Anda di halaman 1dari 10

Journal Reading

Cross sectional study of prevalence of LPRD at


tertiary care hospital.
Studi cross sectional tentang prevalensi LPRD di Rumah Sakit
tersier.
Penyusun :
Pembimbing :
Rozandra Dewanthy Ayu Kartika Putri
dr. M. Agus Sugicharto, Sp. THT-KL, M.Kes
1920221117

Departemen THT-KL
UPN Veteran Jakarta
2020
Abstrak

Latar Belakang : Refluks berarti kembali atau regurgitasi cairan. Ketika gejala muncul karena
refluks isi lambung ke faring dan laring disebut sebagai penyakit refluks laringofaring. GERD dan
LPRD merupakan dua bentuk yang berbeda dan prinsip manajemen GERD tidak berlaku untuk
LPRD. Kami merancang penelitian cross sectional untuk mengevaluasi prevalensi refluks
laringofaring diantara pasien yang mengunjungi departemen rawat jalan THT dalam kurun waktu
setahun.
Metode : Pasien dengan gejala tenggorokan dan suara selama lebih dari sebulan dimasukkan ke
dalam penelitian ini. Reflux Symptom Index (RSI) yang diajukan oleh Belafsky et al digunakan
untuk menilai gejala refluks. Penegakan diagnosis dibuat jika pasien memiliki skor RSI > 13.
Hasil : Total dari 2669 pasien yang termasuk dalam waktu penelitian, dimana 1316 (49.3%)
adalah laki-laki dan 1353 (50.7%) adalah perempuan. Dari 2669, 1938 (72.6%) pasien memiliki
RSI >13. Dari 1938 pasien yang dilakukan 70° laringoskopi 1842 (95%) pasien ditemukan
memiliki RFS >7. Dari 1842 pasien dengan RFS >7, 1234 adalah laki-laki (67%) dan 608 adalah
perempuan (33%).
Kesimpulan : Di negara berkembang seperti India, dimana sumber daya dan tenaga manusia
terbatas, gejala refluks laringofaring sering diabaikan. Protokol diagnosis dan manajemen LPRD
perlu distandarisasi melalui studi jangka panjang seperti yang telah dilakukan terhadap GERD.
Pendahuluan

→ Penyakit refluks laringofaring sering diabaikan dalam


penegakan diagnosis dikarenakan sulit untuk
diidentifikasi dan gejala yang tidak khas.
→ Menurut El Serag prevalensi penyakit refluks (GERD dan
LPRD) menigkat sebanyak 4% setiap tahunnya sejak
1976.
→ Altman et al melaporkan peningkatan sebesar 500%
kunjungan ke otolaryngologist karena refluks
laringofaring diantara tahun 1990 dan 2001.
→ Selain itu, diperkirakan refluks laringofaring terdapat
lebih dari 50% pada pasien dengan disfonia
Metode
Studi cross sectional dilakukan di klinik THT
rawat jalan rumah sakit tersier dari 1 April 2017
sampai dengan 1 April 2018.
Kriteria insklusi :
pasien dengan gejala Kriteria ekslusi :
tenggorokan dan pasien dengan gejala
suara lebih dari satu akut.
bulan

Diagnosis refluks ditegakkan jika pasien memiliki Reflux Symptom Index


(RSI) >13, kemudian pasien dengan RSI >13 dilakukan laringoskopi dan
penilaian temuan dengan menggunakan Reflux Finding Score (RSF).
Apabila pasien dengan RSI >13 dan RSF >7 maka pasien tersebut memiliki
refluks laringofaring.
Metode (2)

Pasien di follow up dengan interval 1 sampai 3 bulan sekali


dan 70° laringoskopi diulangi setiap bulan untuk melihat
apakah ada perbaikan RFS.

Modifikasi diet dan gaya hidup pasien → pasien disarankan


untuk rutin berolahraga, hindari makanan pedas dan
berminyak, perbanyak serat, stop rokok dan alkohol, serta
makan teratur.

Proton Pump Inhibitor (PPI) → 2 kali sehari sebelum makan.


Hasil

→ 1842 pasien (dari 2669 pasien) memiliki RSI >13 dan RSF >7, terdiri
dari laki-laki sebanyak 1234 pasien (67%) dan perempuan sebanyak
608 pasien (33%).
→ Gejala yang paling sering dilaporkan adalah sensasi benjolan atau
benda asing di tenggorokan diikuti dengan mekanisme pembersihan
tenggorokan berulang dan batuk setelah makan atau saat berbaring.
→ Tanda yang paling umum ditemukan pada pemeriksaan laringoskopi
adalah hiperemia atau eritema di endolaring diikuti dengan hipertrofi
komisura posterior dan cairan mukus laring yang kental.
→ Saat follow up, mayoritas pasien menunjukkan perbaikan skor RFS.
Dari 1842 pasien, 21 pasien tidak menunjukkan perbaikan apapun
setelah terapi selama tiga bulan
Kesimpulan

 Penegakkan diagnosis dengan RSI dan RSF mudah


dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang mahal.
RSI dan RSF juga membantu dalam hal follow up
pasien serta memonitor hasil terapi.
 Respon terhadap terapi dalam penelitian ini sangat
memberi harapan karena hanya 21 dari 1842 pasien
(1.14%) yang gagal merespon terapi.
TE
TREIRMIM
AKAAKSA
S IH
IH