Anda di halaman 1dari 32

-LAPORAN KASUS MEDIK-

BRONKOPNEMUONI
A
Oleh :
dr. Muna

Pembimbing :
dr. Laily Noviyani

1
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : An. ZJ
Umur : 3 tahun
BB : 10 kg
Alamat : Martapura
MRS : 18 Mei 2020
RMK : 43-26-81

3
Keluhan Utama
Demam

Riwayat Penyakit
• Pasien mengeluhkan demam 3 hari SMRS, demam naik turun ,demam tidak
terpengaruh oleh waktu. Demam bisa terjadi pagi siang atau malam. kejang (-)
, mimisan (-), bintik merah (-), batuk (+) sejak 3 hari smrs , terus menerus dan
memberat hari ini . Batuk berdahak, dahak berwarna putih kekuningan, darah
dan warna coklat disangkal, Sesak nafas sejak 2 hari smrs dan memberat hari
ini, Mual (+), muntah (-), bab normal ,bak terakhir jam 10 malam, Pasien
tidak ada mengeluhkan adanya benjolan ditubuhnya.
Riwayat Penyakit Dahulu & Keluarga

Riwayat Penyakit Sebelumnya : Riwayat Penyakit Keluarga:


 Riwayat batuk lama > 2 minggu  Ibu pasien penderita bronchitis sejak
disangkal, asma disangkal hamil, berobat tidak rutin
 Riwayat kontak dengan penderita
Tbc disangkal.
Riwayat Alergi: Riwayat Paparan Asap Rokok:
 Tidak ada  Tidak ada

Riwayat Pengobatan sebelumnya:


 pasien berobat ke puskesmas dan diberi Riwayat Imunisasi
antibiotic dan penurun panas tapi tidak  lengkap
ada perbaikan
Pemeriksaan Fisik (18 Mei 2020)
Berat badan 10kg N= 120x/mnt, kuat angkat, RR= 32x/mnt T=38.7◦C
reguler SpO2: 95% tanpa O2

Keadaan umum : tampak sakit sedang GCS E4V5M6


Mata dan kulit Konjungtiva pucat (-) Turgor kulit baik

Kepala dan Leher PCH (+)


Thorax Suara nafas vesicular, retraksi (+) subcostal ,rh (+/+)
Cor S1 s2 single
Abdomen Distensi (-) BU (+) supel (+) nyeri tekan (-)

Ekstremitas Akral hangat (+/+)


Edema (-/-)
Rectal Toucher Tidak dilakukan
Laboratorium Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan
6
HEMATOLOGI  
Darah lengkap  
Leukosit 11 3.2-10 10e3/µL
Trombosit 352 170 – 380 10e3/µL
Eritrosit 4.91 3.8-5.0 10e6/µL
Hemoglobin 10 12-16 g/dL
Hematokrit 29.1 35-45 %
       
MCV 59.2 81 – 99 fL
MCH 18 21 – 34 pg
MCHC 30.4 32 – 36 gr/dL
Hitung jenis      
Basofil 0.6 0-1 %
Eosinofil 0.7 0-5 %
Neutrofil 47.6 40-70 %
Limfosit 36.8 20-40 %
Monosit 4.8 2-8 %
CRP 24 0-6 Mg/i
Rapid Test IG M Non
reaktif
Rapid Test IG G Non
Reaktif
Thoraks Foto
7

Kesimpulan:
kesan Bronkopneumonia
Assessment
Bronkopneumonia

Planning
02 nc 1 lpm
IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro
Inj. Antrain 3 x 100 mg
Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp

Co dr, Sp.A
Inj cefotaxime 3 x 350 mg
Inj Gentamicin 1x 50 mg IV
Inj dexametason 3 x ¼ amp iv
Mrs
 

8
Tanggal (Mei) 18 19 20
Subjektif
Batuk + <  < 
Sesak - - -
Muntah/ Mual -/+ -/< -/-
Demam + - -
Lemas + <  < 
Ma/Mi </+ </+ +/+
Objektif
HR (x/m) 110 100 102
RR (x/m) 32 24 20
Temp 38.7 c 36.5 36.7
CA / SI +/- -/- -/-
Paru: ves/ rh/ wh +/+/- +/< / - +/-/-
Abdomen: supel/ BU/ nyeri tekan +/+/- +/+/- +/+/-
Ekstremitas: akral hangat + + +
Assessment
  bronkopneumonia Bronkopneumonia
Planning
   IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro  IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro  IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro
 Inj. Antrain 3 x 100 mg  Inj. Antrain 3 x 100 mg (k/p)  Inj. Antrain 3 x 100 mg (k/p)
 Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp  Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp  Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp
 Inj cefotaxime 3 x 350 mg  Inj cefotaxime 3 x 350 mg  Inj cefotaxime 3 x 350 mg
 Inj Gentamicin 1x 50 mg IV  Inj Gentamicin 1x 50 mg IV  Inj Gentamicin 1x 50 mg IV
 Inj dexametason 3 x ¼ amp  Inj dexametason 3 x ¼ amp  Inj dexametason 3 x ¼ amp
 
 Obat pulang
 Paracetamol syr 3x 1 cth
 Cefixim syrup 2x ½ cth

9       BLPL
TINJAUAN PUSTAKA
PEMBAHASAN
definisi
pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan radang, dengan
atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium.

Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran pernapasan yang terjadi


pada bronkus sampai dengan alveolus paru. Saluran pernapasan tersebut
tersumbat oleh eksudat yang mukopurulen, yang membentuk bercak-bercak
konsolidasi di lobulus yang berdekatan.
12 etiologi
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit),
bahan kimia,

radiasi,

aspirasi,
13 Klasifikasi
secara anatomis dibagi menjadi
-pneumonia lobaris
-pneumonia intertitialis (bronkiolitis)
- pneumonia lobularis (bronkopneumonia)
epidemiologi
14

 Pneumonia pada anak –balita di negara


berkembang adalah 151,8 juta setiap
tahun dengan 10 % merupakan
pneumonia berat

 Negara maju 4 juta kasus pertahun


Patofisiologi Bronkopneumonia
15

 Bronkopneumonia dimulai dengan masuknya


kuman melalui inhalasi, aspirasi, hematogen dr
fokus infeksi atau penyebaran langsung. Sehingga
terjadi infeksi dalam alveoli dan akhirnya terjadi
peradangan.
 Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium yaitu
16

 Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)


 Disebut hiperemia, mengacu pada respon
peradangan permulaan yang berlangsung pada
daerah baru yang terinfeksi
17

 Stadium II (48 jam berikutnya)


 Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus
terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang
dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian
dari reaksi peradangan
18

 Stadium III (3 – 8 hari)


 Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-
sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang
terinfeksi
19

 Stadium IV (7 – 11 hari)
 Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu
respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel
fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag
sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula
Diagnosis Banding
20

 Covid 19  Diagnosis kerja


 Bronkiolitis  Bronkopneumonia
 Aspirasi pneumonia
 Tb paru primer
Tatalaksana
21

 Tatalaksana pasien pneumonia meliputi terapi suportif dan terapi etiologik.


 Terapi suportif :
 Pemberian oksigen 2-4 L/, Jika penyakitnya berat dan sarana tersedia, alat bantu
napas mungkin diperlukan terutama dalam 24-48 jam
 Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan yang diberikan mengandung
gula dan elektrolit yang cukup.
 Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi.
 Mengatasi penyakit penyerta.
 Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan tata laksana rutin
yang harus diberikan.
22

 Tatalaksana pneumonia sesuai dengan kuman


penyebabnya. Namun karena berbagai kendala
diagnostik etiologi, untuk semua pasien pneumonia
diberikan antibiotik secara empiris. Walaupun
sebenarnya pneumonia viral tidak memerlukan
antibiotik, tapi pasien tetap diberi antibiotik karena
kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri
Usia Rawat jalan Rawat Inap Bakteri Patogen
0-2 minggu   1. Ampisillin + - E. Coli
Gentamisin - Streptococcus B
2. Ampisillin + - Nosokomial
Cefotaksim Enterobacteria

23>2-4 minggu   1. Ampisillin + - E. Coli


Cefotaksim atau - Nosokomial
Ceftriaxon Enterobacteria
2. Eritromisin - Streptococcus B
- Klebsiella
- Enterobacter
- C. trachomatis

>1-2 bulan   1. Ampisillin + - E. Coli and other


Gentamisin Enterobacteria
2. Cefotaksim atau - H. influenza
Ceftriaxon - S. pneumonia
  - C. trachomatis

>2-5 bulan 1. Ampisillin 1. Ampisillin - H. influenza


2. Sefuroksim 2. Ampisillin + - S. pneumonia
sefiksim Kloramfenikol  
Sefuroksim
Ceftriaxon

>5 tahun 1. Penisillin A 1. Penisillin G - S. pneumonia


2. Amoksisilin 2. Sefuroksim - Mycoplasma 9
Eritromisin Seftriakson
  Vankomisin
Komplikasi
24

 Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau


kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk
hilang.
 Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam
rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
 Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang
meradang.
 Infeksi sistemik
 Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
 Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak
Pencegahan
25

 hindari kontak dengan penderita


 Pengobatan secara dini penyakit-penyakit yang
dapat menyebabkan terjadinya bronkopneumonia
 Melakukan vaksinasi juga diharapkan dapat
mengurangi kemungkinan terinfeksi (Vaksinasi
Pneumokokus)
PROGNOSIS
26

 Quo ad vitam : Dubia ad bonam


 Quo ad functionam : Dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
PEMBAHASAN batuk, demam tinggi terus-
anamnesis menerus, sesak, kebiruan
27
sekitar mulut, menggigil
(pada anak), kejang (pada
-demam 3 hari SMRS, demam naik turun ,demam tidak
bayi), dan nyeri dada.
terpengaruh oleh waktu. batuk terus menerus dan Biasanya anak lebih suka
memberat hari ini berbaring pada sisi yang
-Batuk sejak 3 hari SMRS Batuk berdahak, dahak sakit. Pada bayi muda
berwarna putih kekuningan, darah sering menunjukkan gejala
-Sesak nafas sejak 2 hari smrs sesak terasa memberat non spesifik seperti
hari ini hipotermi, penurunan
kesadaran, kejang atau
.
kembung. Anak besar
kadang mengeluh nyeri
kepala, nyeri abdomen
disertai muntah
PEMERIKSAAN FISIK
28

Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-


 pemeriksaan fisik beda berdasarkan kelompok umur tertentu.
Pada neonatus sering dijumpai takipneu,
kesadaran compos mentis, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis.
hemodinamik stabil. Suhu Pada bayi-bayi yang lebih besar jarang
ditemukan grunting. Gejala yang sering terlihat
badan 38,7 c. nafas 32 adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk,
x/menit. PCH (+) panas, dan iritabel.2
 Pemeriksaan paru Pada anak pra sekolah, gejala yang sering
terjadi adalah demam, batuk (non produktif /
berbetuk simetris, ada retraksi produktif), takipneu dan dispneu yang ditandai
dengan retraksi dinding dada. Pada kelompok
subcostal , perkusi sonor, anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai
pada auskultasi ditemukan panas, batuk (non produktif / produktif), nyeri
suara tambahan ronki dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi.2,3
PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan darah pada pneumonia
29
umumnya didapatkan Lekositosis hingga >
15.000/mm3 seringkali dijumpai dengan
dominasi netrofil pada hitung jenis. Lekosit
 Pemeriksaan laboratorium > 30.000/mm3 dengan dominasi netrofil
didapatkan hasil anemia dengan Hb mengarah ke pneumonia streptokokus.
Trombositosis > 500.000 khas untuk
10 g/dl, peningkatan CRP 24 mg/i. pneumonia bakterial. Trombositopenia
lebih mengarah kepada infeksi virus.
Leukosit meningkat 11000 sel/ul Biakan darah merupakan cara yang spesifik
dengan limfosit 36,8%. Neutrophil namun hanya positif pada 10-15% kasus
terutama pada anak- anak kecil
47,6 %. Trombosit 352 ribu
 Pemeriksaan radiologis ditemukan Foto toraks (AP/lateral) merupakan
pemeriksaan penunjang utama untuk
kesan bronkopneumonia menegakkan diagnosis. Foto AP dan lateral
dibutuhkan untuk menentukan lokasi
anatomik dalam paru. Infiltrat tersebar
paling sering dijumpai, terutama pada
pasien bayi
Tatalaksana pasien pneumonia meliputi terapi suportif dan terapi
etiologik.
30 TATALAKSANA
Terapi suportif yang diberikan pada penderita pneumonia
adalah :
02 nc 1 lpm 1. Pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui kateter hidung atau
IVFD D5 1/2 ns 10 tpm makro nasofaring. Jika penyakitnya berat dan sarana tersedia, alat bantu
Inj. Antrain 3 x 100 mg napas mungkin diperlukan terutama dalam 24-48 jam
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan yang
Inj. Ranitidin 2 x 1/4 amp diberikan mengandung gula dan elektrolit yang cukup.
3. Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi.
Advis dr Sp.A 4. Mengatasi penyakit penyerta.
Inj cefotaxime 3 x 350 mg 5. Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan
tata laksana rutin yang harus diberikan. 22
Inj Gentamicin 1x 50 mg IV  
Inj dexametason 3 x ¼ amp Tatalaksana pneumonia sesuai dengan kuman
penyebabnya. Namun karena berbagai kendala diagnostik
etiologi, untuk semua pasien pneumonia diberikan antibiotik
secara empiris. Walaupun sebenarnya pneumonia viral tidak
memerlukan antibiotik, tapi pasien tetap diberi antibiotik karena
kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri
PENUTUP

31

 Telah dilaporkan seorang anak berusia 3 tahun yang


dirawat di RS Ratu Zalecha dengan diagnosis
Bronkopneumonia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pasien dirawat di RS Ratu Zalecha selama 3
hari di Ruang Anak dan BLPL, kontrol kembali ke Poli
Anak RS Ratu Zalecha dengan mendapatkan pengobatan
obat Bronkopneumoni
TERIMA KASIH