Anda di halaman 1dari 16

HUBUNGAN KANTOR PUSAT DENGAN KANTOR AGEN

DAN KANTOR CABANG

Disusun oleh:

1. RIRIN SUHARNINGSIH (15170201M)

2. OKTAVIANI THEODORA GETE (15170210M)


KANTOR AGEN DAN KANTOR CABANG

Semua perusahaan pasti ingin meningkatkan laba yang diperoleh . Untuk


meningkatkan laba perusahaan harus meningkatkan volume penjualan. Pada
umumnya potensi penjualan suatu produk untuk suatu daerah adalah terbatas.
Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan volume penjualan harus disertai
dengan usaha untuk memperluas daerah pemasaran.Usaha untuk memperluas
daerah pemasaran dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti melalui
konsinyasi, membuka kantor agen atau agen penjualan (sales agency) dan
kantor cabang (branch). Perbedaan utama antara kantor agen dan kantor
cabang terletak pada 2 hal, yaitu struktur organisasi dan kegiatan.
Dilihat dari segi struktur organisasi perusahaan, kantor agen berada diluar
organisasi perusahaan. Jadi kantor agen berdiri sendiri dan terlepas dari
kantor pusat (perusahaan yang diageni). Oleh karena itu suatu kantor agen
dapat mengageni beberapa perusahaan. (Bukan merupakan bagian dari
organisasi perusahaan).

perbedaan yang kedua antara kantor agen dengan kantor cabang terletak
pada kegiatan. Kegiatan kantor agen terbatas pada usaha untuk mendapatkan
pesanan atau calon pembeli. Apabila sudah mendapatkan pesanan atau calon
pembeli maka pelayanan (tindak lanjut) dilakukan oleh kantor pusat. Jadi
kegiatan kantor agen hanya sebagian dari fungsi pemasaran, yaitu
mendapatkan order (order getting). Kegiatan kantor agen tersebut jauh lebih
sederhana bila dibandingkan dengan kegiatan kantor cabang.
Kegiatan kantor cabang tidak terbatas pada usaha untuk memperoleh pesanan
saja melainkan mencakup juga kegiatan untuk memenuhi pesanan. Untuk memenuhi
pesanan tersebut dapat menggunakan barang-barang yang berasal dari kantor
pusat dan dapat juga mengusahakan sendiri, baik dengan cara membeli maupun
memproduksi sendiri sesuai sesuai dengan jenis perusahaan.

perbedaan antara kantor cabang dengan perusahaan yang berdiri sendiri biasanya
terletak pada 3 hal, yaitu tanggung jawab pengelola, hubungan dengan pemilik dan
kewenangan yang dimiliki. Pengelola kantor cabang tidak bertanggung jawab
kepada pemilik perusahaan (rapat umum pemegang saham untuk perusahaan yang
berbentuk Perseroan Terbatas) tetapi kepada pengelola kantor pusat. Pengelola
kantor cabang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pemilik perusahaan,
tetapi melalui pengelola kantor pusat. Demikian pula kewenangan kantor cabang
biasanya dibawah kantor pusat.
Perbedaan didalam struktur organisasi dan kegiatan tersebut
mempengaruhi besarnya investasi yang dilakukan kantor pusat atau perusahaan
yang diageni. Investasi dikantor agen biasanya terbatas pada modal kerja.
Mengenai tempat dan aktiva tetap biasanya menjadi tanggung jawab pengelola
kantor agen (bukan kantor pusat). Hal ini sangat berbeda dengan investasi
dikantor cabang, yang tidak terbatas pada modal kerja saja. Pada mulanya
semua kebutuhan kantor cabang disediakan oleh kantor pusat.
AKUNTANSI KANTOR AGEN

Pada umumnya kantor agen tidak menyelenggarakan akuntansi. Akuntansi


terhadap kegiatan kantor agen dilaksanakan oleh perusahaan yang diageni
(kantor pusat). Kegiatan kantor agen yang hanya terbatas pada usaha untuk
mencari calon pembeli biasanya dilakukan dengan menggunakan modal kerja yang
berasal dari kantor pusat. Penggunaan modal kerja ini serupa dengan penggunaan
dana kas kecil yang menggunakan sistem dana tetap (imprest system). Jadi
pengelola kantor agen mengumpulkan bukti-bukti pemakaian modal kerja untuk
selanjutnya dipertanggungjawabkan kepada kantor pusat. Untuk mencatat
kegiatan kantor agen tersebut kantor pusat dapat menggunakan 2 metode, yaitu
rugi-laba kantor agen tidak dipisahkan dan rugi-laba kantor agen dipisahkan.
Akuntansi selengkapnya untuk masing-masing metode adalah sebagai berikut :

1. Rugi-laba kantor agen tidak dipisahkan

Apabila rugi-laba kegiatan kantor agen tidak dipisahkan maka pendapatan dan
biaya yang berhubungan dengan kantor agen tidak perlu dipisahkan dengan
pendapatan (penjualan) dan biaya kantor pusat. Dengan metode ini perusahaan
(kantor pusat) hanya dapat mengetahui rugi-laba perusahaan secara
keseluruhan.

2. Rugi-laba kantor agen dipisahkan

Agar rugi atau laba masing-masing kantor agen dapat dipisahkan maka
pendapatan dan biaya untuk masing-masing kantor agen harus dikumpulkan
tersendiri, dalam arti dipisahkan dari pendapatan dan biaya kantor pusat.
Untuk itu maka diperlukan rekening tersendiri.
Pada umumnya rekening buku besar yang berhubungan dengan kantor agen
terbatas pada 5 rekening saja, yaitu :

a. Modal kerja kantor agen.

b. Penjualan kantor gen.

c. Harga pokok penjualan agen.

d. Biaya pemasaran kantor agen.

e. Biaya administrasi & umum kantor agen.

Apabila dikehendaki rekening biaya kantor agen dapat diperinci lebih


lanjut. Apabila perusahaan hanya mempunyai satu kantor agen maka masing-
masing rekening tersebut berfungsi sebagai buku besar. Apabila suatu
perusahaan mempunyai beberapa kantor agen maka akuntansinya dapat
diselenggarakan dengan 2 alternatif.
Alternatif pertama untuk setiap kantor agen (agen penjualan) kantor pusat
menyelenggarakan ke 5 rekening tersebut, sedangkan dalam alternatif yang
kedua kantor pusat hanya menyelenggarakan satu rekening buku besar untuk
seluruh kantor agen, sedangkan untuk masing-masing kantor agen hanya
diselenggarakan rekening pembantu.

Contoh Akuntansi Kantor Agen (pada halaman 215-218).


AKUNTANSI KANTOR CABANG

Akuntansi terhadap kantor cabang dapat diselenggarakan dengan 2 sistem, yaitu


sistem sentralisasi dan desentralisasi.

1. Sistem Sentralisasi

Di dalam sistem ini akuntansi terhadap kantor cabang diselenggarakan oleh kantor
pusat. Jadi mirip dengan akuntansi terhadap kantor agen dimana rugi-laba kantor agen
dipisahkan dari rugi-laba kantor pusat. Hanya istilah kantor agen diganti dengan kantor
cabang. Sistem ini cocok dipakai apabila :
a. Kantor cabang dekat dengan kantor pusat.

b. Kegiatan kantor cabang masih terbatas.

Contoh 2 (pada halaman 219-225).


2. Sistem Disentralisasi

Di dalam sistem ini semua transaksi keuangan kantor cabang akan dicatat
oleh kantor cabang. Apabila dikehendaki akuntansi terhadap pos-pos tertentu
dapat saja diselenggarakan oleh kantor pusat. Berdasarkan pihak yang terkait
transaksi keuangan kantor cabang dapat di kelompokan menjadi 2, yaitu:

a. Transaksi antara kantor cabang dengan pihak lain (selain kantor pusat)
Transaksi ini tidak mempengaruhi hubungan antara kantor cabang dengan
kantor kantor pusat. Oleh karena itu kantor pusat tidak akan mencatat

b. Transaksi antara kantor cabang dengan kantor pusat


Transaksi ini mempengaruhi hubungan antara kantor cabang dengan kantor
pusat. Oleh karena itu akan dicatat baik oleh kantor cabang maupun kantor
pusat.
Di dalam sistem desentralisasi hubungan antara kantor pusat dengan
kantor cabang adalah hubungan antara investor dengan investee,
yaitu kantor pusat sebagai investor dan kontar cabang sebagai
investee. Untuk menunjukan hubungan tersebut masing-masing pihak
menyelenggarakan rek timbal balik (reciprocal accounts), yaitu kantor
pusat akan menyelenggarakan rek koran kantor cabang dan kantor
cabang akan menyelengarakan rek koran kantor pusat. Isi masing-
masing rekening dan hubungan antara kedua rek dan hubungan antara
kedua rek timbal balik tersebut adalah :

a) Rekening koran kantor cabang ( branch account)

b) Rekening koran kantor pusat


Setiap penambahan terhadap kantor pusat terhadap kantor cabang
juaga berarti penambahan kewajiban kantor cabang terhadap kantor
pusat demikian sebaliknya. Setiap tarksaksi yang mempengaruhi
saldo rek kantor cabang adalah sama dengan transaksi yang
mempengaruhi saldo rek koran kantor cabang, yaitu semua transaksi
antara kantor pusat dengan kantor cabang, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Transaksi yang mempengaruhi saldo kedua
rekening tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu :

a. Transaksi yang berakibat saldo rekening timbal balik bertambah

b. Transaksi yang berakibat saldo reken ing timbal balik berkuranng


Laporan Keuangan Konsollidasi

Dipandang dari segi ekonomi kantor pusat dan kantor cabang adalah satu
kesatuan ekonomi. Sesuai dengan konsep kesatuan usaha atau kesatuan
akuntansi, maka sebagai satu kesatuan ekonomi kantor pusat harus menyusun
laporan keuangan gabungan (consolidated financial statement) yang mencakup
baik kantor pusat maupun kantor cabang. Laporan keuangan konsolidasi dapat
disusun dengan menggunakan salah satu dari 2 sumber yang ada yaitu :

a. Neraca saldo kantor pusat dan kantor cabang

b. Laporan keuangan kantor pusat dan kantor cabanng

Baik menggunakan sumber yang pertama maupun yang kedua hasilnya akan
sama
Prosedur penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah:
1. Membuat jurnal eliminasi
Tujuan pembuat jurnal elimasi adalah menghilangkan ( mengelimin) saldo
semua rek timbal balik, dengan cara cara mendebit rek timbal balik yang
bersaldo kredit dan mengkreditkan rek timbal balik yang bersaldo debit.
2. Membuat kertas kerja
Tujuan penyusunan kertas kerja adalah untuk mempermudah dan
mempercepat penyusunan laporan keuangan konsolidasi.
3. Membuat laporan keuangan konsolidasi
Setelah kertas kerja selesai disusun maka angka-angka didalam kertas
kerja kolom laporan keuangan konsolidasi dipidahkan ke laporan keuangan
kosolidasi, sesuai dengan jenis-jenis rekening masing-masing .