Anda di halaman 1dari 14

Pemerkosaan Anak di Bawah

Umur dan Aspek Medikolegal


Syifa Aulia Luthfiyani
131.0211.016
Definisi
• Pemerkosaan

sebagai mana di atur dalam Pasal 285 KUHP adalah :

“Barang siapa yang dengan kekerasan atau dengan ancaman


memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia.”

• Anak

dalam Pasal 1 Undang-Undang Perlindungan Anak , anak adalah


seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk
anak masih dalam kandungan
DAMPAK
Stres akibat pemerkosaan dapat dibagi menjadi dua yaitu :
• Stres langsung

Stres langsung yaitu reaksi yang terjadi setelah pemerkosaan spt


kesakitan secara fisik, rasa bersalah , takut , cemas , malu , marah ,
dan perasaan tidak berdaya
• stres jangka panjang

stress jangka panjang yaitu gejala psikologis yang dirasakan oleh


korban pemerkosaan sebagai rasa trauma yang menjadikan korban
kurang memiliki rasa percaya diri , menutup diri dari pergaulan dan
reaksi lainya yang dirasakan korban.
HUKUM
• KUHP pasal 287 ayat (1): “Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di

luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya

bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas,

bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana pernjara

paling lama sembilan tahun.”

• KUHP pasal 294: “Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya,

anak tirinya, atau anak piaraannya, anak yang dibawah pengawasannya,

orang di bawah umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara,

dididiknya, atau dijaganya, atau bujangnya atau orang yang di bawah umur,

dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.”


• Selain KUHP, terdapat pula UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak. Pasal 81 ayat (1): “Setiap orang yang
dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat
3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00
(tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah)”.

• Sedangkan pasal 81 ayat (2) UU tersebut berbunyi:


“Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau
membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau
dengan orang lain.”
ASPEK MEDIKOLEGAL
DEFINISI
Medikolegal adalah aspek yang berkaitan dengan pelayanan
medis untuk kepentingan hukum
LINGKUP MEDIKOLEGAL
1. Pembuatan Visum et Repertum
2. Px. Dokter terhadap tersangka
3. Pemberian keterangan ahli

4. Tentang penerbitan surat Keterangan kematian & surat


keterangan medis
5. Tentang fitness atau kompetensi pasien utk
menghadapi px. Penyidik
6. Kaitan visum et Repertum dengan rahasia
kedokteran
ASPEK MEDIKOLEGAL pd KASUS
PEMERKOSAAN
1.Pembuatan Visum et Repertum

PASAL 133 KUHAP

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban


baik uka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan
ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan

atau ahli lainnya

Tentang penerbitan surat Keterangan kematian & surat keterangan medis


5. Tentang fitness atau kompetensi pasien utk menghadapi px. Penyidik
2. Pemberian keterangan ahli

PASAL 179 (1) KUHAP :

Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran

kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan

keterangan ahli demi keadilan

PASAL 224 KUHP :

Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut

undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban

berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam :

dalam perkara pidana, dengan penjara paling lama sembilan bulan.


3. Kaitan visum et Repertum dengan rahasia
kedokteran
Bila spv datang : Dasar hukumnya undang-
undang sehingga menggugurkan wajib simpan
rahasia kedokteran (dalam membuat ver)
Pasal 50 KUHP : Barang siapa melakukan
perbuatan untuk melaksanakan ketentuan UU,
tidak dipidana.
Pada tindak pidana kejahatan seksual, yang perlu
dibuktikan oleh dokter ialah:
• Apakah telah terjadi persetubuhan
• Adanya paksaan dengan kekerasan atau dengan
ancaman kekerasan.
Adanya persetubuhan
Anda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda
penetrasi dan tanda ejakulasi.
1. Tanda penetrasi
Robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5
sampai 7, Jika ada perlu ditentukan ruptur baru atau lama, dan
lokasi ruptur, luka lecet, memar sampai luka robek baik di
daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun daerah perineum
2. Tanda ejakulasi

Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya


sperma dan komponen cairan mani. Untuk uji penyaring
cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam. Jika
uji ini negatif, kemungkinan adanya ejakulasi dapat
disingkirkan. Sebaliknya jika uji ini positif, maka perlu
dilakukan uji pemastian ada tidak sel sperma dan cairan
mani.
Adanya Kekerasan
Untuk mencari tanda kekerasan dokter perlu melihat :

- tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau

- tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol hipnotik, atau


narkotik

Apabila ada petunjuk bahwa alkohol, hipnotik atau narkotik telah


dipergunakan, maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk
pemeriksaan toksikologik. Membuat wanita pingsan atau tidak berdaya
disamakan dengan menggunakan kekerasan.

jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas cekik pada leher,