Anda di halaman 1dari 2

MORNING BRIEFING

Dolar menguat atas mata uang utama dunia lainnya karena aksi jual investor mereda setelah mata uang AS tersebut mencatatkan performa bulanan terburuk dalam satu
dekade. Indeks dollar anjlok 4% di Juli, penurunan terbesar sejak September 2010. Pelemahan dollar disebabkan oleh ekspektasi kebijakan moneter longgar AS lebih lanjut
serta belum tercapaianya kesepakatan di DPR mengenai stimulus fiskal. Dollar juga tertekan karena turunnya imbal hasil obligasi AS. Analis melihat bahwa penguatan dollar
akhir-akhir ini hanya sesaat karena aksi short coverinng. Sementara itu, penguatan dollar juga tertahan setelah data AS yang dirilis lebih rendah dari perkiraan. construction
spending AS turun 0,7% ke level terendah satu tahun di Juni. Analis memperkirakan kenaikan 1%. Indeks dollar, yang mengukur bobot dollar atas enam mata uang utama
dunia lainnya menguat 0,5% menjadi 93,836.
Dollar menguat 0,4% atas yen kemarin dan melanjutkan reli Jumat ketika USD/JPY membukukan penguatan terbesar sejak Maret. Pelemahan yen juga terjadi setelah Menteri
Keuangan Jepang Taro Aso menggambarkan kenaikan yen baru-baru ini sebagai “pergerakan cepat”, menyiratkan kekhawatiran bahwa mata uang yang kuat dapat merusak
ekonomi yang dipimpin ekspor yang sudah dalam kondisi resesi.
Harga emas rehat dari penguatannya, dan mulai terkoreksi karena penguatan dollar dan setelah investor jangka pendek melakukan profit taking. Investor kini tertuju pada
perkembangan debat di DPR AS mengenai proposal bantuan dampak wabah Covid-19. Pemerintah AS berencana akan meningkatkan bantuan kepada pengangguran.
Sementara itu, analis melihat bahwa koreksi emas yang terjadi kemarin hanya dikarenakan faktor teknikal karena sudah dekat level psikologi $2000, mendorong profit taking.
Harga minyak melonjak kemarin, membalikan kerugian sebelumnya, pada hari perdagangan pertama di Agustus, meski OPEC + mengurangi rekor penurunan produksi minyak
sebesar 2 juta barel per hari (bpd), sementara melonjaknya kasus COVID-19 telah mengurangi optimisme untuk pemulihan permintaan minyak yang cepat. Pelonggaran
pengurangan produksi dari 9,7 juta bph menjadi 7,7 bph, yang dimulai 1 Agustus telah membebani sentimen pasar, meskipun Arab Saudi mengatakan akan mempertahankan
ekspor minyaknya pada bulan Agustus pada tingkat yang sama seperti pada bulan Juli, mengkonfirmasikan laporan sebelumnya bahwa tidak akan terburu-buru untuk
meningkatkan pasokan ke pasar. Menurut survei bulanan Reuters bulanan Jumat lalu, produksi OPEC melonjak pada bulan Juli, setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan
Kuwait mengakhiri pemotongan tambahan sukarela satu bulan di Juni.
Fokus Hari Ini:
RBA Meeting