Anda di halaman 1dari 17

CACINGAN

(HELMENTOLOGI)

I
P
A
R
E
T
O
K
A
M
R
A
F
Kecacingan merupakan salah satu penyakit yang masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang
berhubungan erat dengan kondisi lingkungan. Penyakit
cacingan adalah penyakit cacing usus yang ditularkan melalui
tanah aatau sering disebut (Soil Transmitted Helmints).
Prevalensi dan intensitas kecacingan masih tinggi sekitar 80-
90% terutama pada anak SD serta orang yang dalam
pekerjaannya sering berhubungan dengan tanah
SPESIES UTAMA CACING PADA USUS
MANUSIA
Empat spesies utama cacing pada usus manusia yaitu
 Ascaris lumbricoides (cacing gelang)
 Trichuris trichiura ( cacing cambuk)
 Enterobius vermicularis ( cacing kremi)
 Necator americanus dan Ancylostoma duodenale
( cacing tambang)
ASCARIS LUMBRICOIDES

Cacing dewasa hidup di dalam rongga usus


manusia. Panjang cacing yang betina 20-40 cm
dan cacing jantan 15-31 cm. Cacing betina
dapat bertelur sampai 200.000 butir sehari,
yang dapat berlangsung selama masa
hidupnya yaitu kirakira 1 tahun.
Cacing ini dapat hidup dalam tubuh pasien selama
12-18 bulan. Hidup dalam rongga usus halus
manusia mengambil makanan terutama
karbohidrat dan protein, seekor cacing akan
mengambil karbohidrat 0.14 gram per hari dan
protein 0.035 gram per hari
EPIDEMIOLOGI PAT O F I S I O L O G I

Di indonesia prevalensi ascariasis tinggi, Adanya Ascaris lumbricoides dalam usus


halus dapat menyebabkan kelainan mukosa
terutama pada anak frekuensinya 60- usus, yang berakibat pada gangguan
90%. Kurangnya pemakaian jamban absorpsi makanan. Akibat lainnya adalah
keluarga menimbulkan pencemaran cacing ini menyebabkan hiperperistaltik
sehingga menimbulkan diare, juga dapat
tanah dengan tinja disekitar rumah, mengakibatkan rasa tidak enak diperut,
ditempat pembuangan sampah kolik akut pada daerah epigastrium dan
gangguan selera makan
P E N G O B ATA N

Albendazol dan mebendazol merupakan obat pilihan untuk


askariasis. Dosis albendazol untuk dewasa dan anak usia
lebih dari 2 tahun adalah 400 mg per oral. Dosis mebendazol
untuk dewasa dan anak usia lebih dari 2 tahun yaitu 500 mg.
Albendazol dan mebendazol diberikan dosis tunggal. Pirantel
pamoat dapat digunakan untuk ascariasis dengan dosis 10–11
mg/kg BB per oral, dosis maksimum 1 gram
TRICHURIS TRICHIURA

Cacing betina berukuran 3,5-5 cm dan


yang jantan 3,0-4,5 cm. Cacing
betina dapat bertelur 3000-4000
butir per hari.
Cacing dewasa hidupnya di kolon
asendes dan sekum dengan bagian
anteriornya seperti cambuk masuk
ke dalam mukosa usus
EPIDEMIOLOGI PAT O F I S I O L O G I

Dalam penyebaran penyakit ini Cacing Trichuris trichiura pada manusia


adalah kontaminasi tanah hidup di sekum akan tetapi dapat
juga di temukan di kolon asendens.
dengan tinja. Pemakaian Cacing memasukkan kepalanya
tinja sebagai bubuk kebun kedalam mukosa usus, hingga terjadi
merupakan sumber infeksi. trauma yang menimbulkan iritasi dan
Frekuensinya berkisar 30- peradangan mukosa usus. Cacing ini
90% juga menghisapi darah hospesnya,
sehingga menyebabkan anemia
P E N G O B ATA N

Obat untuk trikuriasis adalah albendazol 400 mg selama 3


hari ataumebendazol 100mg 2x sehari selama 3 hari
berturut-turut.
ENTEROBIUS VERMICULARIS

Cacing betina meemiliki ukuran 8-13


mm x 0,4 mm, Cacing jantan
berukuran 2-5 mm, dan ekornya
melingkar, spikulum ekor jarang
ditemukan. Habitat cacing dewasa
biasanya di rongga sekum, usus
besar dan usus halus berdekatan
dengan rongga sekum. Cacing
betina bertelur 10.000-11.000 butir
dalam satu hari.
EPIDEMIOLOGI PAT O F I S I O L O G I

Penyebaran cacing kremi


lebih luas dari pada
cacing lain. Gejala klinis yang menonjol disebabkan iritasi
Penularannya dapat di sekitar anus, perineum dan vagina oleh
terjadi pada kelompok cacing betina gravid yang bermigrasi ke
daerah anus dan vagina. Karena cacing
yang hidup dalam satu yang bermigrasi ke daerah anus dapat
lingkungan yang sama menyebabkan pruitus anus, maka penderita
yang menggaruk daerah sekitar anus dapat
menimbulkan luka. Kadang-kadang cacing
dewasa muda dapat bergerak ke usus halus
bagian proksimal sampai lambung, esofagus
dan hidung
NECATOR AMERICANUS DAN
ANCYLOSTOMA DUODENALE
Necator americanus betina ukurannya 10-13
mm x 0,6 mm, yang jantan 8-11 x 0,5 mm.
Bentuknya menyerupai huruf C, Necator
americanus berbentuk huruf S, ukuran
yang betina 9-11 x 0,4 mm, dan yang
jantan 7-9 x 0,3 mm. Rongga mulut
Ancylostoma duodenale mempunyai dua
pasang gigi, Necator americanus
mempunyai sepasang benda kitin.
Ancylostoma duodenale betina dalam satu
hari bertelur 10.000 butir, sedangkan
Necator americanus 9.000 butir
EPIDEMIOLOGI PAT O F I S I O L O G I

Insidens tinggi ditemukan pada penduduk di N.americanus menyebabkan kehilangan


indonesia, terutama di daerah pedesaan, darah 0,005-0,1 cc sehari, sedangkan
khususnya di perkebunan. Pada pekerja A.duodenale 0,08-0,34 cc. Pada infeksi
perkebunan seringkali langung berhubungan kronik dan akut terjadi anemia
dengan tanah mendapat infeksi lebih dari
hipokrom mikrositer. Cacing tambang
70%. Dalam pemakaian tinja sebagai pupuk
biasanya tidak menyebabkan kematian,
kebun penting dalam penyebaran infeksi.
Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva tetapi daya tahan berkurang dan
adalah tanah yang gembur dengan suhu prestasi menurun sehingga dapat
optimum untuk N.americanus 28-32°C, berakibat Decompensatio Cordis
sedangkan A.duodenale lebih rendah 23-25°C
P E N G O B ATA N

Obat untuk infeksi cacing tambang adalah albendazol dosis tunggal 400
mg oral atau mebendazol 2X100mg/hari atau pirantel pamoat 11 mg /
kgBB, maksimum 1 gram. Mebendazol dan pirantel pamoat
diberikan selama 3 hari berturut-turut. WHO merekomendasikan
dosis albendazol yaitu 200 mg untuk anak usia 12 – 24 bulan. Untuk
meningkatkan kadar haemoglobin perlu diberikan asupan makanan
bergizi dan suplementasi zat besi.
KASUS

Seorang pria, petani 60 thn datang dengan keluhan berak hitam


sejak 1 minggu yang lalu, konsistensi lunak seperti petis 1-2
x/hari, volume ± 100 cc. Keluhan diikuti nyeri ulu hati sejak 1
minggu yang lalu, hilang timbul, tidak berkurang dengan
makanan, mual dan muntah. Sesak napas dikeluhkan sejak 1
minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS) bila beraktivitas
yang muncul perlahanlahan dengan keluhan lain kaki agak
bengkak. Pasien juga mengeluhkan batuk tidak berdahak sejak 1
bulan SMRS. Pasien merasa lemah badan dan terlihat pucat
sejak 1 bulan terakhir, semakin memberat sejak 1 minggu SMRS.
Hasil laboratorium:
Terapi : Pasien diberikan terapi transfusi
Hb 1,70 g/dL,
PRC, pyrantel pamoat oral dan
MCV 63,2 fL MCH 14,9 pg suplementasi zat besi oral. Satu minggu
penurunan serum iron kemudian keluhan berkurang dan tidak
leukosit 8,05x 103/μL, eosinofilia 2,2%.
ditemukan telur cacing di feces.

rontgent dada : infiltrat pada parakardia


kanan dan kiri peptikum dengan anemia. Monitoring : Dilakukan 2 minggu paska
Endoskopi : Didapatkan adanya tukak terapi dan selama fase observasi
multipel gastroduodenal dan infestasi cacing didapatkan peningkatan eosinofilia 7-16%.
di duodenum dengan ukuran 0,5-1 cm.
adanya penetrasi mukosa duodenum dan
cacing yang bergerak aktif, yang kemudian
TERIMA KASIH