Anda di halaman 1dari 21

EMULGEL Kelor

(Moringa oleifera L.)

Kelompok 3
Alfia Safutri (1801276)
Asma Nirwana (1801278)
Eva Merliana Tangalayuk (1801283)
Indra Irsandi Johan (1801289)
Lydia Nade Claudia Tandawuya (1801295)
Nirma (1801302)
Nursuciati Rahmadhani Mustafa (1801308)
Sri Wahyuni (1801314)
Santika Kartika Puji Rahayu (1801320)
Syafia Mustika Adjara (1801326)
Aprilia Angreiny Angelina (1801397)
Formula Konsentrasi (% b/b) Manfaat

Ekstrak Kelor 3 Zat Aktif

Carbopol 940 2 Gelling agent

Paraffin cair 5 Emolliet

Tween 80 Surfaktan
60%
Span 20 Surfaktan

Propilenglikol 5 Humektan

Triethanolamine q.s Adjust pH

Na Methyl paraben 0,2 Pengawet (larut air)

Na Propyl paraben 0,06 Pengawet (minyak)

Disodium EDTA 0,02 Pengkhelat

Aquadest 100 Pembawa


DASAR FORMULASI

Moringa oleifera L.) adalah salah satu tanaman yang dilaporkan sebagai sumber antioksidan alami (Anwar et al
2007). Vitamin E yang terkandung di dalam kelor digunakan untuk pemeliharaan kesehatan kulit sehingga baik
diformulasi dalam bentuk sediaan topikal. Untuk senyawa yang bersifat hidrofob pembuatan menjadi sediaan
emulgel dianggap lebih mudah dilakukan dibandingkan menjadi sediaan gel karena masalah kelarutannya dalam air.
Senyawa hidrofob dalam suatu emulgel dibuat dengan melarutkannya dalam fasa minyak yang kemudian
didispersikan dalam fase air yang bercampur dengan gelling agent (Panwar et al. 2011).
Untuk membuat persiapan topikal ekstrak murni daun kelor, untuk kulit membutuhkan basis yang sesuai. Basis
topikal, seperti salep, krim, dan lotion, memiliki beberapa kelemahan karena lengket, dispersi yang rendah dan
stabilitas yang bermasalah sehingga pasien memilih untuk tidak menggunakannya. Emulsi lebih unggul dalam
penggunaan dan penerimaan pasien sementara gel memiliki komponen air yang lebih tinggi yang memungkinkan
penyebaran obat yang lebih luas daripada salep dan krim. Meskipun gel memiliki kelebihan tetapi ada keterbatasan
dalam pengiriman obat hidrofobik. Dengan demikian, bentuk emulgel digunakan untuk mengatasi penghantaran
obat hidrofobik. Emulgel digunakan untuk kulit karena memiliki karakteristik yang bermanfaat, seperti mudah
diaplikasikan, mudah melepaskan obat, melembabkan kulit, lebih stabil dan berpenampilan baik (Panwar et al 2011)
DASAR PEMILIHAN
DASAR PEMILIHAN BAHAN
BAHAN AKTIF
AKTIF
• Salah satu tanaman yang yang berpotensi sebagai obat adalah daun kelor (Moringa oleifera L.).
Berbagai riset ilmiah membuktikan bahwa daun kelor mengandung sejumlah senyawa aktif dan
memiliki kandungan nutrisi paling lengkap dibanding dengan tumbuhan jenis apapun (Mardiana,
2012).
• Dilaporkan bahwa daun kelor mengandung vitamin C tujuh kali lebih besar daripada jeruk, vitamin
A sepuluh kali lebih besar daripada wortel, kalsium tujuh belas kali lebih besar dibanding susu,
protein sembilan kali lebih besar daripada yoghurt, kalium lima belas kali lebih besar daripada
pisang dan besi dua kali lebih besar daripada bayam (Gopalakrishnan dkk, 2016). Kandungan asam
askorbat, ß-karoten, asam tocopherol, flavonoid, fenolat, karotenoid, derivat asam hidroksinamit,
dan flavonoid menyebabkan daun kelor dapat digunakan sebagai sumber bahan alami antioksidan.
Salah satu penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) memiliki
aktivitas tabir surya yang baik (Gaikwad dan Kale, 2011). Bahkan pada konsentrasi 3 % gel ekstrak
kelor dapat menunjukkan menunjukkan antioksidan yang kuat selama penyimpanan 28 hari dengan
pembanding vitamin C (Hasanah dkk, 2017). Juga pada krim ekstrak daun kelor dengan konsentrasi
3% dapat menunjukkan aktivitas sebagai antiaging karena aktivitas antioksidannya (Sugihartini dan
Nuryanti, 2017).
Uraian Kelor
1. Nama tumbuhan
Nama ilmiah : Moringa oleifera L.
Nama lokal : kelor
 
2. Klasifikasi tumbuhan
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Brassicales
Famili : Moringaceae
Genus : Moringa
Spesies : Moringa oleifera  L.
Uraian Kelor
• Pengembangan bentuk sediaan untuk mengoptimalkan pemanfaatan khasiat daun kelor juga
telah dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dapat diaplikasikan
dalam bentuk topikal untuk pencegahan dan pengobatan penyakit stres oksidatif dan antiaging.
Selain itu daun kelor memiliki toleransi yang baik terhadap kulit setelah dilakukan patch test,
sehingga semakin membuktikan bahwa ekstrak daun kelor dapat digunakan sebagai antioksidan
topikal yang di formulasikan kedalam basis topikal yang aman dan tepat (Ali dkk, 2013).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

1 Carbopol 940

Carbopol 940 merupakan kelompok dari akrilik polimer yaitu sintesis polimer yang membentuk rantai
silang dengan polyalkenyl eter. Manfaat dari rantai silang yang terbentuk akan menjerat droplet droplet emulsi
sehingga kestabilan lebih terjamin selama penyimpanan. Carbopol juga memiliki sifat pengental yang baik
pada konsentrasi tinggi serta menghasilkan gel yang jernih, sangat cocok digunakan pada kosmetik dan
sediaan topikal (Zatz dkk, 1996). Sifatnya sebagai
Dengan konsentrasi 2% dapat menunjukkan sediaan emulgel yang stabil tidak mengalami perubahan
dalam pengukuran viskositasnya ( Auliasari dkk, 2016).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

2 Paraffin cair

Ditambahkan dalam sediaan berfungsi baik sebagai emolien, dimana akan mencegah
terjadinya dehidrasi ketika pengaplikasian sediaan pada kulit (Anonim, 2012). Paraffin digunakan
terutama dalam topikal formulasi farmasetika sebagai komponen krim dan salep. Paraffin
digunakan sebagai fase minyak dalam sediaan. Paraffin mempunyai ciri khas yaitu tidak berbau,
tidak berasa, tembus cahaya, tidak berwarna, atau putih padat Ketika meleleh, paraffin tidak
berfluoresensi, dan sedikit bau dapat muncul (Rowe dkk, 2009).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN
3 Tween 80 dan Span 20

Surfaktan yang digunakan yaitu kombinasi dari tween 80 dengan span 20, tween 80
termasuk surfaktan hidrofil non ionik dan span 20 surfaktan lipopil non ionik dimana keduanya
berfungsi sebagai agen pengemulsi dan agen pembasah yang tidak mengiritasi dan tidak toksik,
berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan yang membuat fase minyak dan fase air dapat
saling bercampur dan membentuk sistem emulsi yang stabil (Rowe dkk, 2009).
Terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Auliasari dkk (2016) bahwa kombinasi Tween
80:Span 20 dengan konsentrasi 35 % : 25 % sediaan emulgel menunjukkan homogentias yang
baik sehingga dapat menjamin bahwa ekstrak dapat terdidtribusi merata.
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN
4 Propilenglikol

Propilenglikol berfungsi sebagai humektan. Propilen glikol dapat digunakan sebagai peningkat
pelepasan pada konsentrasi 1-10% (Williams dan Barry, 2004). Propilen glikol digunakan sebagai pelarut
atau pembawa untuk obat- obat yang tidak larut atau tidak stabil dalam air. Propilen glikol juga digunakan
sebagai penstabil dalam sediaan vitamin . Propilen glikol lebih nyaman digunakan dibanding gliserin karena
viskositasnya lebih rendah. Kelebihan propilen glikol sebagai bahan peningkat penetrasi yaitu memiliki iritasi
yang lebih ringan dibanding gliserin (Rowe dkk, 2009).
Terbukti dalam pengujian iritasi pada kelinci, sediaan emulgel dengan Propilenglikol 5% tidak
menimbulkan masalah iritasi pada kulit (Auliasari, 2016). Juga pada penelitian yang dilakukan oleh
Sugihartini dan Nuryanti (2017) bahwa krim ekstrak daun kelor sebagai antiaging dengan penggunaan
propilenglikol juga dapat membantu penghantara zat aktif dari ekstrak daun kelor dengan konsentrasi 3%.
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN
5 Triethanolamine

Triethanolamine dengan ciri khas yaitu jernih, cairan viskos tidak berwarna sampai pucat kekuningan,
dan mempunyai sedikit bau amoniak. TEA merupakan basa lemah yang berfungsi untuk menetralisasi larutan
Carbopol dan menambah konsistensi larutan Carbopol. TEA ini sering digunakan dalam formulasi farmasetika
topikal, terutama dalam pembuatan emulsi. Triethanolamin menurut Rowe dkk (2009), sebagai polimer
plasticiser dimana akan terjadi pergeseran kesetimbangan ionik yang disebabkan oleh penambahan TEA ini
dimana ion akan saling tolak menolak yang menyebabkan polimer menjadi lebih rigid dan kaku, sehingga
viskositas akan meningkat.
Dengan kosnentrasi 0,5%, TEA yang digunakan untuk meningkatkan pH dari karena adanya Carbopol
940 menunjukkan formula yang stabil dengan memberikan hasil pH yang sesuai dengan pH kulit hingga hari
ke 28 penyimpanan (Auliasari dkk, 2016).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

6 Na Metil Paraben

Metil paraben dengan ciri khasnya yaitu kristal tidak berwarna atau serbuk putih berkristal yang tidak
berbau atau hampir memiliki bau, dan mempunyai sedikit rasa yang membakar. Metil paraben berfungsi
sebagai pengawet antimikrobial yang umumnya digunakan dalam kosmetik, produk makanan, serta formulasi
farmasetika. Metil paraben ini mempunyai keefektifan yang cukup luas pada berbagai pH dan mempunya
spektrum yang luas terkait aktifitas antimikrobial, meskipun senyawa ini lebih efektif melawan jamur. Metil
paraben merupakan paraben yang paling sedikit aktif dibanding paraben lainnya, dimana aktifitas
antimikrobialnya akan meningkat seiring meningkatnya separuh panjang rantai alkil. Aktifitasnya dapat
menjadi lebih baik jika dikombinasikan dengan paraben lain untuk mendapatkan efek yang sinergis.
Sehingga, kombinasi metil-, etil-, propil-, dan butilparaben sering digunakan bersama. Aktifitasnya juga
dapatditingkatkan dengan adanya penambahan eksipien seperti propilen glikol (2-5%) (Rowe, 2009)
Penggunaan Metil Paraben dengan konsentrasi 0,2 yang dikombinasikan dengan Propil Paraben
0,06% menunjukkan sediaan emulgel tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta tidak tumbuh
mikroorganisme hingga hari ke 28 penyimpanan (Auliasari dkk, 2016).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

7 Na Propil Paraben

Propil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet antimikrobial dalam kosmetik, produk
makanan, formulasi farmasetika. Dapat digunakan sendiri, kombinasinya dengan paraben ester lain, atau
dengan agen antimikrobial lainnya. Propil paraben memiliki karakteristik yaitu putih, kristal, tidak berbau, dan
serbuk yang tidak memiliki rasa. Propil paraben ini merupakan yang paling sering digunakan sebagai
pengawet dalam kosmetik. Metil paraben ini mempunyai keefektifan yang cukup luas pada berbagai pH dan
mempunyai spektrum yang luas terkait aktifitas antimikrobial, meskipun senyawa ini lebih efektif melawan
jamur. Propil paraben menunjukan aktifitas antimikrobial antara pH 4 – 8 . Propil paraben telah digunakan
bersamaan dengan metil paraben pada preparasi parenteral serta topikal dan oral (Rowe, 2009)
Penggunaan Metil Paraben dengan konsentrasi 0,2 yang dikombinasikan dengan Propil Paraben
0,06% menunjukkan sediaan emulgel tidak menunjukkan perubahan warna dan bau serta tidak tumbuh
mikroorganisme hingga hari ke 28 penyimpanan (Auliasari dkk, 2016).
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

8 Disodium EDTA

Disodium EDTA digunakan sebagai agen pengkhelat dalam berbagai macam sediaan farmasi, termasuk
obat kumur, persiapan mata, dan persiapan topikal, biasanya pada konsentrasi antara 0,005 dan 0,1%.
Stabilitas dan kapasitas penetrasi kulit gel kaptopril, dimana disodium EDTA terbukti memberikan efek
penstabilan yang kuat, dan dapat digunakan dalam pengembangan sistem pengiriman obat transdermal.
Konjugat kitosan-EDTA telah diteliti sebagai polimer baru untuk digunakan dalam gel topikal (Rowe dkk,
2009).
Disodium EDTA dengan konsentrasi 0,02% juga terbukti menjamin kestabilan ekstrak daun kelor selama
penyimpanan 90 hari dari penelitian yang dilakukan oleh Wuryandari dkk (2019) dalam pembuatan
mikroemulsi gel ekstrak daun Kelor
 ALASAN PEMILIHAN BAHAN TAMBAHAN

9 Aquadest

Aquadestilata secara luas digunakan sebagai pelarut pada formulasi farmasetika. Untuk aplikasi
farmasi, air dimurnikan dengan cara destilasi, pertukaran ion, reverse osmosis (RO), atau beberapa proses
lain yang sesuai untuk menghasilkan aquadestilata. Karakteristik aquadestilata adalah cairan bening, tidak
berwarna dan tidak berasa (Rowe dkk., 2009).
PERHITUNGAN

  HLB
Parafin Cair 12
Tween 80 15
Span 20 8,6

Emulgator
%A (Tween 80) = x 100%
= x 100%
= x 100% = 53,125%
%B (Span 20) = 100% - 53,125%
= 46,875%

Yang ditimbang:
Tween 80 = x 6 gram = 3,1875 gram

Span 20 = x 6 gram = 2,8125 gram


PERHITUNGAN
Ekstrak daun kelor 3% = x 10 gram = 0,3 gram
 
Carbopol 940 2% = x 10 gram = 0,2 gram

Parafin cair 5% = x 10 gram = 0,5 gram

Tween 80 (3,1875 gram) 60% = x 10 gram = 6 gram


Span 20 (2,825 gram)

Propilenglikol 5% = x 10 gram = 0,5 gram

Na Metil Paraben 0,2% = x 10 gram = 0,02 gram

Na Propil paraben 0,06% = x 10 g = 0,006 gram

Dinatrium EDTA 0,02% = x 10 gram = 0,002 gram

TEA q.s

Aquadest ad. 100% = 10 g – (0,3+0,2+0,5+6+0,5+0,02+0,006+0,002 g)


= 10 – 7,528 g = 2,472 g
CARA KERJA

• Disiapkan alat dan bahan


• Pada pembuatan emulgel diawali dengan pembuatan gel terlebih dahulu, yaitu mengembangkan carbopol
dalam air panas hingga mencapai kejernihan maksimum.
• Carbopol yang telah di kembangkan pada air panas dengan pH 3, setelah ditambahkannya TEA pH carbopol
meningkat menjadi pH 6 pada kondisi tersebut carbopol menjadi lebih kental.
• Selain itu membuat emulsi yang terdiri dari dua fase yaitu fase minyak dan fase air.
• Fase minyak terdiri dari campuran span 20, paraffin cair, dan metil paraben dipanaskan pada suhu 70 oC
hingga homogen.
• Fase air terdiri dari campuran tween 80, propilenglikol, propil paraben, dinatrium EDTA dan aquadest
dipanaskan pada suhu 70oC hingga homogen.
• Emulgel terbentuk dengan mencampurkan emulsi dan gel pada kecepatan 300 rpm. Pada sediaan emulgel
tersebut ditambahkan ekstrak etanol daun kelor yang telah dilarutkan dalam etanol .
• Di evaluasi
• Diberi etiket, wadah dan brosur
EVALUASI (Rizki dkk, 2016)
1. Organoleptis
Pengamatan organoleptis meliputi: bentuk, bau dan warna (Fatmawaty, dkk., 2015). Pemeriksaan dilakukan sebelum
dan setelah penyimpanan dipercepat.
2. Homogenitas
Emulgel ditimbang 0,1 gram kemudian dioleskan secara merata dan tipis pada kaca objek, sediaan harus menunjukkan
susunan yang homogen dan tidak terlihat butir-butir kasar. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat.
3. Viskositas
Uji viskositas ditentukan menggunakan viscometer Brookfield tipe RV, semua formula ditentukan viskositasnya pada suhu
kamar (25-280C) menggunakan rpm 0,3 dan spindle 63 (Arifin, dkk., 2014). Pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah
penyimpanan dipercepat.
4. Pemeriksaan Ph
pH indikator dimasukkan ke dalam emulgel 1 g yang telah dilarutkan dengan aquadest 10 mL. Selanjutnya indikator pH
tersebut dibandingkan dengan standar yang terdapat pada wadah. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan
dipercepat.
5. Uji daya sebar
Emulgel sebanyak 0,5 gram diletakkan hati-hati diatas kaca transparan yang beralaskan kertas grafik, biarkan sediaan
menyebar pada diameter tertentu. Kemudian ditutup dengan kaca transparan dan diberi beban (50 g, 100 g, 150 g, 200 g dan 250
g). Lalu diukur pertambahan luas setelah diberi beban (Voight, 1994). Pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan
dipercepat.
6. Uji daya lekat
Pengujian daya lekat dilakukan dengan menggunakan alat uji daya lekat. Sampel diratakan pada salah satu objek gelas,
kemudian ditutup dengan objek gelas lainnya. Setelah itu ditindih dengan beban 250 g selama 5 menit. Pasang gelas objek
kemudian dipasang pada pada alat uji daya lekat dan stopwatch dinyalakan. Waktu dihitung dari pemberian beban dan dihentikan
saat gelas objek terlepas.
Daftar Pustaka
Ali A, Naveed A, Ahmad MM, Muhammad SK, Furqan MI, Syed SZ. In vivo skin irritation potential of a
cream containing Moringa oleifera leaf extract. AJPP 2013:7(6):289-93.
Auliasari, N., Gozali, D., dan Santiani, A. 2016. Formulasi Emulgel Ekstrak Daun Jambu Air (Syzgium
aqueum (Burn.F), Alston) Sebagai Antioksidan.
Gopalakrishnan L, Doriya K, Kumar DS. 2016. Moringa oleifera: A review on nutritive importance and its
medicinal application. Food Science and Human Wellness. Vo, 5:49-56.
Hasanah, U dan Khumaidi, A. 2017. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Kelor (Moringa oleifera Lam)
Sebagai Antioksidan. Journal of Natural Science, Vol 6(1): 46-57.
Riski R., Umar, A.H., Rismadani. 2016. Formulasi Emulgel Antiinflamasi dari Ekstrak Temulawak (Curcuma
xanthorrhiza Roxb). Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences. Vol 1 (2): pp 1-4
Rowe C, Raymond; Sheskey, Paul J dan Quin, M.E. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipients Sixth
Edition. London: Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.
Sugihartini, N dan Nuryanti, E. 2017. Formulasi Krim Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) sebagai Sediaan
Antiaging. Periodical of dermatology and Venereology. Vol 29 (1).
Williams A.C dan barry B.W. 2004 Penetration Enhancer. Advanced Drug Deliv ery Review. Vol, 26(5): 02-16.
Wuryandari, T., Sugihartini, N., dan Kintoko. 2019. Emulgel Formulation of Purified Extract of Moringa (Moringa
oleifera L.) Leaf. Fol Med Indonesia. Vol 55(1): 17-24.
Zatz, J.L., and Kushla, G.P., 1996, Gels, in Lieberman, H.A., Lachman, L., Schwatz, J.B., (Eds.),
Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Sistem Vol. 2, 2nd Ed , Marcel Dekker Inc, New York 413-
414.
Thank you
Insert your subtitle here