Anda di halaman 1dari 21

TETANUS

Syifa Aulia Luthfiyani


131.0211.016
*Kekakuan otot (spasme) yang di sebabkan oleh
eksotoksin (tetanospasmin) dari organisme penyebab
(bukan oleh organismenya sendiri)

*Gangguan neurologis yang di tandai dgn


meningkatnya tonus otot dan spasme (IPD UI)

DEFINISI
Clostridium tetani

Bentuk : Basil Susunan : Tunggal

Warna : Ungu Sifat : Gram (+)

-Berbentuk basil dgn spora pd bagian ujung shg tampak spt


‘drumstick/paha ayam’

-Anaerob obligat, jika lingkungan tidak sesuai akan berubah


menjadi spora yang tahan panas matahari, pendidihan 20

menit dan resisten desinfektan


ETIOLOGI
Tersebar di tanah, khususnya tanah yg mengandung
kotoran kuda, domba, anjing, kucing, tikus dll.
Transmisi melalui luka yg dalam dgn suasana anaerob, sbg
akibat dari :

-Kecelakaan
-Luka tusuk
-Luka operasi
-Karies gigi
-Otitis media
-Pemotongan tali pusat
TRANSMISI
*Masih banyak di temukan di negara tropis
termasuk indonesia

*Umumnya terjadi di daerah pertanian dan


pedesaan

*Laki-laki > banyak

EPIDEMIOLOGI
Masa inkubasi 3-21 hari umumnya adalah 7 hari

Terdapat trias Tetanus :

1. Rigiditas Otot/Kekakuan otot


2. Spasme otot
3. Ketidakstabilan sist. Saraf otonom

MANIFESTASI KLINIK
Rigiditas lebih dulu terjadi pd otot-otot dgn jalur neuronal
pendek, oleh karena itu 90% manifestasi yg nampak saat
masuk RS adalah :

1. Trismus, Kaku leher dan Nyeri punggung

2. Keterlibatan otot-otot wajah & faringeal menimbulkan


ciri khas ‘Risus Sardonikus’

3. Peningkatan tonus otot trunkal ‘Opistotonus’

RIGIDITAS/KAKU OTOT
• Spasme otot bisa muncul spontan, stimulasi fisik,
visual, auditori dan emosional

• Spasme otot menimbulkan nyeri & dapat


meneyebabkan ruptur tendon, sendi & fraktur

• Spasme paling berbahaya tjd pd otot-otot laringeal


akibatny obstruksi napas

• Spasme tjd pd minggu 1 dan 2 selama 3-4 minggu.


Sedangkan rigiditas bisa lebih lam

SPASME OTOT
Penigkatan tonus simpatis lebih dominan shg menimbulkan :

-Vasokontriksi
-Takikardi
-Hipertensi
-Salivasi
-Berkeringat
-Meningkatkan sekresi bronkus
-Stasis lambung dan ileus
KETIDAKSTABILAN OTONOM
Diagnosis tetanus murni berdasarkan temuan klinis.

Pada Px. Fisik di lakukan test spatula

-Menyentuh dinding posterior faring dgn alat yg


ujungnya halus & steril (cuttonbud)

-Hasil + jika terjadi kontaksi rahang involunter


(menggigit spatula) - jika muncul refleks muntah

Menurut American Journal of Tropmed and Hygiene test


ini punya spesifisitas & sensitivitas tinggi (94%)

DIAGNOSIS
DERAJAT KEPARAHAN
PATOGENESIS & PATOFISIOLOGI
Tujuan terapi :

1. Membuang sumber toksin


2. Menetralisir toksin yg bebas
3. Supportif

TERAPI
1. Membersihakan luka

Luka harus dibersihkan & di debridement utk mengurangi


bakteri sgh mencegah pelpasan toksin yg lebih banyak

2. Metronidazole

Dosis : 15mg/Kgbb dilanjutkan 30mg/Kg/hari setiap 6 jam


selama 7-10 hari

Efektif utk kuman dalam fase vegetatif

MEMBUANG SUMBER TOKSIN


*Antitoksin
Human Tetanus Immunoglobulin (HITG) harus segera di
injeksikan IM

Dosis : 3.000-10.000U dibagi 3 dosis yg sama di injeksi di 3


tempat berdeda

Jika tidak tersedia bisa ATS,

Dosis : 100.000-200.000U diberi 50.000U IV hari ke-1 60.000U


IM hari ke-2 dan 40.000U IM hari ke-3

Sebagian di infiltrasikan di sekitar luka (hanya 1x saja karena T1/2


25-30 hari)
MENETRALISIR TOKSIN BEBAS
1. Pengendalian rigiditas & spasme

Pengobatan di tujukan utk memberi efek sedasi

Diazepam 0.1-0.3mg/kg/kali interval 2-4 jam setelah 7-10 hari

dosis diturunkan bertahap 5mg/hari

2. Pengendalian ketidakstabilan otonom

MgSO4 dosis 5g (atau 75mg/kg) IV di lanjutkan 1-3g/jam

sampai spasme terkontrol

TERAPI SUPORTIF
3. Terapi respirasi

Intubasi/trakeostomi dgn atau tanpa ventilasi

dibutuhkan utk : pasien dgn laringospasme atau

menghindari aspirasi pd pasien trismus dan

disfagia
*Pasien baiknya di ruang ICU yang gelap dan
tenang

*Terapi nutrisi yg adekuat


*Vaksinasi
Pasien yg sembuh hendaknya diberikan imunisasi
aktif karena imunitas tetap negatif pasce infeksi

NON FARMOKOLOGI
Komplikasi