Anda di halaman 1dari 13

FENOMENA KEADILAN DALAM

PENGENAAN SANKSI
PERPAJAKAN

Disusun Oleh:

NAMA: RIRIN SUHARNINGSIH


NIM: 15170201M
1. Pendahuluan
Pengenaan bunga 2% per bulan tanpa batas waktu dalam pasal 19 ayat (1)
undang-undang KUP dianggap bertentangan dengan asas kepastian hukum
mengenai tenggang waktu pengenaan bunga penagihan dan pelaksanaan UU
tersebut dianggap bertentangan dengan asas keadilan sebagaimana
diamanatkan dalam pasal 27, 28D dan 28I UUD 1945.
Tidak memungkiri bahwa langkah reformasi perpajakan yang dilakukan
pemerintah, yang meliputi pembaruan kebijakan dan administrasi perpajakan
selama ini berhasil mendorong peningkatan penerimaan pajak secarav
signifikan. Meski demikian masih banyak kendala yang dihadapi, baik dalam
bidang administrasi pemungutan pajak, pemeriksaan pajak, keberatan pajak,
keadilan pajak, serta kepatuhan wajib pajak, sebagai implikasi dari kebijakan
dan administrasi perpajakan itu sendiri. Pembaruan kebijkan perpajakan
dilaksanakan antara lain melalui amandemen UU PPh, UU PPN & PPnBM, UU
KUP, dan UU Pajak lainnya.
Peran penerimaan pajak sebagai salah satu sumber penting
pembiayaan Negara masih perlu ditingkatkan, sebab dibandingkan
dengan Negara tetangga saja tax ratio kita masih jauh tertinggal, ratio
penerimaan pajak kita masih sangat rendah. Upaya meningkatkan tax
ratio ini bisa dilakukan bila kita tidak cepat berpuas diri dengan
pencapaian pajak sekarang ini. Kita harus terus melakukan evaluasi dan
penyempurnaan kebijakan perpajakan agar pelaksanaan sistem
perpajakan lebih efektif dan efisien, dan memiliki daya saing yang
tinggi. Kegagalan kita dalam menciptakan iklim perpajakan yang kondusif
dan kompetitif, tidak saja berimbas pada hilangnya rasa keadilan dan
kepastian hukum bagi wajib pajak, tetapi juga gagalnya upaya
meningkatkan kepatuhan (tax compliance) wajib pajak dan hilangnya
kepercayaan masyarakat terhadap aparatur pajak.
2. Muatan Keadilan Di Bidang Perpajakan
Sebagai salah satu sumber utama penerimaan Negara,
pemungutan pajak ditetapkan dengan undang-undang dan
dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat. Hal ini sejalan dengan pasal
23A UUD 1945, yakni: pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa untuk keperluan Negara diatur dengan undang-
undang”. Namun dalam pelaksanaannya hal ini tidak bisa
dilakukan secara semena-mena, karena harus tetap mematuhi
ketentuan lain dalam pasal 28D UUD 1945, yakni: “Setiap orang
berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil, serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”.
Dengan berpegang pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhanaan,

arah dan tujuan perubahan undang-undang tentang ketentuan umum dan tata cara

perpajakan ini mengacu pada kebijakan pokok sebagai berikut:

a. Meningkatkan efisiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung

penerimaan Negara.

b. Meningkatkan pelayanan, kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna

meningkatkan daya saing dalam bidang penanaman modal, dengan tetap

mendukung pengembangan usaha kecil dan menengah.

c. Menyesuaikan diri terhadap tuntutan perkembangan sosial ekonomi

masyarakat serta perkembangan di bidang teknologi informasi.

d. Meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban

e. Menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan

f. Meningkatkan penerapan prinsip self assessment secara akuntabel dan

konsisten

g. Mendukung iklim usaha ke arah yang lebih kondusif dan kompetitif.


3. Pokok Masalah Dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan
Dengan semakin bertambahnya learning curve dari
fungsionaris perpajakan, baik dari pihak legislative maupun
eksekutif dalam memasyarakatkan pembaharuan undang-undang
perpajakan hasil reformasi perpajakan sejak tahun 1983, aspek
keadilan terhadap masyarakat wajib pajak harus semakin
didepankan. Negara tidak ada bila tidak ada masyarakat, dan
pundi-pundi Negara juga tidak akan terisi bila tidak ada yang
bayar pajak. Jadi, Mayarakat harus didudukkan sebagai mitra
pembangunan, bukan hanya subjek pajak semata, sehingga
terjadinya suatu interaksi antara fiskus dan masyarakat wajib
pajak yang saling menghidupi (simbiosis mutualistis).
Mari kita tinjau lebih dalam dalil-dalil yang terdapat dalam UU
Nomor 28 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas UU No. 06
Tahun 1983 tentang KUP Pasal 25 ayat (9) dan pasal 27 ayat (5d)
yang menyatakan:

1). Pasal 25 ayat (9): “Dalam hal keberatan wajib pajak ditolak atau
dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan
keberatan, dikurangi dengan pajak yanag telah dibayar sebelum mengajukan
keberatan”.

2). Pasal 27 ayat (5d): Dalam hal permohonan banding ditolak atau
dikabulkan sebagian, wajib pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan putusan
Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum
mengajukan keberatan.
3). Pasal 13 ayat (2): Jumlah kekurangan pajak yang terutang
dalam surat ketetapan pajak kurang bayar, sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e ditambah dengan
sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
per bulan, paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung
sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak,
bagian tahun pajak, atau tahun pajak sampai dengan
diterbitkannya surat ketetapan pajak kurang bayar.

4). Pengejewantahan butir 1 dan 2 UU di atas dianggap


bertentangan dengan pasal 27, 28 d, dan 28I UUD 1945, asas
keadilan pajak, serta keadilan social dari sila kelima pancasila.
Dari tabel XII-1 analisis pengenaan sanksi perpajakan pada tingkat
keberatan, dapat dicatat hal-hal berikut:
1. Jumlah pajak yang masih terutang pada tingkat keberatan harus di
tambah sanksi denda sesuai ketentuan pasal 25 ayat (9) UU No.
28 KUP Tahun 2007 yang besarnya 50% dari jumlah pajak yang
masih terutang tersebut. Pembebanan sanksi yang sangat
memberatkan ini dilakukan tanpa melalui “proses mencari keadilan
hukum” yang merupakan hak fundamental wajib pajak.
2. Pengenaan sanksi administrasi ex. Pasal 13 ayat (2) KUP 2007
sebesar 48% yang timbul karena surat keterangan pajak kurang
bayar (SKPKB), diterbitkan 2 (dua) tahun setelah tahun pajak yang
bersangkutan (2009).
3. Pengenaan sanksi pasal 25 ayat (9) UU No. 28 Tahun 2007 tentang
perubahan ketiga atas UU No. KUP 6 tahun 1983 mengandung
pengenaan sanksi atas sanksi ex. Pasal 13 ayat (2) UU KUP.
4. Juridis Dalam Pengenaan Sanksi Perpajakan

Kita menyorot dua aspek juridis yang harus diperhatikan dalam

penggunaan sanksi perpajakan, yakni:

1). Aspek juridis – fiskal

Latar belakang sejarah timbulnya ketentuan pasal 25 ayat (9)

dan pasal 27 ayat (5d) Undang-undang KUP adalah

pengejewantahan dari ketentuan pasal 19 ayat (1) Undang-

undang KUP mengenai bunga penagihan sebesar 2% per bulan

tanpa batas waktu.


Selengkapnya pasal 19 ayat 1 berbunyi:

Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat

ketetapan pajak kurang bayar tambahan, serta surat keputusan

pembetulan, surat keputusan keberatan, putusan banding atau

putusan peninjauan kembali, yang menyebabkan jumlah pajak

yang masih harus dibayar bertambah, pada saat jatuh tempo

pelunasan tidak atau kurang dibayar, atas jumlah pajak yang

tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi administrasi berupa

bunga sebesar 21% (dua persen) per bulan untuk seluruh masa,

yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal

pelunasan atau tanggal diterbitkannya surat tagihan pajak, dan

bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.


2). Aspek Juridis – keadilan dalam UUD 1945

Sebagai hukum pajak formal, bagaimanapun juga UUD 1945 harus menjadi acuan

normatif yang sangat penting dalam penyusunan ketentuan umum dan tata cara

perpajakan (KUP), seperti pada pasal-pasal berikut ini:


 Pasal 1 ayat (3) UUD 1945: “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”.
 Pasal 27 ayat (1) UUD 1945: “segala warga negara bersamaan

kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menunjang

hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”.


 Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945: “setiap orang berhak atas pengakuan,

jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang

sama di hadapan hukum”.


 Pasal 28I ayat (5) UUD 1945: “untuk menegakkan dan melindungi hak asasi

manusia dengan prinsip Negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan

hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan

perundang-undangan”.