Anda di halaman 1dari 31

ULKUS PEPTIKUM

Farmakologi I
Apt. Fitra Fauziah, M.Farm
STIFARM PADANG
Definisi

 Ulkus peptikum adalah


penyakit akibat gangguan
saluran gastrointestinal atas
yang disebabkan sekresi asam
dan pepsin yang berlebihan
oleh mukosa lambung.
 Ulkus peptikum adalah erosi
(kerusakan) pada jaringan
mukosa dan lapisan otot
saluran pencernaan bagian
atas yang dapat terjadi di
esofagus, gaster, duodenum
dan jejenum.
Etiologi
Sampai saat ini diketahui terdapat tiga penyebab utama tukak
peptik, yaitu kondisi hipersekresi asam seperti Zollinger-Ellison
syndrome, infeksi H. Pylori dan penggunaan NSAID.
Patofisiologi
 Gangguan Keseimbangan Asam
Tukak terjadi karena gangguan keseimbangan antara faktor agresif (asam,
pepsin atau faktor-faktor iritan lainnya) dengan faktor defensif (mukus,
bikarbonat, aliran darah. Sel parietal mengeluarkan asam lambung HCl, sel
peptik atau zimogen mengeluarkan pepsinogen yang oleh HCl dirubah
menjadi pepsin dimana HCl dan pepsin adalah faktor agresif terutama pepsin
dengan pH < 4 (sangat agresif terhadap mukosa lambung). Bahan iritan dapat
menimbulkan defek barier mukosa dan terjadi difusi balik ion H+. Histamin
terangsang untuk lebih banyak mengeluarkan asam lambung, kemudian
menimbulkan dilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh kapiler,
kerusakan mukosa lambung, gastritis akut atau kronik, dan tukak peptik.
 Infeksi Helicobacter pylori
Helicobacter pylori dapat bertahan dalam suasana asam di
lambung, kemudian terjadi penetrasi terhadap mukosa
lambung, dan pada akhirnya H. pylori berkolonisasi di
lambung. Kemudian kuman tersebut berpoliferasi dan dapat
mengabaikan sistem mekanisme pertahanan tubuh. Pada
keadaan tersebut beberapa faktor dari H. pylori memainkan
peranan penting diantaranya urase memecah urea menjadi
amoniak yang bersifat basa lemah yang melindungi kuman
tersebut terhadap asam HCl.
 Penggunaan NSAID
Obat NSAID yang dapat menyebabkan tukak antara lain:
indometasin, piroksikam, ibuprofen, naproksen, sulindak,
ketoprofen, ketorolac, flurbiprofen dan aspirin. Obat-obat
tersebut menyebabkan kerusakan mukosa secara lokal dengan
mekanisme difusi non ionik pada sel mukosa (pH cairan lambung
<< pKa NSAID). Stres yang amat berat dapat menyebabkan
terjadinya tukak, seperti pasca bedah dan luka bakar luas, hal ini
terjadi karena adanya gangguan aliran darah mukosa yang
berkaitan dengan peningkatan kadar kortisol plasma.
Mekanisme terbentuknya
ulkus peptikum
Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik ulkus peptikum yaitu nyeri abdomen
seperti terbakar terutama terasa apabila lambung atau
duodenum tidak terisi makanan, karena makanan dalam
keadaan normal menyangga kadar HCl bebas, nyeri sering
timbul pada malam hari. Biasanya pasien dengan ulkus sering
mengeluh nyeri tumpul, seperti tertusuk, sensasi terbakar di
epigastrum tengah dan dipunggung.
Komplikasi
• Perdarahan
• Perforasi
• Obstruksi
Tanda dan Gejala
 Tanda Ulkus Peptikum
 Penurunan berat badan sebagai konsekuensi dari gejala
mual, muntah dan anoreksia.
 ditemukannya komplikasi seperti perdarahan, perforasi dan
obstruksi.
 Gejala Ulkus Peptikum
Gejala bervariasi tergantung lokasi ulkus dan usia
penderita. Contohnya anak-anak dan orang tua biasanya tidak
memiliki gejala yang sering didapat atau tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu, ulkus biasanya diketahui ketika komplikasi
tertentu.
Diagnosis

H.pylori
Diagnosis
Visualisasi Endoskopi
tukak
Radiografi
Diagnosis

UBT (Urea Breath Test)

Noninvasif Serologi IgG

SAT (Stool Antigen Test)


Pemeriksaan
H. pylori
Rapid Urease Test

invansif Histologi

Kultur
Tujuan Terapi
• Menghilangkan nyeri ulkus peptikum
• Menyembuhkan ulkus
• Mencegah komplikasi
• Mencegah terjadinya kekambuhan
• Pada pasien dengan H. pylori positif,
tujuan terapi: eradikasi mikroba dan
menyembuhkan penyakit dengan obat
yang efektif
Penata Laksanaan
1. Terapi Nonfarmakologi
 Menghilangkan kebiasaan merokok dan penggunaan NSAID.
 Menghindari maknan atau minuman tertentu yang dapat
merangsang ulkus seperti makanan pedas, kafein, alkohol.
 Mengganti penggunaan NSAID nonselektif dengan
asetaminofen, salisilat takterasetilasi.
 Dalam kondisis tersebut ulkus peptikum memerlukan
tindakan pembedahan.
2. Terapi Farmakologi
Obat-obatan yang digunakan diantaranya:
• Antasida
• Antagonis reseptor H2
• Antimuskarinik selektif
• Khelator dan senyawa kompleks
• Analog prostaglandin
• Penghambat pompa proton
• Antibiotik (untuk eradikasi H. pylori)
Antasida
• Mekanisme kerja: menetralkan asam lambung atau
meningkatkannya (bekerja lokal pada salurancerna).
• Diberikan diantara waktu makan dan sebelum tidur,
atau ketika gejala akan muncul.
• Efek samping: Al(OH)3 menyebabkan diare, Mg(OH)3
menyebabkan konstipasi.
• Peringatan: pasien dengan gangguan ginjal
• Kotra indikasi: hipofosfatemia
• Contoh: Al(OH)3 dan atau Mg(OH)3.
Antagonis Reseptor H2
• MK: mengurangi sekresi asam lambung yang distimulasi
histamin dengan memblok secara kompetitif reseptor H2
histamin.
• Peringatan: untuk pasien gangguan ginjal dan hati, dosis
dikurangi.
• Efek samping: efek samping yang kadang-kadang muncul pada
pengguanaan semua jenis antagonis reseptor H2 adalah ruam
kulit, efek samping yang dilaporkan jarang muncul adalah sakit
kepala, disfungsi hati, gangguan darah, bradikardia, bingung,
urtirian, angiodema, serta nefritis interstisial dan impotensi
(pada penggunaan simetidin).
• Contoh: simetidin, ranitidin, nizatidin, famotidin.
Antagonis Reseptor H2

Nama Obat Dosis Lazim


Ranitidin 2x150 mg sehari (pagi dan malam) selama 4-8 minggu
Simetidin 2x400 mg sehari (pagi dan malam) selama 4-8
minggu
Famotidin 1x40 mg sebelum tidur malam selama 4-8 minggu
nizatidin 1x300 mg sehari sebelum tidur malam atau 2x150 mg
sehari selama 4-8 minggu
Antimuskarinik
• MK: secara kompetitif akan menekan sekresi asam lambung
dan pepsinogen pada reseptor muskarinik.
• Efek samping: ulserasi mulut, diare, kerusakan hati dan
ginjal.
• Peringatan: pasien gangguan hati dan ginjal.
• Kontra indikasi: pemberian bersama NSAID  toksik.
• Dosis: 2 x 50 mg sehari selama 4-6 minggu.
• Contoh: pirenzepin
Khelator dan Senyawa Kompleks
• Senyawa kompleks: sukralfat
Senyawa ini pada permukaan ulkus akan membentuk senyawa kompleks
denga protein dalam kondisi asam dan dengan demikian akan mencegah
serangan faktor agresif, seperti asam klorida, pepsin dan empedu.
• Efek samping: diare, mual, gangguan pencernaan, mulut kering,
mengantuk.
• Peringatan: pasien hamil dan menyusui
• Kontra indikasi: pasien gangguan ginjal berat
Khelator dan Senyawa Kompleks
• Dosis: 2 x 3 gram sehari (pagi dan sebelum
tidur malam), atau 4 x 1 gram sehari, 1 jam
sebelum makan dan sebelum tidur malam,
diberikan selama 4-6 minggu atau 8 minggu
untuk kasus yang resisten, maksimal 8 gram
sehari. Untuk profilaksis tukak akibat stres,
diberikan suspensi dengan dosis 1 gram 6 kali
sehari, maksimal 8 gram sehari. Penggunaan
untuk anak-anak tidak dianjurkan.
Khelator dan Senyawa Kompleks
• Khelator: trikalium disitatrobismutat bekerja dengan
merangsang sekresi prostaglandin atau mukosa bikarbonat
yang merupakan pelindung lambung.
• Efek samping: mual, muntah, lidah dan wajah menjadi
berwarna gelap/kehitaman.
Analog Prostaglandin
• Prostaglandin merupakan salah satu faktor defensif dalam
patofisologi ulkus peptikum.
• Efek samping: diare, nyari abdomen, mual, muntah, pusing.
• Peringatan: keadaan hipotensi
• Kontra indikasi: kehamilan
• Contoh: misoprostol
Analog Prostaglandin
• Dosis:
 Untuk ulkus peptikum dan duodenum serta ulkus akibat
NSAID, 1 x 800 mcg sehari dalam 2-4 dosis terbagi dengan
sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Pengobatan harus
dilanjutkan selama minimal 4 minggu dan bila perlu sampai 8
minggu.
 Untuk profilaksis tukak duodenum dan ulkus peptikum
karena NSAID, dosis yang diberikan adalah 2-4 x 200 mcg
sehari bersama dengan NSAID yang digunakan. Penggunaan
untuk anak-anak tidak dianjurkan.
Penghambat Pompa Proton (PPI)
• MK: bekerja dengan cara menghambat sistem enzim
adenosine trifosfat hydrogen-kalium (pompa proton) dari
sel parietal lambung sehingga ion H+ tidak dilepas dari sel
parietal. Pengobatan dengan PPI merupakan pengobatan
jangka pendek untuk ulkus peptikum dan duodenum. Selain
itu, PPI juga digunakan dalam kombinasi dengan antibiotika
untuk eradikasi H. pylori.
• Contoh: omeprazol, lansoprazol, pantoprazol.
• Efek samping: mual, muntah, diare, ruam, kepala pusing.
• Peringatan: kehamilan, pasien dengan gangguan hati.
• Farmakodinamik: penghambat pompa proton adalah suatu
prodrug yang membutuhkan suasana asam untuk aktivasinya.
Setelah diabsorpsi dan masuk ke sirkulasi sistemik obat ini akan
berdifusi ke sel parietal lambung, terkumpul dikanalikuli sekretoar
dan mengalami aktivasi disitu dan menjadi bentuk sulfonamid
tetrasiklik.
• Farmakokineti: pengahambat pompa proton sebaiknya diberikan
dalam sediaan salut enterik untuk mencegah degradasi zat aktif
tersebut dalam suasana asam. Sediaan ini tidak teraktivasi
dilambung sehingga bioavailabilitasnya lebih baik.
Penghambat Pompa Proton (PPI)

Nama Obat Dosis Lazim


Omeprazol 1 x 20 mg sehari selama 4 minggu pada tukak
duodenum, selama 8 minggu pada ulkus peptikum.
Pada kasus berat atau kambuh, dosis ditingkatkan
menjadi 1 x 40 mg sehari.
Lansoprazol  Ulkus peptikum: 30 mg sehari, pada pagi hari,
selama 8 minggu.
 Ulkus duodenum: 30 mg sehari, pada pagi hari,
selama 4 minggu.
pantoprazol 40 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti
4 minggu berikutnya jika tidak sepenuhnya sembuh.
Pada gangguan hati, pengobatan diberikan selang 1
hari.
Antibiotik

• Klaritrimisin
• Amoksisilin
• Tetrasiklin
• metronidazol
Terapi Nonfarmakologi

• Kurangi atau hentikan rokok


• Kurangi atau hentikan obat-obat NSAID
• Kurangi atau hentikan makanan penyebab dispepsia.
• Hindari stres
Terapi Farmakologi

Tata laksana infeksi H. pylori


Lini 1:  PPI + 2 antibiotik (7-14 hari)
 Omeprazol + amoksisilin + klaritromisin
Lini 2:  PPI + bismut subsalisilat + metronidazol + tetrasiklin.
Omeprazol + bismut subsalisilat + metronidazol +
tetrasiklin.
Lini 3:  Terapi triple dengan basis lefofloksasin
 Lefofloksasin + amoksisilin + omeprazol
Tata Laksana Infeksi H. Pylori

• Pasien dengan kerusakan ginjal: menggunakan triple


therapy dengan klaritromisin dan metronidazol, tidak
dengan amoksisilin, dosis tetap.