Anda di halaman 1dari 25

Curriculum Vitae

 Johan Berwulo
 Lahir di Ambon 1975
 Bekerja di Prodi D III
Keperawatan Timika
Poltekes kemenkes Papua
 Pendidikan : D III Kep.
Sorong 1997, S1 Ners
Unhas 2008, S2 Kep Sint
Carolus Jakarta 2017

1
2
TPU TPK

 Melakukan
 Setelah mengikuti
penatalaksanaan gawat
materi ini, peserta darurat gangguan
mampu melakukan muskuloskeletal

asuhan keperawatan
gawat darurat pada
trauma muskuloskeletal

3
Pokok Bahasan

Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu:


1.Menjelaskan akibat Cedera pada
Muskuloskelatal
2.Menjelaskan tipe Cedera
3.Menjelaskan pengkajian sistem muskuloskletal
4.Menjelaskan masalah keperawatan pada
gangguan mukuloskeletal
5.Melakukan penatalaksanaan gawat darurat
gangguan muskuloskeletal
4
Sub Pokok Bahasan

Penatalaksanaan gawat darurat gangguan


muskuloskeletal
a. Teknik RICE
b. Pembalutan
c. Pembidaian
d. Traksi
e. Minor surgical skil
 
5
 Merupakan keadaan dimana seseorang
mengalami cedera oleh salah satu sebab.

6
Trauma muskuloskeletal
Merupakan keadaan dimana
seseorang mengalami cedera oleh
salah satu sebab.

 Sering terjadi, jarang


mengancam jiwa
 Bisa merupakan bagian
dari multi trauma
 Ingat ABC
Mekanisme cedera
 Penting ditanyakan
 Petunjuk akan cedera yang mungkin diderita
pasien
 Kesesuaian cerita dengan berat ringannya
cedera
 Child abuse
 Terdapat gaya yang cukup untuk
menyebabkan kerusakan tulang atau
jaringan lunak  fraktur atau dislokasi


Orang tua/osteoporosis
Ca metastase
} Gaya yang diperlukan
lebih kecil
Mekanisme cedera

 Jatuh
 KLL
 Trauma olahraga
 Perkelahian
 Luka tusuk
 Luka tembak
 dll
Mekanisme cedera

Fr choles
Mekanisme cedera
Trauma muskuloskeletal

• Trauma tumpul atau tembus


• Dapat mengenai tulang, sendi,
tendon, otot, ligamen, saraf dan
pembuluh darah
• Dapat disertai kehilangan darah
yang cukup besar
• Dapat disertai lesi neurovaskuler,
lesi sistim urogenital
Tanda dan Gejala

• Nyeri
• Deformitas
• Kripitasi
14
15
Pembidaian.
 Pengertian :
Memasang alat untuk mempertahankan kedudukan
tulang.

 Indikasi :
 Patah tulang terbuka / tertutup

 Tujuan :
 Mencegah pergerakan tulang yang patah.
 Mengurangi nyeri.
 Mencegah cedera lebih lanjut.
 Mengistirahatkan daerah patah tulang.
 Mengurangi perdarahan.

16
 Prinsip pembidaian :
 Pastikan ABC aman.
 Kontrol perdarahan.
 Pasien sadar : informsikan adanya
nyeri.
 Buka daerah yg akan dibidai.
 Periksa dan catat PMS (pulse, motor,
sensasi) sebelum dan sesudah.

17
 Ada anggulasi yang besar dan pulsasi
hilang lakukan traksi secara gentle.
 Luka terbuka tutup dgn kasa steril.
 Bidai mencakup sendi atas dan bawah
 Berikan bantalan yang lunak.
 Bila ragu-ragu apakah ada fraktur/tdk
sebaiknya lakukan bidai untuk
pencegahan.

18
19
Jenis dan tehnik pembidaian

 Bidai kaku (rigit splint) : cardboard, plastik kaku,


metal, kayu, atau vacum splint.
 Bidai lunak (soft splint) : air splint, bantal sling.
 Sling dan bebat (sling and swathe) : anggota
tubuh diikat dan digantung ke anggota tubuh.
 Bidai tarik (traction splint) : alat khusu untuk fr
femur, dipakai untauk membidai sekaligus
menarik (traksi) pada kaki.

20
21
22
23
24
25