Anda di halaman 1dari 36

BAHAN KIMIA

BERBAHAYA
DISUSUN OLEH:
Mahesa Candra Aditama (P07220118093)
Muhammad Akbar Naim (P07220118094)
Marizka Nur Aisyah (P07220118085)
Najla Nuwairah (P07220118095)
BAHAN KIMIA BERBAHAYA
Bahan berbahaya adalah bahan-bahan yang
pembuatan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan
dan penggunaanya menimbulkan atau membebaskan
debu, kabut, uap, gas, serat, atau radiasi sehingga dapat
menyebabkan iritasi, kebakaran, ledakan, korosi,
keracunan dan bahaya lain
1. Penggunaan Bahan Kimia
Bahan kimia banyak digunakan dalam
lingkungan kerja yang dapat dibagi dalam tiga
kelompok besar yaitu :
a. Industri Kimia
b. Industri Pengguna Bahan Kimia
c. Laboratorium
2. Klasifikasi Umum
Secara umum bahan kimia berbahya diklasifikasikan
menjadi beberapa golongan diantaranya sebagai
berikut :
1. Bahan Kimia Beracun (Toxic)
2. Bahan Kimia Korosif
3. Bahan Kimia Mudah Tebakar (Flammable)
4. Bahan Kimia Peledak (Explosive)
5. Bahan Kimia Oksidator (Oxidation)
6. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Air (Water Sensitive
Substances)
7. Bahan Kimia Reaktif Terhadap Asam (Acid Sensitive
Substances)
8. Gas Bertekana (Compressed Gases)
9. Bahan Kimia Radioaktif (Radioactive Substances)
Tips umum untuk keamanan bahan
kimia
• Selalu membaca label pada botol kimia.
• Selalu ikuti petunjuk dan tindakan pencegahan
yang tercantum pada label.
• Jangan menggunakan bahan kimia yang Anda
tidak yakin apa itu atau bagaimana melindungi
diri sendiri.
• Selalu meluangkan waktu untuk melindungi diri
sendiri dan orang-orang yang bekerja di sekitar
Anda.
• Selalu membuang bahan kimia yang benar.
Mengendalikan bahaya kimia di tempat kerja
• Mengurangi atau menghilangkan penggunaan bahan kimia
berbahaya bila memungkinkan.
• Menjaga sistem ventilasi yang memadai untuk mengurangi
konsentrasi bahan kimia di udara.
• Praktek kebersihan pribadi yang baik (misalnya cuci tangan)
dan mempertahankan biasa rutinitas membersihkan tempat
kerja.
• Memperkenalkan kontrol administratif untuk meminimalkan
paparan bahan kimia
• Gunakan alat pelindung diri.
• Menjaga peralatan agar selalu dalam keadaan baik untuk
mencegah kebocoran dan kerusakan yang mungkin
melepaskan zat beracun.
Penanganan pada Asam Kuat
•Asam klorida (HCl)
•Asam nitrat (HNO3)
•Asam sulfat (H2SO4)
•Asam bromida (HBr)
•Asam iodida (HI)
•Asam klorat (HClO3)
•Asam perklorat (HClO4)
Bila Terkena Kulit
1. Gunakan pelindung
Sebelum melakukan pertolongan pertama bila kulit terkena percikan
asam klorida, gunakan sarung tangan atau pelindung lainnya

2. Melepaskan baju yang terpercik asam klorida


Pertolongan pertama bila kulit terkena percikan asam klorida
adalah dengan melepaskan baju yang terkena asam klorida dari kulit
penderita. Lepas kain secara perlahan agar tidak menyentuh daerah
lainnya. Jika memungkinkan, sebaiknya robek atau gunting baju
untuk melepaskannya dari penderita. Jangan lap daerah kulit yang
terpercik asam klorida karena cairan dapat menyebar dan melukai
bagian kulit lainnya
3. Bersihkan daerah yang terpercik asam klorida
Alirkan air sejuk yang bersih secara perlahan pada kulit yang
terpercik asam klorida selama setidaknya 20 menit. Pastikan air
yang dialirkan tidak tertumpah atau terkena daerah tubuh lainnya.

4. Lapisi bagian kulit yang terpercik asam klorida


Anda dapat mengalirkan air hingga bantuan tiba, atau Anda dapat
melapisi luka bakar akibat terpercik asam klorida dengan kain kasa
atau kain bersih biasa yang kering. Ikat pada luka dengan kain
secara longgar.
Penanganan bila kulit terkena percikan asam klorida
Saat bantuan sudah tiba dan penderita percikan asam klorida sudah
dibawa ke rumah sakit, dokter akan segera membasuh kembali asam
klorida pada luka bakar dengan air sampai cairan asam klorida sudah
benar-benar hilang. Kemudian, dokter akan membersihkan luka
bakar dan melapisinya dengan penutup luka yang sesuai.
Dokter akan menyuntikkan vaksin tetatus untuk mengurangi risiko
penderita mengalami infeksi bakteri tetanus. Pada kasus yang parah,
penderita harus dirawat inap dan menjalani bedah untuk mengganti
bagian kulit yang terpercik asam klorida dengan bagian kulit di
daerah tubuh lainnya.
Bila Terkena Mata
Jika air keras ini masuk ke mata, alirkan air bersih pada mata
selama setidaknya 10 menit. Hal ini membantu membuat mata
teraliri air baik bagian dalam serta luar.
1. Jangan sentuh mata karena ada kemungkinan terdapat air
keras yang masih menempel pada tangan.

2. Jika seseorang menggunakan lensa kontak saat terpapar atau


mendapat serangan air keras, jangan mencopotnya secara
paksa.
3. Pastikan air yang kamu gunakan untuk mengatasi rasa terbakar
di mata ini tidak terpapar zat kimia lain.
Bila Terhirup
1. Bawa ke Ruangan atau udara yang segar
2. Jika dibutuhkan Pasang O2
3. Apabila penderita menghirup racun dari udara yang
tercemar, misalnya gas karbon monoksida, segera bawa ia
keluar dari lokasi untuk menghirup udara yang lebih bersih.
4. Jika penderita muntah dalam posisi berbaring, miringkan
kepalanya ke samping untuk mencegah ia tersedak.
Bila Tertelan
1. Minta penderita untuk meludahkan sisa racun yang masih ada
di mulut.
2. Jika penderita muntah secara tidak sengaja, segera bersihkan
mulut dan tenggorokannya.
3. Bila penderita tidak sadarkan diri, cobalah untuk
membangunkannya, lalu minta ia untuk meludahkan sisa racun
yang masih terdapat di mulutnya.
4. Sambil menunggu pertolongan medis datang, baringkan
penderita dengan posisi miring ke arah kiri dan berikan bantal
atau penyangga pada punggungnya.
5. Jika korban keracunan sadar, minta ia untuk duduk dan
pastikan penderita tetap sadar hingga tim medis datang.
6. Jika zat berbahaya tersebut mengenai baju atau kulit penderita,
segera bersihkan.
7. Apabila korban keracunan tidak bernapas, lakukan prosedur
CPR (resusitasi jantung paru)jika Anda mengetahui caranya.
Asam asetat
TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA
1. Mata
Jika terkena mata segera siram dengan air bersih yang banyak dan mengalir
sekurang-kurangnya selama 10 menit. kemudian hubungi petugas medis
segera.
2. Kulit
Jika terkena kulit, segera basuh kulit dengan air yang banyak dan mengalir
sedikitnya selama 15 menit. Olesi dengan Polyethylene Glycol atau dapat
menghubungi perawatan medis dengan segera. Jika terkena pakaian, segera
lepaskan pakaian yang terkontaminasi
3. Terhirup
Jika terhirup, segera cari tempat yang mengandung udara bersih dan segar.
Jika pingsan, berikan pernapasan buatan. Jika sulit bernapas, berikan
oksigen. Dapatkan medis perhatian segera.
4. Tertelan
Diusahakan untuk tidak memuntahkannya kecuali bila diarahkan oleh
petugas medis. Berikan air minum yang banyak. Jangan pernah memberikan
apapun melalui mulut kepada orang yang pingsan.
TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PERLINDUNGAN DIRI
1. Jauhkan dari api dan sumber api.
2. Jangan ditelan. Jika tertelan, segera dapatkan saran medis dan
tunjukan wadah atau label.
3. Pribadi perlindungan: Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)
berupa splash kacamata, sintetis celemek, uap respirator,
masker, boots, sarung tangan dan sebuah alat bernafas mandiri
contained harus digunakan untuk menghindri inhalasi produk.
Tahan nafas jika berhadapan dalam bentuk
gas/asap/uap/semprotan.
4. Jangan pernah menambahkan air pada produk ini. Dalam hal
ventilasi cukup, pakai pernapasan yang sesuai eralatan.
5. Hindari kontak dengan kulit dan mata.
6. Jauhkan dari incompatibles seperti agen oksidasi, mengurangi
agen logam, asam, alkali.
7. Rekayasa kontrol: sediakan ventilasi pembuangan atau kendali
teknik lain.
Asam fluorida
TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA
1. Jika terhirup : Jika aman untuk memasuki area, jauhkan
korban dari paparan. Gunakan masker kantong berkatup
atau peralatan sejenis
2. yang Jika tertelan : Jangan pernah merangsang korban
pingsan untuk muntah atau meminum cairan. Berikan air
atau susu yang banyak. Agar dibolehkan untuk muntah.
Ketika terjadi muntah, jaga agar posisi kepala lebih rendah
dari pinggul untuk mencegah aspirasi.
3. Jika terkena mata : Basuh mata segera dengan air yang
banyak, dan sesekali membuka kelopak mata atas dan
bawah hingga tidak ada bahan kimia yang tertinggal.
4. Jika terkena kulit : Lepaskan segera pakaian, perhiasan dan
sepatu yang terkontaminasi. Cuci bagian yang terkena
dengan sabun atau deterjen lunak dengan jumlah air yang
banyak hingga tidak ada bahan kimia yang tertinggal
TINDAKAN PENANGANAN TUMPAHAN/ BOCORAN
1. Di tempat kerja :
a) Jangan sentuh bahan yang tumpah. Hentikan kebocoran jika
dapat dilakukan tanpa risiko. Kurangi uap dengan
menyemprotkan air.
b) Tumpahan sedikit : Serap dengan menggunakan pasir atau
bahan lain yang tidak dapat terbakar. Kumpulkan bahan yang
tumpah ke dalam kemasan yang sesuai untuk pembuangan.
c) Tumpahan banyak : Bendung tumpahan untuk pembuangan
lebih lanjut. Isolasi daerah bahaya dan orang yang tidak
berkepentingan dilarang masuk.
2. Udara : Kurangi uap dengan menyemprotkan air.
3. Air : Tambahkan bahan alkali (kapur, batu kapur/ gamping.
4. Tanah : Gali tempat penampungan seperti lagoon, kolam atau
lubang.
Asam sianida
Pertolongan pertama untuk korban yang menghirup atau
meminum racun sianida
1. Cepatlah bawa korban untuk menghirup udara bersih.
2. Kalau korban berada di tempat yang penuh dengan gas
sianida yang juga akan membahayakan, tetaplah di tempat
Anda. Tunggu sampai ruangan sudah bebas dari gas racun
tersebut atau tunggu pertolongan tim ahli datang.
3. Kalau korban kesulitan bernapas atau bahkan berhenti
bernapas, lakukanlah cardiopulmonary resuscitation (CPR)
sesuai dengan usia korban: bila korban masih anak-anak,
maka lakukanlah CPR untuk anak-anak, kalau korban adalah
orang dewasa, lakukan CPR untuk orang dewasa.
4. Jangan lakukan resusitasi mulut ke mulut (usaha untuk
menyadarkan korban dengan melakukan ventilasi buatan
mulut ke mulut)
Asam benzoat
Tindakan Pertolongan Pertama
1. Penghirupan : pindahkan korban ke tempat udara segar. Bila
sulit bernafas beri oksigen dan bawa ke dokter
2. Terkena kulit : cuci dengan air atau air sabun dan bilas
dengan air bersih. Jika kontak dengan kulit serius, maka cuci
dengan sabun dan tutup dengan cream antimikroba. Segera
hubungi dokter, bila terjadi iritasi
3. Terkena mata : periksa dan buka lensa kontak. Cuci dengan
air bersih, alirkan air minimal selama 15 menit. Bawa ke
dokter, bila terjadi iritasi
4. Tertelan : segera beri korban minum air putih (dua gelas
paling banyak). Jika dalam jumlah besar asam benzoat
ditelan. Periksakan ke dokter
BASA KUAT
Basa kuat adalah jenis senyawa sederhana yang dapat
mendeprotonasi asam sangat lemah di dalam reaksi asam-basa
Berikut ini adalah daftar basa kuat:
• Kalium hidroksida (KOH)
• Barium hidroksida (Ba(OH)2)
• Caesium hidroksida (CsOH)
• Natrium hidroksida (NaOH)
• Stronsium hidroksida (Sr(OH)2)
• Kalsium hidroksida (Ca(OH)2)
• Magnesium hidroksida (Mg(OH)2)
• Litium hidroksida (LiOH)
• Rubidium hidroksida (RbOH)
Irigasi
Irigasi merupakan komponen penting dari terapi aktif cedera
kimia. Sebaiknya irigasi dilakukan secara adekuat pada semua
luka dan area yang terpajan dengan volume air yang besar dan
tekanan sedang. Penyemprotan dengan tekanan tinggi justru
harus dihindari agar bahan kimia tidak semakin tersebar ke
daerah yang sebelumnya tidak terekspos, atau semakin dalam
meresap ke jaringan yang sudah terkena.
Jika area wajah dan mata terlibat, maka lokasi tersebut
sebaiknya diirigasi terlebih dahulu. Irigasi daerah wajah
mencegah bahan kimia terinhalasi atau tertelan sehingga
menimbulkan masalah lebih lanjut. Sementara itu, irigasi dini di
daerah mata akan mencegah timbulnya konjungtivitis
berkepanjangan maupun ulserasi kornea.
Kulit
Paparan terhadap asam tidak perlu diirigasi terlalu lama (hanya
hingga pH mata netral tercapai). Namun, paparan terhadap
alkali sebaiknya diirigasi selama 2-3 jam tanpa memperhatikan
pH. Sebaiknya pH diukur 10-15 menit setelah irigasi agar
menunjukkan pengukuran yang akurat.
Mata
Pada mata, paparan agen alkali dapat menyebabkan
saponifikasi membran fosfolipid sehingga menghasilkan
kerusakan yang lebih parah. Sel epitel akan segera mati dan agen
alkali tersebut akan mempenetrasi lebih dalam ke mata.
Irigasi pada trauma kimia mata yang biasa membutuhkan
sekitar 15-30 menit karena umumnya hanya berada pada
kedalaman kornea. Namun, jika diketahui agen penyebabnya
sangat toksik, maka irigasi dilanjutkan hingga pH netral tercapai
(antara 6,5 hingga 7,5), atau bahkan lebih lama jika
penyebabnya adalah agen alkali (dapat memerlukan irigasi > 2
jam). pH mata harus diperiksa setipa 15-30 menit.
Bahan kimia tertelan (caustic ingestion)
Pengosongan lambung merupakan kontraindikasi,
sementara penggunaan activated charcoal tidak efektif dan
justru akan mengganggu endoskopi yang mungkin harus
dilakukan. Pasien dapat diberikan air untuk dilusi, jangan
diberikan antidotum karena justru akan menghasilkan panas
akibat reaksi eksotermik yang dihasilkan antara bahan aktif dan
antidotum
Bahan Kimia yang Tidak Boleh Langsung Diirigasi
1. Fenol, karena tidak larut dalam air.
2. Logam elemental (contoh: sodium, kalium, fosfor), karena
mengeluarkan produk sampingan yang beracun ketika
terkena air.
3. Dry lime, karena mengandung kalsium oksida yang ketika
terkena air membentuk kalsium hidroksida, sebuah alkali
kuat
Obat-obatan
Peran obat-obatan terbatas dalam luka bakar kimia.
• Pada luka bakar kimia yang melibatkan kulit dan mata, dapat
diberikan antibiotik. Contoh pilihan antibiotik yang dipakai
antara lain: Silver sulfadiazine (untuk kulit), Erythromycin
ophthalmic / E-mycin (untuk mata), Neomisin/polisitrin
B/Basitrasin (untuk kulit, khususnya daerah wajah).
• Peran steroid masih kontroversial untuk caustic ingestion
namun dapat membantu jika ada inflamasi saluran napas atas.
• Analgetik memegang peranan penting dalam penanganan
lanjutan pasien.
Penanganan pada basa lemah
Basa lemah:
1. Amonium hidroksida (NH4OH)
2. Aluminium hidroksida (Al(OH)3)
3. Besi (III) hidroksida (Fe(OH)3)
4. Amoniak (NH3)
5. Besi (II) hidroksida (Fe(OH)2)
6. Karbosium hidroksida (CA(OH)3)
7. Nikel hidroksida (Ni(OH)2)
8. Seng hidroksida (Zn(OH)2)
1. Bila terkena Mata

1. Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah


dan miring ke sisi mata yang terpapar.
2. Secara perlahan bukalah kelopak mata dan bilas dengan
sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9% perlahan
selama15-20 menit.
3. Hindari bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya.
4. Jika masih belum yakin bersih, bilas kembali selama 10 menit.
5. Jangan biarkan pasien menggosok matanya.
6. Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan segera
kirim/konsul ke dokter mata
2. Bila terkena Kulit (termasuk rambut dan kuku)

1. Bawa segera pasien ke air mengalir atau pancuran terdekat.


2. Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan
menggunakan sarung tangan, masker hidung dan apron.
Hati-hati untuk tidak menghirupnya.
3. Lepaskan pakaian, arloji dan sepatu yang terkontaminasi zat
racun atau muntahannya dan simpan dalam wadah/plastic
tertutup.
4. Cuci (scrubbing) segera bagian kulit yang terkena dengan air
mengalir dingin atau hangat dan sabun minimal 10 menit.
5. Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan
kain atau kertas secara lembut. Jangan digosok.
6. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut
3. Bila tertelan
1. Dekontaminasi tidak dianjurkan.
2. Segera bilas agar bahan keluar dari mulut dengan air. Cairan
melalui mulut (oral) harus dihindari karena risiko muntah,
dengan risiko membantu aspirasi dan terpapar ulang dari
kerongkongan ke zat korosif ini.
3. Pemberian arang aktif tidak diindikasi karena tidak cukup
menyerap zat ini dan akan mengganggu visibilitas jika
endoskopi diperlukan.
4. Aspirasi nasogastrik, kumbah lambung dan irigasi seluruh
usus merupakan kontraindikasi. Tidak ada manfaat yang
telah terbukti dari prosedur ini, dan ada risiko yang signifikan
dari perforasi selama intubasi lambung.
5. Rangsang muntah merupakan kontraindikasi karena risiko
terjadi paparan ulang dari kerongkongan dan atau aspirasi,
serta meningkatkan tekanan intraluminal yang diproduksi
oleh emesis.
• PENGKAJIAN KESEHATAN KESELAMATAN KERJA SECARA UMUM
• Tanggal Pengkajian : 26 September 2014
• Data Umum
• Nama Perusahaan :
• Jenis Perusahaan :
• Alamat :
• Telpon :
• Kepemilikan :
• Luas Wilayah dan Denah Perusahaan
• 1000m²...............................................................................................................
...........
• ..........................................................................................................................
• Struktur organisasi dan manajemen
• ..........................................................................................................................
• Fasilitas Umum :
• Fasilitas Kesehatan: P3K
• Jumlah Pegawai : 100 orang
• Proses Kerja :
• Omset :Rp 150.000.000 /bulan
•  
• Pengkajian Keselamatan
• Standar Keselamatan dan Kesehatan Perusahaan (+jaminan
kesehatan) : Masker, sarung tangan, sepatu boots
• Tenaga Medis/ParaMedis Perusahaan (+Sistem Rujukan) : Klinik
terdekat
• Petugas Keselamatan Kerja : Tidak ada
• Pemeriksaan Kesehatan Berkala : Tidak ada
• Jalur Evakuasi : Tidak ada
• Ketersediaan Alat kegawatdaruratan : alat pemadam api
• Pemeliharaan Peralataan : Setiap hari sabtu dilakukan pengecatan
ulang untuk menghindari karat pada mesin
• Penkes tentang Keamanan, keselamatan dan kesehatan Kerja :
Tidak ada
• 
• Pengkajian Lingkungan Perusahaan
• Fisik Gedung
• Suhu : panas
• Bahan :
• Ventilasi/Cahaya/Radiasi : Terbuka, sehingga cahaya dan ventilasi udara lancar
• Kebersihan : kurang bersih dari segi tempat dan proses produksi
• Pengolahan Air Limbah : air sisa pencucian bahan baku garam dipakai
beberapa kali, terdapat saluran pembuangan air sisa cucian garam
• Sanitasi : tempat produksi yang kumuh dan tidak tertata rapi
• Keamanan Bongkar Muat : masih memakai buruh bongkar muat, tidak
memakai mesin/alat bantu khusus
• Keamanan Penyimpanan Barang : terdapat gudang khusus penyimpanan
bahan baku dan hasil produksi
• Bahaya dari bahan pengolahan :-
• Bahaya dari proses pengolahan : alat pemanggang garam dan press garam
batang yang dapat melukai pegawai
• Bahaya dari Lingkungan pengolahan : lantai pabrik yang tidak rata
dan sebagian pegawai yang bertugas di bagian atas mesin sangat
rentan terjadi kecelakaan seperti jatuh, robohnya alas bagian atas
yang terbuat dari kayu
• 
• Pengkajian Keselamatan Pekerja
• Fisik
• Beban Kerja
• Penggunaan Alat Bantu : menggunakan mesin dalam proses
pemanasan garam halus, alat press garam batang, dan mesin kemasan,
sisanya dilakukan secara manual seperti pencampuran yodium,
pengemasan garang batang.
• Teknologi yg Digunakan :
• Beban Tambahan : suhu dan asap dari proses produksi
• Tingkat Pendidikan : sebagian besar pegawai berpendidikan SD
• Bahaya dari Cara Kerja : kurang memperhatikan alat pelindung diri
• Pelatihan yg diikuti : Tidak ada
• Jam Kerja : pukul 07.00 s/d 16.00 WIB
• Penghasilan Pekerja :
• Kelelahan :
• Keamanan Pekerja
• APD yg digunakan : hanya sarung tangan,
• Seragam : Tidak ada
• Keamanan Alat terhadap Pekerja :
• Hygine Pekerja :
• 
• Lingkungan
• Ketersediaan P3K : Obat-obatan seadanya
• Bahan, Bangunan, Peralatan
• Kapasitas Kerja
• Perilaku Pekerja
• Istirahat : 1 jam
• Kesegaran Jasmani
• Status Kesehatan
• Usia : 16-45 tahun
• 
• Kecelakaan Kerja
• Pernah terjadi luka ringan pada pegawai yang tidak menggunakan
alas kaki.
• Analisa mengapa terjadi kecelakaan kerja
• Lingkungan pabrik yang tidak tertata rapi dan pegawai yang tidak
menggunakan APD sehingga kemungkinan cedera sangat tinggi
• Penyakit Yang timbul dari kerja
• ISPA, masalah pernafasan
• Analisa mengapa terjadi penyakit akibat kerja
• Asap dan panas dari proses pengeringan dan pemanggangan
garam terhirup langsung oleh pegawai yang tidak menggunakan
masker
• Pencemaran yang terjadi
• Kondisi air sumur di sekitar pabrik kurang baik
• Analisa mengapa terjadi Pencemaran
• Air dari sisa pencucian bahan baku garam menyerap ke tanah
sehingga air sumur di sekitar pabrik menjadi berasa sedikit asin.

• Keluhan Kerja
• Tidak mendapat fasilitas alat pelindung diri seperti sarung
tangan, masker, dan sepatu boot,

• Keluhan Warga sekitar


• Air sumur yang terdapat di lingkungan pabrik menjadi tidak
layak konsumsi karena air menjadi berasa sedikit asin

• Penanggulangan Perusahaan jika terjadi Kecelakaan Kerja


: dirujuk ke klinik terdekat
• Pencegahan yg dilakukan untuk antisipasi kecelakaan
• Analisa Resiko Kecelakaan
• Sejauh mana Penanggulangan Perusahaan
• Perusahaan pernah dilakukan penelitian tentang K3 ?
•