Anda di halaman 1dari 20

Tugas

indikasi dan kontra indikasi obat


efek samping obat
interaksi obat

ERI INDRA
MELITA
DIAN EKA PUTRI
Indikasi dan kontra indikasi obat
Indikasi adalah suatu keadaan (kondisi penyakit) dimana obat perlu
digunakan. Misalnya,indikasi dari obat golongan antibiotik adalah
keadaan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sementara itu
pada keadaan infeksi yang disebabkan oleh virus, tidak diperlukan
antibiotik. Informasi tujuan penggunaan obat yang dibeli dapat
ditanyakan kepada apoteker.
  Indikasi adalah kegunaan suatu obat pada kondisi penyakit tertentu.
Misalnya, obat Ibuprofen yang merupakan obat penghilang nyeri
(analgesik) golongan AINS (Anti Inflamasi Non Steroid)  diindikasikan
untuk:
 Nyeri dan radang pada penyakit reumatik dan gangguan otot skelet
lainnya
 Nyeri ringan sampai berat termasuk dismenorea dan analgesik
paskabedah;
  Nyeri dan demam pada anak-anak
 Kontraindikasi artinya kondisi obat itu tidak boleh dikonsumsi
atau digunakan untuk penderita penyakit tertentu.
Kontraindikasi itu kebalikan dari indikasi, yang merupakan
alasan untuk menggunakan pengobatan tertentu. Karenanya,
kontraindikasi wajib diperhatikan dan dipatuhi.
 Terdapat dua jenis kontraindikasi yaitu, kontraindikasi relative
dan mutlak.
 Dikatakan mutlak jika kondisi seseorang bisa berdampak fatal
hingga kematian jika megkonsumsi obat tersebut. Sedagkan,
kontraindikasi relative kondisi yang bisa menimbulkan bahaya
jika mengkonsumsi obat namun manfaat yang diberikan jauh
lebih banyak daripada tidak mengkonsumsi obat tersebut,
biasanya pengambilan keputusan dilakuakn oleh dokter. 
 Tulisan kontraindikasi berfungsi sebagai peringatan untuk
mencegah seseorang mengonsumsi obat karena ada bahaya
yang dirasakan pasien.
 Misalnya, kontraindikasi pada penderita maag berarti obat
tersebut tidak boleh dikonsumsi oleh seseorang yang
menderita maag. Obat tersebut bisa berdampak buruk jika
nekat dikonsumsi oleh penderita maag.
Efek dan efek samping obat
 Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (World
Health Organization/WHO 1970) efek samping suatu obat
adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan
untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang
dianjurkan.
 Pengertian efek samping adalah setiap efek yang tidak
dikehendaki yang merugikan atau membahayakan
pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. Efek
samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali,
tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin
dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian
besar sudah diketahui.
Masalah efek samping obat dalam klinik
tidak dapat dikesampingkan begitu saja
oleh karena kemungkinan dampak
negatif yang terjadi, misalnya:

 Kegagalan pengobatan
 Timbulnya keluhan penderitaan atau penyakit baru
karena obat (drug-induced disease atau iatrogenic
disease), yang semula tidak diderita oleh pasien
 Pembiayaan yang harus ditanggung sehubungan dengan
kegagalan terapi, memberatnya penyakit atau timbulnya
penyakit yang baru tadi (dampak ekonomik).
  Efek psikologik terhadap penderita yang akan
mempengaruhi keberhasilan terapi lebih lanjut misalnya
menurunnya kepatuhan berobat.
NEXT ...
 Efek samping adakalanya tidak dapat dihindarkan,
misalnya rasa mual pada penggunaan digoksin,
ergotamin, atau estrogen dengan dosis yang melebihi
dosis normal. Kadang efek samping merupakan
kelanjutan efek utama sampai tingkat yang tidak
diinginkan, misalnya rasa kantuk pada fenobarbital, bila
digunakan sebagai obat epilepsi. Bila efek samping
terlalu hebat dapat dilawan dengan obat lain misalnya
obat antimual (meklizine, proklorperazin) atau obat anti
mengantuk (kofein, amfetamin).
Efek samping yang tidak dapat
diperkirakan, terbagi atas:
 Reaksi alergi
Alergi obat atau reaksi hipersensitivitas merupakan efek
samping yang sering terjadi, dan terjadi akibat reaksi
imunologik. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan
sebelumnya, seringkali sama sekali tidak tergantung
dosis, dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari populasi
yang menggunakan suatu obat. Reaksinya dapat
bervariasi dari bentuk yang ringan seperti reaksi kulit
eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi
yang bisa fatal.
NEXT...

 Reaksi karena faktor genetic


Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik,
suatu obat mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang
berlebihan. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan, namun
subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin
sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak mungkin
dilakukan pada pelayanan kesehatan rutin).
 Reaksi idiosinkratik
Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian
efek samping yang tidak lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang
tidak dapat diterangkan atau diperkirakan mengapa bisa terjadi.
Untungnya reaksi idiosinkratik ini relatif sangat jarang terjadi.
Faktor-faktor Pendorong Terjadinya
Efek Samping Obat
Faktor bukan obat
Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat antara lain
adalah:
Intrinsik dari pasien, yakni umur, jenis kelamin, genetik,
kecenderungan untuk alergi, penyakit, sikap dan kebiasaan hidup.
Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter (pemberi obat) dan lingkungan,
misalnya pencemaran oleh antibiotika.
 Faktor obat
a.    Intrinsik dari obat, yaitu sifat dan potensi obat untuk
menimbulkan efek samping.
b.    Pemilihan obat
c.    Cara penggunaan obat
d.   Interaksi antar obat
Upaya Pencegahan dan Penanganan Efek
Samping Obat

 Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat


oleh pasien pada waktu-waktu sebelum pemeriksaan, baik obat
yang diperoleh melalui resep dokter maupun dari pengobatan
sendiri
  Gunakan obat hanya bila ada indikasi jelas, dan bila tidak ada
alternatif non-farmakoterapi
 Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi
sekaligus
 Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons
pengobatan pada: anak dan bayi, usia lanjut, dan pasien-
pasien yang juga menderita gangguan ginjal, hepar dan
jantung. Pada bayi dan anak, gejala dini efek samping
seringkali sulit dideteksi karena kurangnya kemampuan
komunikasi, misalnya untuk gangguan pendengaran
NEXT...
 Perlu ditelaah terus apakah pengobatan harus
diteruskan, dan segera hentikan obat bila dirasa tidak
perlu lagi
 Bila dalam pengobatan ditemukan keluhan atau gejala
penyakit baru, atau penyakitnya memberat, selalu
ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut
karena perjalanan penyakit, komplikasi, kondisi pasien
memburuk, atau justru karena efek samping obat
Penanganan efek samping

 Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek
samping. Telaah bentuk dan kemungkinan mekanismenya. Bila efek
samping dicurigai sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar, maka
setelah gejala menghilang dan kondisi pasien pulih pengobatan dapat
dimulai lagi secara hati-hati, dimulai dengan dosis kecil. Bila efek samping
dicurigai sebagai reaksi alergi atau idiosinkratik, obat harus diganti dan obat
semula sama sekali tidak boleh dipakai lagi.
 Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi
penderita. Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu diperlukan
penanganan dan pengobatan yang spesifik. Misalnya untuk syok anafilaksi
diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan lain untuk
mengatasi syok.
Interaksi obat

 Interaksi obat adalah perubahan aksi atau efek


samping obat yang disebabkan oleh pemberian
bersamaan dengan makanan, minuman,
suplemen, atau obat lain.
 Interaksi obat dapat menyebabkan obat menjadi
kurang efektif, meningkatkan reaksi kandungan
obat, atau menyebabkan efek samping yang
tidak terduga. Pada keadaan tertentu, efek
interaksi obat bahkan dapat membahayakan
nyawa.
NEXT...
 Interaksi Farmakodinamik

Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-obat


yang  mempunyai efek farmakologi atau efek samping yang
serupa atau yang berlawanan. Interaksi ini dapat disebabkan
karena kompetisi pada reseptor yang sama, atau terjadi antara
obat-obat yang bekerja pada sistem fisiologik yang sama.
Interaksi ini  biasanya dapat diperkirakan berdasarkan sifat
farmakologi  obat-obat yang berinteraksi. Pada umumnya,
interaksi yang terjadi dengan suatu obat akan terjadi juga
dengan obat sejenisnya. Interaksi ini terjadi dengan intensitas
yang berbeda pada kebanyakan pasien yang mendapat obat-
obat yang saling berinteraksi.
NEXT...
  Interaksi  Farmakokinetik

Adalah interaksi yang terjadi apabila satu obat mengubah


absorpsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat lain.
Dengan demikian interaksi ini meningkatkan atau mengurangi
jumlah obat yang tersedia (dalam tubuh) untuk dapat
menimbulkan efek farmakologinya. Tidak mudah untuk
memperkirakan interaksi jenis ini   dan  banyak diantaranya
hanya mempengaruhi pada sebagian kecil pasien yang
mendapat kombinasi obat-obat tersebut. Interaksi
farmakokinetik yang terjadi pada satu obat belum tentu akan
terjadi pula dengan obat lain yang sejenis, kecuali jika memiliki
sifat-sifat  farmakokinetik yang sama .
 Interaksi farmakokinetik dapat
digolongkan menjadi beberapa
kelompok
 Mempengaruhi absorpsi
Menyebabkan perubahan pada
 ikatan protein
 Mempengaruhi metabolisme.

 Mempengaruhi ekskresi ginjal


Dampak Interaksi Obat
 Interaksi obat dengan obat
Interaksi ini terjadi ketika seseorang mengonsumsi dua obat
atau lebih secara bersamaan. Semakin banyak obat yang
dikonsumsi, semakin tinggi risiko interaksi yang mungkin
terjadi.
Interaksi obat dengan obat dapat menyebabkan berkurangnya
kemampuan obat dalam menyembuhkan penyakit atau
meningkatkan risiko munculnya efek samping obat. Misalnya,
Anda minum dua jenis obat yang dapat menyebabkan rasa
kantuk, maka Anda akan cenderung mengalami rasa kantuk
dua kali lipat.
NEXT...
 Interaksi obat dengan makanan atau minuman
Beberapa obat tidak boleh dikonsumsi bersamaan atau
berdekatan waktunya dengan makanan atau minuman tertentu.
Misalnya, mengonsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan
teh bisa menurunkan penyerapan zat besi oleh tubuh.
Contoh lainnya adalah mengonsumsi warfarin bersamaan atau
berdekatan waktunya dengan konsumsi sayuran hijau, seperti
bayam, dapat menurunkan efektivitas warfarin.
Oleh karena itu, penting untuk mematuhi cara minum obat yang
benar agar efek interaksi obat tersebut tidak terjadi.
NEXT...
 Interaksi obat dengan penyakit
 Interaksi obat selanjutnya adalah interaksi obat dengan
penyakit. Penggunaan obat tertentu dapat memperburuk
penyakit lain yang Anda derita. Misalnya, obat
antiinflamasi non steroid (OAINS) bisa menambah keluhan
penderita gangguan lambung.
 Contoh lainnya adalah penggunaan obat pada orang yang
sedang menderita gangguan hati. Ketika mengalami
gangguan hati, kemampuan organ ini untuk
membersihkan zat kimia yang tidak terpakai oleh tubuh
juga terganggu, sehingga risiko keracunan obat, terutama
obat yang diproses di hati, akan meningkat.
TERIMAKASIH