Anda di halaman 1dari 29

ASSALAMU’ALAIKUM

UJI PRESISI PENETAPAN KADAR GULA PEREDUKSI


METODE LUFF SCHOORL
DALAM SAMPEL GULA KRISTAL MENTAH
DI PT SENTRA USAHATAMA JAYA

KHAERUNNISA
1617600
PENDAHULUAN

Gula Kristal PT Sentra Usahatama ICUMSA GS1-5 Metode


Rafinasi Jaya 2009 Percobaan
Add an image

Percobaan ini bertujuan memastikan metode


uji yang digunakan terjamin ketelitiannya
dengan melakukan uji presisi. Uji presisi
yang dilakukan meliputi ripitabilitas dan
presisi antara. Hasil uji yang diperoleh
kemudian dibandingkan dengan syarat
keberterimaan yang ditetapkan oleh
Laboratorium PT Sentra Usahatama Jaya,
sehingga metode tersebut dapat digunakan
untuk analisis rutin di Laboratorium Kimia
Fisika PT Sentra Usahatama Jaya.
TUJUAN
WAKTU DAN TEMPAT

Laboratorium Kimia Fisika


JANUARI-JULI 2018 PT Sentra Usahatama Jaya

Jalan Raya Anyer Km. 10 Ciwandan,


Cilegon, Provinsi Banten.
BAHAN
DAN ALAT

The Power of PowerPoint | thepopp.com


6
BAHAN DAN ALAT
BAHAN :
BAHAN UJI BAHAN KIMIA
Gula Kristal Mentah (Raw  Sukrosa murni
Sugar) dari Thailand.  Larutan luff schoorl
 Larutan asam klorida 1 M
 Indikator phenolphthalein
 Larutan natrium hidroksida 10%
 Larutan kalium iodida 30%
 Larutan asam sulfat 3 M
 Larutan natrium tiosulfat 0,1 M
 Indikator kanji 1%
 Air suling
 Aluminium foil
BAHAN DAN ALAT
ALAT :
 Neraca analitik digital Precisa  Penyangga buret
 Hot plate  Pipet tetes
 Gelas piala (100 dan 300) mL  Corong
 Gelas ukur 50 mL  Batang pengaduk
 Labu takar (500, 200, dan 100) mL  Botol semprot
 Erlenmeyer 250 mL  Batu didih
 Pipet volume (25 dan 10) mL  Alas titrasi
 Buret schellbach 50 mL
METODE
PERCOBAAN

The Power of PowerPoint | thepopp.com


9
Tahap Persiapan Tahap Tahap Pengolahan
Pengujian Data

 Pembuatan Pereaksi  Penetapan Kadar Gula  Presisi (ripitabilitas)


 Standardisasi Larutan Pereduksi  Presisi Antara
Luff Schoorl  Presisi (ripitabilitas)
 Presisi Antara

The Power of PowerPoint | thepopp.com


10
CARA
KERJA

The Power of PowerPoint | thepopp.com


11
 Standardisasi Larutan Luff Schoorl
TAHAP PERSIAPAN
Sukrosa murni yang telah
dikeringkan pada suhu 100oC 1
ditimbang sebanyak 2,375 g ke
gelas piala 300 mL
Air suling ditambahkan
2 sebanyak 100 mL, HCl 1 M
sebanyak 15 mL, dan air
suling hingga volume 150
Larutan tersebut dipanaskan mL
sampai mendidih selama 2 3
menit kemudian didinginkan

Indikator phenolphthalein
4 ditambahkan 2-3 tetes
kemudian dinetralkan dengan
NaOH 10%
Larutan tersebut dipindahkan ke 5
labu takar 500 mL, ditera dengan
air suling, dan dihomogenkan

The Power of PowerPoint | thepopp.com 12


TAHAP PERSIAPAN
 Standardisasi Larutan Luff Schoorl

Larutan tersebut dipipet Dipipet 25 mL larutan Dimasukkan batu


6 sebanyak 50 mL 7 luff schoorl ke dalam 8 didih ke dalam
dimasukkan ke LT 200 erlenmeyer 250 mL erlenmeyer tersebut
mL, ditera dengan air lalu dipipet 25 mL lalu ditutup dengan
suling, dan larutan sukrosa murni aluminium foil
dihomogenkan ke dalam erlenmeyer
yang telah berisi
larutan luff schoorl dan
Dipanaskan sampai dihomogenkan
mendidih selama 2 Larutan tersebut
9 10 11
menit dan Sebanyak 10 mL KI dititrasi dengan
dihomogenkan kembali. 30% dan 25 mL H2SO4 Na2S2O3 0,1 M
Dilanjutkan pendidihan 3 M ditambahkan hingga larutan
selama 5 menit lalu secara perlahan menjadi warna
didinginkan secara kuning
cepat selama 5 menit
TAHAP PERSIAPAN
 Standardisasi Larutan Luff Schoorl

Indikator kanji 1%
12 ditambahkan sebanyak 1
mL lalu dititrasi kembali
hingga warna biru hilang

Pengerjaan blangko dilakukan dengan


13 mengganti 25 mL larutan sukrosa
murni dengan 25 mL air suling

14 Volume titran yang


diperoleh kemudian dicatat
Lanjutan…. Selisih antara volume Na2S2O3 0,1 M
blangko dan sukrosa murni secara
teori sebesar 12,35 mL yang setara
dengan 31,25 mg gula pereduksi.
Perbedaan penitar secara teori dan
praktek dibandingkan, sehingga
Faktor standardisasi, Fx = diperoleh faktor standardisasi yang
dapat dihitung dengan rumus:

Keterangan :
31,25 = mg gula pereduksi secara teori
dilihat dari tabel nilai untuk 25 mL
dari pereaksi luff schoorl (Lampiran 4)
x = mg gula pereduksi secara praktek
dilihat dari tabel nilai untuk 25 mL dari
pereaksi luff schoorl (Lampiran 4)
TAHAP PENGUJIAN
CARA KERJA
Penetapan Kadar Gula Pereduksi

1 2 3
Gula kristal mentah Dilarutkan dengan air suling Ditera dengan
ditimbang sebanyak 20-40 dan dimasukkan ke dalam air suling dan
gram ke gelas piala 100 LT100 mL dihomogenkan
mL

4 5
Dipipet 25 mL larutan Dipipet 25 mL larutan
luff schoorl ke dalam contoh ke dalam
erlenmeyer 250 mL erlenmeyer yang telah
berisi larutan luff schoorl
dan dihomogenkan
TAHAP PENGUJIAN
CARA KERJA
Penetapan Kadar Gula Pereduksi

6 7 8
Dimasukkan batu didih Dipanaskan sampai Dilanjutkan
ke dalam erlenmeyer mendidih selama 2 menit pendidihan
tersebut lalu ditutup dan dihomogenkan selama 5 menit
dengan aluminium foil kembali lalu didinginkan
secara cepat
selama 5 menit

9 10
Sebanyak 10 mL KI Dititrasi dengan natrium
30% dan 25 mL H2SO4 tiosulfat 0,1M sampai
3 M ditambahkan larutan menjadi warna
secara perlahan kuning
TAHAP PENGUJIAN
CARA KERJA
Penetapan Kadar Gula Pereduksi

Indikator kanji 1%
11 ditambahkan sebanyak 1
mL lalu dititrasi kembali
hingga warna biru hilang

Pengerjaan blangko dilakukan dengan


12 mengganti 25 mL larutan sukrosa
murni dengan 25 mL air suling

13 Volume titran yang


diperoleh kemudian dicatat
Kadar gula pereduksi dalam sampel dapat dihitung
dengan rumus:

Keterangan :
α = mg gula pereduksi. Tabel nilai konversi untuk 25 mL pereaksi
luff schoorl dapat dilihat pada Lampiran 4

Fx = Faktor standardisasi luff schoorl. Perhitungan dapat dilihat


pada Lampiran 5

5 = Bobot gula dalam 25 mL larutan gula (g)


TAHAP PENGUJIAN
CARA KERJA

Presisi
(ripitabilitas) Presisi Antara

Uji presisi dilakukan dengan


menetapkan kadar gula pereduksi Uji presisi antara dilakukan dengan
metode luff schoorl dalam sampel menetapkan kadar gula pereduksi metode
gula kristal mentah. Penetapan ini luff schoorl dalam sampel gula kristal
dilakukan sebanyak tujuh kali mentah. Penetapan ini dilakukan sebanyak
pengulangan. tujuh kali pengulangan dengan analis yang
berbeda dan pada hari yang berbeda, tetapi
menggunakan metode yang sama.
TAHAP PENGOLAHAN
CARA KERJA DATA

Presisi
(ripitabilitas)

Keterangan :

SBR = Simpangan baku relatif (%)


SB = Simpangan baku
= Rata-rata
n = Jumlah ulangan (data)
xi = nilai data ke-i (i = 1, 2, 3, 4,
…)
TAHAP PENGOLAHAN
CARA KERJA DATA

Uji F

Hipotesis uji F :
H0 : σ12 = σ22 (ragam kedua hasil pengujian
tidak berbeda nyata)
H1 : σ12 ≠ σ22 (ragam kedua hasil pengujian
berbeda nyata)

Interpretasi uji F :
Presisi Jika P-Value > α, maka terima H0 artinya
ragam kedua populasi tidak berbeda nyata.
Antara Jika P-Value < α, maka tolak H0 (terima H1)
artinya ragam kedua populasi berbeda
nyata.
TAHAP PENGOLAHAN
CARA KERJA DATA

Uji t biasa

Hipotesis uji t biasa:


H0 : μ1 = μ2 (rata-rata hasil kadar gula
pereduksi kedua analis tidak berbeda nyata)
H1 : μ1 ≠ μ2 (rata-rata hasil kadar gula
pereduksi kedua analis berbeda nyata)

Interpretasi uji t biasa:


Presisi Jika P-Value > α, maka rata-rata hasil kadar
gula pereduksi perlakuan n tidak berbeda
Antara nyata.
Jika P-Value < α, maka rata-rata hasil kadar
gula pereduksi perlakuan n berbeda nyata.
HASIL DAN
PEMBAHASAN

The Power of PowerPoint | thepopp.com


24
Hasil Pengujian Presisi (ripitabilitas)
Kadar Gula Pereduksi
Kadar Gula Pereduksi
Ulangan
(%)
1 0,2314
2 0,2330
3 0,2330
4 0,2356

Presisi 5 0,2330
6 0,2330
(ripitabilitas) 7 0,2304
Rata-rata 0,2327
SB 0,0016
%SBR 0,69
Hasil Pengujian Presisi Antara
Kadar Gula Pereduksi
Kadar Gula Pereduksi (%)
Ulangan
Analis 1 Analis 2
1 0,2314 0,2876
2 0,2330 0,2927
3 0,2330 0,2925
4 0,2356 0,2927
5 0,2330 0,2886
6 0,2330 0,2902
7 0,2304 0,2917
Presisi Rata-rata
SB
0,2327
0,0016
0,2909
0,0021
Antara %SBR 0,69 0,73
P-value
0,546
(Uji F)
α 0,05
P-value
1,000
(Uji t)
α 0,05
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian presisi penetapan kadar gula pereduksi
metode luff schoorl dalam sampel gula kristal mentah, dapat
disimpulkan bahwa metode uji memiliki ketelitian tinggi dimana
%SBR sesuai dengan syarat keberterimaan yang ditetapkan oleh
Laboratorium PT Sentra Usahatama Jaya, yaitu kurang atau sama
dengan 2% sehingga metode tersebut dapat digunakan untuk
analisis rutin di Laboratorium Kimia Fisika PT Sentra Usahatama
Jaya.
Selain pengujian parameter presisi,
sebaiknya dilakukan pula pengujian
untuk parameter akurasi. Hal ini perlu
dilakukan untuk mengetahui nilai bias
sehingga dapat diukur kesesuaian
antara hasil uji dan nilai sebenarnya.

SARAN
감사합니 GRAZIE
ありがとう
ございま

した TERIMAKASI
H
THANK 謝謝
DANKE YOU