Anda di halaman 1dari 33

-LAPORAN KASUS MEDIK-

TB PARU KASUS
BARU
Oleh :
Rina Lesiana

Pembimbing :
dr. Sumirati

1
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Umur : 65 tahun
Alamat : Sei Sipai
MRS : 13 Maret 2020
RMK : 43-10-85

3
Keluhan Utama
Batuk

Riwayat Penyakit
 Pasien mengeluhkan batuk selama 1 bulan ini, batuk terus menerus dan
memberat hari ini frekuensi nya.
 Batuk muncul tanpa diprovokasi apapun.
 Batuk berdahak, dahak warna putih kekuningan, darah disangkal, dan warna
coklat disangkal.
 Sesak nafas disangkal oleh pasien, pasien mengeluhkan nyeri bagian dada
kanan dan kirinya akibat batuk yang sering.
Demam selama 3 minggu ini turun naik, keringat dingin saat
malam hari juga sudah 3 minggu ini.
Mual kadang kadang ada, muntah tidak ada.
Pasien mengaku badan terasa lemas karena nafsu makan
menurun.
Pasien megatakan badan terasa kurus namun pasien tidak pernah
menimbang berat badannya.
Pasien tidak ada mengeluhkan adanya benjolan ditubuhnya.
Riwayat kontak dengan penderita Tbc disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu & Keluarga
Riwayat Penyakit Sebelumnya : Riwayat Penyakit Keluarga:
 Hipertensi (?)  Riwayat hipertensi, jantung, paru,
 Diabetes (-) ginjal, diabetes melitus disangkal
 Riwayat batuk lama > 2 minggu
disangkal, asma disangkal.

Riwayat kebiasaan:
 Riwayat merokok (-),
 Jarang Olahraga (+)
 Narkoba (-)
 Minum alkohol (-)
Pemeriksaan Fisik (13 Maret 2020)
TD = 132/90 mmHg N= 98x/mnt, kuat angkat, RR= 24x/mnt T=37.3◦C
reguler SpO2: 97% tanpa O2

Keadaan umum : tampak sakit sedang GCS E4V5M6


Mata dan kulit Konjungtiva pucat (-) Turgor kulit baik

Kepala dan Leher dbn


Thorax Suara nafas vesicular, retraksi (-) rh (-/+)
Cor S1 s2 single
Abdomen Distensi (-) BU (+) supel (+) nyeri tekan (-)

Ekstremitas Akral hangat (+/+)


Edema (-/-)
Rectal Toucher Tidak dilakukan
Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal Satuan
HEMATOLOGI  
Darah lengkap  
Leukosit 7.4 3.2-10 10e3/µL

Laboratorium Trombosit 601 170 – 380 10e3/µL

Eritrosit 3.58 3.8-5.0 10e6/µL


7
Hemoglobin 10.3 12-16 g/dL
Hematokrit 31.0 35-45 %
       
MCV 86.4 81 – 99 fL
MCH 28.9 21 – 34 pg
MCHC 33.3 32 – 36 gr/dL
Hitung jenis      
Basofil 0.3 0-1 %
Eosinofil 0.3 0-5 %
Neutrofil 83.0 40-70 %
Limfosit 10.3 20-40 %
Monosit 5.3 2-8 %
KIMIA KLINIK  
Gula Darah Sewaktu 186 70-200 mg/dL
SGOT      
SGPT 40 5-34 mg/dl
Ureum 13 0-40 mg/dl
Kreatinin 33.60 10.00-50.00 mg/dl
Albumin 0.63 0.57-1.10 mg/dl
Kolesterol 2.35 2.80-5.4 mg/dl
Asam Urat 187 0-199 mg/dl
3.87 2.60-7.20 mg/dl
ELEKTROLIT      
Natrium 138 135-155 mEq/l
Kalium 4.9 3.6-5.5 mEq/L
Sputum
8
Thoraks Foto
9

Kesimpulan:
Tampak infiltrate di
pulmo sinistra serta
cavitas di apex pulmo
dextra
Gambaran Tb Paru Aktif
Tanggal (Jan) 14 15 16
Subjektif
Batuk + <  < 
Sesak - - -
Muntah/ Mual -/+ -/< -/-
Demam - - -
Lemas + <  < 
Ma/Mi </+ </+ +/+
Objektif
TD (mmHg) 120/70 130/80 130/80
HR (x/m) 88 72 90
RR (x/m) 20 21 22
Temp 36.9 36.8 36.7
CA / SI +/- -/- -/-
Paru: ves/ rh/ +/+/- +/+/- +/</-
wh
Abdomen: +/+/- +/+/- +/+/-
supel/ BU/
nyeri tekan
Ekstremitas: + + +
akral hangat

10
Assessment
Susp. Tb 1. Tb Paru Kasus
Paru Baru BTA (+)
 
Rontgen (+)
2. Hipoalbuminemia
Planning
   IVFD RL 21  IVFD RL 21 tpm
tpm  Inj antrain 3x1 amp
 Inj antrain  Inj ranitidine 2x1 amp
3x1 amp  Inj ondancetron 3x1 amp (kp)
 Inj ranitidine  Inj ceftriaxone 2x1 gram
2x1 amp  PO OAT 0-0-2 tab
 Inj  B6 1x1 tab
ondancetron  NAC 3x1 tab
3x1 amp (kp)  Curcuma 3x1 tab
 Inj  Vip albumin 3x1 caps
ceftriaxone  
2x1 gram
 PO curcuma
3x1 tab
 NAC 3x1 tab
 

  Cek sputum BTA,   BLPL


gram, KOH
Rontgen thoraks

11
TINJAUAN PUSTAKA
PEMBAHASAN
Epidemiologi
13

 Jumlah kasus baru TB di Indonesia


sebanyak 420.994 kasus pada tahun
2017 (data per 17 Mei 2018).
 Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus
baru TBC tahun 2017 pada laki-laki 1,4
kali lebih besar dibandingkan pada
perempuan
 Badan kesehatan dunia mendefinisikan
negara dengan beban tinggi/high burden
countries (HBC) untuk TBC berdasarkan
3 indikator yaitu TBC, TBC/HIV, dan
MDR-TBC.
Definisi
14

 Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan


oleh kuman Mycobacterium tuberculosis.
 Terdapat beberapa spesies Mycobacterium, antara lain: M.
tuberculosis, M. africanum, M. bovis, M. Leprae dsb. Yang
juga dikenal sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).
 Kelompok bakteri Mycobacterium selain Mycobacterium
tuberculosis yang bisa menimbulkan gangguan pada saluran
nafas dikenal sebagai MOTT (Mycobacterium Other Than
Tuberculosis) yang terkadang bisa mengganggu penegakan
diagnosis dan pengobatan TBC
Anamnesis
15

Batuk berdahak ≥ 2 minggu dan dapat disertai sedikitnya salah satu


dari gejala berikut:
a) Lokal respiratorik: dapat bercampur darah atau batuk darah,
sesak nafas, dan nyeri dada atau pleuritic chest pain (bila disertai
peradangan pleura).
b) Sistemik: nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat
malam tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari 1 bulan, badan
lemah dan malaise.
Pemeriksaan Fisik
16

Demam (pada umumnya subfebris, walaupun bisa juga tinggi sekali), dapat disertai
dengan respirasi meningkat, berat badan menurun (BMI pada umumnya <18,5).
3.1). Inspeksi
- Bila lesi minimal, biasanya tidak ditemukan kelainan
- Bila lesi luas, dapat ditemukan bentuk dada yang tidak simetris.
3.2). Palpasi
- Bila lesi minimal, biasanya tidak ditemukan kelainan
- Bila lesi luas, dapat ditemukan kelainan berupa fremitus mengeras atau melemah
Pemeriksaan Fisik
17

3.3). Perkusi
- Bila lesi minimal, biasanya tidak ditemukan kelainan
- Bila ada kelainan tertentu, dapat terdengar perubahan suara perkusi seperti hipersonor
pada pneumotoraks, atau pekak pada efusi pleura.
3.4). Auskultasi
- Bila lesi minimal, tidak ditemukan kelainan
- Bila lesi luas, dapat ditemukan kelainan berikut: Ronki basah kasar terutama di apeks
paru, suara napas melemah atau mengeras, atau stridor. suara napas
bronkhial/amforik/ronkhi basah/suara napas melemah di apex paru.
Pemeriksaan Penunjang
18

• Pemeriksaan mikroskopis kuman TB (Bakteri Tahan Asam/ BTA) atau kultur kuman
dari specimen sputum/ dahak sewaktu-pagi sewaktu sebanyak 3 kali. Jika
laboratorium sudah terakreditasi, pemeriksaan BTA dapat dilakukan 2 kali dan
minimal satu bahan berasal dari dahak pagi hari.
• Radiologi dengan foto toraks PA-Lateral/ top lordotik dapat dilakukan jika ada
fasilitas dan atas indikasi. Contoh : dugaan terdapat komplikasi (efusi pleura,
pneumotoraks, batuk darah)
Pada TB, umumnya di apeks paru terdapat gambaran bercak-bercak awan dengan
batas yang tidak jelas atau bila dengan batas jelas membentuk tuberkuloma. Gambaran
lain yang dapat menyertai yaitu, kavitas (bayangan berupa cincin berdinding tipis),
pleuritis (penebalan pleura), efusi pleura (sudut kostrofrenikus tumpul).
19

• Pemeriksaan X-pert/MTB-Rif jika tersedia di fasilitas


• Biakan kuman TB atas indikasi
• Pemeriksaan fungsi hati
• Pemeriksaan darah rutin
• Pemeriksaan gula darah
• Pemeriksaan HIV
• Pemeriksaan Fungsi Ginjal
• Untuk RS tipe B yang sudah memiliki fasilitas dan atas indikasi, dapat dilakukan
pemeriksaan sebagai berikut:
PCR; CT Scan; Bronkoskopi; TBLB/TTNA; Biopsi pleura; Kurasan bronkoaveolar
20
21
Klasifikasi
22

1. Kasus Baru
2. Relaps
3. Kasus putus berobat
4. Gagal pengobatan
Diagnosis Kerja
23

- TB paru BTA positif kasus baru


- TB paru BTA negatif kasus baru
- TB paru BTA positif kasus pengobatan ulang (gagal, kambuh, putus obat)
- Suspek TB paru resisten obat
- Hepatitis Imbas Obat
- TB HIV
- TB DM
- TB dengan Penyakit Ginjal kronik
- TB dengan Kelainan Hati
Diagnosis Banding
24

- Pneumonia
- Tumor/keganasan paru
- Jamur paru
- Penyakit paru akibat kerja
- Asma
Tatalaksana
25

 Terapi umum: istirahat, stop merokok, hindari polusi, tata laksana komorbiditas,
nutrisi, dan vitamin.
 Terapi Pengobatan OAT
Prinsip-prinsip terapi (terapi)
1.Praktisi harus memastikan bahwa obat-obatan tersebut digunakan sampai terapi
selesai.
2.Semua pasien (termasuk pasien dengan infeksi HIV) yang tidak pernah diterapi
sebelumnya harus mendapat terapi Obat Anti TB (OAT) lini pertama sesuai ISTC.
a. Fase Awal selama 2 bulan, terdiri dari: Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, dan
Etambutol.
b. Fase lanjutan selama 4 bulan, terdiri dari: Isoniazid dan Rifampisin
c. Dosis OAT yang digunakan harus sesuai dengan Terapi rekomendasi internasional,
26

Kategori I
• Penderita baru TB paru, sputum BTA positif
• Penderita TB baru, sputum BTA negatif rontgen positif dengan
kelainan paru luas
• Penderita TB ekstra paru berat diterapi dengan 2RHZE/4RH –
2 RHZE/4 R3H3 – 2 RHZE/ 6HE
• Sediaan OAT dapat berupa KDT atau lepasan.
27

Kategori 2
• Penderita kambuh
• Penderita gagal
• Penderita after default
• Diterapi dengan :
• 2 RHZES / 1 RHZE / 5 RHE
• 2 RHZES/ 1 RHZE / 5 R3H3E3
• Sediaan OAT dapat berupa KDT atau lepasan
28
29
30
Evaluasi
31

1. Evaluasi klinik
2. Evaluasi bakteriologik
3. Evaluasi radiologik
4. Evaluasi efek samping obat
5. Evaluasi keteraturan berobat
Kriteria Sembuh
32

- BTA mikroskopik 2 kali negatif ,pada fase intensif


dan akhir pengobatan
- Foto toraks serial stabil
- Biakan sputum negatif
TERIMA KASIH