Anda di halaman 1dari 28

Kanker kelenjar air liur

Hendy Buana Vijaya

dr. Sasongko Hadi Priyono Sp. B(K) Onk


Anatomi

Mayo • Glandula parotis


• Glandula submandibula
r • Glandula sublingual

• Tersebar diseluruh
Minor rongga mulut (traktus
aerodigestivus atas)
Anatomi
Fisiologi

protein seperti musin,


Organik amilase, enzim, dan
karbohidrat
Produksi air liur
(saliva)
ion kalsium, flour,
Non-organik magnesium, dan fosfat
Fisiologi
 Sekitar 1-2 liter saliva disekresikan per hari, kecepatan 0,5 ml/menit
sampai 5 ml/menit.
 Sekresi saliva yang bersifat spontan dan kontinu, bahkan tanpa adanya
rangsangan yang jelas, disebabkan oleh stimulasi konstan tingkat rendah
ujung-ujung saraf parasimpatis yang berakhir di kelenjar saliva
Fisiologi (fungsi)
• pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase saliva 
memecah polisakarida menjadi disakarida
• mempermudah proses menelan
• memiliki efek antibakteri, oleh lisozim
• pelarut untuk molekul-molekul yang meransang papil pengecapan
• membantu kita berbicara dengan mempermudah gerakan bibir dan lidah.
• saliva berperan penting dalam higiene mulut dengan membantu menjaga
kebersihan mulut dan gigi.
• Penyangga bikarbonat di saliva menetralkan asam di makanan
Kelainan Kelenjar Liur
Sialodenosis
Sialodenitis
Sialolitiasis
Lesi non neoplasma

Pleomorfik
Tumor benign adenoma
Kelainan Tumor Warthin

Karsinoma mucoepidermoid
Tumor malignan Adenoid cystic carcinoa
Malignant mixed tumor
Lesi non
Neoplasma
• Sialodenosis  pembesaran kelenjar
ludah karena malnutrisi
• Sialadenitis  pembesaran kelenjar airliur
karena imflamasi
• Sialolithiasis  pembesaran kelenjar
airliur karena sumbatan batu atau stenosis
• Mucocele
• Necrotizing sialometaplasia
Imflamasi Parotitis
Akut

• Parotitis Epidemik  virus paramikso


Penurunan
• Parotitis Akut Pasca Bedah Produksi
Saliva
Duktektaksia

• Usia lanjut
• Higiene mulut kurang baik
• Pemasangan NGT  pasien tidak
mengunyah  produksi liur berkurang
• Parotitis Kronis
Kehancuran
Fibrosis
Asinus
Managemen
Sialolitiasis
• Paling banyak didapatkan pada gld.
Submandibula
• Liur  mucus kental  ductus
submandibular 900
• Tersering di warthin duct
• Klinis :
• Nyeri di kelenjar saat makan atau ingin makan
• Kelenjar membengkak akibat obstruksi
• Tersering di ductus warthin
• Sering kali batu terlihat dan teraba
Klasifikasi Histopatologi WHO/ AJCC
Benign Malignant
plemorphic adenoma ( mixed benign mucoepidermoid carcinoma
tumor)
Warthin’s tumor adenoid cystic carcinoma
Lymphoepithelial lesion Adenocarcinoma
Oncocytoma acinic cell carcinoma
monomorphic adenoma Malignant mixed tumor
Benign cysts epidermoid carcinoma
Other ananplastic carcinoma
Kanker kelenjar air liur
• Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang
tidak terkontrol dan progresif, disebut juga sebagai neoplasma
• Neoplasma kelenjar liur ialah neoplasma jinak atau ganas yang berasal dari sel epitel kelenjar
liur kelenjar liur major :
- glandula parotis
- glandula submandibula
- glandula sublingual
kelenjar liur minor : kelenjar liur yang tersebar dimukosa traktus aerodigestivus atas (rongga
mulut, rongga hidung, faring,laring) dan sinus paranasalis
Epidemiologi

Jarang, 3-6% dari tumor kepala leher penderita dewasa

Laki : perempuan = 1 : 1

35% tumor kelenjar air liur pada anak adalah malignant


Faktor resiko
• Paparan radiasi  karsinoma mucoepidermoid
• Merokok  tumor Warthin
• Paparan infeksi virus (human papilloma virus dan Epstein barr virus)
• Pekerjaan (penata rambut dan salon)
• Lingkungan (paparan serbuk gergaji, pestisida dan bahan industry kimia)
Staging
Diagnosis
• Anamnesis
Pemeriksaan klinis • Pemeriksaan fisik : status generalis dan status lokalis, status regional

Pemeriksaan • X-ray
• Sialoggrafi
radiologis • Imaging (CT Scan/MRI)

• Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti: darah, urine, SGOT/SPT, alkali


Laboratorium fosfatase, BUN/kreatinin, globulin, albumin, serum elektrolit, faal
hemostasis

• Pemeriksaan FNAB
Pemeriksaan • Biopsi insisional
• Biopsi eksterna;
patologi • Pemeriksaan potong beku
• Pemeriksaan specimen operasi
Pemeriksaan klinis
• Anamnesis : • Pemeriksaan fisik :
Radiologis
• Foto polos rahang
• Menilai keterlibatan mandibular / maxilla
• Diagnosis banding antara kista mandibular, keganasan
tulang (osteosarcoma, ewing sarcoma) dan tumor gld.
Parotis
• Sialografi
• CT Scan / MRI / PET Scan
• Ukuran/immobile, menilai approach dan operabilitas
• Menilai metastasis KGB dan ekstensi ekstra kapsular
• Menilai rekurensi (follow up)
• Foto thorax, USG Hepar  Metastasis jauh
Pemeriksaan patologi
Penatalaksanaan

• Pembedahan merupakan terapi pilihan


utama untuk tumor kelenjar liur
• Radioterapi sebagai terapi ajuvan pasca
bedah diberikan hanya atas indikasi, atau
diberikan pada karsinoma kelenjar liur
yang inoperabel
• Kemoterapi hanya diberikan sebagai
ajuvan, meskipun masih dalam penelitian,
dan hasilnya masih belum memuaskan.
Algoritma
Indikasi Radioterapi Adjuvan Pada
Leher Setelah RND
• Metastases KGB > 1 buah
• Diameter KGB > 3 cm
• Pertumbuhan ekstrakapsular
• High grade malignancy
• Rekurensi pasca bedah
Tumor residif
Tumor inoperable?
Terapi utama
• Radioterapi : 65-70 Gy dalam 7-8 minggu
Terapi tambahan
• Kemoterapi :
• Untuk jenis adenokarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma, malignant mixed tumor, acinic cell
carcinoma)
- adriamisin 50mg/m2 iv pada hari 1
- 5 fluorourasil 500mg/m2 iv pda hari 1 diulang tiap 3minggu
- sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2
• Untuk jenis karsinoma sel skwamous (squamous cell carcinoma, mucoepidermoid carcinoma)
- methotrexate 50mg/m2 iv pada hari ke 1 dan 7 diulang tiap 3
- sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2 minggu
Komplikasi
Segera :
• Kelumpuhan saraf fasialis
• Perdarahan
• Sialocele
Lanjutan :
• Sindrom frey
• Rekurensi tumor
• Rasa baal pada telinga
• Fsitula
Follow up
• Prognosis : pada kanker kelenjar air liur secara keseluruhan survival 5 tahun adalah 70-
90% pada grading rendah dan 20-30% pada grading tinggi
• Jadwal follow up dianjurkan :
• Dalam 3 thaun pertama : setiap 3 bulan
• Dalam 3-5 tahun : setiap 6 bulan
• Setelah 5 tahun : setiap tahun sekali untuk seumur hidup
• Pada follow up tahunan penderita di periksa secara lengkap : fisik, radiologi,
laboratorium, USG hepar, dan bone scan untuk menentukan bebas kanker