Anda di halaman 1dari 27

MANAJEMEN PERGUDANGAN

& LOGISTIK
PERTEMUAN KE 8 BY: FRILIA ESTI ANGGRAENI, S.Tr.,M.M.Tr

GUDANG & LAPANGAN PENUMPUKAN DI Email: friliaestianggraei@gmail.com

PELABUHAN
PERGUDANGAN DAN
LAPANGAN PENUMPUKAN
 Jasa pergudangan dan lapangan penumpukan diselenggarakan untuk
mendukung kelancaran barang ke/dari atas kapal.
 Merupakan tindak lanjut kegiatan ship operation atau stevedoring, kegiatan
quay transfer atau cargodoring adaalah pelayanan barang di sepanjang rute
antara dermaga ke/dari sarana penyimpanan.
 Barang muat ditransfer dari gudang atau lapangan penumpukan ke atas
kapal, dan sebaliknya barang dibongkar ditransfer dari kapal ke gudang atau
lapangan penumupkan sebagai rute tidak langsung (indirect delivery).
GUDANG DAN LAPANGAN
LINI 1
 Fasilitas Gudang Lini 1 adalah Tempat Penimbunan Sementara (TPS) di
lokasi terdepan dengan aktivitas bongkar muat barang dari/ke kapal.
 Gudang Lini 1 disebut juga sebagai gudang gudang transito, karena barang
yang disimpan disana adalah muatan kapal yang masih dalam pengurusan
dokumen kepabeanan.
 Gudang Lini 1 baik berupa gudang tertutup maupun terbuka (open
stograge) termasuk gudang industri jasa kepelabuhanan.
PERAN GUDANG LINI 1
 Untuk memperlancar kegiatan membongkar dan memuat muatan
kapal tanpa menunggu-nunggu penerima barang atau kedatangan
barang, sehingga kapal dapat menyelesaikan waktu sandar (berthing
time) seefisien dan sesingkat mungkin.
PENGERTIAN GUDANG LINI 1
 Adalah tempat penimbunan sementara barag yang dibongkar/muat melalui
rute tidak langsung (indirect delivery), serah terima barang setelah melalui
gudang tertutup atau terbuka.
 Manajemen gudang pelabuhan berebeda dengan manajemen gudang publik
yang ditujukan untuk melayani kepentingan umum dan berada di luar area
pelabuhan.
 Penyimpanan dan lalu lintas barang di gudang pelabuhan terikat dengan
ketentuan pabean, karena gudang pelabuhan adalah Tempat Penimbunan
Sementar (UU RI No. 17 Tahun 2006tentang Kepabeanan, Pasal 10A ayat
5).
KARAKTERISTIK GUDANG
LINI 1
1. Gudang berhadapan langsung dengan kapal.
2. Melayani langsung muatan ke dan dari kapal.
3. Barang di gudang masih dibawah pengawasan bea cukai.
4. Berfungsi sebagai gudang transito.
5. Tarif sewa gudang berjalan progresif, makin lama barang berda di gudang
tarif berlaku semakin tinggi.
Contoh : sewa dalam s1 s/d 5 hari dihitung 1 hari, sewa mulai hari ke 6 s/d
ke 10 dihitung 100% tarif dasar, dan mulai hari ke 11 dan seterusnya
dikenakan biaya 200% tarif dasar. Ketentuan ini dimaksudkan untuk
mendorong pemilik mengambil barang selekas mungkin.
.....
6. Di gudang tidak diperkenankan melakukan aktvitas packing, marking,
labelling, sorting dan bagging.
7. Gudang Lini 1 tidak melayani muatan terbuat dari bahan/barang berbahaya
semua kelas. Terutama barang yang berbahaya kelas I yaitu bahan
explosive dan kelas 7 yakni bahan radioactive. Bahkan kedua jenis
barang itu harus melalui rute direct delivery.
Contoh bahan radioktif: Cadnium, Uranium, Polonium
Contoh bahan explosive: Natrium, Kalium, Magnesium, Bahan Bakar
Korek Api, Nitrogliserin, Amonium, Nitrat, Korbit, Nukler.
KLASIFIKASI BAHAN
BERBAHAYA
1. Toxic
2. Corrosive
3. Flammable
4. Explosive
5. Oxidation
6. Reaktif terhadap Asam
7. Reaktif terhadap Air
8. Gas Bertekanan
9. Radioktive.
GUDANG LINI 2
• Gudang dan Lapangan Lini 2 adalah gudang yang dibangun di lokasi belakang
Gudang Lini 1. Peruntukan Gudang/Lapangan Lini 2 antara lain sebagai :
1. Perpanjangan (verlengstuck) Lini 1 dalam arti:
o Menampung limpahan barang dari Gudang Lini 1
o Berstatus sebagai gudang transito dan diperlakukan sama seperti Gudang
Lini 1
o Karakteristik maupun pengenaan tarif berlaku sama seperti Gudang Lini
1 dan barang berada di bawah pengawasan bea cukai.
2. Fasilitas pendukung (back up facility) secara geografis berada di area
pelabuhan, namun tidak berhadapan langsung dengan laut (waterfront)
atau kapal.
.....
 Manajemen Gudang Lini 2 pendukung berbeda dengan Gudang Lini 2
perpanjangan dari Lini 1.
 Karakteristik Gudang Lini 2:
1. Masa timbun (in transit time) di gudang Lini 2 pendukung tidak mesti
sesingkat mungkin.
2. Tidak menerapkan tarif progresif
3. Status barang sudah bebas dari pengawasan bea cukai
4. Beberapa aktivitas seperti marking, sorting, labelling, bagging dan
palleting dapat dilakukan di Gudang Lini 2.
PERFORMANSI GUDANG
Efisiensi gudang dan lapangan ditentukan oleh berbagaai faktor tentang tata
ruang gudang secara fisik dan tipe, berikut ukura barang di dalam gudang.
Tolok Ukur tingkat efisiensi gudang:
1. Kapasitas beban lantai gudang 7. Stacking factor
2. Total luas lantai 8. Holding capacity
3. Luas lantai yang dapat digunakan 9. In transit time/ dwelling time
4. Stowage factor 10. Storage occupancy ratio
5. Broken stowage 11. Shed throughput
6. Stacking height
1. FLOOR CAPACITY
(KAPASITAS BEBAN LANTAI
GUDANG)
  Adalah daya dukung latai terhadap beban barang yang ditimbun di gudang.
Daya dukung lantai dinyatakan dalam satuan Ton/.
 Misalnya dinyatakan floor capacity adalah 3 Ton/ artinya adalah setiap
meter persegi lantai dapat menerima beban yang diizinkan sebanyak 3 Ton.
 Jika barang yang dittimbun berukuran berat 1 Ton dan luas lantai terpakai
1 maka partai barang tersebut hanyalah boleh ditumpuk sebanyak-
banyaknya 3 stack. Beban yang melampaui batas floor capacity
menyebabkan kerusakan lantai gudang.
2. TOTAL LUAS LANTAI
  Adalah luas seluruh lantai gudang, yakni perkalian antara penjang dan
lebar.
 Misalkan panjang gudang 150 meter dan lebar gudang 60 meter, maka luas
lantai gudang adalah 150 m x 60 m = 9.000 .
 Ukuran luas lantai keseluruhan (total floor area) merupakan luas kotor
(gross area).
3. LUAS LANTAI YANG DAPAT
DIGUNAKAN
 Adalah luas lantai sebenarnya yang dapat dipakai untuk penimbunan
barang. Sebagaimana diketahui bahwa di setiap gudang terdapat lantai yang
tidak dapat digunakan sebagai tempat barang, karena terpakai untuk:

1. Ruang kantor bea cukai 5. Jalan antara pintu ke pintu (door


(customs office) aisle)
2. Ruang kantor operator gudang 6. Ruang pengamanan (safety
(storage operator office) space)
3. Ruang kerangkeng barang yang 7. Ruang tempat alat-alat bantu
diperiksa lebih lanjut (bonded bongkar muat (stevedore’s gear)
store)
4. Jalan utama sepanjang gudang 8. Tiang-tiang penyangga atap
(main aisleway) gudang (pilars)
.....
 Luas lantai yang terpakai (poin 1 s/d 8) disebut Unuseabe Area yang dapat
mencapai 30% hingga 50 % dari total luas lantai yang tersedia.
 Dengan kata lain luas lantai yang dapat digunakan (usable floor area)
adalah:
 Total Luas Lantai (Total Floor Area) dikurangi Unuseabe Area
 Gudang yang dibangun dengan kontruksi dan desain modern, yaitu antara
lain tanpa tiang-tiang penyangga dan menyediakan ruang kaantor
bertingkat (vertical offices),sehingga usable area gudang dapat mencapai
60% lebih.
4. STOWAGE FACTOR
  Adalah faktor yang menyatakan besarnya ruang (space) dalam terpakai
oleh 1 Ton muatan.
 Stowage Factor dinyatakan dalam satuan /Ton atau /Ton.
Misalnya:
5 Ton barang menempati ruang sebesar 10 berarti bahwa stowage factor
barang tersebut adalah = = 2 /Ton.
5. BROKEN STOWAGE
 Adalah ruangan yang tidak dapat dipakai untuk menumpuk barang karena:
1. Bentuk ruangan, misalnya melengkung
2. Bentuk kemasan muatan, misalnya bentuk lingkaran atau oval.
3. Cara menyusun muatan sembarangan atau tidak tertata rapi.
 Angka broken stowage dinyatakan dalam presentase terhdapa stowage
factor. Misal : broken stowage = 15% artinya adalah broken stowage 15%
dari stowage factor.
 Dengan kata lain, tumpukan partai barang yang bersangkutan menyisakan
ruangan berupa celah-celah sebesar 15% x stowage factor.
6. STACKING HEIGHT
  Adalah ukuran tinggi rata-rata tumpukan muatan di gudang atau lapangan, dinyatakan
dalam satuan Meter atau kaki (feet).
 Ketinggian tumpukan yang aman didasarkan pertama pada kapasitas lantai (floor
capacity). Ketentuan yang berlaku di gudang-gudang pelabuhan, tinggi tumpukan
dibatasi dengn mencantumkan tanda pada dinding berupa garis-garis batas sebagai
berikut:
1) Garis hijau, menaandakan bahwa muatan dapat ditumpuk secara aman sampai dengan
garis hijau, dengan ketentuan bahwa berat barang setiap luas lantai tidak melebihi 3
Ton.
2) Garis kuning, menunjukkan batas aman yang tidak boleh dilampaui.
3) Garis merah, memperingatkan akan terjadi kerusakan apabila tumpukan barang
sampai pada ketinggian garis merah.
7. STACKING FACTOR
  Adalah faktir ketinggian penyusunan muatan yang dinyatakan dalam satuan
/Ton.
 Rumus menghitung stacking factor adalah:
 {Stacking Factor = Stowage Factor x }
Atau
[Stacking Factor = {Stowage Factor x (1+ Broken Stowage)}]
 Misalnya diketahui Stowage Factor = 2,5; Broken Stowage = 20%, maka
Stacking Factor dapat dihitung sebgai berikut:
{Stacking Factor = 2,5 x } = 2,5 x 1,2 = 3 /Ton.
8. HOLDING CAPACITY
  Adalah daya tampung gudang atau rung penumpukan, dinytakan dalam
satuan Ton.
 Rumus untuk menghitung Holding Capacity:
Holding Capacity =
 Misalkan diketahui Usable Storae Area : 1.000 Stacking Height : 6 Meter;
dan Stacking Factor 3 /Ton. Ditanyakan Holding Capacity?
 Holding Capacity = = 2.000 Ton
9.IN TRANSIT TIME ATAU
DWELLING TIME
  Waktu barang tertimbun di gudang atau lapangan, dinyatakan dalam jumlah
hari kalender.
 Rata-rata dwelling time barang di gudang dihitung dengan rumus:
In Transit Time =
 Misalkan diketahui holding capacity = 2.000 Ton; dan dalam satu tahun
tercatat brang yang melalui rute gudang dan lapangan = 122.500 Ton, maka
rata-rata masa pemakaian ruang penumpukan (dwelling time) adalah =
{(2.000 x 365) : 122.500)} = 6 Hari
10. STORAGE OCCUPANCY
RATIO
  Adalah presentasi (rasio) pemakaian ruang penumpukan gudang (Storage
Occupancy Ratio = SOR) dan lapangan (Yard Occupancy Ratio = YOR)
dalam kurun waktu tertentu, misalnya satu bulan, satu semester, atau satu
tahun.
 SOR dan YOR dinyatakan dalam satuan %. SOR dan YOR dihitung dengan
memakai rumus sebagai berikut:
Storage Occupancy Ratio = x 100%
.....
  Misalnya diketahui Holding Capacity gudang 2.000 Ton dan barang
tertimbun di dalam gudang sebanyak 1.600 Ton, dan diketahui juga
Holding Capacity lapangan penumpukan 2.400 Ton disana barang
tertimbun sebnyak 1.800 Ton, maka SOR dan YOR adalah:
SOR = x 100% = 80%
YOR = x 100% = 75%
 Angka-angka SOR dan YOR menunjukkan nilai rata-rata utilisasi ruang
penumpang hanya untuk periode waktu tertentu karena jumlah tonase
barang yang tertibun di gudang/lapangan berubah seturut dengan kecepatan
lalu lintas barang melalui gudang.
11. SHED THROUGHPUT
  Jumlah barang muatan yang melalui fasilitas tempat penumpukan gudang
(Shed Through Put = STP) dan lapangan (Yard Through Put =YTP) dalam
periode tertentu. STP dan/atau YTP dinyatakan dalam satuan Ton/ atau
Total Tonase per tahun. Shed Annual Through Put dihitung dengan rumus :
Storage Through Put =
Atau
Storage Through Put =
......
  Misalkan diketahui satu unit gudang dengan Holding Capacity 2.000 Ton,
masa timbun rata-rata dalam periode setahun 6 hari. Gudang tersebut
berukuran 150 meter panjang dan 60 meter lebar, dan luas lantai tidak
terpakai 1.100 Throughput tahunan gudang adalah:
STP = = 121.667 Ton
Atau
STP = = 15,4 Ton/
.....
 Produksi jasa barang melalui gudang ditentukan pertama kali oleh tonase
barang melalui rute tidak langsung (indirect route) baik barang bongkar
maupun muat.
 Faktor penentu lainnya adalah daya tampung atau Holding Capacity dan
masa penumpukan (In Transit Time).
 Barang yang ditumpuk di dalam gudang terlalu lama akan mengahalangi
peningakatan STP atau YTP.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH