Anda di halaman 1dari 61

PROFIL

Sugianto,S.E.,S.H(k).,M.Ak.,BKP.,CTT
Dosen, Konsultan Pajak dan Pengacara Pajak ( Kuasa Hukum
Pengadilan Pajak )

Ia adalah Konsultan Pajak dan Kuasa Hukum Pengadillan Pajak yang mempunyai
ijin resmi dari Menteri Keuangan dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak dan
Pengadilan Pajak, selain itu ia adalah Staff Pengajar ( Dosen Tetap) di STIE Bisma
Lepisi dan Dosen tidak Tetap di Universitas Buddhi Dharma serta Pengajar di
beberapa Tempat Brevet Pajak dan Tax Learning Center ,di samping itu Ia juga
seorang Praktisi perpajakan.Ia adalah anggota aktif Asosiasi Konsultan Pajak
Publik Indonesia ( AKP2I ), Anggota Aktif Ikatan Akuntan Indonesia (IAI ) dan
anggota aktif Asosiasi Dosen Indonesia (ADI ) ,anggota aktif Ikatan Dosen Republik
Indonesia ( IDRI ) ,anggota aktif Asosiasi Dosen Akuntansi ( ADA ),member resmi
justika.com, yaitu salah satu situs pelayanan hukum dan profesional hukum serta
telah mengikuti Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak ( USKP ) yang di selenggarakan
oleh KP3SKP
1
PROFIL
Sugianto,S.E.,S.H(k).,M.Ak.,BKP.,CTT
Dosen, Konsultan Pajak dan Pengacara Pajak ( Kuasa Hukum
Pengadilan Pajak )

Ia menyelesaikan Pendidikan pascasarjana S2 di Universitas Mercubuana dengan


Predikat Cum Laude ( lulus dengan pujian ), Gelar CTT (Certified Tax Technicians)
di peroleh dari Program Sertifikasi Perpajakan dari TRIEBI FEB UNIVERSITAS
TRISAKTI yang di tunjuk oleh ATPI ( Asosiasi Teknisi Perpajakan Indonesia),untuk
meyelenggarakan UJI Kompetensi Sertifikasi Pajak dan Gelar BKP di peroleh dari
Ujian USKP ( Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak ) yg di selenggarakan oleh KP3SKP.
dan saat ini ia sedang melanjutkan kuliah di fakultas hukum di salah satu
Universitas Negeri di indonesia untuk memperoleh gelar sarjana hukum,
selanjutnya akan melanjutkan pendidikan untuk menjadi advokat / Pengacara
Hukum.

2
PROFIL
Sugianto,S.E.,S.H(k).,M.Ak.,BKP.,CTT
Dosen, Konsultan Pajak dan Pengacara Pajak ( Kuasa Hukum
Pengadilan Pajak )

KONSULTASI GRATIS MASALAH PERPAJAKAN HUBUNGI NOMOR DI BAWAH


INI :

Please Contact :
HP/WA :0877-7205-7005
Email : sugiantoconsulting@gmail.com
Website : WWW.SUGIANTOCONSULTING.COM

3
AKUNTANSI PERPAJAKAN
(Tax Accounting)
SIKLUS akuntansi
Analisis & Jurnal Posting Buku Besar
Dokumentasi

Neraca Saldo

Transaksi
Keuangan
Adjusment

Neraca
Neraca Saldo
Adjusment
Rugi Laba

Laporan
Keuangan
Laporan Perubahan
Ekuitas
Jurnal Penutup

Laporan Arus Kas


Latar Belakang

• Tujuan Laporan Keuangan


Menyediakan informasi yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi (Sesuai Kerangka Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan)

• Pemakai Laporan Keuangan:


– Investor - Pelanggan
– Karyawan - Pemerintah
– Kreditur - Masyarakat
– Pemasok
Latar Belakang

• Tugas Akuntan
Melindungi pemakai tersebut dari kesalahan
membaca informasi dalam akuntansi keuangan
yang disajikan oleh perusahaan.

• Alat yang Digunakan Akuntan adalah standar


akuntansi keuangan (SAK) atau GAAP (Generally
Accepted Accounting Principle) atau IFRS
Standar Akuntansi vs Pajak

• Sebagai Perusahaan Komersial, akuntan perusahaan


harus menyajikan laporan keuangan kepada pemegang
saham sesuai dengan standar akuntansi keuangan.

SEDANGKAN

• Sebagai Wajib Pajak Badan, akuntan perusahaan harus


menyajikan laporan keuangan kepada pemerintah
(Ditjen Pajak) sesuai dengan peraturan undang-undang
perpajakan melalui SPT Tahunan PPh Badan.
Standar Akuntansi vs Pajak
Standar Akuntansi vs Pajak
Standar Akuntansi vs Pajak

Pengakuan ●
Tidak dianggap sbg objek pajak (pasal 4 ayat
3)
pendapatan ●
Sudah dikenakan PPh final

Beban

Tidak diakui dalam perhitungan taxable income karena:

tidak didukung bukti yang diterima menurut ketentuan fiskal atau

tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha (Psl 9 UU PPh)


Metode perhitungan yang berbeda
Penyusutan ●
Penentuan masa manfaat yang berbeda
Kesimpulan: Akuntansi Pajak

Akuntansi yang berkaitan dengan perhitungan perpajakan dan mengacu pada


peraturan dari perundang-undang perpajakan beserta aturan pelaksanaannya
disebut :
akuntansi pajak. 
Akuntansi Komersial Akuntansi Fiskal
Dasar Standar Akuntansi Keuangan Peraturan Perpajakan
Tujuan Informasi yang berguna bagi para Menghitung besarnya pajak
pemakai dalam pengambilan keputusan terhutang

Laporan Rugi Laba Penandingan pendapatan dengan biaya Penandingan objek pajak dengan
biaya untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara
penghasilan yang merupakan
objek pajak

Stelsel Pembukuan Stelsel Akrual Stelsel akrual dan kas

Cost Principle Biaya Historis Biaya historis dengan


memperhatikan harga pertukaran
yang objektif

Conservatism Dianut Tidak, kecuali pasal 9 ayat (1)


Principle huruf c. UU PPh
Substansi Dianut Tidak selalu
mengalahkan
bentuk formal

Pelanggaran Mempengaruhi opini akuntan publik Dikenakan sanksi perpajakan


Perihal PSAK Ketentuan Perpajakan

Definisi laporan Keuangan Suatu penyajian terstruktur dari posisi Ketentuan pajak tidak mendefinisikan
keuangan dan kinerja keuangan suatu laporan keuangan dan tidak mengatur
entitas (par. 7) standar penyajian laporan keuangan
tersendiri
Tujuan laporan keuangan  untuk memberikan informasi  untuk bisa digunakan dalam
mengenai posisi keuangan, kinerja menghitung besarnya Penghasilan
keuangan, dan arus kas entitas yang Kena Pajak
bermanfaat bagi termasuk Pajak Pertambahan Nilai
sebagian besar kalangan pengguna (PPN),dan Pajak Penjualan atas Barang
laporan dalam pembuatan keputusan Mewah (PPnBM)
ekonomi [par.9]. [Pasal 4 ayat (4) UU KUP 2007]
 untuk menunjukkan hasil
pertanggungjawaban manajemen atas
penggunaan sumber daya yang
dipercayakan kepada mereka [par.9].
Informasi dalam laporan keuangan a) aset a) harta
b) liabilitas b) kewajiban
c) ekuitas c) modal
d) pendapatan dan beban termasuk d) penghasilan
keuntungan dan kerugian e) biaya
e) kontribusi dari dan distribusi kepada [Pasal 1 angka 29 UU KUP 2007]
pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik
f) arus kas [par.9]
Perihal PSAK Ketentuan Perpajakan

Komponen laporan keuangan a) laporan posisi keuangan (neraca) a) neraca


lengkap pada akhir periode; b) laporan laba rugi
b) laporan laba rugi komprehensif [Pasal 1 angka 29 UU KUP 2007]
selama periode
c) laporan perubahan ekuitas selama
periode;
d) laporan arus kas selama periode;
e) catatan atas laporan keuangan,
berisi ringkasan kebijakan
akuntansi penting dan informasi
penjelasan lain; dan
f) laporan posisi keuangan pada awal
periode komparatif yang disajikan
ketika entitas menerapkan suatu
kebijakan akuntansi secara
retrospektif atau membuat
penyajian kembali pospos laporan
keuangan, atau ketika entitas
mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya [par.10].
Tujuan dan Ruang Lingkup PSAK 46

Ruang
Tujuan Lingkup
●Mengatur Perlakukan akuntansi ●Mengatur pengakuan
PPh – termasuk PPh Final aktiva/kewajiban pajak
●Mempertanggungjawabkan tangguhan, yang berasal
konsekuensi pajak pada dari:
periode berjalan dan ●Sisa rugi yang dapat
mendatang atas transaksi yang dikompensasikan ke tahun
dicatat sebagai berikutnya
aktiva/kewajiban di neraca dan ●Penyajian PPh di LK
transaksi berjalan. ●Pengungkapan informasi
Terminologi PSAK 46
 Pajak Penghasilan
= pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan pajak ini
dikenakan atas penghasilan kena pajak perusahaan.

 Pajak Penghasilan Final


= pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya,
kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak
penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang
terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Dikenakan terhadap
jenis penghasilan, transaksi atau usaha tertentu.

 Laba Akuntansi
= laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.

 Penghasilan Kena Pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax
loss)
= laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan
perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
Terminologi (lanjutan …)
 Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income)
= jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax)
yang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode.

 Pajak kini (current tax)


= jumlah pajak penghasilan terutang (payable) atas penghasilan kena pajak
pada satu periode.

 Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities)


= jumlah pajak penghasilan terutang (payable) untuk periode mendatang
sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.

 Aktiva pajak tangguhan (deferred tax asset)


adalah jumlah pajak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode
mendatang sebagai akibat adanya
 perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, dan
 sisa kompensasi kerugian
Terminologi (lanjutan …)

 Perbedaan temporer (temporary differences)


Adalah perbedaan antara jumlah tercatat aktiva atau kewajiban dengan
DPP-nya. Perbedaan temporer dapat berupa :

 perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences)


adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah kena
pajak (taxable amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode
mendatang pada saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau
nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled); atau 
 perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible
temporary differences) adalah perbedaan temporer yang
menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan (deductible
amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada
saat nilai tercatat aktiva dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat
kewajiban tersebut dilunasi (settled)
Prinsip Dasar PSAK 46

Content:
1. Laba Akuntansi dan Penghasilan Kena Pajak
(PKP)
2. Rekonsiliasi Fiskal
3. Konsep Beda Tetap dan Beda Waktu
4. Pengukuran dan Penyajian Pajak Tangguhan
1. Laba Akuntansi vs PKP

Laba ●


Merupakan terminologi SAK
Laba/Rugi bersih selama satu
Akuntansi periode sebelum dikurangi PPh

PKP/ Laba ●


Merupakan terminologi PAJAK
Laba/rugi selama satu periode yang
dihitung berdasarkan peraturan perpajakan
Fiskal ●
Digunakan sebagai dasar Penghitungan PPh
Laba Akuntansi vs PKP
Laba Akuntansi vs PKP

Catatan:
-Diasumsikan beban usaha adalah penyusutan aktiva tetap
-Secara akuntansi, perusahaan menyusutkan dengan metode garis lurus dan masa
manfaat 3 tahun tanpa nilai residu
-Secara fiskal, penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus dan masa manfaat 4
tahun
Jurnal Akuntansi PPh

Tahun 2006: Dr. Beban PPh 60.000


Dr. Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset) 60.000
Cr. Hutang PPh 120.000

Tahun 2007: Dr. Beban PPh 90.000


Dr. Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset) 60.000
Cr. Hutang PPh 150.000

Tahun 2008: Dr. Beban PPh 120.000


Dr. Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset) 60.000
Cr. Hutang PPh 180.000

Tahun 2009: Dr. Beban PPh 364.000


Dr. Saldo Laba 12.000
Cr. Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Asset) 180.000
Cr. Hutang PPh 196.000
Kesimpulan untuk Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax
Liabilities /DTL) dan Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax
Asset/DTA)

• Apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP komersil ) lebih


besar dari Penghasilan Kena Pajak (PKP Fiskal), akan
mengakibatkan Beban Pajak Komersil (BPK/Tax Expense) akan
lebih besar dari Pajak Terhutang/Pajak Kini (PT/Tax payable).
Sehingga, akan menghasilkan Kewajiban Pajak Tangguhan
(KPT/Deferred Tax Liabilities).
Kewajiban ini dapat dihitung dengan mengalikan jumlah
perbedaan temporer dengan tarif pajak.
• Apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP-
komersil ) lebih kecil dari Penghasilan Kena Pajak
(PKP – Fiskal), akan mengakibatkan Beban Pajak
Komersil (BPK /Tax Expense) akan lebih kecil dari
Pajak Terhutang/Pajak Kini (PT/Tax payable).

Sehingga, akan menghasilkan Aktiva Pajak


Tangguhan (APT/Deferred Tax Asset).
Aktiva ini dapat dihitung dengan mengalikan
jumlah perbedaan temporer dengan tarif pajak.
Atau dengan rumus dapat dituliskan sebagai berikut :

• PSP > PKP


• BPK > PT
• Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax
Liabilities)
• PSP < PKP
• BPK < PT
• Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets)
• Jurnal Pajak Tangguhan

Jurnal yang dibuat untuk Aktiva Pajak tangguhan adalah :


Dr. Deferred Tax Asset xx
Cr. Deferred Tax Income xx
Jurnal yang dibuat untuk Kewajiban Pajak tangguhan adalah :
Dr. Deferred Tax Expense xx
Cr. Deferred Tax Liabilities xx

Penyajian Pajak Tangguhan dalam Laporan Keuangan :


Laba Sebelum PPh xxx
PPh :
Pajak Kini xxx
Pajak Tangguhan xxx
xxx
Laba setelah PPh xxx
2. Rekonsiliasi Fiskal
Rekonsiliasi Fiskal
Proses Rekonsiliasi Fiskal

Dokumen Sumber Jurnal Buku Besar

Laba Rugi Rekonsiliasi Laba Rugi


Komersial Fiskal Fiskal

Koreksi Koreksi Koreksi


Positif Fiskal Negatif

Beda Waktu PSAK 46 Beda Waktu

Beda Tetap Beda tetap


SIKLUS LAPORAN KEUANGAN FISKAL

Analisis & Jurnal Posting Buku Besar


Dokumentasi

Neraca Saldo
Beda tetap & Beda
Transaksi waktu (PSAK 46)
Keuangan
Adjusment
Rekon
Fiskal
Positif

Neraca Saldo
Adjusment

Laporan Rekonsiliasi Laporan


Keuangan Fiskal Keuangan
Fiskal

Jurnal Penutup
Rekon
Fiskal
Negatif

Beda tetap & Beda


waktu (PSAK 46)
Posisi Akuntansi Pajak Dalam Akuntansi Komersial

Transaksi L/K
Keuangan Pembukuan/Akuntansi Komersial Komersial

Transaksi pajak

Rekonsiliasi
Fiskal

Akuntansi Pajak

L/K
Fiskal
3. KONSEP BEDA TETAP & BEDA WAKTU
BEDA TETAP

Perbedaan antara laba akuntansi dan


penghasilan kena pajak yang disebabkan oleh
ketentuan perpajakan

Tidak akan menimbulkan permasalahan


akuntansi dan tidak memberikan pengaruh
terhadap kewajiban perpajakan di masa yang
akan datang
Jenis Beda Tetap

1. Penghasilan bagi Akuntansi Komersial tetapi


menurut PPh merupakan penghasilan yang telah
dikenakan PPh Final dimana tidak perlu lagi
dilakukan penghitungan pajak

2. Penghasilan bagi Akuntansi Komersial tetapi


menurut PPh adalah penghasilan yang bukan
merupakan objek pajak

3. Beban atau biaya bagi akuntasi komersial tapi


menurut PPh merupakan pengeluaran yang tidak
dapat dibiayakan, non dedudctible expense (pasal 9
ayat 1).
Contoh beda tetap ……..1
Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final

 Passive Income/Capital Income


1. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di
bursa efek
2. Penghasilan dari hadiah undian
3. Penghasilan bunga tabungan, deposito, jasa giro
dan diskonto BI
4. Penghasilan bunga/diskonto obligasi yang dijual
di bursa efek
Lanjutan contoh 1……

 Active Income/Bussiness Income


1. Penghasilan atas persewaan tanah dan
bangunan
2. Penghasilan dari jasa konstruksi (Pengusaha
Konstruksi Kecil)
3. Penghasilan WP perusahaan pelayaran dalam
negeri
Contoh beda tetap ……..2
Penghasilan Bukan Obyek Pajak Pasal 4 (3) UU PPh

1. dividen atau bagian laba yang diterima atau


diperoleh perseroan terbatas sebagai Wajib Pajak
dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik Negara,
atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan
modal pada badan usaha yang didirikan dan
bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat :
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
b. bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara
dan Badan Usaha Milik Daerah yang menerima dividen,
kepemilikan saham pada badan yang memberikan
dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari
jumlah modal yang disetor dan harus mempunyai
usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut;
Lanjutan contoh 2…….

2. penghasilan yang diterima atau diperoleh


perusahaan modal ventura berupa bagian laba dari
badan pasangan usaha yang didirikan dan
menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia,
dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:
a. merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan; dan
b. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di
Indonesia.
Contoh beda tetap ……. 3
Biaya yang tidak boleh dikurangkan Pasal 9 (1) UU PPh

1. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti


dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;
2. biaya yang dibebankan / dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
pemegang saham, sekutu, atau anggota;
3. pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan
piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan
hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya
reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-
syaratnya ditetapkan dengan Keputusan MenKeu;
4. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib
Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi
tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang
bersangkutan;
Lanjutan contoh 3 ……..
Biaya yang tidak boleh dikurangkan Pasal 9 (1) UU PPh

5. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa


yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali
penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta
penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di
daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;
6. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang
saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;
7. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan,
kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh
Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau Wajib Pajak
badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada
badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh Pemerintah;
Lanjutan contoh 3 ……..
Biaya yang tidak boleh dikurangkan Pasal 9 (1) UU PPh

8. Pajak Penghasilan;
9. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk
kepentingan pribadi Wajib Pajak atau orang yang menjadi
tanggungannya;
10. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma,
atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi
atas saham;
11. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan
serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan
dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan
BEDA WAKTU

• Perbedaan antara laba akuntansi dan


penghasilan kena pajak yang disebabkan
oleh ketentuan perpajakan

• Memberikan pengaruh di masa yang akan


datang dalam jangka waktu tertentu
sehingga pengaruh terhadap laba akuntansi
dan penghasilan kena pajak akhirnya
menjadi sama
Contoh 1. Ilustrasi Beda Waktu
Aktiva : Meja dari Kayu Jati
Umur ekonomis : 10 tahun
Harga perolehan : 10.000.000,-

           

Penyusutan Rekonsilias Fiskal


Tahun Ke -
Komersial Fiskal Positif Negatif
1  1.000.000 2.500.000   (1.500.000)
2  1.000.000 2.500.000   (1.500.000)
3  1.000.000 2.500.000   (1.500.000)
4  1.000.000 2.500.000   (1.500.000)
5  1.000.000 - 1.000.000  
6  1.000.000 - 1.000.000  
7  1.000.000 - 1.000.000  
8  1.000.000 - 1.000.000  
9  1.000.000 - 1.000.000  
10  1.000.000 - 1.000.000  
           
    10.000.000 10.000.000 6.000.000 (6.000.000)

Metode Penyusutan : Garis Lurus


Komersial memakai tarif 10 %
Fiskal memakai tarif 25 % (sesuai Kep. 96/PMK.03/2009 jo Pasal 11 UU PPh)
Contoh 2. Ilustrasi Beda Waktu
Aktiva : Aktiva
Harga Perolehan : Rp1.000.000.000
Metode Penyusutan : Garis Lurus
Masa Manfaat : * Fiskal 4 thn (kelompok I)
* Komersial 5 tahun
       
Penyusutan Selisih
Tahun Fiskal = 4 th Akunt = 5 tahun (Koreksi = BW)
( 25 %) (20 %)  
20x1 250.000.000 200.000.000 - (50.000.000)
20x2 250.000.000 200.000.000 - (50.000.000)
20x3 250.000.000 200.000.000 - (50.000.000)
20x4 250.000.000 200.000.000 - (50.000.000)
20x5 - 200.000.000 + 200.000.000
  1.000.000.000 1.000.000.000 -

Tahun Laba sblm pajak Koreksi BW Laba Fiskal PPh kini Jurnal
20x1 800.000.000 (50.000.000) 750.000.000 187.500.000 --> Dr - Current tax Expense
20x2 1.000.000.000 (50.000.000) 950.000.000 237.500.000 Cr - CT Liabilities
20x3 900.000.000 (50.000.000) 850.000.000 212.500.000
20x4 700.000.000 (50.000.000) 650.000.000 162.500.000 Dr - CTL
20x5 1.200.000.000 200.000.000 1.400.000.000 350.000.000 Cr - Prepaid art 22
        1.150.000.000 Cr - Prepaid art 23
Cr - Prepaid art 25
Cr - Utang PPh 29

Tahun Laba sblm pajak Pajak cfm akunt Deffered tax


20x1 800.000.000 200.000.000 12.500.000 Dr - Deffered tax expenses
20x2 1.000.000.000 250.000.000 12.500.000 Cr - Deffered tax liability
20x3 900.000.000 225.000.000 12.500.000
20x4 700.000.000 175.000.000 12.500.000
20x5 1.200.000.000 300.000.000 (50.000.000) Dr - Deffered tax asset
    1.150.000.000 - Cr - Deffered tax income
Beda Waktu terdiri dari:

• Penyisihan/cadangan (akrual vs realisasi)


• Penyusutan
• Amortisasi
• Kompensasi Kerugian
Beda waktu ……….. 1
Penyisihan/Akrual vs Realisasi

Penyusunan laporan keuangan menurut SAK dilakukan


berdasarkan asas akrual yaitu transaksi dan peristiwa diakui
pada saat kejadian dan dicatat pada periode yang bersangkutan

Untuk kasus penyisihan, (cadangan) :


◦ Standar akuntansi keuangan mengakui metode tidak langsung (indirect
method)
◦ Perpajakan mengakui metode langsung (direct method)

Perbedaan metode tsb mengakibatkan muncul efek pajak yang


berbeda di masa datang (beda waktu menurut PSAK 46)
Contoh Beda Waktu Penyisihan

• Penyisihan Piutang Tak Tertagih


• Penyisihan persediaan rusak
• Penyisihan Bonus
• Penyisihan Imbalan Kerja (PSAK 24)
• Penyisihan biaya sengketa hukum/
contingent liability (PSAK 57)
Beda waktu ……….. 2
Penyusutan/Amortisasi

Beda waktu penyusutan/amortisasi timbul karena


disebabkan 2 hal:
1. Perbedaan masa manfaat secara komersial dan
perpajakan
2. Perbedaan metode penyusutan /amortisasi yang
digunakan

Akibatnya, biaya penyusutan/amortisasi setiap tahun


akan berbeda, namun secara total pada tahun
terakhir nilai bukunya akan sama-sama nihil.
Penyusutan Fiskal
Metode Penyusutan
1. Untuk Harta Berwujud Bukan Bangunan adalah Metode Garis Lurus (straight
line method) atau Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
2. Untuk Harta Berwujud Bangunan adalah Metode Garis Lurus (straight line
method)
Kelompok Harta Berwujud dan Tarif Penyusutan:

Kelompok Masa Metode Metode


Harta Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun
Bukan
Bangunan
Kelompok I 4 tahun 25% 50%
Kelompok II 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok III 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok IV 20 tahun 5% 10%
Bangunan
Permanen 20 tahun 5% -
Non Permanen 10 tahun 10% -
Amortisasi Fiskal
 Amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan
pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna
usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun
yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan,
dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang
menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif
amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa
manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas

Kelompok Masa Metode Metode


Harta Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun

Kelompok I 4 tahun 25% 50%


Kelompok II 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok III 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok IV 20 tahun 5% 10%
Beda waktu ……….. 3
Kompensasi Kerugian

• Rugi fiskal menurut Pasal 6 (2) UU PPh dapat


dikompensasikan selama 5 tahun berturut-turut.

• Dalam hal setelah melampaui jangka waktu 5 tahun


namun masih terdapat sisa rugi fiskal, maka sisa rugi
fiskal tidak dapat dikompensasikan

• Pengakuan aktiva pajak tangguhan dilakukan terhadap


rugi fiskal yang dapat dikompensasikan ke tahun
berikutnya.
KOMPENSASI KERUGIAN
Pasal 6 ayat (2) UU PPh dan PP 1 Tahun 2007

KERUGIAN DAPAT DIKOMPENSASIKAN


DENGAN PENGHASILAN
MULAI TAHUN PAJAK BERIKUTNYA
BERTURUT-TURUT
SAMPAI DENGAN 5 (LIMA) TAHUN

Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha


tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam
skala nasional diberi fasilitas (pasal 31 A UU PPh) :

Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 tahun tetapi tidak lebih
dari 10 tahun dengan ketentuan sebagai berikut (PP No.1 tahun 2007):

1) tambahan 1 tahun :apabila penanaman modal baru pada bidang usaha yang dilakukan di kawasan
industri dan kawasan berikat;
2) tambahan 1 tahun :apabila mempekerjakan sekurang-kurangnya 500 (lima ratus) orang tenaga kerja
Indonesia selama 5 (lima) tahun berturut-turut;
3) tambahan 1 tahun :apabila penanaman modal baru memerlukan investasi/ pengeluaran untuk
Infrastruktur ekonomi dan sosial di lokasi usaha paling sedikit sebesar Rp.
10.000.000.000,00
4) tambahan 1 tahun :apabila mengeluarkan biaya penelitian dan pengembangan di dalam negeri dalam
rangka pengembangan produk atau efisiensi produksi paling sedikit 5% (lima
persen) dari investasi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun; dan/atau
5) tambahan 1 tahun :apabila menggunakan bahan baku dan atau komponen hasil produksi dalam negeri 53
paling sedikit 70% (tujuh puluh persen) sejak tahun ke 4 (empat).
PENGHITUNGAN KOMPENSASI KERUGIAN
CONTOH
WP. A dalam tahun 2010 menderita kerugian fiskal sebesar Rp 1.200.000.000,00. Dalam 5
tahun berikutnya rugi-laba fiskal WP. A sbb :
2011 : laba fiskal Rp 200.000.000,00
2012 : rugi fiskal (Rp 300.000.000,00)
2013 : laba fiskal NIHIL
2014 : laba fiskal Rp 100.000.000,00
2015 : laba fiskal Rp 800.000.000,00

Kompensasi kerugian dilakukan sbb :


Rugi fiskal Thn 2010 (Rp 1.200.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2011 Rp 200.000.000,00
Sisa rugi fiskal Thn 2010 (Rp 1.000.000.000,00)
Rugi fiskal Thn 2012 (Rp 300.000.000,00)
Sisa rugi fiskal Thn 2010 (Rp 1.000.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2013 N I H I L
Sisa rugi fiskal Thn 2010 (Rp 1.000.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2014 Rp 100.000.000,00
Sisa rugi fiskal Thn 2010 (Rp 900.000.000,00)
Laba fiskal Thn 2015 Rp 800.000.000,00
Sisa rugi fiskal Thn 2010 (Rp 100.000.000,00)

TIDAK BOLEH DIKOMPENSASIKAN LAGI DENGAN LABA FISKAL THN 2016 54


JENIS – JENIS REKONSILIASI FISKAL

PERKIRAAN AKUNTANSI PAJAK BEDA


I. Peredaran Usaha
1.1 Potongan Penjualan Realisasi Realisasi No
Penyisihan - Waktu
1.2 Retur Penjualan Realisasi Realisasi No
Penyisihan - Waktu
1.3 Jasa Konstruksi oleh Pengusaha Pendapatan PPh Final Tetap
(2% atau 4%)
Kecil
1.4 Penghasilan Perusahaan Pendapatan PPh Final Tetap
Pelayaran DN (1,2%*peredaran)
1.5 Penghasilan Perusahaan Pendapatan PPh Final Tetap
Pelayaran/Penerbangan LN (2,64%*peredaran)
1.6 Penghasilan BUT Perwakilan Pendapatan PPh Final Tetap
Dagang Asing (0,44*ekspor)
1.7 Penghasilan BUT Perwakilan Pendapatan PPh Final Tetap
Dagang Asing (0,44*ekspor)
JENIS – JENIS REKONSILIASI FISKAL
PERKIRAAN AKUNTANSI PAJAK BEDA
1.8 Penghasilan atas distributor Pendapatan PPh Final Tetap
produk Pertamina dan Premix (0,25% / 0,3%)

1.9 Penghasilan atas penyalur gula Pendapatan PPh Final Tetap


pasir dan tepung terigu Bulog

1.10 Penghasilan sebagai Distributor Pendapatan PPh Final Tetap


Kertas (0,10% * H Jual)

1.11 Penghasilan atas Distributor Pendapatan PPh Final Tetap


Industri Rokok DN (0,15%*H Bandrol)

II. Harga Pokok Penjualan


2.1 Penilaian Persediaan Harga Perolehan Harga Perolehan No
COMWIL - Waktu
Prosentase Laba Bruto - Waktu
Harga Eceran - Waktu

2.2 Metode FIFO FIFO No


Rata-rata Rata-rata No
LIFO - Waktu
JENIS – JENIS REKONSILIASI FISKAL

PERKIRAAN AKUNTANSI PAJAK BEDA


III. Penghasilan Di Luar Usaha
3.1 Deviden dari Penyertaan DN Pendapatan Bukan Obyek Pajak Tetap
(minimal 25% dan ada usaha lain) (Equity Method)
3.2 Bunga Deposito dan Tabungan Pendapatan PPh Final Tetap
(termasuk Jasa Giro dan SBI) (20%)
3.3 Keuntungan Penjualan Saham di Pendapatan PPh Final Tetap
Bursa Efek Indonesia (0,1% x H Jual
3.4 Keuntungan pengalihan tanah dan
bangunan:
- oleh orang pribadi dan yayasan Pendapatan PPh Final (5%) Tetap
- oleh badan (bukan usaha pokok) Pendapatan PPh 25 (5%) No
- oleh badan (usaha pokok) Pendapatan PPh 23 No
3.5 Penghasilan Sewa
- Badan Pendapatan PPh Final (10%) Tetap
- Orang Pribadi Pendapatan PPh Final (10%) Tetap
3.6 Penghasilan dari Hadiah atas Undian Pendapatan PPh Final (25%) Tetap
JENIS – JENIS REKONSILIASI FISKAL
PERKIRAAN AKUNTANSI PAJAK BEDA
3.7 Bunga atau diskonto Obligasi yang Pendapatan PPh Final Tetap
diperdagangkan di Bursa Efek (15% * bunga)

IV. Beban Usaha


4.1 Biaya yang dipergunakan untuk Realisasi Realisasi No
mendapatkan, menagih dan Penyisihan - Waktu
memelihara penghasilan yang meru-
pakan Obyek Pajak

4.2 Biaya yang dipergunakan untuk Biaya Non Deductible Tetap


mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang bukan
merupakan Obyek Pajak

4.3 PPh pasal 21 (karyawan) Tunjangan PPh 21 Deductible No


Ditanggung Perush Non Deductible Tetap

4.4 Pemberian kenikmatan dalam bentuk - Umum -Non Deductible Tetap


natura - Makan minum di -Deductible No
tempat kerja
- Berkaitan dg -Deductible No
pekerjaan
- Daerah terpencil -Deductible No
JENIS – JENIS REKONSILIASI FISKAL
PERKIRAAN AKUNTANSI PAJAK BEDA
4.5 Sumbangan Biaya Non Deductible Tetap
4.6 Entertainment Daftar Nominatif Deductible No
Tdk Ada Daftar Nominatif Non Deductible Tetap
4.7 Penyusutan -Sesuai pajak Deductible No
- Beda Metode -Beda Metode Deductible Waktu
- Beda umur ekonomis -Beda umur eko. Deductible Waktu
4.8 Kendaraan dibawa pulang Biaya 50% Non Tetap
Deductible
50% Deductible
4.9 Sewa rumah karyawan Tidak diberi tunjangan Non Deductible Tetap
Diberi tunjangan Deductible No
4.10 Biaya pengobatan Penggantian Deductible No
Tunj. Pengobatan Deductible No
Cuma-Cuma Non Deductible Tetap
4.11 SGU dengan hak opsi
Penyusutan aktiva SGU Biaya Non Deductible Waktu
Bunga SGU Biaya Non Deductible Waktu
Jumlah Pembayaran Non Biaya Deductible Waktu
4.12 Biaya lain-lain Tidak dirinci Non Deductible Tetap
Dirinci Deductible No
CONTOH REKONSILIASI FISKAL
PT. TRI JAYA SEKALI
               
Rekonsiliasi Fiskal Perbedaan
Uraian Komersial
Positif Negatif
Fiskal
Tetap Waktu
               
Penjualan bersih            
Penjualan lokal (dagang sparepart)   10.000.000.000 25.000.000   10.025.000.000 25.000.000  
Retur penjualan   500.000.000     500.000.000    
Jumlah penjualan bersih 9.500.000.000 25.000.000 - 9.525.000.000    
               
Jumlah Harga Pokok Penjualan 7.500.000.000 - - 7.500.000.000    
             
Laba Kotor Operasi 2.000.000.000     2.025.000.000    
               
Biaya Usaha            
- Biaya iklan dan promosi   250.000.000     250.000.000    
- Biaya perjamuan (tidak terdapat daftar nominatif) 58.000.000 12.000.000   46.000.000 12.000.000  
- Gaji/honorarium/tunjangan   500.000.000     500.000.000    
- Sumbangan lingkungan perusahaan   15.000.000 15.000.000   - 15.000.000  
- Pendidikan & rekruitmen   199.000.000     199.000.000    
- Biaya cadangan/penyisihan piutang tak tertagih   150.000.000 150.000.000   -   150.000.000
- Penyusutan aktiva (Komersial > fiskal)   125.000.000 50.000.000   75.000.000   50.000.000
- Biaya telepon,listrik dan air   150.000.000   2.500.000 152.500.000 2.500.000  
Jumlah Biaya Usaha 1.447.000.000 227.000.000 2.500.000 1.222.500.000    
               
Laba Bersih Operasi 553.000.000     802.500.000    
               
Penghasilan (Biaya) Luar Usaha            
Penghasilan Luar Usaha (+/+)              
- Deviden dari PT. Poll-tronic (penyertaan 30%)   25.000.000   25.000.000 - 25.000.000  
- Pendapatan jasa giro   15.000.000   15.000.000 - 15.000.000  
- Laba selisih kurs   20.000.000     20.000.000    
               
Jumlah Penghasilan (Biaya) Luar Usaha 60.000.000 - 40.000.000 20.000.000    
               
Laba ( Rugi ) Bersih Usaha 613.000.000 252.000.000 42.500.000 822.500.000 94.500.000 200.000.000
TERIMA KASIH