Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN KASUS

SUSPEK KARSINOMA NASOFARING

Oleh :
Ni Wayan Pariastini
H1A 011 052

Pembimbing :
dr. I Gusti Ayu Trisna Ariani, Sp.THT-KL
PENDAHULUAN
Karsinoma
Karsinoma nasofaring
nasofaring merupakan
merupakan jenis
jenis tumor
tumor yang
yang paling
paling sering
sering ditemukan
ditemukan pada
pada nasofaring.
nasofaring.
Karsinoma
Karsinoma nasofaring berasal dari mukosa nasofaring, dimana terdapat bukti adanya
nasofaring berasal dari mukosa nasofaring, dimana terdapat bukti adanya
diferensiasi skuamosa baik secara mikroskopik atau ultrastruktural.Karsinoma
diferensiasi skuamosa baik secara mikroskopik atau ultrastruktural.Karsinoma nasofaringnasofaring
merupakan
merupakan tumor
tumor ganas
ganas daerah
daerah kepala
kepala dan
dan leher
leher yang
yang terbanyak
terbanyak ditemukan
ditemukan didi Indonesia.
Indonesia.

Gabungan
Gabungan faktor
faktor genetik,
genetik, lingkungan,
lingkungan, infeksi
infeksi EBV
EBV

Masalah
Masalah :: etiologi
etiologi yang
yang masih
masih belum
belum pasti,
pasti, gejala
gejala dini
dini yang
yang tidak
tidak khas
khas serta
serta letak
letak
nasofaring
nasofaring yang
yang tersembunyi
tersembunyi

Diagnosis
Diagnosis terlambat  mempengaruhi
terlambat  mempengaruhi prognosis
prognosis
II. TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Nasofaring
• Nasofaring merupakan ruang atau rongga berbentuk kubus yang terletak di belakang
rongga hidung atau koana, tepat di bawah dasar tengkorak yang berhubungan dengan
orofaring.
• Batas-batas:
• Anterior : rongga hidung melalui koana
• Superior : dasar tengkorak
• Posterior : fasia prevertebralis dari atlas dan axis
• Inferior : berbatasan dengan palatum mole dan orofaring setinggi ismus faring
ANATOMI NASOFARING

Tempat
tersering awal
mula kanker
nasofaring,
transitional
epithelium yang
menjadi tempat
asal dari
tumbuhnya
tumor
nasofaring
KARSINOMA NASOFARING
Definisi
• Karsinoma adalah pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epithelial yang
cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. Karsinoma
nasofaring adalah karsinoma yang bertumbuh (berawal) dari mukosa nasofaring, dimana
terdapat bukti adanya diferensiasi skuamosa baik secara mikroskopik atau ultrastruktural.
EPIDEMIOLOGI

Insidensi KNF bervariasi, tergantung dari lokasi geografinya

Insidens KNF tertinggi di dunia dijumpai pada penduduk daratan Cina bagian
selatan

Di Indonesia frekuensi pasien KNF hampir merata di setiap daerah. Di RSUPN


Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta saja ditemukan lebih dari 100 kasus setahun

Karsinoma nasofaring lebih sering ditemukan pada laki-laki, 2:1

Distribusi KNF berdasarkan usia memiliki dua puncak, puncak pertama yakni pada
akhir masa kanak-kanak, dan puncak kedua terjadi pada usia 50-60 tahun
ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO
• Multifaktorial  Infeksi virus EBV, letak geografis, rasial, jenis kelamin, genetik,
pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau
parasit.
• Infeksi virus EBV  Lo dkk, menunjukkan bahwa DNA EBV terdeteksi pada sampel
plasma dari 96% pasien dengan KNF non-keratinizing. Selain itu, kadar DNA EBV
berkorelasi terhadap respon terapi dan kemungkinan dapat dipakai untuk memperkirakan
rekurensi penyakit
GEJALA KLINIK
Gejala nasofaring

• epistaksis ringan atau sumbatan hidung

Gejala telinga

• tinitus, rasa tidak nyaman di telinga (otalgia) hingga nyeri dan infeksi telinga
yang berulang.

Gejala mata dan saraf

• Diplopia, nyeri kepala, gangguan N.cranialis

Gejala metastasis

• Pada leher menunjukkan benjolan di leher, metastasis jauh akan


menunjukkan pada organ yang terkena (tulang, paru, hati, dll)
DIAGNOSIS

Anamnesis dan pemeriksaan fisik

Radiologis dan Laboratorium

Histologis
ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK

Tabel 1. Formula Digby


Gejala Nilai Menurut Formula Digby
setiap simptom mempunyai
Massa terlihat pada Nasofaring 25 nilai diagnostik dan
Gejala khas di hidung 15 berdasarkan jumlah nilai
dapat ditentukan ada
Gejala khas pendengaran 15 tidaknya karsinoma
nasofaring. Bila jumlah nilai
Sakit kepala unilateral atau bilateral 5
mencapai 50, diagnosa klinik
Gangguan neurologik saraf kranial 5 karsinoma nasofaring dapat
dipertangungjawabkan
Eksoftalmus 5
Limfadenopati leher 25
RADIOLOGIS DAN LABORATORIUM
• Radiologi  MRI lebih baik dibandingkan CT Scan dalam memperlihatkan baik bagian
superfisial maupun dalam jaringan lunak nasofaring, serta membedakan antara massa
tumor dengan jaringan normal.
• MRI mempunyai keterbatasan dalam menilai perluasan yang melibatkan tulang.
• CT scan penting untuk mengevaluasi adanya erosi tulang oleh tumor, disamping juga
dapat menilai perluasan tumor ke parafaring, perluasan perineural melalui foramen ovale
GAMBAR A DAN B ADALAH MRI SAGITTAL DAN KORONAL
YANG MENUNJUKKAN TUMOR NASOFARING (ANAK PANAH
BIRU), DAN ADENOPATI SERVIKAL (ANAK PANAH PUTIH)
POTONGAN AKSIAL CT SCAN MENUNJUKKAN
GAMBARAN KARSINOMA NASOFARING
• Foto rontgen thoraks
• Serologi
HISTOLOGI
• Biopsi nasofaring  baku emas dx KNF

Melalui hidung
Biopsi
Melalui mulut
HISTOPATOLOGI
• Terdapat tiga subtipe karsinoma nasofaring yang dikenali World Health Organization
(WHO), klasifikasi tersebut yakni 15:
• Tipe 1 : karsinoma sel skuamosa, biasanya ditemukan pada populasi pasien usia
lebih tua.
• Tipe 2 : karsinoma tidak berkeratinisasi
• Tipe 3 : karsinoma tidak berdiferensiasi
STADIUM
• Penentuan stadium sesuai dengan kriteria yang ditetapkan AJCC/UICC
(American Joint Committee on Cancer / International Union Against Cancer )
Stadium Kriteria TNM
0 Tis N0 M0
I T1 N0 M0
IIa T2a N0 M0
IIb T1-2b N1 M0
  T3 N0-2 M0
III T1-2b N2 M0
  T3 N0-2 M0
IV a T4 N0-2 M0
IV b Semua T N3 M0
IV c Semua T N0-3 M1
DIAGNOSIS BANDING
• Angifibroma Juvenile
• Limfoma
• Rhabdomyosarkoma
TATALAKSANA

Radioterapi dan kemoterapi

• Modalitas utama
• Radiasi diberikan kepada seluruh stadium (I, II, III, IV lokal) tanpa metastasis
jauh (M1) degan sasaran radiasi tumor primer dan KGB leher dan
supraklavikula
• kemoterapi digunakan pada kasus tahap lanjut

Operatif

• terbatas hanya untuk biopsi

Paliatif

• Efek radiasi  mukositis, mulut kering, liur kental  KIE, NGT, simptomatis
KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS

Komplikasi Prognosis
• Penyebaran massa tumor • Faktor terpenting untuk menentukan
• prognosis adalah stadium dari kanker.
Metastasis jauh  gangguan fungsi
organ • 5 year survival rate KNF
• stadium I sekitar 98%,
• stadium II sekitar 95%,
• stadium III sekitar 86%
• stadium IV sekitar 73%
LAPORAN KASUS
III. LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
• Nama pasien : Tn. R
• Umur: 60 th
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Alamat : Lingsar, Lombok Barat
• Suku : Sasak
• Agama : Islam
• Status : Menikah
• Pendidikan : SD
• Pekerjaan : Petani
• Tanggal Pemeriksaan : 21 Desember 2016
• No. RM : 161412
ANAMNESIS
Keluhan utama: Benjolan di leher
Riwayat penyakit sekarang :
• Pasien datang ke Poliklinik THT RSUP NTB dengan keluhan terdapat benjolan
di leher kanan pasien sejak 6 bulan yang lalu. Pasien mengaku benjolan ini
semakin lama semakin membesar, namun tidak terasa nyeri. Tidak ada keluhan
nyeri menelan atau rasa mengganjal saat menelan. Selain itu, pasien juga
mengeluh telinga berdengung dan terasa penuh serta mata kanan pasien tidak
dapat melihat dan tertutup yang dirasakan sudah 5 bulan. Pasien juga
mengeluhkan sakit kepala sejak 2 minggu terakhir. Pasien menyangkal terdapat
keluhan hidung tersumbat, mimisan, batuk, pilek, maupun demam. Pasien
mengaku nafsu makan menurun sejak 1 bulan yang lalu.  
• Riwayat penyakit dahulu:
• Pasien belum pernah menderita keluhan yang sama seperti ini sebelumnya. Riwayat
masuk rumah sakit karena sakit berat sebelumnya disangkal. Riwayat DM dan
hipertensi disangkal.
• Riwayat penyakit keluarga:
• Di keluarga pasien tidak ada yang menderita keluhan serupa. Riwayat hipertensi,
DM pada keluarga disangkal. Riwayat batuk lama pada anggota keluarga yang
tinggal serumah disangkal.
• Riwayat pengobatan:
• Pasien sebelumnya sempat datang ke poli Bedah RSUP NTB pada bulan Oktober
dilakukan FNAB dan hasilnya adalah suatu malignancy sesuai dengan metastasis
karsinoma.
• Riwayat sosial :
• Pasien bekerja sebagai petani, istri pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan
pasien mempunyai 2 orang anak, penghasilan yang didapat cukup untuk kebutuhan
sehari-hari. Pasien mempunyai riwayat merokok sejak 20 tahun yang lalu.
Riwayat alergi:
• Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan dan obat-obatan.
PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
• Keadaan umum : sedang
• Kesadaran : Compos mentis
• Tekanan darah : 120/80 mmHg
• Nadi : 88 x/menit
• Respirasi : 18 x/menit
• Suhu : 36,5 ⁰C
STATUS LOKALIS
• Kepala :
• Bentuk dan ukuran normal, edema wajah (-), Parese N VII (-), Nyeri tekan
kepala (-)
• Mata :
• Bentuk bola mata normal simetris, alis normal, exopthalmus (-/-), edema
palpebra (-/-), ptosis (+/-), konjungtiva anemis (-/-), hiperemia (-/-), sklera
ikterus (-/-), perdarahan (-), pupil bulat, anisokor, refleks cahaya (-/+),
pergerakan bola mata normal ke segala arah.
• Leher :
• Terdapat massa di coli sinistra ukuran 4x4x3 cm, konsistensi padat
keras, tidak dapat digerakkan Immobile, batas tegas, permukaan licin,
nyeri tekan (-), warna sama dengan kulit sekitar.
• Deviasi Trakea (-), penggunaan otot sternocleidomastoideus (-),
pembesaran tiroid (-)
TELINGA
No. Pemeriksaan Telinga kanan Telinga kiri
1. Tragus Nyeri tekan (-), edema (-) Nyeri tekan (-), edema (-)
2. Daun telinga Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri tarik normal, hematoma (-), nyeri tarik
aurikula (-) aurikula (-)
3. Liang telinga Serumen (+) minimal, hiperemis (-), Serumen (+) minimal, hiperemis (-),
furunkel (-), edema (-), otorhea (-) furunkel (-), edema (-), otorhea (-)

4. Membran timpani Retraksi (-), bulging (-), hiperemi (-), Retraksi (-), bulging (-), hiperemi (-),
  edema (-), perforasi (-), cone of light edema (-), perforasi (-), cone of light
(+) (+)
HIDUNG
Pemeriksaan Hidung Hidung kanan Hidung kiri

Hidung luar Bentuk (normal), hiperemi (-), nyeri Bentuk (normal), hiperemi (-), nyeri
tekan (-), deformitas (-) tekan (-), deformitas (-)

Rinoskopi anterior

Vestibulum nasi Normal, ulkus (-) Normal, ulkus (-)

Cavum nasi Massa (-), hiperemia (-), bekuan Massa (-) hiperemia (-), bekuan
darah (-) darah (-)

Konka nasi inferior Edema (-), mukosa hiperemi (-) Edema (-), mukosa hiperemi (-)

Septum nasi Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-) Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus (-)
TENGGOROKAN
Bibir Mukosa bibir kering,

Mukosa Bukal Berwarna merah muda pucat, hiperemia (-)

Lidah Normal. Paresis N XII (-)

Uvula Normal

Palatum mole Ulkus (-), hiperemi (-)

Faring Mukosa hiperemi (-), membran (-), granul (-)

Tonsila palatina Hiperemia (-), ukuran T1-T1, Kripte melebar (-), detritus (-)

Nervus IX/X Posisi arkus faring di tengah, Refleks menelan/muntah (+), disartria (-)
 
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Darah lengkap dan kimia klinik dilakukan tanggal 28/12/2016
• CT Scan Kepala dilakukan tanggal 20/12/2016
• FNAB dilakukan tanggal 19/10/2016  suatu malignancy sesuai
metastasis karsinoma.
PEMERIKSAAN LAB ( 28/12/2016)
Parameter 28/12/2016 Nilai referensi
HGB 14,7 12,0-16,0 g/dL
RBC 4,81 4,0 – 5,0 [10^6/µL]
WBC 8,1 4,0 – 11,0 [10^3/ µL]
HCT 42,1 36-48 [%]
MCV 87,5 76,0 – 96,0 [fL]
MCH 30,6 27,0-31,0 [pg]
MCHC 34,9 30,0-35,0 [g/dL]
PLT 160 150-400 [10^3/ µL]
GDS 120 80-120/dl
SGOT 15 <40 U/L
SGPT 22 <41 U/L
FOTO CT SCAN (20/12/2016)
ASSESSMENT
 TumorColi Dextra Suspek Karsinoma
Nasofaring
PLANNING
• Penunjang
• Biopsi
• Medikamentosa
• Asam Mefenamat 3x1 tab, diminum bila perlu (nyeri)
• Vitamin B kompleks 2x1 tablet
KIE
• Benjolan pada leher kiri pasien kemungkinan adalah suatu keganasan sehingga
diperlukan tindakan pemeriksaan lanjutan berupa biopsi untuk memastikan kembali.
Jika terbukti keganasan, maka pasien perlu dirujuk ke senter yang lebih besar untuk
memulai terapi dengan radioterapi atau kemoterapi.
• Menginformasikan bahwa untuk saat ini yang dapat dilakukan adalah pemberian
obat-obatan untuk mengurangi gejala saja.
• Pasien diminta menjaga kesehatan dengan istirahat teratur, makan makanan segar,
sehat dan bergizi.
PROGNOSIS
• Quo ad vitam : dubia ad malam
• Quo ad functionam : dubia ad malam
• Quo ad sanationam : dubia ad malam
PEMBAHASAN

massa nasofaring (25), gejala


khas di hidung (15), gejala khas
telinga (15), sakit kepala bilateral CT Scan kepala didapatkan
Anamnesis + pemeriksaan fisik
(5), gangguan neurologik saraf massa nasofaring,
kranial (5) dan limfadenopati
leher (25)  total skor digby 75

Diagnosis sementara adalah


FNAB suatu malignancy tumor coli dextra susp Saran : biopsi
karsinoma nasofaring
TERIMA KASIH