Anda di halaman 1dari 36

Case Report Session

Aisa Mutiara Akbar


Gilang Muhammad Fauzan
Otitis Media Supuratif Kronis
Ulfa Syukrina

Preseptor: 
dr. Yan Edward , Sp.THT-KL (K), FICS
Pendahuluan

Otitis media supuratif kronis (OMSK) adalah infeksi kronis di telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah yang
terjadi terus-menerus atau hilang timbul dengan rentang waktu lebih dari 2 bulan.
Otitis media supuratif kronis (OMSK) dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
Prevalensi gangguan pendengaran di dunia adalah sebesar 5%, atau sekitar 360
juta jiwa (328 juta penderita dewasa dan 32 juta penderita anak-anak). Angka
gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia merupakan angka tertinggi di
Asia Tenggara sekitar 16,8%. Angka gangguan pendengaran di Indonesia terjadi
paling banyak pada usia produktif dewasa (30-54 tahun) sekitar 28%.
Pendahuluan

Penyebabnya multifactorial :
- faktor lingkungan
- Bakteri
- host, dan risiko genetik

Negara berkembang memiliki angka kejadian OMSK yang lebih besar dibandingkan
negara maju. Pada negara berkembang, OMSK biasanya terjadi pada sosial ekonomi
rendah, area pedesaan dengan kebersihan dan faktor nutrisi yang kurang.
Pendahuluan

Tipe aman

OMSK

Tipe bahaya
Pendahuluan

Kompikasi :
kehilangan pendengaran, meningitis, abses serebri, mastoiditis, parese nervus
fasial, kolesteatoma, jaringan granulasi dan empiema subdural
Kelainan pada Otitis media supuratif kronik diawali pada gangguan fungsi tuba
eustachius. Tuba eustachius adalah saluran yang menghubungakan rongga telinga
tengah dengan nasofaring. Fungsi Tuba adalah sebagai ventilasi , drenase sekret,
dan menghalangi masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah. Ventilasi
berguna untuk menjaga agar tekanan diluar telinga tengah sama dengan tekanan
di telinga tengah
Definisi

Otitis media supuratif kronis (OMSK) ialah infeksi kronis di telinga tengah
dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah yang
terjadi terus-menerus atau hilang timbul.
Epidemiologi

Otitis media supuratif kronik dianggap sebagai salah satu penyebab tuli yang
terbanyak, terutama di negara-negara berkembang, dengan prevalensi antara 1-
46%. Di Indonesia antara 2,10-5,20%, Korea 3,33% dan Madras India 2,25%.
Prevalensi tertinggi didapat pada penduduk Aborigin di Australia dan bangsa
Indian di Amerika Utara.
Etiologi

Disebabkan :
- infeksi virus atau bakteri
- gangguan fungsi tuba
- Alergi
- kekebalan tubuh
- lingkungan dan sosial ekonomi.
- Kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran
timpani. Maka terjadilah proses inflamasi. Kelainan ini akan mengakibatkan terperangkapnya
bakteri dalam mukosa telinga tengah, kadang terbentuk jaringan granulasi pada daerah
tersebut
Klasifikasi

Tipe benigna Tipe malignan


• Tipe aktif
terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh
perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau
setelah berenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar.
Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen.

• Tipe tenang ditemukan adanya kolesteatom


dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah
yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan.
Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau suatu rasa
penuh dalam telinga.
Jenis - jenis perofrasi
a. Perforasi sentral
b. Perforasi marginal
c. Perforasi atik
Patofisiologi

OMSK merupakan penyakit dengan multifaktorial yang merupakan interaksi antara


mikroorganisme (bakteri), lingkungan, dan faktor tubuh. OMSK secara umum
berawal dari Otitis media akut yang tidak terdiagnosa secara tepat dan tidak
mendapatkan pengobatan yang adekuat. Dapat juga merupakan komplikasi dari
Otitis media efusi kronis. Secara umum OMSK dicetuskan oleh gangguan
mekanisme ventilasi dan inflamasi pada mukosa telinga tengah. Gangguan ventilasi
hampir selalu disebabkan oleh adanya gangguan fungsi tuba eustachius. Gangguan
ventilasi akan menyebabkan terbentuknya tekanan negatif yang akan
menyebabkan terjadinya transudasi cairan dan edema pada mukosa telinga tengah
Patofisiologi

Infeksi dan inflamasi memegang peranan penting dalam memicu terjadinya OMSK. Inflamasi dapat
disebabkan oleh faktor infeksi maupun non infeksi. Beberapa penyebab inflamasi adalah :
– Adenoiditis : Adenoid (tonsil pharyngeal )
dapat menjadi sumber patogen yang dapat menyebar ke telinga tengah serta menyebabkan hiperplasia
adenoid yang menganggu pernapasan dan fugnsi tuba
– Infeksi Mukosa telinga tengah :
ISPA terutama pada anak dapat dengan mudah menyebar ke telinga tengah melalui tuba (tubogenic
infection), dan apabila membran tympani perforasi maka bakteri gram negatif yang terdapat di liang telinga
luar dapat masuk ke telinga tengah, menyebabkan infeksi akut ataupun memperparah inflamasi kronis yang
sudah ada.
– Inflamasi non infeksi : Allergi atau inflamasi karena toxic atau refluk asam lambung dapat menyebabkan
adenoiditis yang akan menyebabkan obstruksi hidung.
Gejala klinis

1. Telinga berair (otore)


Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan.
2. Gangguan pendengaran
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
3. Otalgia (nyeri telinga)
Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus.
Gejala klinis

4. Vertigo
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat
erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo dapat terjadi karena perforasi besar
membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh
perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan menyebabkan
keluhan vertigo.
Diagnosis

1. Anamnesis
Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. Pada tipe aman sekretnya
lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau bususk, dan intermiten. Sedangkan
pada tipe bahaya sekretnya lebih sedikit, berbau busuk, kadangkala disertai
pembentukan jaringan granulasi atau polip, dan sekret yang keluar dapat
bercampur darah. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang
pendengaran atau telinga keluar darah.
2. Pemeriksaan Otoskopi
Pemeriksaan otoskopi akan memperlihatkan adanya dan dimana letak perforasi.
3. Pemeriksaan audiologi
menilai hantaran tulang dan udara penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan
pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang.
4. Radiologi
Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom, ada atau
tidaknya tulang–tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis
semisirkularis horizontal. 
Tatalaksana

1. OMSK tipe aman


konservatif dan medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus menerus, maka
diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah
sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga
yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Antibiotik oral yang diberikan dari
golongan ampisilin atau eritromisin jika pasien alergi terhadap penisilin, sebelum
hasil tes resistensi diterima
2. OMSK tipe bahaya
pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi bila terdapat OMSK tipe bahaya, maka
terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa
timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah terapi
sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal
retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
mastoidektomi.
Komplikasi

1. Intratemporal 2. Ekstratemporal
- perforasi membrane timpani abses periosteal
- Mastoiditis
- petrositis 3. Intrakranial

- Labirintitis - abses atau jaringan granulasi


ekstradural
- paresis nervus fasialis
- tromboflebitis sinus sigmoid,
- abses otak, hidrosefalus otikus,
meningitis dan abses subdural.
Laporan kasus
Identitas pasien

– Nama : Tn. H
– Jenis Kelamin : Laki-Laki
– Usia : 62 tahun
– Alamat : simpang empat, danau kerinci
– Suku Bangsa : Minangkabau
–  
Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluhan Utama :
– Riwayat keluar cairan dari telinga sejak 1 bulan yang
Keluar cairan dari kedua telinga sejak lalu bulan yang lalu , saat ini tidak ada
1 bulan yang lalu  – Cairan berwarna kuning dan berbau
– Riwayat telinga berair sejak usia 16 tahun
– Cairan bercampur darah tidak ada
– Nyeri kepala hilang timbul
– Pusing berputar tidak ada
– Wajah mencong tidak ada
– Riwayat bersin-bersin 5x bila terpapar debu ,
pengaruh cuaca dingin atau panas tidak ada
– Demam, batuk, pilek tidak ada
Riwayat Penyakit Dahulu :
Telinga berair sejak usia 16 tahun
 
Riwayat Penyakit Keluarga :
– Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien
– Riwayat keluarga dengan alergi atau asma tidak ada
– Riwayat keluarga yang menderita keganasan tidak ada
  
– Riwayat Kebiasaan, Sosial, Ekonomi:
– Pasien seorang pegawai negri
– Status Generalisata – Edema : Tidak ada
– Keadaan Umum : sakit sedang – Anemis : Tidak ada
– Kesadaran : composmentis – Ikterus : Tidak ada
cooperatif
– Tekanan darah : 130/80 mmHg
– Frekuensi nadi : 85x/ menit
– Suhu : Afebris
– Pernapasan : 18x/menit
– Sianosis : Tidak ada
Pemeriksaan Sistemik
– Kepala : Normocepal
– Mata
– Konjungtiva : Tidak anemis, tidak ada
injeksi konjungtiva
– Sklera : tidak ikterik
– Thoraks : tidak ada kelainan
– Abdomen : tidak ada kelainan
– Ekstremitas : akral hangat, udem (-)
Status Lokalis THT-KL
Telinga

Pemeriksaan Kelainan Dextra Sinistra


Daun Kelainan Kongenital -  
Telinga Trauma  
Radang -
Kelainan Metabolik -
Nyeri Tarik -
Nyeri Tekan Tragus -
-
Liang dan Cukup Lapang Iya  
Dinding Sempit -
Telinga Hiperemis -
Edema -
Massa -
Sekret/Serum Bau -  
en Warna -
Jumlah -
Jenis
Membran Timpani
Utuh Warna -   hidung
Refleks Cahaya -   Pemeriksaan Kelainan Dextra Sinistra
   
     
Bulging -  
  -  
Retraksi  
 
Hidung Luar Deformitas - -
Atrofi
Kelainan Kongenital - -
Trauma    
Radang/Massa - -
- -
Perforasi Jumlah perforasi 1  
Jenis subtotal  
Kuadran
Tidak rata  
Pinggir
Hidung    
Mastoid Tanda Radang -  
Fistel -
Sikatrik -
Nyeri Tekan -
Nyeri Ketok -
Sinus Deformitas - -
Tes Garpu Tala Rinne -   Paranasal Nyeri Tekan - -
Nyeri Ketok - -
  Weber    
Schawabach memanjang  
Kesimpulan
   
Audiometri   Tidak dilakukan
Timpanometri Tidak dilakukan
  Septum Cukup Lurus/Deviasi Deviasi deviasi
Rinoskopi Anterior   Permukaan  licin licin
Warna Merah muda Merah muda
Vibrise + + Spina + +
Radang - -  
Krista - -
Normal/Cukup - - Abses - -
Lapang - - Perforasi - -
Sempit + +    
Lapang - -

Lokasi - -  
Jenis - Massa Lokasi - -
Jumlah - -        
Bau - Bentuk    
-  
  - -
-   Ukuran - -
Ukuran eutrofi eutrofi Permukaan - -
Warna merah muda merah muda Warna - -
  licin licin   - -
Permukaan - -   Konsistensi - -
Edema Mudah Digoyang - -
Pengaruh - -
Vasokonstriksi - -
Ukuran Eutrofi Eutrofi
Warna Merah muda Merah muda
  Licin Licin
Permukaan - -  
Edema
 
Rinoskopi Posterior
Koana Cukup
Lapang/Normal Cukup lapang
Cukup lapang
Sempit  
Massa  
-
-
   
Mukosa Warna Merah muda Sulit dinilai-
  - -
Edema -  
Jaringan Granulasi  
 

Konka Inferior Warna Merah


Merah muda
Permukaan Muda
  Licin Licin
Edema - -
Adenoid Ada/tidak - -
Muara Tuba Tertutup Sekret - -
Eustachius Edema Mukosa - -
- -

Massa Lokasi - -
Ukuran - -
Bentuk - -
Permukaan
Post Nasal Drip Ada/Tidak Ada Ada
Jenis Mukopurulen Mukopurulen
Peritonsil Warna Merah muda Merah muda
Oral cavity dan orofaring      
Pemeriksaan Kelainan Dextra Sinistra - -
Edema - -
Trismus   - - Abses - -
Uvula Perlengketan  
- ditengah Ditengah
Palatum Mole + Arkus
Faring
- simetris Simetris
Tumor Lokasi - -
Bentuk
- -
Dinding Faring Warna Merah muda Merah muda Ukuran
      Permukaan - -
  Licin Licin Konsistensi - -
Permukaan

- -

Tonsil Ukuran T1 T1 Gigi Karies/radiks - -


Warna merah muda Merah muda Kesan
     
  Licin Licin
Permukaan     Lidah Warna - -
Muara kripti Tidak melebar Tidak melebar      
Detritus - - Bentuk - -
Eksudat - -      
     
Deviasi - -
Massa - -
Laringoskopi Indirek
Pemeriksaan Kelainan Dextra Sinistra

Epiglotis Bentuk Normal Normal


Warna Merah muda Merah muda
  - -
Edema Pinggir rata Pinggir rata
Pinggir Rata/Tidak - -
Massa
Aritenoid Warna Merah muda Merah muda
  - -
Edema - -
Massa simetris simetris
Gerakan    
Plika Vokalis Warna Merah muda Merah muda
Gerakan simetris simetris
Pinggir medial rata rata
massa - -
 
Sinus Piriformis Massa - -
  Sekret - -
Valekulae Massa - -
Sekret/Sejenisnya
Warna
Edema
Massa
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Palpasi
Leher – Bentuk: Tidak ada pembesaran
Inspeksi KGB
– Lokasi : Tidak ada pembesaran KGB – Ukuran: Tidak ada pembesaran
– Bentuk: Tidak ada pembesaran KGB
KGB – Konsistensi: Tidak ada pembesaran
– Soliter / Multiple : Tidak ada KGB
pembesaran KGB  – Mobilitas : Tidak ada pembesaran
KGB
– Diagnosis Utama :  Pemeriksaan Anjuran :
– Otoendoskopi
OMSK ADS tipe tanpa kolesteatom – Kultur
– Brain CT-Scan
 
– Diagnosis Tambahan : - Terapi :
– H2O2 3% 3-5 x/hari
 
– Ofloxacin eardrop ADS
– Diferensial Diagnosis :  
Prognosis :
OMA stadium perforasi
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad sanam : Dubia ad Bonam
DISKUSI
DISKUSI

Pasien adalah seorang laki-laki berusia 62 tahun datang dengan keluhan utama keluar cairan dari telinga sejak 1 bulan
yang lalu bulan yang lalu , saat ini tidak ada. Cairan berwarna kuning dan berbau.Riwayat telinga berair sejak usia 16
tahun.
Keluarnya cairan dari telinga seperti yang dirasakan pasien dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti OMA stadium
perforasi, OMSK, otomikosis dan keganasan. Pada pasien ini diagnosis OMA stadium perforasi disingkirkan karena
berdasarkan anamnesis pasien tidak mengalami demam dan tdak ada infeksi pada saluran napas. Diagnosis otomikosis
juga dapat disingkirkan karena pada pasien tidak ada keluhan gatal dan telinga penuh serta pada pemeriksaan fisik juga
tidak ditemukan gambaran hifa. Keganasan juga dapat disingkirkan karena pasien tidak memiliki riwayat penurunan berat
badan yang drastis. Pasien mengeluhkan keluarnya cairan dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul, gejala ini
merupakan gejala yang ditemui pada pasien dengan OMSK. Sekret dapat encer atau kental, bening atau berupa nanah.
Otitis media supuratif, baik yang akut maupun kronis, mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya
yang dapat mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Bentuk komplikasi ini tergantung pada kelainan
patologik yang menyebabkan otore. Shambough (2003) membagi komplikasi otitis media menjadi komplikasi
intratemporal, ekstratemporal dan intrakranial.