Anda di halaman 1dari 66

HUKUM PERBANKAN

Kelas A
MKN FH UGM

Oleh:
Dr. Khotibul Umam, S.H.,LL.M.
Departemen Hukum Islam
Regulasi, Fatwa, Putusan MK, e-journal
• UU No. 21 Tahun 2008 tentang • https://
Perbankan Syariah. jurnal.ugm.ac.id/jmh/articl
• PBI/SEBI dan POJK/SEOJK terkait e/view/16239/10785
Perbankan Syariah (Kelembagaan
dan Produk/Aktivitas)
• https://jurnal.ugm.ac.id/jm
• PERMA 14/2016 : Tata Cara
h/article/view/16139/1068
5
Penyelesaian Perkara ES
• Fatwa DSN-MUI No. 1 – 120 • http://
terkait Ekonomi Syariah ( ejournal.mahkamahkonstit
https://dsnmui.or.id/) usi.go.id/index.php/jk/articl
• Putusan MK No. 93/PUU-X/2012 e/view/1242/81
(Uji Materi Pasal 55 UUPS 2008)
• http://
asy-syirah.uin-suka.com/ind
ex.php/AS/article/view/502
Referensi
• Khotibul Umam dan Setiawan Budi
Utomo, 2016, Perbankan Syariah : Dasar-
dasar dan Dinamika Perkembangannya di
Indonesia, PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
• Khotibul Umam, 2009, Trend
Pembentukan Bank Umum Syariah, BPFE,
Yogyakarta.
• Sudin Haron & Wan Nursofiza Wan Azmi,
2009, Islamic Finance and Banking System
(Philosophies, Principles & Practices),
Mc.GrawHill Education, Selangor,
Malaysia.
• Standar Produk Murabahah dan Standar
Produk Musyarakah dan MMQ (http://
www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/berita-da
n-kegiatan/publikasi/Default.aspx
)
Pokok Bahasan
1. Perbankan Syariah dalam Sistem Hukum
Perbankan Nasional
2. Aspek Kelembagaan Perbankan Syariah di
Indonesia
3. Perbankan Syariah Pasca OJK
4. Kegiatan Usaha dan Produk Perbankan Syariah
5. Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah (NPF)
6. Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah
PENUGASAN (ALTERNATIF)  PPT
• Historical Approach  National and/or International
• Statute Approach  Indonesia Law and Regulation,
including Fatwa
• Comparative Approach  INA + Selecting Countries
• Conceptual Approach  Institution, Product and
Services
• Case Approach  Court Decision Analyze (MA + MK)
• Contract Analyze (Akad Syariah)
DEFINISI BANK
DEFINISI BANK
Bank adalah “Badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak”.
(Ps1. Butir 2. UU No.10/1998)
Bank (UU No. 21/2008)
Bank adalah “Badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat”.
(Ps. 1 Butir 2 UU No. 21/2008)
PERBANKAN SYARIAH &
BANK SYARIAH

 Perbankan Syariah adalah segala sesuatu yang


menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit Usaha
Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha,
serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan
usahanya (Pasal 1 angka 1 UU No. 21/2008)
 Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan
usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut
jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (Pasal 1 angka 7 UU No.
21/2008)
Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam
dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa
yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki
kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang
syariah (Pasal 1 angka 12 UU No. 21/2008)
Periodesasi Perkembangan Industri
Perbankan Syariah di Indonesia

Purification
Phase (UU
Recognition 21/2008)
Phase (UU
10/1998)
Introduction
Phase (UU
7/1992)
Fungsi Bank Syariah
1) Bank Syariah dan UUS wajib menjalankan fungsi
menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat.
2) Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi
sosial dalam bentuk baitul mal, yaitu menerima dana
yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau
dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada
organisasi pengelola zakat.
3) Bank Syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial
yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya
kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan
kehendak pemberi wakaf (wakif).
Lihat: Pasal 4 UU No. 21 Tahun 2008
Aspek Kelembagaan Perbankan Syariah di
Indonesia
1. Bank Umum Syariah, Bank Syariah yang dalam kegiatannya
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2. Unit Usaha Syariah (UUS), adalah unit kerja dari kantor
pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai
kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan
kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah, atau unit kerja
di kantor cabang dari suatu Bank yang berkedudukan di luar
negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara
konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari
kantor cabang pembantu syariah dan/atau unit syariah.
3. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah adalah Bank Syariah
yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa
dalam lalu lintas pembayaran.
Mekanisme Pembentukan Bank Syariah
Alternatif
• Akuisisi dan Konversi Bank
Konvensional menjadi Bank
Syariah
• Pemisahan (Spin-off) UUS
1. Pemisahan dengan
pendirian BUS (Pure Model)
2. Pemisahan dengan
mengalihkan aktiva dan
pasiva kepada BUS yang
sudah ada (Acquisition
Model)
Trend Pembentukan BUS
(1) bank umum konvensional yang
telah memiliki Unit Usaha Syariah
(UUS) mengakuisisi bank yang relatif
kecil kemudian mengkonversinya
menjadi syariah dan melepaskan
serta menggabungkan UUS-nya
dengan bank yang baru dikonversi
tersebut.
(2) bank umum konvensional yang
belum memiliki UUS, mengakuisisi
bank yang relatif kecil dan
mengkonversinya menjadi syariah.
(3) melakukan pemisahan (spin-off)
UUS dan dijadikan Bank Umum
Syariah tersendiri
Statistik Otoritas Jasa Keuangan
Per November 2019
1. Jaringan Kantor (Networking) Perbankan Syariah di
Indonesia terdiri dari 14 Bank Umum Syariah, 20 Unit Usaha
Syariah, dan 97 Bank Pembiayaan Syariah. Termasuk Bank
Umum Syariah, yakni : PT Bank BPD NTB Syariah, PT. Bank
Aceh Syariah PT Bank Syariah Muamalat Indonesia, PT Bank
Syariah Mandiri, PT Bank Syariah Mega Indonesia, PT Bank
Syariah BRI, PT Bank Syariah Bukopin, PT Bank Panin Syariah,
PT Bank Victoria Syariah, PT BCA Syariah, PT Bank Jabar dan
Banten, PT Bank Syariah BNI, PT Maybank Indonesia Syariah,
dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah.
2. Kecuali PT. Bank Muamalat Indonesia, pembentukan
bank umum dimaksud dilakukan melalui mekanisme
akuisisi dan konversi dan/atau Pemisahan, serta konversi
total dari UUS menjadi BUS (Aceh dan NTB)
Supervisi dan Regulasi Perbankan Syariah
Pasca OJK

UU UU UU
23/2009 3/2004 21/2011
Kondisi Sebelum Pengalihan ke OJK

No Pengaturan Pengawasan
1. Prinsip Syariah (Fatwa DSN-MUI) Dewan Pengawas
Syariah (Internal),
Komisaris
2. Undang-Undang Perbankan Dewan Syariah Nasional
(Sharia Compliance)
3. Undang-Undang Perbankan Syariah Bank Indonesia
(Prudential Banking)
4. Peraturan Bank Indonesia
5. Surat Edaran Bank Indonesia
Per 31 Desember 2013
• Pengaturan dan pengawasan
(microprudential) perbankan per 31 Desember
2013 beralih dari Bank Indonesia kepada OJK,
termasuk di dalamnya pengawasan terhadap
Bank Syariah dan UUS.
• Sementara Bank Indonesia masih memiliki
kewenangan dalam pengaturan dan
pengawasan di ranah macroprudential.
Kegiatan Usaha dan Produk Perbankan
Syariah
1. Bank Umum Syariah (Pasal 19 ayat (1) dan 20
UU Perbankan Syariah).
2. Unit Usaha Syariah (Pasal 19 ayat (2) UU
Perbankan Syariah).
3. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Pasal 21
UU Perbankan Syariah)
Ketentuan Teknis: PBI No. 9/19/PBI/2007 Jo
PBI No. 10/16/PBI/2008, dan SEBI No.
10/14/DPbS Jakarta, 17 Maret 2008
Implementasi Prinsip Syariah dalam Produk &
Aktivitas Perbankan
• Ketentuan Produk Bank Syariah sebagaimana diatur dalam
PBI No. 10/17/PBI/2008 tentang Produk Bank Syariah dan
Unit Usaha Syariah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku
oleh POJK No. 24/POJK. 03/2015 tentang Produk dan
Aktivitas Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah.
• Produk Bank adalah instrumen keuangan yang diterbitkan
oleh Bank berdasarkan akad yang sesuai dengan Prinsip
Syariah (Pasal 1 angka 8 POJK)
• Aktivitas Bank adalah jasa yang disediakan oleh Bank
kepada nasabah berdasarkan akad yang sesuai dengan
Prinsip Syariah (Pasal 1 angka 9 POJK)
……Lanjutan
• Kegiatan usaha Bank dalam menerbitkan
Produk dan melaksanakan Aktivitas harus
menerapkan Prinsip Syariah, prinsip kehati-
hatian, dan prinsip perlindungan nasabah
(Pasal 2 POJK).
• Prinsip Syariah?
• prinsip kehati-hatian?
• prinsip perlindungan nasabah?
……Lanjutan
• Produk perbankan syariah dapat kita klasifikasikan
menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu: (1) produk
penghimpunan dana; (2) produk penyaluran dana;
dan (3) produk di bidang jasa.
• Lebih lanjut baca: PBI No. 9/19/PBI/2007 tentang
Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan
Penghimpunan Dana Dan Penyaluran Dana Serta
Pelayanan Jasa Bank Syariah.
IDENTIFIKASI TRANSAKSI YANG
TERLARANG

Hukum Asal

Ibadah Muamalah

Semua tidak Semua boleh


boleh kecuali kecuali yang
yang ada ada
ketentuannya larangannya
UNSUR-UNSUR TERLARANG
Antara lain :
1. Maysir
2. Gharar
3. Riba
4. Ryswah
5. Bathil
Akad-akad Syariah
• Prinsip syariah
a. Lihat definisi dalam UUPS
b. Lihat definisi dalam UU Perasuransian 2014
c. Lihat definisi dalam PBI
d. Lihat definisi dalam POJK
Keabsahan Perjanjian (Umum)
• Pasal 1338 KUHPerdata
• Pasal 1320 KUHPerdata : Syarat Subyektif dan
Syarat Objektif
AKAD
• Dalam bank syariah, akad yang dilakukan
memiliki konsekuensi duniawi & ukhrawi.
• Apabila perjanjian/kontrak dilanggar, maka
pertanggungjawabannya hingga yaumil
qiyamah nanti.
• Rukun Akad :
Subyek Penjual dan Pembeli
Obyek  Barang yang ditransaksikan
Harga dan Ijab qobul.
SYARAT AKAD

• Barang dan Jasa harus halal


• Harga barang & Jasa harus jelas
• Tempat penyerahan (delivery) harus jelas
• Barang & Jasa yang ditransaksikan harus telah
sah kepemilikannya
• Dilaksanakan dengan sukarela, tanpa ada
unsur paksaan.
TABARRU’ DAN TIJARAH
• Tabarru’ :
Semua bentuk akad yang dilakukan dengan
tujuan kebajikan dan tolong menolong,
bukan semata untuk tujuan komersial.

• Tijarah :
Semua bentuk akad yang dilakukan untuk
tujuan komersial.
AKAD TIJARAH
• Jual Beli (Murabahah)
Salam dan Istishna

• Sewa (Ijarah)
Ijarah Muntabiyah Bitamlik

• Bagi Hasil (Profit Sharing)


Musyarakah
Mudharabah
Produk Penghimpunan Dana
1. Giro: Produk giro dapat menggunakan akad wadiah
maupun akad mudharabah.
2. Deposito: Produk deposito karena memang
ditujukan sebagai sarana investasi, maka dalam
praktik perbankan syariah hanya digunakan akad
mudharabah.
3. Tabungan: Dalam produk tabungan ini nasabah
dapat memilih untuk menggunakan akad wadiah
atau mudharabah.
Produk Penyaluran Dana
1. Pembiayaan berdasarkan akad jual beli: Jenis
pembiayaan berdasarkan akad jual beli ini
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pembiayaan
murabahah, pembiayaan salam, dan pembiayaan
istishna
2. Pembiayaan berdasarkan akad sewa-menyewa:
Pembiayaan Ijarah (sewa murni) dan IMBT (sewa
dengan opsi kepemilikan di akhir masa sewa)
……Lanjutan
3. Pembiayaan berdasarkan akad bagi hasil: Dalam
praktik perbankan dikenal dua macam pembiayaan
yang didasarkan pada akad bagi hasil, yaitu
pembiayaan mudharabah dan pembiayaan
musyarakah.
4. Pembiayaan berdasarkan akad pinjam-
meminjam: Pembiayaan berdasarkan akan pinjam-
meminjam dibedakan menjadi dua yaitu
pembiayaan qardh dan pembiayaan qardh al
hasan.
Produk Jasa
Produk ini dikatakan sebagai produk yang berbasis pada fee
sebagai kompensasi yang harus diberikan nasabah kepada bank
atas penggunaan jasa perbankan tertentu.
Akad-akad tradisional Islam yang dapat diimplementasikan
dalam produk jasa bank syariah antara lain berupa akad
wakalah, akad hiwalah, akad kafalah, akan rahn, akad sharf, dan
sebagainya.
Penggunaan akad wakalah dalam produk jasa perbankan berupa
kliring, inkaso, jasa transfer, dan Letter of Credit (L/C), kemudian
akad hiwalah dipakai oleh bank dalam melakukan jasa berupa
factoring, dan akad kafalah dipakai oleh bank dalam bentuk
fasilitas bank garansi
Bagan Kegiatan Usaha BS
Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah (Non
Performing Finance)
 Pembiayaan bermasalah intinya adalah suatu
kondisi yang terjadi pada diri nasabah, sehingga
padanya tidak dapat menunaikan kewajiban-
kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan.
 Penyelesaian pembiayaan bermasalah dapat
ditempuh melalui:
1. First way out : Restrukturisasi Pembiayaan
2. Second way out: Eksekusi Jaminan
Keunggulan Produk Syariah

No Bank Konvensional Bank Syariah

1. Interest based Product based on


product sharia principle
2. NPL tinggi NPF Relatif lebih
rendah
3. Terjadi Negative Tidak terjadi Negatif
Spread Spread
Pembiayaan
• Pembiayaan memiliki arti pemberian fasilitas
penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan dana
pihak-pihak yang merupakan defisit unit.
• Berdasarkan sifat penggunaannya, pembiayaan
terdiri dari pembiayaan produktif dan pembiayaan
konsumtif.
• Pembiayaan produktif meliputi pembiayaan modal
kerja dan investasi, sedangkan pembiayaan
konsumtif meliputi pembiayaan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Pembiayaan menurut PBI No. 10/18/PBI/2008
Jo. PBI No. 13/9/PBI/2011
• Pembiayaan adalah penyediaan dana atau
tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa:
a. transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah
dan musyarakah;
b. transaksi sewa menyewa dalam bentuk ijarah
atau sewa beli dalam bentuk ijarah muntahiyah
bit tamlik;
c. transaksi jual beli dalam bentuk piutang
murabahah, salam dan istishna’;
d. transaksi pinjam meminjam dalam bentuk
piutang qardh; dan
e. transaksi sewa menyewa jasa dalam bentuk
ijarah untuk transaksi multijasa.
(Pasal 1 angka 6)
Analisis Pembiayaan Nasabah
1. the 5’ C Principles (sblm aplikasi pembiayaan
dinyatakan diterima)
2. Penilaian terhadap kualitas Aktiva Produktif (pasca
aplikasi diterima), meliputi:
a. Prospek usaha
b. Kinerja (performance) nasabah
c. Kemampuan membayar
Kualitas Aktiva Produktif dalam bentuk Pembiayaan
digolongkan menjadi Lancar, Dalam Perhatian
Khusus, Kurang Lancar, Diragukan, dan Macet
Nasabah dan Bank Syariah

No Relasi Bank dan Keterangan


Nasabah
1. Hubungan Hukum Kemitraan
2. Produk Dapat disesuaikan
dengan kepentingan
nasabah
3. NPF ?
NPF
• NPF adalah suatu pembiayaan yang hasil
diperoleh oleh bank secara riil tidak memenuhi
ekspektasi dari bank yang bersangkutan,
misalnya ditandai dengan 3 (tiga) kali berturut-
turut tidak membayar angsuran.
• Dapat pula berupa kondisi dimana jaminan
yang diberikan tidak dapat mengcover
kewajiban nasabah (Muhamad)
NPF (Lanjutan)
• Dalam PBI No. 10/18/PBI/2008 tentang
Restrukturisasi Pembiayaan Bagi Bank Syariah dan
Unit Usaha Syariah jo PBI No. 13/9/PBI/2011, NPF
dikategorikan menjadi 3 (tiga) macam, yakni: kurang
lancar, diragukan, dan macet.
• Semua jenis pembiayaan dapat mengalami
permasalahan.
• Adanya NPF perlu ditangani oleh Bank, antara lain
melalui restrukturisasi.
NPF (Lanjutan)
No Jenis Pembiayaan NPF
1. Jual beli (Murabahah, Kesulitan membayar
Salam, dan Istishna) angsuran (pokok+margin)
pd waktu yang ditentukan
2. Bagi hasil Kesulitan membayar pokok
(Mudharabah dan pinjaman+Bagi Hasil (sesuai
Musyarakah) nisbah)
3. Sewa-menyewa (Ijarah Kesulitan membayar uang
dan IMBT) sewa (ujrah)
4. Pinjam Meminjam Kesulitan membayar pokok
(Qardh) hutang
Mekanisme Restrukturisasi
Pembiayaan Bermasalah

Prinsip Syariah

Prinsip Kehati-
hatian

Best practice
Landasan Syariah
• Q.S. Al-Baqarah : 279-280, yang artinya “....,
Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula)
dianiaya. Dan jika (orang berutang itu) dalam
kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia
berkelapangan. Dan menyedekahkan
(sebagian atau semua utang) itu, lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui”
Bentuk-bentuk restrukturisasi
• Jadwal pembayaran
Rescheduling • Jangka waktu

• Jadwal pembayaran, Perubahan jumlah angsuran


• Perubahan jangka waktu
Reconditioning • Perubahan nisbah, perubahan proyeksi bagi hasil,
pemberian potongan

• Penambahan dana, konversi akad


• Konversi menjadi Surat Berharga jk waktu
Restructuring menengah, dan konversi menjadi penyertaan
modal sementara
Syarat restrukturisasi
Pasal 5 PBI No. 13/09/PBI/2011
Nasabah mengalami
penurunan
kemampuan
membayar
Analisis,
bukti
memadai,
dan
Prospek
dokumentasi
usaha/sumber
pembayaran
angsuran
Kendala Restrukturisasi Pembiayaan
Bermasalah
1. Internal, bisa ditelusuri dari character,
capacity, collateral, dan capital.
2. Eksternal, biasanya hal-hal yang berkenaan
dengan kondisi ekonomi, politik (kebijakan-
kebijakan pemerintah).
3. Apabila restrukturisasi mengalami kegagalan,
maka diikuti dengan eksekusi jaminan
(Kendala: depresiasi dan moral hazard
nasabah).
PENYELESAIAN SENGKETA
PERBANKAN SYARIAH
Penyelesaian Sengketa
(Pasal 55 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah)
1. Penyelesaian sengketa Perbankan Syariah dilakukan
oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan
Agama.
2. Dalam hal para pihak telah memperjanjikan
penyelesaian sengketa selain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), penyelesaian sengketa
dilakukan sesuai dengan isi Akad.
3. Penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) tidak boleh bertentangan dengan
Prinsip Syariah.
Penjelasan Pasal 55 ayat (2)

 Yang dimaksud dengan “penyelesaian sengketa


dilakukan sesuai dengan isi Akad” adalah upaya
sebagai berikut:
a. musyawarah;
b. mediasi perbankan;
c. melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional
(Basyarnas) atau lembaga arbitrase lain; dan/atau
d. melalui pengadilan dalam lingkungan Peradilan
Umum.
IMPLIKASI PUTUSAN MK NO. 93/PUU-
X/2012 DAN PERMA 14/2016 BAGI
PENYELESAIAN SENGKETA EKONOMI
SYARIAH
Kronologis Kasus

Pasal 49 huruf i UU 3/2006 Pasal 55 ayat (2) dan (3) UU


21/2008

Pasal
28 D
UUD
1945

Put MK 93/PUU-
X/2012
PERMA 14/2016 : Tata Cara Penyelesaian
Perkara ES
• Perkara Ekonomi Syariah adalah perkara di bidang ekonomi
syariah meliputi bank syariah, lembaga keuangan mikro
syariah, asuransi syariah, reasuransi syariah, reksadana
syariah, obligasi syariah, surat berharga berjangka syariah,
sekuritas syariah, pembiayaan syariah, pegadaian syariah,
dana pensiun lembaga keuangan syariah, bisnis syariah,
termasuk wakaf, zakat, infaq, dan shadaqah yang bersifat
komersial, baik yang bersifat kontensiun maupun volunteer
(Ps. 1 angka 4)
• Pengadilan adalah pengadilan dalam lingkungan peradilan
agama (Ps. 1 angka 6)
Forum Penyelesaian Sengketa ES

Forum Penyelesaian
Sengketa ES

Non-Litigasi : Menjadi
Litigasi : Berlaku
domain para pihak
ketentuan attributive
untuk memilih (UU
competency (UU
Arbitrase dan APS,
Kekuasaan Kehakiman)
POJK)
Keputusan Nomor KEP-01/D.07/2016 : Daftar Lembaga
Alternatif Penyelesaian Sengketa di Sektor Jasa Keuangan

No Nama LAPS Sektor


1. Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Perasuransian
Indonesia (BMAI)

2. Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia Pasar Modal


(BAPMI)
3. Badan Mediasi Dana Pensiun (BMDP) Dana Pensiun
4. Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan
Perbankan Indonesia (LAPSPI)

5. Badan Arbitrase dan Mediasi Perusahaan Penjaminan


Penjaminan Indonesia (BAMPPI)

6. Badan Mediasi Pembiayaan dan Pegadaian Pembiayaan dan


Indonesia Pergadaian
Isu Hukum Pasca Putusan MK dan
PERMA a quo
1. Latar Belakang Penyelesaian Sengketa Ekonomi
Syariah Melalui Pengadilan Agama
2. Kesiapan Perangkat Mahkamah Agung Dalam
Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah
3. Akibat Hukum Bagi Sengketa Ekonomi Syariah Yang
Tetap Diajukan Melalui Pengadilan Negeri
4. Akibat Hukum Penerbitan Perma 14/2016 Terhadap
Perkara Ekonomi Syariah Yang Telah Ada Sebelum
Perma 14/2016 Diterbitkan oleh Mahkamah Agung
Latar Belakang Penyelesaian Sengketa Ekonomi
Syariah Melalui Pengadilan Agama
• Asas personalitas keislaman (Memungkinkan adanya
penundukan diri, baik scr sukarela atau krn hukum).
Jenis perkara ttt : ES (hk materiil) - Hk formil (PA)
• Putusan MK : Ps 55 (1), (2), (3) konstitusional, MK
berpendapat lain dg menyatakan Penjelasan ps 55 (2)
inkonstitusional.----> pilihan forum ok (freedom of
contract) berlaku utk forum non-litigasi.
• PERMA- menegaskan PA sebagai pemegang
atributive competency (gugatan sederhana atau acara
biasa), kecuali para pihak menentukan lain.
Kesiapan Perangkat Mahkamah Agung Dalam
Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah
1. Hukum Materiil / Hukum Terapan ? UU,
Fatwa, PBI/SEBI, POJK/SEOJK, Kodifikasi
Produk, KHES dan Hukum Formil (Ps. 54
UUPA dan PERMA)
2. Sumber Daya Manusia? Pendidikan dan
Pelatihan terkait ES, meliputi aspek syariah
dan aspek komersial
3. Sarana dan Prasarana? Ketersediaan panitera
dan jurusita yg memahami ES
- BASYARNAS (Non-litigasi :Expert, confidential, speed, final & binding)
Akibat Hukum Bagi Sengketa Ekonomi Syariah Yang Tetap Diajukan
Melalui Pengadilan Negeri * (Pasca Putusan MK dan PERMA)
Pasal 55 UUPS

PA PN?

AKAD Arbitrase dan ADR

Fatwa + Per-UU-
PRINSIP SYARIAH
an
….. Lanjt)
• Retroactive?
• Sindicate (Syariah dan Konvensional)?
• Crossboarder sindication?
Akibat Hukum Penerbitan Perma 14/2016 Terhadap
Perkara Ekonomi Syariah Yang Telah Ada Sebelumnya

• PERMA : Berlaku mulai 22 Desember 2016


(Non-retrocative)
• PERMA : Lebih ditujukan untuk mengatur lebih
lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran
penyelenggaraan peradilan apabila terdapat
hal-hal yang belum cukup diatur dalam
UU/mengisi kekurangan/kekosongan hk acara
perdata.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH