Anda di halaman 1dari 70

 Dalam sejarahnya bekam bukan hanya

dilakukan oleh ummat Islam, bahkan sebelum


masa kenabian Muhammad SAW pun bekam
telah banyak berkembang.
 Bekam yang dianjurkan Rasulullah vs bekam
ala China , persia, dll
 banyak perbedaan metode yang tentunya akan
memberikan respon yang berbeda pada tubuh
manusia
 Al-Hijamah/ Bekam yang dicontohkan pada masa Rasulullah
mempunyai teknik yang khas yang berbeda dengan bekam yang
dipraktekan oleh bangsa Cina.
 Banyak miskonsepsi yang muncul dari kurangnya pemahaman
terhadap perbedaan Al Hijamah dengan metode lain, demikian
juga terhadap mekanisme kerjanya.
 Beberapa miskonsepsi itu antara lain adalah adanya anggapan
bahwa semakin banyak darah kita keluarkan maka semakin baik
metodenya, Al Hijamah harus dilakukan dengan cara melukai
pembuluh kapiler, Al Hijamah dapat mengobati semua penyakit
tanpa memperhatikan spesifikasi titik-titik yang penting dalam
tubuh manusia.
 Miskonsepsi ini harus diluruskan dengan mempelajari perbedaan
berbagai teknik menurut teori-teori yang sudah dibuktikan
melalui penelitian dan juga mempelajari dasar-dasar ilmu
anatomi, fisiologi, biokimia, biomolekuler dan patologi.
 Al Hijamah telah dibuktikan dapat mengobati
berbagai macam penyakit dengan cara
membersihkan darah dan cairan interstisial dari
chronic pathological substances (CPS), akan tetapi
perlu dipahami manfaat terapinya terkait dengan
berapa jumlah CPS dan bagaimana sinyal-sinyal
komunikasi sel dikeluarkan untuk mengatur
homeostasis tubuh, bukan pada berapa banyak
jumlah darah yang dikeluarkan.
 Perlu dikaji perbedaan teknik Al-Hijamah dengan
metode lain dan kemungkinan mekanisme
kerjanya secara biomolekuler.
 Sebagai barier mekanik
 Sebagai organ eksresi dan detoksifikasi
 Imunomodulator
 Sebagai sistem neuroendokrin
 Sebagai penghasil vitamin D
 Sebagai organ sosial
 Cutaneous immune responses involve the
coordinated actions of epidermal and
dermal cells along with the network of
cytokines.
 Keratinocytes
(Immune-Competent epithelial Cells)
 Langerhans cells
(Epidermal Antigen-Presenting Cells)
 Epidermal T cells
(Dendritic Epidernal T Cells-Specialized Resident Epithelial
T Cells)+ (Epidermotropic T Lymphocytes-Circulating T
Cells That Home to the Epidermis)
 Melanocytes
(Epidermal Pigment Cells With Immune Properties)
Role of keratinocytes

ʘ Keratinocytes play a role in innate immune responses in the skin

ʘ Keratinocytes may play a role in initiating adaptive immune responses


in the skin by releasing cytokines and expressing cellular adhesion
molecules to facilitate the movement of immunecompetent cells.

 Immunomodulatory role

 Inducer of immune reaction

 Target of immune reaction


Secretory function
 Cytokine secretion

Exposure to noxious stimuli


(hypoxia, trauma, radiation, Haptens, microbes, toxins)

Production and release of many cytokines


Chemokine secretion
 keratinocytes produce the chemokines
CCL17, CCL20, and CCL27 that are major
recruitment signals for systemic,
immunocytes expressing CCR4, CCR6, and
CCR27, respectively.

CCL27
CCL17 CCL20

CCR4 CCR6
CCR27
Secretory function
Bacteria, viruses, fungi, parasites

Keratinocytes

AMP

cathelicidin Defensins(1-4)
s
Attack cell membrane
Damage numerous intracellular structures
Secretory function

Neuropeptides
CGRP
LC function
SP
Somatostatin
Secretory function
Neurohormones
(Pro Opio Melano Cortin)

Keratinocytes
(Stimulated by UVR, IL-1, Tumour promoters)

POMC

αMSH

Release of IL-10 with anti-inflammatory &


immunosuppressive effect
Secretory function
 Free radicals

Superoxide (O2)
Host defense via Hydrogen peroxide (H2O2) Solar damage
pro-inflammatory
Nitric oxide (NO) photoaging
&
immunomodulator Hydroxy radical (HO)
y function
MHC II expression by keratinocytes
Infiltrating T cells IFNɣ

Keratinocytes

MHC II

Tolerance to subsequent stimulation. * Binding & killing by MHC


MHC II bearing keratinocytes II restricted T cells (CD4)
provide signals that specifically *Activate memory and
inhibit cell-mediated immune effector T cells.
responses in the skin
ICAM-1 (CD54) expression by
keratinocytes
Infiltrating T cells IFNɣ & TNFα

Keratinocytes

ICAM-1

LFA-1-ICAM-1 conjugate formation with T cells.

Recruiting and moving immune cells to the point of antigenic stimulation or


skin injury.
-Allergic contact hypersenstivity -Psoriasis
-LP -MF
Pattern Recognition receptors

 Toll like receptors

 Nucleoside Oligomerization
Domain receptors (NOD R)
Trauma or infection

Toll like receptors on keratinocytes & LC

IL12
IL12

LC
B cells Ab
Th1 response
AMP
LC Ag presentation
Infl.cytokines to naïve T cells

Autoimmunity Adaptive immunity Innate immunity


 Cytokines and other factors produced by
LC and/or other myeloid-lineage cells
contribute to the growth and survival of
epithelial cells, that presumably reinforces
the integrity of the epithelium and its
resistance to infection.
Keratinocytes TLR/Nod receptor engagement of
microbe-derived moieties

IL-1αandβ, GMCSF, TNFα

LC

Differentiation and Maturation of LC


activation of LC *upregulation of MHC II
*upregulation of T cell co-
stimulatory molecules, such as
ICAM1, CD86, CD40 and CD11c
*upregulation of LN homing CCR7

enhanced capacity to take up, process &


present antigen
MHCI MHCII

Cellular Ag Bacteria
Cellular debris Virus
Denaturated Pt Parasite
CD3

APC T cell
CD80/86

IL12

Proliferation & differentiation signals IL2


 In normal, non-inflamed epidermis,
keratinocytes have only class I MHC antigens
on their surface and do not express class II
MHC antigens (HLA-DP, -DQ, and -DR).

 In inflamed skin, however, infiltrating T


lymphocytes secrete IFNɣ , which is capable of
activating keratinocytes to transiently express
class II MHC antigens (DR).
 Kulit akan mensensor perubahan lingkungan
menkalkulasi dan menterjemahkannya dalam
informasi berupa rangsang kimiawi, fisik dan
biologis menjadi sinyal-sinyal pesan yang
mengatur homeostasis global messengers (A dan
B) dan homeostasis lokal (B).
 Sinyal komunikasi sel ini dapat bersifat respon
cepat ( neural) maupun respon lambat(humoral).
 Sinyal ini diteruskan melalui sistem imun humoral
atau melalui syaraf mencapai otak, sistem
endokrin dan sistem imun serta berbagai organ.
 kulit dapat mengatur fungsi berbagai organ
termasuk otak
 Koordinasi antara respon lokal dan sistemik
diperantarai oleh sistem neuroendokrin yang
melibatkan hypothalamo–pituitary–adrenal axis
(HPA), hypothalamo–pituitary–thyroid (HPT)
axis, sistem catecholaminergic, sietem
serotoninergic, sistem melatoninergic, sistem
cholinergic, sistem steroidogenic dan sistem
secosteroidogenic systems
 Sinyal sinyal komunikasi sel berupa sitokin,
kemokin, hormon neuropeptida dan
neurotransmitter ini bekerja secara lokal dan
sistemik, baik secara autokrin, parakrin,
jukstakrin, intrakrin dan endokrin.
 Bila subtansi ini dilepaskan akan menyebabkan
modulasi pengeluaran dan aktifasi
neurotransmiter yang berefek langsung pada
target sel, yang mempunyai reseptor yang
spesifik, memicu respon biologi seperti
eritema, edema, hipertermia dan rasa gatal.
 Teori bekam sesuai metode China
bekam mengatur perubahan Qi (sumber energi), Xu
(kecukupan darah), Wei Qi (defensive energy) dan konsep
lain sesuai teori China.
 Mekanisme bekam menurut Hong et al.
Hong et al.melaporkan bahwa bekam dapat menyebabkan
perubahan lokal dengan mekanisme perubahan struktur
jaringan karena tekanan negatif secara lokal yang
menyebabkan peregangan syaraf, dan otot sehingga
terjadilah peningkatan sirkulasi darah ke kulit
Teori Hong et al ini hanya menjelaskan sebatas efek lokal
tekanan negatif dan tidak bisa menjelaskan manfaat bekam
terhadap selulitis, migrane, nyeri kepala, hipertensi, CTS
dan lain-lain.
 Mekanisme bekam menurut Gao et al
Gao et al. Memperkirakan bahwa penempatan
titik bekam sesuai titik akupungtur akan
menyebabkan kulit mengalami hiperemia dan
homeostatis yang menimbulkan efek terapi.
Akan tetapi teori ini juga tidak bisa menjelaskan
efek bekam dalam mengobati Remathoid
Arthritis, CTS, selulitis dan lain-lain.
 Teori Taibah disusun dengan melihat tubuh
manusia sebagai sitem yang harus dijaga
keseimbangannya dengan cara menjaga
homeostatis fisiologisnya
 Penyakit didefinikan sebagai perubahan dan
gangguan homeostasis tubuh.
 Bekam sebagai bentuk terapi
ekresi/pengeluaran dari cairan darah dan
jaringan yang tercampur dengan subtansi yang
berbahaya bagi tubuh. ---memfungsikan kulit
sebagai ginjal
 Bekam menurut teori taibah juga dapat
menstimulasi peningkatan sistem imun baik innate
maupun adaptive immunity, meningkatkan
hemolisis sel darah merah yang menua dan
meningkatkan fungsi eksresi kulit.
 Manfaat Al Hijamah bagi kesehatan dan
pengobatan meliputi perbaikan kondisi umum,
peningkatan ekskresi dan detoksifikasi,
meingkatkan sistem imun, mengurangi efek
samping obat, mengurangi keluhan-keluhan
neurologis, manfaat metabolik, nutrisi, kosmetik,
hemodinamik, dan psikis.
 Sinar matahari sesuai panjang gelombangnya dapat
mempengaruhi sinyal-sinyal seluler, memicu ekspresi
MHC kelas II dan pengeluaran sitokin-sitokin baik pro
dan anti inflamasi,
 pelepasan antigen baik DAMPs maupun PAMPs
sehingga merangsang respon imun dan respon
perbaikan, atau kematian sel terprogram.
 Pengeluaran AMP akan menyebabkan sifat
peradangan yang steril.
 Pada panjang gelombang yang rendah sinar matahari
akan memicu perbaikan bahkan ditingkat DNA dan
menurunkan apoptosis. Sebaliknya pada panjang
gelombang dan intensitas yang tinggi, ia akan berefek
sebaliknya
 teori taibah + fungsi fisiologis kulit diperkirakan
mekanisme bekam terjadi karena respon tubuh
terhadap rangsang hipoksik akut transient oleh
karena rangsang mekanik bekam, perubahan
tekanan karena tekanan negatif, trauma toreh
ringan dan pengeluaran CPS.
 Rangsangan tersebut akan menimbulkan respon
adaptasi tubuh, respon inflamasi yang akan
memicu perubahan vaskuler dan seluler, respon
perbaikan, regenerasi, apoptosis atau sebaliknya
anti apoptosis, anti tumorigenesis atau
tumorigenesis sesuai keseimbangan sinyal-sinyal
seluler yang terjadi.
 Pada cupping yang I, dalam kondisi hipoksik
kulit akan meningkatkan ekspresi HIF 1 alfa,
menginduksi berbagai respon yang mirip
dengan bila kulit kita rangsang dengan agen
infeksi. Hif1 akan merangsang keratinosit.
 Keratinosit sebagai signal transducer akan
mensekresi sitokin, kemokin,AMP,
neuropeptida dan neurohormon menyebabkan
radang akut yang bersifat steril.
 Pada cupping yang kedua Hif 1 akan
meningkat kadarnya dan tentu hal ini akan
menyebabkan sinyal-sinyal seluler yang
berbeda karena keterlibatan sel-sel selain
keratinosit dan sel imunosit dalam epidermis.
 Respon radang akut pada kondisi hipoksik dan
pada perlakuan pemberian tekanan gradient
akan berbeda bila dibandingkan dengan
respon radang akut yang dipicu oleh rangsang
yang lain seperti infeksi.
 Pada respon radang dan penyembuhan luka
HIF-1 dikeluarkan setelah ada luka.
 Pada bekam Hif 1 dirangsang pengeluarannya
terlebih dahulu baru dilakukan penorehan
luka.
 Pada kondisi hipoksik luka kadar Hif 1 akan
dipertahankan stabil hingga sel-sel yang
mengalami stress mengeluarkan salah satu
DAMPs yaitu Hsp. Pengeluaran Hsp akan memicu
respon perbaikan atau apoptosis.
 Rangsang hipoksik dan tekanan negatif gradient
akan menimbulkan stress terhadap sel sehingga
ada beberapa sel yang rusak yang masih bisa
diperbaiki, maupun yang rusak tapi tidak bisa
diperbaiki. Hsp dikeluarkan untuk mengatur
respon perbaikan dan regenerasi.
 Kombinasi DAMps dan hipoksia juga akan
memicu sinyal peradangan yang sifatnya berbeda.
 HIF 1 adalah faktor transkripsi yang
merupakan faktor utama yang berperan dalam
kemampuan sel beradaptasi terhadap kadar
oksigen yang rendah.
 Hif 1 juga berperan dalam fungsi imunitas,
meningkatkan produksi anti mikroba dan
fagositosis dan sel epitel keratinosit, serta
meningkatkan aktifitas sel dendritik dan mast
cell.
 Perubahan keseimbangan sitokin yang bersifat
dose-dependent karena rangsang hipoksik
gradient yang dikombinasikan dengan
scarifikasi akan menimbulkan produksi
sitokin yang berbeda dalam hal jenis dan
jumlahnya.
 Kedalaman torehan akan sangat
mempengaruhi derajat jejas dan sinyal-sinyal
seluler yang dipengaruhinya.
HIF
1alfa

HIF1
alfa
DAMP
S
 rangsang mekanik akan menyebaban regangan
pada serabut kolagen dan syaraf otonom yang
merangsang produksi neuropeptida dan
neurohormon, seperti pengeluaran analgesik
alami kulit berupa hormon endorphin,
melatonin, mediator inflamasi akut dan
neurotransmiter sehingga pada saat
penorehan/skarifikasi tidak terjadi nyeri,
bukan hanya itu pengakttifan sistem
neuroendokrin memicu respon sistemik yang
lebih kompleks meliputi komunikasi sistem
organ yang lain mengikuti aksis HPA.
 Adanya penorehan akan menyebabkan permeabilitas
kulit meningkat karena adanya pori-pori yang
membuka stratum korneum, penorehan juga
menyebabkan mikroba pada permukaan kulit baik
mati maupun hidup masuk menembus stratum
korneum.
 Kombinasi Hif 1 dengan LPS diketahui memberikan
sinyal seluler yang kadar dan jenisnya berbeda.
 Hal ini akan mengaktifkan sistem imun yang berbeda
pula dimana keratinosit akan mulai mengekspresikan
MHC klas 2 yang mengawali aktifasi sel adaptif
terutama sel T intra epidermal dan memicu
diferensiasinya menjadi sel T efektor dan memori.
HIf1 alfa
DAMPS

LPS atau PAMPs


 Metode perlukaan stratum korneum untuk
membuat paparan antigen tanpa adjuvan
logam berat dan suntikan saat ini banyak
dikembangkan, dengan dasar pemikiran
bahwa kombinasi rangsang fisik/mekanik,
pengeluaran DAMPs pun bisa menjadi
adjuvan.
 Skarifikasi akan menyebabkan rusaknya bariier
kulit dan meningkatkan dosis dan paparan antigen
baik PAMPs maupun DAMPs yang akan
memodulasi fungsi sisitem imun dengan
merangsang imunosit dalam kulit secara lokal dan
sistemik.
 Pada prinsipnya bekam meningkatkan fungsi
imunomodulasi kulit alamiah dan mengeluarkan
deposit antigen pada permukaannya. Pengeluaran
DAMPS dan PAMPs disini hampir mirip dengan
mekanisme imunisasi transkutaneus
menggunakan mikroneedle.
 Pengeluaran protein stress seperti HSP juga
dapat terjadi dan menyebabkan pengaktifan
sensor pemindaaian terhadap kerusakan tubuh
dan memicu perbaikan atau apoptosis.
 Mekansime bagaimana kulit memindai tubuh
tersebut hampir mirip dengan mekanisme
sinar matahari menstimulasi fungsi fisiologis
kulit pressure. Pengeluaran HSP akan memicu
degaradasi terhadap HIF-1.
 Adanya stress oksidatif, logam berat dan zat
toksik akan menyebabkan disfungsi
mitokondria, dengan dikeluarkannya radikal
oksigen/ROS dan CPS lainnya maka fungsi
mitokondria akan membaik sehingga
metabolisme sel dan antioksidan endogen
meningkat, dan proses perbaikan tubuh
membaik.
 Hipotesa-hipotesa di atas perlu diverifikasi
dengan penelitian yang mendalam secara
biomolekuler.
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S14
71490610000347
 Belum ada review meta analisis terhadap
penelitian bekam terutama Al-Hijamah.
 Review penelitian oleh Cao dkk yang
mengumpulkan penelitian bekam dengan metode
China antara tahun 1959 dan 2008, meliputi 73
penelitian randomized control trial/ RCT, 22
penelitian klinik dengan kontrol, 373 laporan
kasus serial dan 83 laporan kasus. Tidak ada
laporan efek samping yang serius dari semua
penelitian ini.
 Sebagian besar penelitian meunjukkan efektifitas
terapi bekam pada penyakit dengan nyeri, herpes
zoster dan penyakit lain. Cao dkk menyarankan
pentingnya memperbaiki desain penelitian.
 Penelitian oleh Ahmed, Madbouly, Maklad, &
Abu-Shady, 2005dkk untuk mengetahui efikasi
bekam terhadap artritis reumatoid yang
menunjukkan bukti bahwa terapi kombinasi
bekam dengan obat konvensional memberikan
efek perbaikan secara bermakna pada aktifitas
penyakit, dan modulasi sistem imun seluler
terutama sel NK dan Sil-2R.
 Niasari, Kosari, & Ahmadi (2007) menyatakan
bahwa terdapat penurunan serum lipoprotein
terutama LDL sehingga dapat mencegah
aterosklerosis.
 Subowo. 2013.Imunologi klinik. Ed.3.Sagung Seto. Jakarta
 Scanlon V.C dan Sander T dalam F.A. Davis. 2007. Essentials
of anatomy and physiology..Ed.6. Philadelphia,.325-7
 Schaefer, H and Redelmeier, TE, Skin Barrier: Principles of
Percutaneous Absorption 1996, Basel: Karger
 Bos, JD and Meinardi, MM, (2000): The 500 Dalton rule for the
skin penetration of chemical compounds and drugs. Exp
Dermatol 9, 165-9.
 (Sato K (1977) The physiology, pharmacology, and
biochemistry of the eccrine sweat gland. Rev Physiol
Biochem Pharmacol 79: 51-131.
 Liu XX, Sun CB, Yang TT, Li D, Li CY, et al. (2012)
Decreased skin-mediated detoxification contributes to
oxidative stress and insulin resistance. Exp Diabetes Res
2012: 128694.
 Sanders JE, Goldstein BS, Leotta DF (1995) Skin response to mechanical stress: adaptation rather than
breakdown--a review of the literature. J Rehabil Res Dev 32: 214-226.
 Streilein, JW, (1983): Skin-associated lymphoid tissues (SALT): origins and functions. J Invest Dermatol 80
Suppl, 12s-16s.
 Teunissen, MB, et al., Langerhans cells and related skin dendritic cells. In: Skin immune system. 2nd ed. 1997:
CRC Press LLC.
 Matzinger, P, (2002): The danger model: a renewed sense of self. Science 296,301-5. [40].
 Akira, S, et al., (2006): Pathogen recognition and innate immunity. Cell 124, 783-801.
 Pali-Scholl I, Renz H, Jarolim E.J. Update o allergy in pregnancy, lactation, and early childhood.J Allergy Clin
Immunol. 2009;123: 1012-21
 Slominski A. T., Zmijewski M. A., Skobowiat C., Zbytek B., Slominski R. M., Steketee J.D..Sensing
thenEnvironment:Regulation of Local and Global Homeostasis by the Skin’s Neuroendocrine System.
Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 2012.
 Aggarwal B.A., Gupta S.C., and Ji Hye Kim. Historical perspectives on tumor necrosis factor and its
superfamily: 25 years later, a golden journey. Blood J.2012;119(3):651-665.
 Mohammad Reza Vaez Mahdavi, Tooba Ghazanfari ,Aghajani M, Farideh Danyali and Mohsen Naseri
Evaluation of the Effects of Traditional Cupping on the Biochemical, Hematological and
Immunological Factors of Human Venous Blood
 Leire et al. Role of hypoxia inducible factor-1 in keratinocyte inflammatory response and neutrophil
recruitment. Journal of Inflammation 2013, 10:28. http://www.journal-
inflammation.com/content/10/1/28,
 El Sayed et al. , Medical and Scientific Bases of Wet Cupping Therapy (Al-hijamah): in Light of Modern
Medicine and Prophetic Medicine. Altern Integ Med 2013, 2:5
 Young-Suk Cho. HIF-1α controls keratinocyte proliferation by up-regulating p21(WAF1/Cip1).
 Nauta Tessa D., van Hinsbergh Victor W. M. , and Koolwijk P. .Hypoxic Signaling During Tissue
Repair and Regenerative Medicine. Int. J. Mol. Sci. 2014, 15, 19791-19815; doi:10.3390/ijms151119791
 Sahbaa M Ahmed, Nour H Madbouly, Soheir S
Maklad, Eman A Abu-Shady.
Immunomodulatory effects of blood letting
cupping therapy in patients with rheumatoid
arthritis. Egypt J Immunol 2005 ;12(2):39-51.
 El Sayed et al., Methods of Wet Cupping
Therapy (Al-Hijamah): In Light of Modern
Medicine and Prophetic Medicine.Altern Integ
Med 2013, 2:3 http://dx.doi.org/10.4172/2327-
5162.1000111