Anda di halaman 1dari 38

Made Dwi Pradipta Wahyudi S., M.Sc.

,
Apt
Made Dwi Pradipta Wahyudi S., M.Sc.,
Apt.
 Kompetensi:
Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan hukum, teori, sifat dan karakteristik khusus yang
berkaitan dengan sistem dispersi koloid, mengetahui metode analisa suatu koloid dan dasar
pemilihannya, serta contoh sistem penghantaran obat yang menggunakan sistem koloid yang
berguna dalam pengembangan dan kontrol kualitas sediaan farmasi khususnya koloid.
 Kriteria Penilaian:
1. Ketepatan dalam menyebutkan perbedaan tipe-tipe koloid dengan menjelaskan karakteristik
utamanya
2. Ketepatan dalam menjelaskan sifat optik dari sistem koloid dan menyebutkan aplikasinya
dalam menganalisa koloid.
3. Ketepatan dalam menyebutkan metode mikroskopik yang digunakan dalam
menganalisa
koloid
4. Ketepatan dalam menjelaskan sifat kinetik dan elektrik suatu koloid dan
peng aruhnya terhadap stabilitas, sinsitisasi dan daya proteksi dari suatu koloid
5. Ketepatan dalam menyebutkan keuntungan pelarutan meng gunakan sistem koloid
dan
ketepatan dalam menyebutkan sistem penghantaran obat modern yang termasuk dalam
suatu
koloid.
 Ukuran dan Bentuk partikel koloid, klasifikasi sistem
dispersi berdasarkan ukuran partikel
 Tipe koloid (koloid lipofilik, liofobik, dan koloid gabungan), Misel dan
C M C (the Critical Micelle Concentration)
 Metode mikroskopik yang digunakan dalam analisa koloid
 Sifat optik koloid (The Faraday–Tyndall Effect, Light Scattering)
 Sifat kinetic koloid (Gerak Brown, difusi, tekanan osmosis, pengendapan,
dan viskositas)
 Sifat elektrik suatu koloid dan pengaruhnya terhadap
stabilitas,
sensitisasi dan daya proteksi suatu koloid
 Solubilisasi dengan koloid; koloid sebagai sistem penghantaran obat
Sistem dispersi merupakan sistem yang terdiri dari fase
terdispersi yang terdistribusi secara menyeluruh
dalam medium pendispersi.
Berdasarkan ukuran dari fase terdispersinya, sistem
dispersi dapat dibedakan menjadi 3:
a. Dispersi molecular
b. Dispersi koloid
c. Dispersi kasar
Dispersi molecular memiliki sistem yang homogeny dan
membentuk larutan sejati, sedangkan disperse koloid
dan kasar merupakan sistem yang heterogen.
 Ukuran partikel koloid lebih mudah dipisahkan dari partikel-partikel
molekular dengan cara dialisis menggunakan membran semipermeable.
 Dialisis juga terjadi secara in vivo ketika ion-ion dan molekul kecil yang dibawa oleh
darah melewati membrane semipermeable untuk sampai pada jaringan, komponen
koloid darah akan tetap berada pada sistem peredaran darah.
a) Bulatan dan bola.
b) batang pendek
dan elipsoid
lonjong.
c) elipsoid datar
dan
serpihan.
d) Batang dan benang.
e) benang
bergulung
longgar.
f) Benang bercabang.
KOLOID LIOFILIK KOLOID LIOFOBIK KOLOID AMFIFILIK

• Partikel kolid yang • Tarik menarik • Merupakan koloid


banyak berinteraksi antara fase dan gabungan atau disebut
dengan medium medium dispersi juga zat aktif
dispers. kecil. permukaan.
• Lebih mudah • Tidak suka pelarut • Terbentuk dari
membentuk sistem • Pembuatan kolid molekul- molekul atau
koloid liofobik dengan metode ion-ion.
• Tarik menarik antara dispersi (mereduksi • Mempunyai dua kutub
fase dan medium ukuran) dan kondensasi yang berbeda yang
dispersi kuat (agregasi sub koloid melawan afinitas
sehingga terjadi menjadi koloid). larutan dalam
solvasi. • Contoh : Koloid emas, molekul/ion.
• Contoh : Albumin, perak, belerang, • Jika konsentrasi amfifil
gelatin, insulin (larut Arsen ditingkatkan maka akan
air). Karet, polistiren (III) sulfida dan perak terjadi agregasi yang
(larut dalam pelarut iodida. disebut misel.
organik).
Sistem mengandung partikel koloid yang dapat langsung
berinteraksi dengan medium pendispersi.
Dikarenakan afinitasnya terhadap medium pendispersi, bahan-
bahan tersebut dapat dengan mudah membentuk dispersi
koloid; cukup dengan melarutkan bahan tersebut ke dalam
solvent yang digunakan.
Kebanyakan koloid liofilik merupakan molekul organic, seperti,
gelatin, acacia, insulin, albumin, karet, dan polistirene
Sistem terdiri dari bahan-bahan yang memiliki
ketertarikan sedikit atau bahkan tidak sama sekali
terhadap medium pendispersi.
Diperlukan metode khusus untuk mempersiapkan
sistem koloid liofobik.
Umumnya merupakan bahan-bahan anorganik yang
terdispersi dalam air, seperti emas, perak, sulfur,
arsene sulfide, dan perak iodide.
Sistem terdiri dari bahan-bahan amfifil atau surface-active agents dengan
karakteristik memiliki 2 sisi yang berlawanan dengan afinitas yang berbeda
terhadap medium pendispersi.
Ketika berada dalam konsentrasi rendah pada medium pendispersi (di bawah CMC),
partikel-partikel amfifil akan terpisah satu sama lainnya dalam ukuran
subkoloidal.
Ketika konsentrasinya dinaikkan (di atas CMC), dia akan membentuk misel yang
mungkin mengandung 50 atau bahkan lebih monomer amfifil, dengan ukuran
masing-masing misel adalah 5 nm (ukuran koloidal).
Pembentukan koloid amfifilik berjalan secara spontan, jika konsentrasi amfifil
melebihi nilai CMC.
 Campuran dua amfifil atau lebih bisa digunakan
dalam formulasi farmasetis.
 Dengan menganggap sebagai campuran ideal, C M C
campuran dapat diprediksi dari nilai C M C murni dan
fraksi molnya dengan persamaan :

1 𝑋 𝑋
𝐶
= 𝐶 1𝑀
+ 𝐶 2𝑀
𝑀 𝐶 1 𝐶 2
𝐶
C O N T O H SOAL

Hitunglah nilai C M C suatu campuran yang terdiri atas n-


dodesil oktaoksietilen glikol monoeter (C 1 2 E 8 ) dan n-dedosil
β-D- maltosida (DM). C M C C 1 2 E 8 adalah 8,1x10‾⁵ M dan
fraksi molnya (X1) adalah 0,75. di sisi lain diketahui pula nilai
C M C D M adalah 15x10‾⁵ M. Hitung nilai C M C nya !
Jenis Koloid
Sifat
Liofilik Amfifilik Liofobik
Fase dispers Molekul organik Agregat/misel Partikel
anorganik
Interaksi antara fase Terjadi solvasi Bagian hidrofil dan Sedikit interaksi
dispers dan medium lipofil mengalami (solvasi)
solvasi,
tergantung
medium dispersi
Pembentukan koloid Spontan Spontan jika kadar > Perlu prosedur
CMC khusus
Viskositas Fase dispers , Kadar amfifil , Tidak banyak
viskositas  viskositas  meningkat
Penambahan Stabil Kestabilan Tidak stabil
elektrolit, misalnya berkurang
NaCl
FARADAY-TYNDALL
EFFECT
Ketika seberkas cahaya diarahkan pada suatu dispersi koloid, cahaya
tersebut akan dihamburkan dan membentuk sebuah kerucut yang
tampak dari hasil penghamburan cahaya tersebut.
LIGHT
SCATTERING
Sifat ini sangat bergantung pada efek Faraday-Tyndall dan digunakan
untuk menentukan bobot molekul koloid dengan pertimbangan bentuk
dan ukuran partikel tersebut
Pembiasan/penghamburan dapat dijelaskan menggunakan kekeruhan
yang diperoleh dari hasil bagi antara intensitas cahaya yang
dihamburkan dengan intensitas incident light (cahaya yg mengenai
objek).
Pada konsentrasi fase terdispersi yang ditentukan, turbiditas/kekeruhan
suatu koloid besarnya proporsional dengan bobot molekul koloid
tersebut, seperti tampak pada persamaan berikut:

Konstanta interaksi yg diperoleh dari perpotongan dan kemiringan plot H.c/Ʈ


versus c. Jika tidak ada kemiringan dianggap 0
BROWNIAN
MOTION
 Gerak acak yang ditemukan oleh Robert Brown(1827)
 Merupakan gerak partikel acak/ tidak beraturan yang dapat diamati
pada partikel-partikel sebesar kira-kira 5 μm.
 Tidak dapat dilihat karena molekul tersebut kecil
 Kecepatan partikel meningkat deng an semakin kecilnya
ukuran partikel.
 Viskositas medium dapat diperoleh dengan menambahkan gliserin
untuk menurunkan dan menghentikan gerak dari partikel.
DIFFUSIO
N
 Partikel berdifusi secara spontan dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah. Difusi merupakan hasil langsung dari gerak
brown.
 Berdasarkan hukum Fick I, jumlah zat (dq) yang berdifusi dalam
waktu (dt), melalui bidang seluas (S) berbanding lurus dengan
perubahan konsentrasi (dc), sesuai dengan jarak yang ditempuh
(dx), dimana D adalah koefisien Difusi, dan J adalah flux

𝑑𝑐
𝑑𝑞 = 𝑑 𝑥𝑐 𝑑𝑡 𝐽= −𝐷𝑠
𝑑
−𝐷𝑠
𝑑𝑥
OSMOTIC
PRESSURE
 Tekanan diperlukan untuk menyeimbangkan aliran osmotic.
 Tekanan osmotik (π) larutan koloid encer dapat dijelaskan oleh persamaan
Van`t Hoff :
𝜋
=
𝐶𝑅𝑔𝑇
𝑀
• Modifikasi persamaan Van’t Hoff dapat digunakan untuk mencari bobot molekul
zat terdispersi
𝜋
1 = 𝑅𝑇 ( + 𝐵𝐶𝑔
𝐶𝑔
)
R= 𝑀Konstanta molar
gas T = Suhu absolut
C g = Gram zat terlarut
M = Bobot molekul
B = Konstanta sistem
SEDIMENTATI
ON
 Kecepatan sedimentasi (v) partikel bulat yang mempunyai densitas (ρ) dalam medium
yang memiliki densitas (ρₒ) dan viskositas (ƞₒ) sesuai persamaan hukum stokes adalah
sebesar

 Gerak brown cenderung mengimbangi sedimentasi dan mendorong terjadinya


pencampuran, akibatnya harus diberikan gaya yang kuat agar terjadi sedimentasi 
ultrasentrifugasi.
 Dalam sentrifugasi percepatan gravitasi digantikan oleh ω²x, dengan ω merupakan
kecepatan sudut yang besarnya sama dengan 2π dikalikan kecepatan perputaran
rotor per detik.
VISCOSIT
Y
 Merupakan tahanan sistem untuk mengalir pada suatu tekanan yang
diberikan. Makin kental cairan makin besar gaya yang dibutuhkan
untuk membuat cairan mengalir.
 Viskositas dispersi koloid dipengaruhi oleh bentuk partikel fase
dispers. Bentuk partikel bulat memiliki viskositas yang rendah.
 Hubungan bentuk partikel dan viskositas mencerminkan tingkat
solvasi partikel.
 Sifat koloid dipengaruhi oleh adanya muatan pada permukaan partikel yang
berkaitan dengan fenomena antarmuka.
 Zeta Potential adalah parameter muatan listrik antara partikel koloid. Makin tinggi
nilai potensial zeta maka akan semakin mencegah terjadinya flokulasi (peristiwa
penggabungan koloid dari yang kecil menjadi besar).
 Potensial zeta menunjukkan tingkatan tolak menolak antara partikel yang
bermuatan sama yang saling berdekatan.
 Untuk suatu sistem koloid dengan medium dispers air,
potensial zeta dapat dihitung dengan persamaan :

ζ ≅ 141 𝜗� E = kuat medan listrik (volt/cm)



𝜗 = kecepatan migrasi partikel
(cm/det)
ζ
𝜗
= Zeta potensial (volt)

= mobilitas partikel (cm²/volt
det)

C O N T O H SOAL :
Kecepatan migrasi suatu sol koloid feri hidroksida dalam air ditentukan pada suhu
20 derajat celsius menggunakan alat zeta meter dan diperoleh hasil sebesar
16,5x10‾⁴ cm/det. Jarak elektroda dalam sel adalah 20 cm dan gaya gerak listrik
110 volt.
Berapakah potensial zeta sol tersebut (Volt)?
 Stabilitas dapat diperoleh dengan 2 cara :
1. Memberikan muatan listrik pada partikel-partikel terdispersi.
2. Melapisi tiap partikel dengan suatu selubung pelarut pelindung untuk
mencegah saling melekatnya partikel ketika partikel bertabrakan karena
gerak brown.
 Sol liofobik secara termodinamika tidak stabil, partikel hanya dapat di
stabilkan dengan penambahan muatan listrik pada permukaannya.
 Sol liofilik dan sol gabungan bersifat stabil secara termodinamika.
Penambahan elektrolit dalam jumlah sedang pada sol tersebut tidak
menyebabkan koagulasi seperti pada sol liofobik. Penambahan dalam jumlah
besar dapat terjadi koagulasi.
SENSITISASI D A N KERJA K O L O I D P E L I N D U N G
 Penambahan koloid liofilik/liofobik
pada koloid liofobik
yang mempunyai muatan berlawanan cenderung
mensensitisasi/mengkoagulasi partikel karena penurunan
zeta potensial.

 Penambahan koloid liofil dalam jumlah besar akan


menstabilkan koloid liofobik tersebut dengan teradsorpsinya
hidrofil pada partikel hidrofob sehingga mampu berperan
sebagai pelindung.

 Sifat pelindung dinyatakan dengan bilangan emas yaitu :


berat minimum jumlah koloid pelindung (mg) yang
dibutuhkan untuk mencegah perubahan warna dari merah
menjadi lembayung dalam 10 ml sol emas pada
penambahan 1 ml NaCl 10%.
Contoh :
Bismut subnitrat disuspensikan dalam dispersi tragakan
membentuk gel yang mengeras dalam dasar wadah hal ini
disebabkan oleh koagulasi gom oleh ion 𝐵𝑖3+. Gom yang
terflokulasi dan beragregasi dengan bismut subnitrat membentuk
gel keras. Penambahan fosfat/ sitrat/ tartrat melindungi gom dari
pengaruh koagulasi ion 𝐵𝑖3+..
 Proses pelarutan memanfaatkan kemampuan
misel untuk meningkatkan kelarutan bahan
yang susah larut atau bahkan tidak larut dalam
medium dispersi.
 Lokasi dimana molekul mengalami pelarutan
dalam misel berhubungan dengan
keseimbangan sifat polar dan non polar dari
molekul tersebut.
 Molekul non polar dalam media air yang
mengandung zat aktif permukaan ionik akan
berada pada inti hidrokarbon misel.
 Zat terlarut polar akan cenderung teradsorpsi
pada permukaan misel.
 Obat-obat tertentu diketahui meningkat aktivitasnya apabila di formulasikan
dalam bentuk koloid.
 Protein merupakan koloid alami yang penting dalam tubuh sebagai komponen
otot, tulang dan kulit. Protein plasma dapat meningkatkan aktivitas farmakologis
obat tertentu.
 Koloid juga dapat digunakan sebagai sistem penghantaran obat seperti :
Hidrogel, mikropartikel, mikroemulsi, liposom, misel, nanopartikel dan
nanokristal.