Anda di halaman 1dari 38

LAPKAS

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS

OLEH :
dr. HANINA IZNI MUTHMAINA

PEMBIMBING :
dr. Suriadi Umar Sp.A
Dr. Rahmat Akbar Dinur Sp.OG
STATUS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 50 th
Jenis Kelamin : Perempuan
No. Cm : 267081
Tanggal Masuk RS : 9 Desember 2019
 Keluhan Utama : Nyeri Pinggang
 Riwayat Penyakit Sekarang:

 Pasien dibawa oleh keluarga ke RSUD TCD Sigli dengan keluhan nyeri pinggang yang
menjalar ke kaki kanan dan kiri sejak 6 bulan yang lalu. Awalnya nyeri pinggang
muncul setelah pasien terjatuh dikamar mandi dan memberat 3 hari sebelum
masuk rumah sakit. Nyeri yang dirasakan seperti di bagian dalam bokong dan
terasa pegal-pegal. Kadang kedua kakinya juga terasa seperti kesemutan. Nyeri
dirasakan hilang timbul dan terasa semakin lama semakin memberat. Nyeri timbul
terutama bila digunakan beraktivitas seperti bekerja, berjalan lama, jongkok
lama, dan duduk. Nyeri berkurang saat pasien tidur berbaring. Nyeri tidak disertai
penurunan kekuatan bergerak, hanya saja rasa nyeri ini mengganggu dalam
aktivitas sehari-hari. Keluhan tidak dirasakan pada ekstremitas bagian atas. Pasien
juga mengeluhkan sedikit mual, namun muntah (-), nyeri kepala (-) dan demam
(+). BAB dan BAK dalam batas normal.
 Riwayat Penyakit Dahulu : -

 Riwayat Penyakit Keluarga: -

 Riwayat Penggunaan Obat: -


 PEMERIKSAAN
GENERALISATA PEMERIKSAAN FISIK

• Kesadaran : Compos Mentis • Vital Sign


• Glasglow Coma Scala • TD : 110/70 mmHg
• Mata : 4 • Nadi : 70 x/i
• Verbal : 5
• RR : 20 x/i
• Motoric :6
• Temp : 37,3 C
• Keadaan Umum : tampak
kesakitan
 Mata : Nistagmus (-/-), anemis (-/-).
 Leher : Pembesaran KGB (-).
 Thorax
 Cor :
 Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat.

 Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavicula

sinistra ICS V
 Auskultasi : Galop (-), mur-mur (-).
 Pulmo
Inspeksi : Simetris (+).
Palpasi : Fremitus taktil (+).
Perkusi : Sonor kiri dan kanan.
Auskultasi : Vesikuler (-) wheezing (-),
Ronkhi (-).
• Abdomen :
• Inspeksi : Tidak ada kelainan.
• Auskultasi : Bising usus normal.
• Perkusi : Timpani seluruh lapang perut
• Palpasi : Hepar dan Lien tidak teraba.

• Genitalia Eksterna : Tidak dilakukan pemeriksaan.


• Ekstremitas : Tidak ada kelainan.
JENIS – JENIS AFASIA
PEMERIKSAAN NEUROLOGI

1) Tanda rangsangan selaput otak


 Kaku kuduk : (-)
 Kernig : (-)
 Laseq : (-)
 Brudzinsky I,II,III,IV : (-)

2) Tanda peningkatan Tekanan Intrakranial


 Sakitkepala : (-)
 Muntah : (-)
 Penurunan Kesadaran : (-)
 Refleks Cahaya : (+/+)
Nervus Kranial

• N 1 (OLFAKTORIUS)
• - Penciuman baik

• N II (OPTIKUS)
• - Tajam penglihatan (+)
• - Lapang pandang (+)
• - Warna (+)

• N III, IV, VI (OKULOMOTORIUS, TROKLEARIS, ABDUSEN)


• - Pupil : isokor, bentuk bulat.
• - Bola mata bisa bergerak kesegala arah.

• N V (trigeminus)
• Membuka mulut (+)
• Menggerakkan rahang (+)
• Menggigit dan mengunyah (+)
 N VII (FASIALIS)
 Mengerut dahi simetris.
 Sudut bibir simetris.
 N VIII (VESTIBULOKOKKLEARIS)
 Pendengarannya baik.
 Nyeri telinga (-)
 N IX (GLOSOFARINGEUS)
 Menelan tidak terganggu
 N X (VAGUS)
 Artikulasi bicara baik.
 N XI (ACCESORIUS)
 Dapat mengangkat bahu dan dapat menoleh ke kanan
dan ke kiri.
 N XII (HIPOGLOSUS)
 Deviasi Lidah (+), Atrofi Lidah (-).
Pemeriksaan Kekuatan Motorik.

Ekstremitas superior dan inferior

Ekstremitas Superior Inferior


Dekstra Sinistra Dekstara Sinistra
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Kekuatan 5 5 5 4
Otot
Tonus Otot Normal Normal Normal Normal
Atrofi - - - -
PEMERIKSAAN REFLEKS FISIOLOGIS PEMERIKSAAN REFLEKS PATOLOGIS

Ektremitas Kanan Kiri Ekstremitas Superior Superior

Biseps Normal Normal Kanan Kiri


Hoffman - -
Trisep Normal Normal
Gordon - -

Patella Normal Normal Oppenheim - -


Babinski - -
Archiles Normal Normal
Schaeffer - -
Diagnosa: LBP ec HNP

PENATALAKSANAAN

IVFD A sering 20 gtt/i


Inj. Metil prednisolon 125 mg, selanjutnya 62,5 mg/8 jam
Inj. Mecobalamin 500 mg/8 jam
Inj. Omeprazole 40 mg/hari
Kaltopren supp/8 jam
Pct ekstra 1 gr
Gabapentin 2x100 mg

Prognosa

Dubia et bonam
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Suatu keadaan dimana terjadi penonjolan pada
diskus intervertebralis ke dalam kanalis
vertebralis (protrusi diskus) atau ruptur pada
diskus vertebra yang diakibatakan oleh
menonjolnya nukleus pulposus yang menekan
anulus fibrosus yang menyebabkan kompresi
pada syaraf, terutama banyak terjadi di daerah
lumbal dan servikal sehingga menimbulkan
adanya gangguan neurologi (nyeri punggung)
yang didahului oleh perubahan degeneratif pada
proses penuaan.
EPIDEMIOLOGI

• Sering dijumpai kira-kira 107 kasus per

100.000 penduduk.

• Wanita > pria.

• Sering pada usia tua (51-57 tahun)


SEBAG BESAR HNP PD L4-5-S1
 Mempunyai tugas yg plg berat
 Mobilitas trtm fleksi ekstensi sangat tinggi
 Daerah L5-S1 mrpkn daerah rawan krn lig
longitudinal posterior hanya separuh
menutupi permukaan posterior diskus.
Herniasasi yg paling sering ke postero lateral
PATOFISIOLOGI
 Diskus intervertebralis menghubungkan
korpus vertebra satu sama lain dari servikal
sampai lumbal/sakral, berfungsi sbg
penyangga beban daperedam kejut (shock
absorber),terdiri dari Anulus Fibrosus
danNukleus Pulposus
PATOFISIOLOGI
ETIOLOGI
 ADANYA DEGENERASI ATAU TRAUMA PADA
ANULUS FIBROSUS YANG MENYEBABKAN
PROTRUSI DARI NUKLEUS PULPOSUS.
FAKTOR RESIKO
Beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya HNP adalah sebagai berikut :
 Riwayat trauma
 Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat
beban berat, duduk, mengemudi dalam
waktu lama.
 Sering membungkuk.
 Posisi tubuh saat berjalan.
 Proses degeneratif (usia 30-50 tahun).
 Struktur tulang belakang.
FAKTOR RESIKO HNP
 Yg tdk dpt dirubah :
 Umur : mkn tua mkn tinggi resiko
 Jenis Kelamin : laki2>perempuan
 Riwayat cidera punggung
 Yg dpt dirubah :
 Pekerjaan dan aktivitas
 Olah raga yg tdk teratur
 Merokok ,nikotin dan racun2 lain dpt menggagu
kemampuan diskus menyerap nutrisi
 Berat badan berlebihan
 Batuk lama dan berulang
KLASIFIKASI
 Hernia Lumbosacralis
 Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya
oleh kejadian luka posisi fleksi, tapi perbandingan yang
sesungguhnya pada pasien non trauma adalah kejadian
yang berulang. Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat
menyebabkan nucleus pulposus prolaps, mendorong
ujungnya/jumbainya dan melemahkan anulus posterior.
Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol
keluar sampai anulus dan melintang sebagai potongan
bebas pada canalis vertebralis. Lebih sering, fragmen
dari nucleus pulposus menonjol sampai pada celah
anulus, biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-
kadang ditengah), dimana mereka mengenai menimpa
sebuah serabut atau beberapa serabut syaraf.
 Hernia Servikalis
 Keluhan utama nyeri radikuler pleksus
servikobrakhialis. Penggerakan kolumma
vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang
kurvatural yang normal menghilang. Otot-otot
leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang
menurun atau menghilang Hernia ini melibatkan
sendi antara tulang belakang dari C5 dan C6 dan
diikuti C4 dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini
menonjol keluar posterolateral mengakibatkan
tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini
menghasilkan nyeri radikal yang mana selalu
diawali gejala-gejala dan mengacu pada
kerusakan kulit.
 Hernia Thorakalis
 Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada
digaris tengah hernia. Gejala-gejalannya terdiri
dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang
parastesis. Hernia dapat menyebabkan
melemahnya anggota tubuh bagian bawah,
membuat kejang paraparese kadang-kadang
serangannya mendadak dengan paraparese.
 Penonjolan pada sendi intervertebral thorakal
masih jarang terjadi (menurut love dan schorm
0,5 % dari semua operasi menunjukkan
penonjolan sendi). Pada empat thorakal paling
bawah atau tempat yang paling sering mengalami
trauma jatuh dengan posisi tumit atau bokong
adalah faktor penyebab yang paling utama.
GRADE HNP
1. Protrusi diskus intervertebralis : nukleus terlihat
menonjol ke satu arah tanpa kerusakan annulus
fibrosus.
2. Prolaps diskus intervertebral : nukleus berpindah, tetapi
masih dalam lingkaran anulus fibrosus.
3. Extrusi diskus intervertebral : nukleus keluar dan anulus
fibrosus dan berada di bawah ligamentum longitudinalis
posterior.
4. Sequestrasi diskus intervertebral : nukleus telah
menembus ligamentum longitudinalis posterior
ANAMNESA
 Kapan mulai timbul nyeri
 Bgmn mulai timbulnya nyeri
 Lokasi nyeri, menjalar?
 Sifat nyeri,tajam,menusuk,pegal,panas
 Faktor yg memperberat/memperingan
 Riwayat trauma
 Keluarga yg menderita sakit serupa.
 Adn nyeri radikuler
 Nyeri sp bwh lutut bkn sekedar paha bag belakang sj
 Riwayat nyeri/rasa kesemutan yg lama
 Rwyt ggn miksi/defikasi/fungsi seksual
 Adn saddle anastesi/hipestesi
 Adn kelemahan tungkai
PEMERIKSAAN FISIK
 Test Laseque
 Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)

 Tungkai penderita diangkat secara perlahan tanpa fleksi di


lutut sampai sudut 90°.
 Tes Patrick
Tindakan pemeriksaan ini
dilakukan untuk membangkitkan
nyeri di sendi panggul yang
mengalami gangguan. Pada
iskialgia diskogenik test ini adalah
negatif.
PATRICK TEST
 TEST KONTRA PATRICK
Tindakan pemeriksaan ini dilakukan
untuk menentukan lokasi patologik di
sendi sakroiliaka jika terasa nyeri di
daerah bokong, baik yang menjalar
sepanjang tungkai maupun yang terbatas
pada daerah gluteal dan sakral saja.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Myelogram mungkin disarankan untuk
menjelaskan ukuran dan lokasi dari hernia. Bila
operasi dipertimbangkan maka myelogram
dilakukan untuk menentukan tingkat protrusi
diskus.
 Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat
normal atau kadang-kadang dijumpai
penyempitan ruangan intervertebral,
spondilolistesis, perubahan degeneratif,  dan
tumor spinal. Penyempitan ruangan
intervertebral kadang-kadang terlihat bersamaan
dengan suatu posisi yang tegang dan melurus dan
suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral.
 CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif  bila
vertebra dan level neurologis telah jelas dan
kemungkinan karena kelainan tulang.
 MRI (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada
HNP dan akan menunjukkan berbagai prolaps.
Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah
ortopedi tetap memerlukan suatu EMG untuk
menentukan diskus mana yang paling terkena.
 MRI  sangat berguna bila:
 vertebra dan level neurologis belum jelas
 kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau
jaringan lunak
 untuk menentukan  kemungkinan herniasi diskus post
operasi
 kecurigaan karena infeksi atau neoplasma
TATALAKSANA
Konservatif
 Tirah baring
 Medika mentosa
 Fisioterapi
PROGNOSIS

 Sebagian besar pasien akan membaik


dalam 6 minggu dengan terapi
konservatif.
 Sebagian kecil  berkembang menjadi
kronik meskipun sudah diterapi.
 Pada pasien yang dioperasi : 90% 
membaik terutama nyeri tungkai,
kemungkinan terjadinya kekambuhan
adalah 5%
TERIMA KASIH