Anda di halaman 1dari 30

Asuhan keperawatan mata

katarak

D I E L L A M I R A B E L A M A N D A ( P 0 7 2 2 0 11 8 0 6 2 )

DHANI RIZKY ANJANI ( P 0 7 2 2 0 11 8 0 7 6 )

M A R D I YA N A ( P 0 7 2 2 0 11 8 0 8 2 )

T A S YA A L M A N A N D A C A N T I K A ( P 0 7 2 2 0 11 8 1 0 5 )
 
definisi

katarak adalah kekeruhan lensa mata atau kapsul


lensa yang mengubah gambaran yang diproyeksikan
pada retina . Katarak merupakan penyebab umum
kehilangan pandangan secara bertahap
Klasifikasi katarak

1. Katarak congenital adalah kekeruhan pada lensa


yang timbul pada saat pembentukan lensa. Kekeruhan
sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini
sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu
yang menderita rubella, DM, toksoplasmosis,
hipoparatiroidisme, galaktosemia.
lanjutan

2. Katarak Primer
Katarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu atarakjuvenilis (umur
<20 tahun), katarak senilis (umur >50 tahun ). Katarak primer dibagi menjadi
empat stadium :
1) Stadium Insipien
Jenis katarak ini adalah stadium paling dini. Visus belum terganggu, dengan
koreksi masih bisa 5/5 -6/6. Kekeruha terutama terdapat pada bagian perifer
berupa bercak-bercak seperti jari-jari roda.
2) Stadium Imatur
Kekeruhan sebelum mengenai seluruh lapisan lensa, terutama terdapat dibagian
posterior dan bagian belakang nucleus lensa. Shadowtestposotif. Saat ini
mungkin terjadi hidrasi korteks yang menyebabkan lensa menjadi cembung
sehingga indeks refraksi berubah dan mata menjadi miopa. Keadaan ini disebut
intumesensi. Cembungnya lensa akan mendorong iris kedepan, menyebabkan
sudut bilik mata depan menjadi sempit dan menimbulkan komplikasi glaucoma.
lanjutan

3) Stadium Matur
Pada stadium ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan
berukuran normal kembali. Saat ini lensa telah keruh seluruhnya
sehingga semua sinar yang masuk pipil dipantulkan kembali.
Shadow tes negative .Di pupil tampak lensa seperti mutiara.
4) Stadium Hipermatur (Katarak Morgagni)
Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nucleus
lensa turun karena daya beratnya. Melalui pupil, nucleus terbayang
sebagai setengah lingkaran dibgian bawah dengan warna berbeda
dari yang diatasnya yaitu kecoklatan. Saat ini juga terjadi kerusakan
kapsul lensa yang menjadi lebih permeable sehingga isi korteks
dapat keluar dan lensa menjadi kempis yang dibawahnya terdapat
nucleuslensa
komplikasi

1) Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa,


glaucoma, ablasio retina yang sudah lama, uveitis,
myopiamaligna.
2) Penyakit siskemik, DM, hipoparatiroid,
sindromdown, dermatritisatopic.
3) Trauma, trauma tumpul, pukulan, benda asing
didalam mata terpajan panasa yang berlebihan, sinar
X, radio aktif, terpajan sinar matahari, toksik kimia.
(Ilyas, 2005)
Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain
a. Usia lanjut dan proses penuaan
b. Congenital atau bisa diturunkan.
c. Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti
merokok atau bahan beracun lainnya.
d. Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik
(misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
a. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera
pada mata.
b. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti:
penyakit/gangguanmetabolisme, proses peradangan pada mata, atau
diabetes melitus.
c. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
d. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka
panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
e. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik.
Manifestasi Klinis

a. Kehilangan pengelihatan secara bertahap dan tidak


nyeri.
b. Pengelihatan baca yang buruk.
c. Pandangan seilau yang mengganggu dan
pengelihatan buruk pada sinar matahariyang terang.
d. Pandangan silau yang membutakan akibat lampu
sorot mobil pada pengemudidimalam hari.
e. Kemungkinan memiliki pengelihatan pada cahaya
yang redup dibandingkandengancahaya yang terang.
f. Area putih keabu – abuan dibelakang pupil.
Patofisiologi

Lensa berisi 65% air, 35% protein dan mineral penting. Lensa
yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai
kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen
anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada
korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsulaanterior
dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nukleus mengalami
perubahan warna menjadi coklat kekuningan.
Katarak merupakan kondisi penurunan ambilan oksigen,
penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya
protein yang dapat larut menjadi tidak larut. Pada proses
penuaan, lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami
peningkatan dalam ukuran dan densitasnya
lanjutan

Katarak bisa terjadi bilateral, dapat disebabkan oleh


kejadian trauma atau sistemis (diabetes) tetapi
paling sering karena adanya proses penuaan yang
normal. Faktor yang paling sering berperan dalam
terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-
obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin
antioksidan yang kurang dalam jangka waktu yang
lama.
Pemeriksaan Penunjang

a. Kartu mata snellen / mesin telebinokuler : mungkin terganggu


dengan kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan
refraksi, penyakit sistem saraf, penglihatan retina.
b. Lapang penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor,
karotis, glukoma.
c. Pengukuran Tonografi : TIO (12-25 mmHg)
d. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma.
e. Tes Provokatif : menentukan adanya / tipe glukoma.
f. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng
optik, papiledema, perdarahan.
g. Darah lengkap, LED : menunjukkan anemisistemik/ infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, lipid, tes toleransi glukosa : kontrol DM.
Penatalaksanaan Medis

1) Ekstraksi lensa intrakapsular


Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada
katarak senil. Lensa dikeluarkan berama-sama dengan kapsul lensanya
dengan memutus zonulaZinn yang telah pula mengalami degenerasi.
a) Dibuat flep konjungtiva dari jam 9.00 sampai 3.00 melalui jam 12.
b) Dilakukan fungsi bilik mata depan dengan pisau.
c) Luka kornea diperlebar seluas 1600
d) Dibuat iridektomi untuk mencegah glaucoma blokade pupil pasca
bedah.
e) Dibuat jahitan korneosklera.
f) Lensa dikeluarkan dengan krio.
g) Jahitan kornea dieratkan dan ditambah.
h) Flepkonjungtifa dijahit.
lanjutan

2) Ekstraksi Lensa Ekstrakapsular


Pada ekstraksi lensa kapsuler dilakukan tindakan sebagai berikut :
a) Flep konjungtiva antara dasar dengan fornik pada limbus dibuat
dari jam 10.00 – 14.00
b) Dibuat pungsi bilik mata depan.
c) Melalui pungsi ini dimasukkan jarum untuk kapsulotomi
anterior.
d) Dibuat luka dari jam 10 sampai jam 2.
e) Nucleus lensa dikeluarkan.
f) Sisa korteks lensa dilakukan irigasi sehingga tinggal kapsul
posterior saja.
g) Luka kornea dijahit.
h) Flepkonjungtifa dijahit.
Fakoemulsifikasi

Ekstraksi lensa dengan fakoemulsifikasi, yaitu teknik operasi katarak


modern menggunakan gel, suara berfrekuensi tinggi, dengan sayatan
3 mm pada sisi kornea. Fakoemulsifikasi adalah teknik operasi
katarak terkini. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil
(sekitar 2-3 mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan digunakan
untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phaco akan
menyedot massa katarak yang telah hancur tersebut sampai bersih.
Sebuah lensa Intra Ocular (IOL) yang dapat dilipat dimasukkan
melalui irisan tersebut. Untuk lensa lipat (foldable lens)
membutuhkan insisi sekitar 2.8 mm, sedangkan untuk lensa tidak
lipat insisi sekitar 6 mm. Karena insisi yang kecil untuk foldable lens,
maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang
memungkinkan dengan cepat kembali melakukan aktifitas sehari-
hari
Asuhan Keperawatan Mata Katarak
1. Pengkajian
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan katarak adalah :
 a. Identitas
Berisi nama, usia, jenis kelamin, alamat, dan keterangan lain mengenai
identitas pasien. Pada pasien dengan katarak konginetal biasanya sudah terlihat
pada usia di bawah 1 tahun, sedangakan pasien dengan katarak juvenile terjadi
pada usia < 40 tahun, pasien dengan katarak presenil terjadi pada usia sesudah 30-
40 tahun, dan pasien dengan katark senilis terjadi pada usia > 40 tahun.
 b. Riwayat penyakit sekarang
Merupakan penjelasan dari keluhan utama. Misalnya yang sering terjadi
pada pasien dengan katarak adalah penurunan ketajaman penglihatan.
 c. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit sistemik yang di miliki oleh pasien seperti DM, h
ipertensi, pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolic lainnya
memicu resiko katarak.
 d. Aktifitas istirahat
Gejala yang terjadi pada aktifitas istirahat yakni perubahan aktifitas biasanya
atau hobi yang berhubungan dengan gangguan penglihatan.
f. Nyeri / kenyamanan
Gejalanya yaitu ketidaknyamanan ringan / atau mata
berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau tekanan pada
atau sekitar mata, dan sakit kepala.
g. Pembelajaran / pengajaran
Pada pengkajian klien dengan gangguan mata ( katarak)
kaji riwayat keluarga apakah ada riwayat diabetes atau
gangguan sistem vaskuler, kaji riwayat stress, alergi,
gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena,
ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat
terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.
Diagnosa keperawatan

a. Pre operasi :
1) Gangguan persepsi sensori b.d gangguan penglihatan
2) Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi
3) Defisit perawatan diri b.d kelemahan
4) Resiko cedera b.d perubahan sensasi
b. Post operasi :
1) Nyeri akut b.d agen pencedera fisik
2) Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi
3) Defisit perawatan diri b.d kelemahan
4) Resiko infeksi b.d efek prosedur invasif
5) Resiko cedera b.d perubahan sensasi
Rencana Keperawatan
a. Pre operasi :
1) Gangguan persepsi sensori b.d gangguan penglihatan
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam gangguan persepsi sensori membaik
Kriteria hasil : verbalisasi melihat bayangan menurun, distorsi sensori menurun,
Intervensi keperawatan :
a) Memeriksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan
b) Membatasi stimulus lingkungan
c) Mengajarkan cara meminimalisasikan stimulus
d) Mengkolaborasi dalam meminimalisasikan prosedur / tindakan
2) Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tingkat pengetahuan
meningkat
Kriteria hasil : perilaku klien sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang
suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
Intervensi keperawatan :
a) Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
b) Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan
c) Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
d) Mengajarkan tidak menyentuh mata
e) Mengajarkan memonitor kemerahan, eksudat atau ulserasi
3)Defisit perawatan diri b.d kelemahan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tingkat
perawatan diri meningkat
Kriteria hasil : kemampuan mandi klien meningkat, kemampuan menggunakan
pakaian meningkat, verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat
Intervensi keperawatan :
a) Memonitor tingkat kemandirian
b)Mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan
makan
c) Mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
d)Memfasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri
e) Menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan
4)Resiko cedera b.d perubahan sensasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam kejadian cedera menurun
Kriteria hasil : toleransi aktivitas meningkat, fraktur menurun, gangguan mobilitas
menurun, kejadian cedera menurun
Intervensi keperawatan :
a) Mengidentifikasi area yang mungkin menyebabkan cedera
b)Mempertahankan posisi tempat tidur di posisi terendah saat digunakan
c) Memastikan roda tempat tidur atau kursi roda dalam keadaan terkunci
d)Mendiskusikan mengenai alat bantu mobilitas yang sesuai
e) Menjelaskan alasan intervensi pencegahan ke pasien dan keluarga
b. Post operasi
1) akut b.d agen pencedera fisik
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam diharapkan nyeri menurun.
Kriteria hasil : keluhan nyeri menurun, klien tidak meringis, klien tidak gelisah
Intervensi keperawatan :
Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas nyeri
a) Mengidentifikasi skala nyeri
b) Memberikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
c) Mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
d) Mengkolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
2) Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tingkat
pengetahuan meningkat
Kriteria hasil : perilaku klien sesuai anjuran meningkat, kemampuan menjelaskan
pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan
meningkat
Intervensi keperawatan :
a) Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
b) Menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan
c) Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
d) Mengajarkan tidak menyentuh mata
e) Mengajarkan memonitor kemerahan, eksudat atau ulserasi
3) Defisit perawatan diri b.d kelemahan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tingkat perawatan diri
meningkat
Kriteria hasil : kemampuan mandi klien meningkat, kemampuan menggunakan pakaian meningkat,
verbalisasi keinginan melakukan perawatan diri meningkat
Intervensi keperawatan :
 a) Memonitor tingkat kemandirian
 b) Mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian, berhias, dan makan
 c) Mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri
 d) Memfasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri
 e) Menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan
4) Resiko infeksi b.d efek prosedur invasive
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil : klien dapat melakukan kebersihan tangan meningkat, demam menurun, nyeri
menurun
Intervensi keperawatan :
 a) Memeriksa lokasi insiasi adanya kemerahan, bengkak, atau tanda – tanda dehisen atau
eviserasi
 b) Memonitor tanda dan gejala infeksi
 c) Membersihkan area insisi dengan pembersih yang tepat
 d) Mengganti balutan luka sesuai jadwal
 e) Mengajarkan cara merawat area insisi
lanjutan
5) Resiko cedera b.d perubahan sensasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam kejadian
cedera menurun
Kriteria hasil : toleransi aktivitas meningkat, fraktur menurun,
gangguan mobilitas menurun, kejadian cedera menurun
Intervensi keperawatan :
a) Mengidentifikasi area yang mungkin menyebabkan cedera
b) Mempertahankan posisi tempat tidur di posisi terendah saat
digunakan
c) Memastikan roda tempat tidur atau kursi roda dalam keadaan
terkunci
d) Mendiskusikan mengenai alat bantu mobilitas yang sesuai
e) Menjelaskan alasan intervensi pencegahan ke pasien dan
Implementasi dan evaluasi
pre operasi
Diagnosa Implementasi Evaluasi

Gangguan persepsi 1. Memeriksa status S : pasien berkata


sensori b.d gangguan mental, status sensori, kesulitan dalam
penglihatan dan tingkat penglihatan
kenyamanan
2. Membatasi stimulus
lingkungan O : pasien nampak

3. Mengajarkan cara gelisah,

meminimalisasikan
stimulus
A : masalah tidak
4. Mengkolaborasi dalam
teratasi
meminimalisasikan
prosedur / tindakan

P : Intervensi di
lanjutkan

Defisit pengetahuan b.d 1. Mengidentifikasi S : pasien berkata


kurang terpapar kesiapan dan kurang terpapar
informasi kemampuan menerima informasi tentang
informasi penyakitnya
2. Menyediakan materi
dan media pendidikan
kesehatan O : pasien selalu

3. Menjadwalkan bertanya tentang

pendidikan kesehatan penyakit.

sesuai kesepakatan
4. Mengajarkan tidak
A : masalah tidak
menyentuh mata
teratasi
5. Mengajarkan
memonitor kemerahan,
Defisit pengetahuan b.d kurang 1. Mengidentifikasi kesiapan S : pasien berkata kurang terpapar
terpapar informasi dan kemampuan menerima informasi tentang penyakitnya
informasi  
2. Menyediakan materi dan O : pasien selalu bertanya tentang
media pendidikan kesehatan penyakit.
3. Menjadwalkan pendidikan  
kesehatan sesuai kesepakatan A : masalah tidak teratasi
4. Mengajarkan tidak  
menyentuh mata P : intervensi dilanjutkan
5. Mengajarkan memonitor
kemerahan, eksudat atau
ulserasi
 

Defisit perawatan diri b.d 1. Memonitor tingkat S : pasien berkata kesulitan dalam
kelemahan kemandirian melakukan kegitan perawatan
2. Mengidentifikasi kebutuhan diri akibat tidak dapat melihat
 
alat bantu kebersihan diri,  
berpakaian, berhias, dan O: pasien tidak dapat melakukan
makan perawatan dirin secara mandiri
3. Mendampingi dalam A : masalah tidak teratasi
melakukan perawatan diri  
sampai mandiri P : intervensi di lanjutkan
4. Memfasilitasi kemandirian,
bantu jika tidak mampu
melakukan perawatan diri
5. Menganjurkan melakukan
perawatan diri secara
konsisten sesuai kemampuan
Resiko cedera b.d 1. Mengidentifikasi area S : pasien berkata nyeri
perubahan sensasi yang mungkin pada daerah mata
menyebabkan cedera berkurang
2. Mempertahankan posisi
tempat tidur di posisi
terendah saat digunakan O : pasien nampak
3. Memastikan roda tenang
tempat tidur atau kursi
roda dalam keadaan
terkunci A : masalah tidak
4. Mendiskusikan teratasi
mengenai alat bantu
mobilitas yang sesuai
5. Menjelaskan alasan P : intervensi di
intervensi pencegahan lanjutkan
ke pasien dan keluarga
Post operasi
Diagnosa Implementasi Evaluasi
Nyeri akut b.d agen pencedera fisik 1. Mengidentifikasi lokasi, S : Pasien berkata nyeri pada mata
karakteristik, durasi, pasca opersi
frekuensi, kualitas, dan O: nyeri skala 4, nyeri seperti
intensitas nyeri menyebar
 
2. Mengidentifikasi skala nyeri
A : masalah nyeri akut teratasi
3. Memberikan teknik sebagaian
nonfarmakologis untuk P : intervensi di lanjutakan
mengurangi rasa nyeri

4. Mengajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri

5. Mengkolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
Defisit pengetahuan b.d 1. Mengidentifikasi S: pasien berkata kurang
kurang terpapar informasi kesiapan dan terpapar informasi tentang
kemampuan menerima penyakitnya
informasi O :pasien menanyakan tentang
2. Menyediakan materi dan masalah yang akan di
media pendidikan hadapi
kesehatan A : masalah teratasi sebagian
3. Menjadwalkan P : intervensi di lanjutkan
pendidikan kesehatan  
sesuai kesepakatan
4. Mengajarkan tidak
menyentuh mata
5. Mengajarkan memonitor
kemerahan, eksudat atau
ulserasi
Defisit perawatan diri 1. Memonitor tingkat S : pasien berkata tidak
b.d kelemahan kemandirian mandi beberapa hari
2. Mengidentifikasi
kebutuhan alat bantu
kebersihan diri, O : pasien nampak

berpakaian, berhias, gelisah


dan makan
3. Mendampingi dalam
A : masalah tidak
melakukan perawatan
teratasi
diri sampai mandiri
4. Memfasilitasi
kemandirian, bantu jika
P : intervensi di
tidak mampu
lanjutkan
melakukan perawatan
diri
5. Menganjurkan
melakukan perawatan
diri secara konsisten
sesuai kemampuan
Resiko infeksi b.d efek prosedur 1. Memeriksa lokasi insiasi S : pasien berkata nyeri sekitar mata
adanya kemerahan, bengkak,
invasif O: adanya bekas luka prosedur
atau tanda – tanda dehisen
atau eviserasi pembedahan
2. Memonitor tanda dan gejala A : masalah tidak teratasi
infeksi P : intervensi di lanjutkan
3. Membersihkan area insisi
dengan pembersih yang tepat
4. Mengganti balutan luka sesuai
jadwal
5. Mengajarkan cara merawat
area insisi

Resiko cedera b.d perubahan sensasi 1. Mengidentifikasi area yang S : pasein berkata nyeri berkurang
mungkin menyebabkan cedera O : pasien nampak tenang, tidak
2. Mempertahankan posisi tempat A : masalah teratasi
tidur di posisi terendah saat
P : intervensi di lanjutkan
digunakan
3. Memastikan roda tempat tidur
atau kursi roda dalam keadaan
terkunci
4. Mendiskusikan mengenai alat
bantu mobilitas yang sesuai
5. Menjelaskan alasan intervensi
pencegahan ke pasien dan
keluarga