Anda di halaman 1dari 24

GENERALIZED ANXIETY DISORDER

REFARAT
Pembimbing :
dr. Hanif Fahri, MM.,Sp.Kj

Disusun oleh :
Hafiz Anugrah Mursyid (1908320013)
Saubissabri Syarbaini (1908320050)
Listi Suryani Lubis (1908320028)
Kartika Handayani (1908320036)

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR SMF PSIKIATRI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
RSUD DELI SERDANG
2020
01 BAB 1
PENDAHULUAN

02 BAB 2
PEMBAHASAN

03 BAB 3
Agenda PENUTUP

Style
ab 1 PENDAHULUAN
B
Latar Belakang
Kecemasan adalah respon yang
tepat terhadap ancaman, namun
kecemasan bisa menjadi abnormal
bila tingkatannya tidak sesuai
dengan proporsi ancaman, atau
datang tanpa ada penyebabnya dan
menimbulkan kekhawatiran dan
kecemasan yang tidak terkendali
disebut dengan gangguan cemas
menyeluruh atau general anxiety
disorder.
Latar Belakang
Menurut WHO (world health organization) pada tahun 2020,
populasi didunia yang menderita gangguan menta diperkirakan15% dari
beban penyakit global. Survei berbasis populasi besar dilakukan
selama tahun 2001 – 2005, melibatkan 113 juta orang yang
menyumbang 12% dari populasi orang dewasa Tiongkok, menunjukkan
bahwa prevalensi gangguan cemas menyeluruh adalah 1,32%.
Gangguan cemas menyeluruh merupakan masalah bagi pasien
karena dapat mengganggu aktivitas sosial dan mengganggu pekerjaan,
sekolah dan hubungan keluarga.
Menurut survei nasional yang dilakukan oleh ADAA (Anxiety and
Depression Association of America), 7 dari 10 orang dengan gangguan
cemas menyeluruh setuju bahwa kecemasan kronis berdampak pada
hubungan mereka dengan keluarga maupun pertemanan.
Gangguan cemas menyeluruh merupakan
masalah bagi pasien dan penyedia layanan. Latar
Meskipun gangguan cemas adalah umum,
dengan prevalensi seumur hidup hingga 31%, Belakang
mereka sering tidak diakui dan kurang
terdiagnosis.

Pasien jarang mengungkapkan gejala


kecemasan dan hanya berfokus pada
keluhan somatik. Hasilnya adalah
hanya kurang dari sepertiga pasien
yang menerima terapi untuk gangguan
kecemasan yang mendasarinya.
ab 2 PEMBAHASAN
B
Definisi
Generalized Anxiety Disorder

Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau


gangguan kecemasan menyeluruh
merupakan salah satu dari serangkaian
gangguan kecemasan yang mencakup
gangguan panik (dengan dan tanpa
agorafobia), gangguan stres pasca-
trauma, gangguan obsesif-kompulsif, fobia
sosial, fobia spesifik dan gangguan stres
akut.
Gangguan ini berupa gangguan
kejiwaan yang ditandai dengan
kekhawatiran dan kecemasan yang tidak
terkendali.
Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab pasti gangguan cemas
menyeluruh tidak diketahui, studi ilmiah
menunjukkan bahwa
 kombinasi faktor biologis,
 genetik,
 kognitif, dan
 lingkungan (stres, peristiwa kehidupan
negatif) berperan dalam gannguan
cemas menyeluruh).
Patofisiologi
1. Model Noradrenegik

Model ini menyatakan bahwa sistem


saraf otonom pada penderita gangguan
anxietas, hipersensitif dan bereaksi
berlebihan terhadap berbagai
rangsangan. Glukokortikoid
mengaktifkan locus caeruleus, yang
berperan dalam mengatur anxietas, yaitu
dengan mengaktivasi pelepasan
norepinefrin (NE) dan merangsang
sistem saraf simpatik dan parasimpatik.
Patofisiologi
2. Model Serotonin
Reseptor 5-HT1A diduga
Jalur serotonergik memainkan
yang muncul peran
dari nukleus
yang
raphé sangat
di batangpenting terhadap berbagai
otak mempersarafi anxietas.
Aktivasi
macam reseptor
struktur5-HT1A
yang meningkatkan aliran
dianggap terlibat
kalium dan menghambat
dalam gangguan aktivitas korteks
anxietas, termasuk adenilat
siklase
frontal, 5-HT dilepaskanhipotalamus,
amigdala, dari terminal saraf
dan
berikatan
hipokampus. denganSelain
subtipe itu,
reseptor 5-HT2C
mekanisme
postsinaptik,
serotonergik yang memediasi
diyakini kecemasan.
mendasari aktivitas5-
HT1A adalah
biologis auto-reseptor
berbagai obat yang pada neuron
digunakan pra-
untuk
sinaptik
mengobati yang
moodapabila
disorder,dirangsang dapat
termasuk gejala
menghambat pelepasan
anxietas. Patologi 5-HT yang
seluler dari neuron
dapat
presinaptik ke sinaps.
berkontribusi pada pengembangan
gangguan anxietas termasuk regulasi
abnormal pelepasan 5- HT, reuptake atau
respons abnormal terhadap signal 5-HT.
Patofisiologi
3. GABA
Reseptor
Gamma-Aminobutyric Acid GABAA-benzodiazpine
(GABA) merupakan
didistribusikan
neurotransmitter secara luas didalam
inhibitor penting otaksistem
dan
sumsum tulang
saraf pusat dan mengatur belakang. Terutama
banyak rangsangan di
terkonsentrasi
daerah otak. GABA di dapat
bagian otak yang terlibat
mempengaruhi tingkat
dalam terjadinya
kecemasan dengananxietas, termasuk
memediasi medial
pelepasan
neurotransmitter
PFC, amigdala laindan seperti cholecystokinin
hipokampus, dan
serta hasil
menekan
dari beberapa aktivitas
penelitiansaraf
telah pada sistem
menunjukkan
serotonergik
kelainan padadansistem
noradrenergik.
tersebutNeurotransmitter
pada pasien
lain yang
dengan diduga anxietas.
gangguan terlibat dalam gangguan
anxietas termasuk dopamine, glutamine dan
neurokinin. Studi neuroimaging melaporkan
bahwa terjadi penurunan kadar GABA dan
pengikatan reseptor GABAA-benzodiazpine pada
pasien dengan gangguan anxietas.
Penegakan Diagnosa
PPDGJ – III (F41.4)
Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai
gejala primer yang berlangsung hampir setiap
hari untuk beberapa minggu sampai beberapa
bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol
pada keadaan situasi khusus tertentu saja
(sifatnya “free floating” atau mengambang).
Penegakan Diagnosa
PPDGJ – III (F41.4)
Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup
unsur-unsur berikut:
o Kecemasan (khawatir akan nasib buruk,
merasa seperti di ujung tanduk, sulit
konsentrasi, dsb).
o Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala,
gemetaran, tidak dapat santai).
o Over-aktivitas otonomi (kepala terasa
ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar,
sesak napas, keluhan lambung, pusing
kepala, mulut kering, dsb).
Penegakan Diagnosa
PPDGJ – III (F41.4)
Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan
berlebihan untuk ditenangkan (reassurance) serta
keluhan-keluhan somatik berulang yang menonjol.

Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara


(untuk beberapa hari), khususnya depresi, tidak
membatalkan diagnosis utama gangguan anxietas
menyeluruh, selama ha ltersebut tidak memenuhi
kriteria lengkap dari episode depresi (F32), gankap dari
episode depresi (F32), gangguan anxietas fobik (F40),
gangguan panik (F41.0), gangguan obsesif-kompulsif
(F42).
Penegakan Diagnosa
DSM-V (300.02)
Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan yang
timbul hampir setiap hari, sepanjang hari, terjadi
sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah aktivitas atau
kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas sekolah).

Individu sulit untuk mengendalikan kecemasan dan


kekhawatiran.
Kecemasan diasosiasikan dengan 6 gejala berikut ini
(dengan sekurang-kurangnya beberapa gejala lebih
banyak terjadi dibandingkan tidak selama 6 bulan
terakhir), yaitu kegelisahan, mudah lelah, sulit
berkonsentrasi atau pikiran kosong, iritabilitas,
ketegangan otot, dan gangguan tidur (sulit tidur, tidur
gelisah atau tidak memuaskan).
Penegakan Diagnosa
DSM-V (300.02)
Kecemasan, kekhwatiran, atau gejala fisik menyebabkan
distress atau terganggunya fungsi sosial, pekerjaan,
dan fungsi penting lainnya.
Gangguan tidak berasal dari zat yang memberikan
efek pada fisiologis (memakai obat-obatan) atau
kondisi medis lainnya (seperti hipertiroid).
Gangguan tidak dapat dijelaskan lebih baik oleh gangguan
mental lainnya (seperti kecemasan dalam gangguan panik atau
evaluasi negatif pada gangguan kecemasan sosial atau sosial
fobia, kontaminasi atau obsesi lainnya pada gangguan obsesif-
kompulsif, mengingat kejadian traumatik pada gangguan stress
pasca traumatik, pertambahan berat badan pada anorexia
nervosa, komplin fisik pada gangguan gejala somatik atau delusi
pada gangguan skizofrenia).
Penatalaksanaan
FARMAKO TERAPI

 Benzodiazepin
Merupakan obat pilihan pertama. Dimulai dosis terendah dan ditingkatkan
sampai mencapai respon terapi. Lama pengobatan 2-6 minggu,dilanjutkan
dengan masa tapeing off selama 1-2 minggu.
Jenis obat : alprazolam, lorazepam, bromazepam, diazepam, klobazam.

 Buspiron
Buspiron efektif pada 60-80% penderita GAM. Buspiron lebih efektif dalam
memperbaiki gejala kognitif dibanding gejala somatik pada GAM.
Kekurangannya adalah efek klinisnya baru terasa setelah 2-3 minggu.

 SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor)


Sertraline dan paroxetin merupakan pilihan yang lebih baik daripada
fluoksetin. Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan ansietas sesaaat. SSRI
efektif terutama pada pasien GAM demgam riwayat depresi.
Penatalaksanaan
PSIKOTERAPI
Let’s solve
your problem
together 
 Terapi kognitif – perilaku
Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali
distorsi kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatic
secara langsung. Teknik utama yang digunakan pada pendekatan
behavioral adalah relaksasi dan biofeedback.
 Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik
bawah sadar, menilik egostength, relasi objek, serta keutuhan diri
pasien.
 Terapi Suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi – potensi
yang ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa
beradaptasi optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
PROGNOSIS
Gangguan cemas menyeluruh
merupakan suatu keadaan kronis
yang memungkin berlangsung
seumur hidup. Sebanyak 25%
penderita akhirnya mengalami
gangguan panik, juga dapat
mengalami gangguan depresi mayor.
ab 3 PENUTUP
B
Kesimpulan
Gangguan cemas menyeluruh dapat
mengganggu aktivitas sosial dan mengganggu
pekerjaan, sekolah, dan keluarga. Gangguan
cemas menyeluruh juga merupakan faktor risiko
depresi, dua gangguan ini sering terjadi
bersamaan. Pasien dengan gangguan cemas
menyeluruh sering datang dengan keluhan
somatik dan kurang fokus pada keluhan
cemasnya dan menyebabkan pasien kurang
terdiagnosis.
Sehingga dalam hal ini diperlukan anamnesis
yang spesifik serta pemeriksaan yang baik,
tujuannya agar pasien dengan gangguan cemas
menyeluruh menerima penanganan awal dengan
baik karena pada pasien dengan gangguan
cemas menyeluruh terapi sangat mempengaruhi
prognosis dari penyakit ini.
Thank