Anda di halaman 1dari 28

PENDAHULUAN

Kejang : sering dijumpai dan merupakan kasus gawat


darurat
2-5% anak pernah mengalami satu kali kejang
Kejang merusak fungsi Neurologis, intelektual dan 
risiko kejang berulang.
Penanganan terlambat  kematian
PENDAHULUAN
Kejang : bukan penyakit, tapi gejala
Penyebab : infeksi intrakranial, epilepsi, hipertensi
ensefalopati, anoksia akut, gangguan
metabolisme,/elektrolit, lesi struktur intrakranial, atau
keracunan
Klinis : kejang seluruh tubuh atau sebagian otot tubuh
DEFINISI
Kejang demam : bangkitan kejang biasanya terjadi
pada anak berumur antara 3 bln-5 thn, berhubungan
dengan  suhu tubuh, disebabkan oleh proses
ekstrakranial dan tidak dijumpai adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu.
Kejang demam X epilepsi (kejang berulang tanpa
panas)
DEFINISI
85% Kejang demam pertama: < 4Thn (puncak 17-23 bln)
Lama panas : menit-2 hari
INSIDENSI
 2-5% anak pernah kejang demam sekali/lebih
sebelum umur 5 thn
 AS, Amerika Selatan, Eropa Barat:2-4%
Jepang : 7-8% ; Mariana: 14%
 Laki-laki : Perempuan = 1,4 : 1 dan 1,2:1;hitam >
putih
Genetik diduga berperanan
KLASIFIKASI
Dulu :- Kejang demam sederhana
- Kejang demam kompleks
Livingstone:-Kejang demam sederhana
-Epilepsi yang diprovokasi
demam (kejang demam atipik)
 Kejang demam sederhana:singkat, umum.
Kejang demam atipik: lebih lama, fokal
MODIFIKASI LIVINGSTONE
Umur anak : 6 bulan – 4 tahun

Kejang singkat : < 15 menit
Kejang bersifat umum
Timbul dalam 16 jam pertama
Pemeriksaan saraf tidak ada kelainan
EEG ( >1 minggu) : tak ada kelainan
Frekuensi : < 4 kali pertahun
MANIFESTASI KLINIS
Penyerta : ISPA, OMA, gastroenteritis dan ISK.
Demam pasca imunisasi dan infeksi virus 
penyebab/memprovokasi kejang demam
Terjadi dalam 24 jam pertama panas
75% timbul kejang pada suhu diatas 390C
MANIFESTASI KLINIS
Timbul sebelum, saat dan setelah puncak demam
11% timbul kejang pada suhu : 37,8-380C
Kejang berlangsung singkat (<6 menit)
Lennox-Buchtal (1964) :91% kejang umum, 8% lokal
Wada (1993):28,5% klonik, 23,8% tonik klonik,
15,5% klonik
Kejang unilateralTood’s hemiplegia
MANIFESTASI KLINIS
Kejang sering berhenti sendiri, pasca kejang tidak
bereaksi, kemudian terbangun dan sadar kembali
20% kejang demam pertama > 15 menit
16% timbul kejang demam berulang dalam 24 jam
pertama
DIAGNOSIS
 Anamnesis: bentuk, lama, onset, frekuensi, panas badan dan
penyakit mendasari
Singkirkan : infeksi SSP, Hipoglikemi, gangguan elektrolit dan
kelainan metabolisme
PD:tingkat kesadaran, tanda infeksi intrakranial, gejala sisa
yang mungkin timbul
Pemeriksaan darah rutin  penyebab
Pungsi lumbal  < 2 tahun dengan kejang demam pertama
 CT-scan,MRI dan EEG: tidak rutin
PENATALAKSANAAN
Profilaksis terhadap berulangnya kejang demam  dicari
penyebab demam
Pemberian therapi phenobarbital  long onset therapi
ASUHAN KEPERAWATAN
Riwayat Keperawatan
 Adanya riwayat kejang demam pada pasien dan

keluarga
 Adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan

atas, OMA, pneumonia, gastroenteritis, Faringitis,


bronchopneumonia, morbili, varisela dan campak.
 Adanya riwayat peningkatan suhu tubuh

 Adanya riwayat trauma kepala


Pengkajian fisik

 Adanya peningkatan : suhu tubuh, nadi, dan


pernafasan, kulit teraba hangat
 Ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan
penurunan berat badan
 Adanya kelemahan dan keletihan
 Adanya kejang
Riwayat Psikososial atau Perkembangan
 Tingkat perkembangan anak terganggu
 Adanya kekerasan penggunaan obat – obatan seperti obat
penurun panas
 Pengalaman tentang perawatan sesudah/ sebelum
mengenai anaknya pada waktu sakit
Pengetahuan keluarga
 Tingkat pengetahuan keluarga yang kurang
tentang tanda dan gejala kejang demam
 Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol
suhu tubuh
 Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya
DIAGNOSA KEPERAWATAN
 Pola napas tidak efektif b.b adanya aktivitas kejang
 Hipertermi bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin
pada hipotalamus
 Perfusi jaringan cerebral tidak efektif bd reduksi aliran
darah ke otak
 Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi,
prognosis, penatalaksanaan dan kebutuhan pengobatan
bd kurangnya informasi
INTERVENSI KEPERAWATAN

DX 1 : pola napas tidak efektif b.d adanya aktivitas kejang

Tujuan : Pola napas efektif

NOC
RR dalam rentang normal sesuai usia anak
Airway bebas dari hambatan
Cianosis (-)
NURSING INTERVENTION CLASSIFICATION :

Identifikasi tanda-tanda terjadinya kejang


Saat pasien mengalami kejang: bebaskan air way, Breathing
adekwat, oksigenasi adekwat
Monitor pulse oksimetri
Monitor status respirasi
Kolaborasi pemberian therapi anti kejang
DX 2 : Hipertermi b.d efek langsung dari sirkulasi
endotoksin pada hipotalamus
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu
dalam rentang normal

NOC : Themoregulation dalam batas normal


Suhu tubuh dalam rentang normal
Nadi dan RR dalam rentang normal
Tidak ada perubahan warna kulit
NIC :
Temperatur regulation

Monitor suhu minimal tiap 2 jam


Rencanakan monitor suhu secara kontinyu (lembar
observasi)
Monitor tanda –tanda hipertermi
Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Monitor nadi dan RR
DX 3 : Perfusi jaringan cerebral tidakefektif
berhubungan dengan reduksi aliran darah ke otak
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama proses keperawatan diharapkan suplai darah
ke otak dapat kembali normal

NOC
TD sistolik dalam batas normal
TD diastole dalam batas normal
Kekuatan nadi dalam batas normal
Tekanan vena sentral dalam batas normal
Rata- rata TD Dalam batas normal
NIC : Monitor TTV

monitor TD, nadi, suhu, Respirasi Rate


catat adanya fluktuasi TD
monitor jumlah dan irama jantung
monitor TD pada saat klien berbaring, duduk, berdiri
NIC II :

status neurologia
monitor tingkat kesadaran
monitor tingkat orientasi
monitor status TTV
monitor GCS
DX 4 : Kurang pengetahuan orang tua tentang kondisi,
prognosis, penatalaksanaan dan kebutuhan
pengobatan b.d kurang informasi

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan


keluarga mengerti tentang kondisi pasien

NOC : knowledge ; diease proses


Keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit
kondisi prognosis dan program pengobatan
Keluarga mampu melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
Keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/ tim kesehatan lainya
NIC :
Teaching : diease process
Berikan penilaian tentang pengetahuan pasien tentang
proses penyakit yang spesifik
Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal
ini berhubungan dengan anatomi fisiologi dengan cara
yang tepat
Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada
penyakit, dengan cara yang tepat
Identifikasikan kemungkinan dengan cara yang tepat
SELESAI