KAPPA sebagai rangsangan neurotransmitters

6. GABA receptor agonists


a. Clomethiazole adalah obat neuroprotektif kuat yang meningkatkan aktivitas
reseptor GABA receptor agonist. Penghambatan yang diinduksi GABA kuat dalam
mencegah cedera saraf yang disebabkan oleh neuron rangsang
pemancar selama stroke
b. Diazepam
7. Membrane stabilizers/Trophic factors
a. Citicoline (CDP-choline or cytidine-5-diphosphocholine) Beberapa peneliti
berspekulasi bahwa obat ini dapat membantu menjaga integritas membran sel dan,
karenanya, Citicoline dapat mengurangi kerusakan iskemik SSP karena membrannya
sifat stabilisasi dan pengurangan asam lemak bebas

8. Neuroprotectants lainnya
a. ONO-2506 telah terbukti ampuh dalam melindungi sel-sel saraf antagonis iskemik
oleh mengaktivasi astrosit
b. Albumin serum adalah protein multifungsi dan diyakini menunjukkan efek
neuroprotektif.
Di Indonesia :
Tujuan pemberian obat golongan neuroprotektor adalah sebagai perlindungan pada
sistem saraf pusat yang mengalami infark.

1. Pirasetam adalah derivat neurotransmiter gamma-aminobutyric acid (GABA) yang


mempunyai berbagai efek fisiologi.
- Pada level nueronal pirasetam memodulasi neurotansmiter pada daerah kolinergik.
- Pada level vaskular mengurangi adhesi eritrosit pada endotelium vaskular,
menghalangi vasospasme, dan memfasilitasi mikrosirkulasi.
2. Golongan kortikosteroid bertujuan untuk menurunkan edema pada otak sehingga
meningkatkan aliran darah cerebral pada daerah yang mengalami iskemia.
3. Golongan CCB berperan pada
penetrasi ke susunan saraf pusat yang berguna untuk memperkecil kerusakan neurologi
yang berhubungan dengan keadaan iskemik (Lovell & Ernst, 2017).
Stay at Home, Stay Healthy
Terima Kasih