Anda di halaman 1dari 15

Acute Lung Oedema (ALO)

Devi Yulianti Pratiwi (19020015)


1.1 Pengertian

Edema paru merupakan keadaan penumpukan cairan


di dalam ruang ekstravaskuler paru. Keadaan ini
merupakan komplikasih yang sering di temukan pada
gangguan jantung dan dapat timbul dengan cepat serta
membawa akibat fatal (Kowalak, Jennifer, 2011)
1.2 Etiologi
Edema paru terjadi karena gagal jantung kiri yang
disebabkan oleh:
1. Arteriosclerosis
2. Kardiomeopati
3. Hipertensi
4. Penyakit jantung vaskuler
Faktor-faktor yang merupakan predisposisi edema paru meliputi:

1. Keracunan opiat / barbiturate


2. Gagal jantung
3. Pemberian infus yang berlebihan atau terlalu cepat
4. Drainase limfatik paru yang terganggu (akibat penyakit
Hodgkin atau limfangitis obliterasi pasca radiasi)
5. Inhalasi gas yang iriatif
6. Stenosis mitral dan miksoma atrium kiri (yang
mengganggu pengosongan atrium kiri)
7. Pneumonia
8. Penyakit oklusi vena pulmonalis
1.3 Klasifikasi
1. Cardiogenik Pulmonary Edema
Edema yang disebabkan oleh adanya kelainan pada organ
jantung, misalnya jantung tidak dapat memompa dengan baik
2. Non Cardiogenik Pulmonary Edema
Edema yang biasanya di sebabkan oleh ARDS, infeksi, trauma,
luka paru, radiasi paru, paru yang mengembang secara cepat
1.4 Patofisiologi
Acute Long Oedema ini di sebabkan oleh peningkatan
tekanan di atrium kiri. Vena pulmonalis kemudian ke
kapiler dengan tekanan yang melebihi 25 mmHg
mengakibatka kegagalan dalam mempertahankan
keseimbangan, sehingga cairan akan membanjiri alveoli
dan terjadilah oedema paru.
Proses tersebut akan mengakibatkan terjadinya
pengeluaran sekret encer berbuih dan berwarna pink froty.
Adanya sekret ini akan mengakibatkan gangguan pada
alveolus dalam menjalankan fungsinya (Syahda, 2013).
1.5 Pathway
1.6 Manifestasi Klinis
 Stadium 1
Adanya distensi dan pembuluh darah kecil paru yang prominen akan memperbaiki pertukaran
gas di paru dan sedikit meningkatkan kapasitas difusi gas CO2. Keluhan pada stadium ini
berupa adanya sesak napas
 Stadium 2
Pada stadium ini terjadi edema paru interstisial yang menyebabkan jaringan di sekitar alveoli
mengalami penurunan elastisitas di jaringan paru, sehingga fungsi pernafasan menurun
 Stadium 3
Pada stadium ini terjadi edema alveolar. Pertukaran gas sangat terganggu, terjadi
hipoksemia dan hipokapnia. Penderita nampak sesak sekali dengan batuk
berbuih kemerahan. Pada keadaan ini morphin hams digunakan dengan hati-hati
(Ingram and Braunwald, 2006 dalam Rahmawati, 2013).
1.7 Pemeriksaan penunjang
a. Analisis gas darah arteri
b. Foto rontgen
c. Pulse oksimetri
d. Kateterisasi arteri pulmonalis
e. Elektrokardiografi
1.8 Diagnosa banding

 Acute respiratory distress syndrome


 Asma
 Pneumonia
 Syok Kardiogenik
 Penyakit paru obstruktif kronik
 Emboli Paru
1.9 Penatalaksanaan
 Pastikan jalan nafas pasien bebas
 Posisi setengah duduk
 Berikan O2 sampai 8 L/menit dengan masker
 Pasang akses vena segera dan monitor tekanan darah,
EKG atau oksimetri.
 Jika kongesti paru dengan tekanan sistolik baik maka
berikan nitrogen, furosemid dan bila perlu berikan morfin
sulfat
 Dan jika tekanan darah turun atau terdapat tanda
hipoperfusi, kemungkinan gagal jantung akut maka
berikan dopamin dan dobutamin
1.10 Komplikasi
 Gagal nafas
 Asidosis repiratorik
 Henti jantung
1.11 Proses keperawatan

A. Pengkajian Primer
Aiways, Breathing, Circulation, Distability dan Exposure

B. Pengkajian Sakunder
 AMPLE (Alergi, Medikasi, Past illnes, Last meal dan
Environment)
 Pemeriksaan Fisik (Integrument, pulmonal,
cardiovaskuler, neurosensori, muskuloskeletal,
genitourinaria, digesif, pemeriksaan penunjang dan
Reviuw Of System (ROS))
1.12 Diagnosa keperawatan

1. Ketidakefektifan pola napas b/d hiperventilasi


2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d
mukus berlebihan
3. Hambatan pertukaran gas b/d
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi
4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b/d
kurang pengetahuan tentang proses penyakit
5. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan oksigen
TERIMAKASIH