Anda di halaman 1dari 36

PRESENTASI KASUS

TUMOR COLI SINISTRA


Rifa Nataputri
 
PENDAMPING
dr. H. Yuyu Suparman, Sp. B

INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RSU PAKUWON SUMEDANG
2019
STATUS RUANGAN
IDENTITAS PASIEN
• Nama : TN. S
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Tempat, Tanggal Lahir : Sumedang, 15 Juni 1958
• Umur : 60 tahun
• Alamat : Cikondang
• Agama : Islam
• Status Perkawinan : Kawin
• Ruang Perawatan : IGD
• Pekerjaan : Wiraswasta
• Tanggal Dirawat : 11 Maret 2019
• Tanggal Pemeriksaan : 11 Maret 2019
ANAMNESIS
• KELUHAN UTAMA : Benjolan di leher kiri
• ANAMNESIS KHUSUS :
Pasien datang ke IGD dengan keluhan benjolan di leher kiri sejak kurang lebih 1 bulan
yang lalu. Benjolan terasa keras, cepat membesar, awalnya sebesar telur puyuh dan sekarang
sebesar bola tenis. Di area benjolan kadang terasa nyeri. Pasien sudah berobat ke RSHS dan
akan diberikan kemoterapi, namun Hb pasien tidak memenuhi syarat.
Pasien mengeluhakan pusing, lemas, letih dan lesu. Keluarga pasien mengaku pasien
terlihat pucat sejak 3 hari SMRS. Pasien mengeluhkan adanya demam yang hilang timbul dan
adanya penurunan berat badan yang drastis. Pasien terlihat lebih kurus dari biasanya.
Pasien menyangkal adanya nanah dan darah dari benjolan, pasien juga menyangkal
adanya keluhan sesak dan sulit menelan.
 
• RPD : Pasien belum pernah mengalami keluhan yang sama.
Hipertensi (-), DM (-), alergi obat (-).
• R.pengobatan : pernah berobat 1 kali ke RSHS dan direncanakan
dilakukan kemoterapi
PEMERIKSAAN FISIK
• Keadaan umum: sakit sedang, tampak lemas • Thorax : pulmo :gerakan simteris, retraksi
• Kesadaran : E4M5V6, compos mentis (-), sonor, VBS +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
• Tanda-tanda vital: cor : BJ normal, regular, gallop(-), murmur(-)
Tekanan darah: 130/80 mmHg • Abdomen : cembung, soepel, bising usus
Nadi : 78x, reguler (+), nyeri tekan suprapubic (-),
Respirasi : 20x, tipe abdominotorakal nyeri ketok CVA -/-
Suhu : 37,8 oC • Ekstremitas : akral hangat, capillary refill
  time <2 detik, oedem -/-
STATUS GENERALIS Reflex fisiologis +/+, reflex patologis -/-
• Kepala : pupil bulat, isokor, RC +/+
conjunctiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
kaku kuduk (-), paralisis N VII dan XII (-)
• Status lokalis : a/r coli sinistra
Massa (+), ukuran 6 x 3 x 3 cm, keras, immobile (terfixasi), berbatas
tidak tegas, hiperemis, nyeri tekan (+), pus (-), darah (-)
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
• 11 Maret 2019
Hematologi
Hemoglobin : 7,9 gr/dl
Leukosit : 20.200/uL
GDS : 110 mg/dl
RESUME
Laki-laki 60 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kiri sejak 1 bulan
yang lalu. Benjolan keras, cepat membesar, awalnya sebesar telur puyuh dan
sekarang sebesar bola tenis. Benjolan kadang terasa nyeri, pus (-), darah (-).
Rencanya akan dilakukan kemoterapi namun Hb tidak memenuhi. Keluhan lain
fatigue (+), anemis (+), febris (+), dan penurunan berat badan (+). Pasien
menyangkal adanya keluhan dyspnea, dan disfagia.
Pasien menyangkala memiliki riwayat penyakit lain.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang, compos mentis.
Tekanan darah 130/80 mmHg, nadi 78x, respirasi 20x, dan suhu 37,8oC. Pada bagian
coli sinistra di temukan massa berukuran 6 x 3 x 3 cm, keras, terfixasi, berbatas tidak
tegas, hiperemis, nyeri tekan (+)
Diagnosis Kerja

Tumor Coli Sinistra Anemia


PENATALAKSANAAN
• Nonfarmakologi:
ODC (One Day Care)
Infus Nacl 0,9% 20 tpm
Transfusi PRC 2 labu
FOLLOW UP
Tanggal Dirawat Pemeriksaan Terapi
11/03/2019  Lemas (+), pusing (+) IVFD NaCl 0,9% 20 tpm
Mata : CA +/+ SI -/- Transfusi PRC 2 labu
TD:160/80, N:96, R:20,
S:36

12/03/2019  Lemas (+), pusing (+) IVFD NaCl 0,9% 20 tpm


berkurang Transfusi PRC 1 labu lagi
Mata : CA +/+ SI -/- Setelah transfusi ACC pulang
TD:160/80, N:96, R:20,
S:36
Hb : 8,8 g/dl
TUMOR COLLI
• Definisi
Colli adalah nama latin dari leher. Tumor colli adalah tumor yang
tumbuh di area leher.
• Etiologi
Penyebab tumor colli adalah tumbuh dan berkembangnya sel-sel
abnormal di dalam tubuh.
• Faktor Risiko
Faktor
Ganggu
keturun
Cederaan
Infeksi
Paparan
Karsinog
an
leher
autoimu
virus
radiasi
enik
(genetik
n
)
• Jenis - jenis
Tumor kelenjar tiroid (struma)

Tumor saluran pernapasan (tumor esophagus)

Tumor trakea

Tumor kelenjar lidah (tumor parotis)

Tumor kelenjar getah bening (limfoma)


Tanda dan Gejala

• Muncul benjolan keras (namun tidak nyeri saat ditekan) pada area leher
• Benjolan berwarna kemerahan
• Sakit kepala
• Kepala terasa pusing
• Mual (bisa disertai muntah)
• Pembengkakan kelenjar getah bening
• Sulit menelan
• Penurunan berat badan
• Gagal napas
• Diagnosis
Anamnesi Pemeriks Penunjan
USG CT SCAN MRI BIOPSI
s aan fisik g

• Terapi
1. Operasi
Dilakukan pada tumor jinak untuk mencegah berkembang menjadi keganasan
2. Kemoterapi atau Terapi Radiasi
Dilakukan pada tumor ganas
3. Obat-Obatan
Untuk mengurangi gejala yang timbul akibat tumor colli.
LYMPHOMA
Metastasis Tumor Maligna ke Lymph Node
(Jugular Chain)
LYMPHOMA MALIGNA
• DEFINISI
Merupakan jenis tumor ganas yang berasal dari kelenjar limfoid, terutama kelenjar
limfe yang ditandai dengan proliferasi/akumulasi sel-sel pada jaringan limfoid
seperti limfosit, histiosit dan pro sel derivatnya.

• KLASIFIKASI
Berdasarkan gambaran histo PA limfoma maligna terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
1. Lymphoma Maligna Hodgkin (memiliki gambaran histo PA berupa Reed
Stenberg sel)
2. Lymphoma Maligna Non-Hodgkin
Perbedaan Limfoma Hodgkin
dan Non Hodgkin
Karakteristik Limfoma Hodgkin Limfoma Non Hodgkin
Low Grade Intermediet/High Grade
Tempat Asal Nodal Ekstranodal Ekstranodal (35%)
(10%)
Distribusi Nodal Sentripetal Sentrifugal Sentrifugal
Penyebaran Nodal Contiguous Non-contagious Non-contagious
Keterlibatan Saraf Jarang (<1%) Jarang (<1%) Jarang (<10%)
Pusat
Keterlibatan Hepar Jarang Sering (>50%) Jarang
Keterlibatan Jarang Sering (>50%) Jarang
Sumsum Tulang
Sembuh dengan Ya Tidak Ya
Kemoterapi
MEKANISME

Faktor Risiko ditambah dengan faktor Mutagenic


-Agen infeksi (translokasi kromosom)
-Imunodefisiensi
-Inflamasi kronis
-Lingkungan : paparan agen kimiawi

Abnormalitas cymc gen sebagai pengatur signal proliferasi sel


dan gangguan pada BCl2 yang pengatur signal proapoptotic

Peningkatan proliferasi tanpa dibarengi dengan adanya sinyal apoptosis

Proliferasi sel-sel pada jaringan limfoid


(limfosit, histiosit, sel pro derivate lainnya)

Lymphoma Maligna
HODGKIN LYMPHOMA
• ETIOLOGI
Belum diketahui secara pasti, namun terdapat beberapa faktor risiko :
1. Agen Infeksi berupa Ebstein Barr Virus, cytomegalovirus
2. HIV
3. Genetic predisposisi

• EPIDEMIOLOGI
Insidensi 2.8 kasus per 100.000 individu
Laki-laki lebih sering terkena dibandingkan dengan perempuan (4:1)
Umumnya terjadi pada usia 15-24 tahun dan > 55 tahun
• KLASIFIKASI
Ada 5 tipe lymphoma hodgkin menurut WHO :
1. Nodular sclerosing
2. Mixed cellularity
3. Lymphocyte depleted
4. Lymphocyte rich
5. Nodular lymohocyte predominant
• MANIFESTASI KLINIS
Pembesaran kelenjar getang bening yang tidak nyeri.
Demam, keringat malam.
Penurunan berat badan.
Nyeri abdomen dan hepatosplenomegali.
Nyeri tulang akibat destruksi total/infiltrasi sumsum tulang.
Dapat muncul gejala obstruksi seperti edema ekstremitas dan kompresi medulla
spinalis
• Staging (Ann Arbor Classification)
Stage Deskripsi

I Hanya melibatkan 1 area lymph node (single extranodal site)

II Melibatkan 2 atau lebih area lymph node pada sisi yang sama

III Melibatkan lymph node di dua sisi tubuh (kiri dan kanan)

IV Keterlibatan yang beragam dari organ extranodal (disseminated)


Table 110–8 The Ann Arbor Staging System for Hodgkin's Disease

Stage Definition
I Involvement of a single lymph node region or lymphoid structure (e.g.,
spleen, thymus, Waldeyer's ring)
II Involvement of two or more lymph node regions on the same side of the
diaphragm (the mediastinum is a single site; hilar lymph nodes should
be considered "lateralized" and, when involved on both sides, constitute
stage II disease)
III Involvement of lymph node regions or lymphoid structures on both sides
of the diaphragm
III1 Subdiaphragmatic involvement limited to spleen, splenic hilar nodes,
celiac nodes, or portal nodes
III2 Subdiaphragmatic involvement includes paraaortic, iliac, or mesenteric
nodes plus structures in III1

IV Involvement of extranodal site(s) beyond that designated as "E"


More than one extranodal deposit at any location
Any involvement of liver or bone marrow
A No symptoms
B Unexplained weight loss of >10% of the body weight during the 6
months before staging investigation
Unexplained, persistent, or recurrent fever with temperatures >38°C
during the previous month
Recurrent drenching night sweats during the previous month
E Localized, solitary involvement of extralymphatic tissue, excluding liver
and bone marrow
• MANAGEMENT
kemoterapi dan radioterapi. Indikasi terapi menuut German Hodgkin Lymphoma
Study Group :
Massa mediastinal, ekstranodal, peningkatan ESR >50mm/jam), dan tiga regio yang
terkena
• RADIOTERAPI
Terdiri atas 2 jenis :
1. Involved-field radiation (IFRT)
Merupakan terapi radiasi yang meliputi seluruh area klinis yang
terkena.
2. Involved-node radiation
Merupakan terapi radiasi dengan area pada lymph node ditambah 5 cm
jaringan yang sehat
• KOMPLIKASI
1. Penekanan pada organ sekitar tumor, contoh gangguan jalan nafas,
usus
2. Penyakit jantung, toksisitas pada paru, kanker sekunder.
NON-HODGKIN LYMPHOMA
• ETIOLOGI
1. Translokasi kromosom 18q21 (tempat bcl-2 inhibitor oncogene)
2. Infeksi : EBV, HTLV-1, HCV, Kaposi sarkoma, dan infeksi akibat helicobacter
pylori
3. Faktor lingkungan berupa paparan zat kimia seperti bahan organik kimia,
pestisida, kemoterapi, dan paparan radiasi
4. Penyakit imunodefisiensi
5. Inflamasi Kronis
• EPIDEMIOLOGI
Insidensi 12-15 kaus per 100.000 individu
Laki-laki lebih sering dibanding perempuan (4:1)
Terjadi pada usia >50 tahun, rata-rata pada usia 65 tahun
• KLASIFIKASI
Yang berasal dari sel limfosit B
1. Precursor B-cell neoplasma : lymphoblastic lymphoma
2. Peripheral B-cell lymphoma, co : follicular cell, Burkit cell, Hairy cell
Yang berasal dari sel limfosit T dn NK sel
3. Precursor T cell neoplasma : precursor T sel lymphoblastic lymhpoma
4. Peripheral T cell neoplasma, co : T cell granular LL, Extranodal T/NK cell
lymphoma, null cell lymphoma
• Klasifikasi Lymhoma Working Formulation
1. Low Grade
Contohnya : small lymhocytic, follicular cell
Manifestasi : terdapat benjolan kelenjar getah bening yang keras dan tidak nyeri,
progresivitas lambat, cytopenia, hepatosplenomegaly.
2. Intermediet Grade
Contohnya : follivular large cell, diffuse (small cleave cell)
3. High Grade
Contohnya : large cell imunoblastic, lymphoblastic smal, non cleave cell Burkitt.
Manifestasi klinis jenis intermediet dan high grade berupa terdapat benjolan
kelenjar getah bening yang tidak nyeri, demam, berkeringat di malam hari,
penurunan berat badan >10% dalam 6 bulan, keterlibatan extranodal.
• MANAGEMENT
Pilihan terapi : kemoterapi, radioterapi, dan pembedahan (hanya pada kasus tertentu)

Low grade : kemoterapi obat (chlorambucil/ cyclophosphamid) per oral dan radioterapi
palliativ
Intermediet grade : kemoterapi parenteral, radioterapi palliativ
High Grade : kemoterapi parenteraal kombinasi, radioterapi paliativ

Kombinasi kemoterapi :
1. CVP : prednison, cyclophosphamid
2. CHOP : donorubicin, prednison, cyclophophamide
• KOMPLIKASI
Penekanan organ disekitar massa tumor, contohnya pada jalan nafas
Akibat radioterapi dapat menimbulkan keganasan sekunder.
Pemberian kemoterapi menimbulkan gejala mual muntah, cytopenia,
neuropathy, fatigue.