Anda di halaman 1dari 15

STANDAR PELAYANAN

KEFARMASIAN DI APOTEK
Tita Setya Utami 16.0553
Metty Sarah Krismala 16.0571
Ida Sari Dewi 16.0576
Ninik Puji Astuti16.0608
LATAR BELAKANG

Kesehatan Fasilitas Kesehatan

Standar Pelayanan
Apotek
Kefarmasian
RUMUSAN MASALAH

Bagaimanakah standar pelayanan kefarmasian


di apotek
menurut Permenkes no 73 tahun 2016 ?
APOTEK

Pasal 2
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
Tujuan Pengaturan Standar Pelayanan
73 Tahun 2016 (pasal 1, ayat 1)
Kefarmasian di Apotek :

Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian


tempat dilakukan praktik kefarmasian oleh a. Meningkatkan mutu Pelayanan Kefarmasian;
Apoteker.
b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian;
dan

c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat


yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien
(patient safety).
RUANG LINGKUP PELAYANAN KEFARMASIAN DI
APOTEK

Bersifat manajerial, berupa :


Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai

Pelayanan kefarmasian di apotek

Pelayanan farmasi klinik


Klasifikasi Apotek
(PP 51/2009 tentang pekerjaan kefarmasian)

Tipe A Tipe B
 Modal lebih dari 2 milyar (di luar tanah dan  Modal 500 juta – 2 milyar (di luar tanah
bangunan)
dan bangunan)
 Terdapat 2 orang apoteker yang melaksanakan
praktek secara bersama dalam satu shift  Terdapat 2 orang apoteker yang
melaksanakan praktek
 Jumlah TTK mencukupi sesuai dengan bagian-
bagian secara jelas  Jumlah TTK mencukupi sesuai dengan
 Terdapat ruang diskusi terapi/koordinasi antar bagian-bagiannya
apoteker dan TTK
 Terdapat ruang koordinasi antar
 Terdapat ruang pelayanan konseling untuk apoteker dan TTK
tiap-tiap apoteker
 Terdapat ruang pelayanan konseling
Tipe C Praktek mandiri
 Modal 150 juta- 500 juta (di luar tanah dan
bangunan)  Modal <150 juta (di luar tanah dan
bangunan)
 Terdapat 1 orang apoteker yang melaksanakan
praktek  Terdapat 1 orang apoteker yang
 Persediaan obat sesuai dengan kebutuhan melaksanakan praktek
masyarakat
 Jumlah TTK mencukupi sesuai dengan tugasnya
 Persediaan obat sesuai dengan
kebutuhan lingkungan
 Terdapat tempat koordinasi antar apoteker dan
TTK  Ada/tanpa TTK, sesuai kebutuhan
 Terdapat ruang pelayanan konseling
 Terdapat meja pelayanan konseling
PENGELOLAAN SEDIAAN FARMASI, ALAT
KESEHATAN, DAN BAHAN MEDIS HABIS PAKAI

Perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya


1. Perencanaan
dan kemampuan masyarakat

Sediaan Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan


2. Pengadaan
peraturan perundang-undangan.

Kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis spesifikasi,


3. Penerimaan jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
4. Penyimpanan 1. Penyimpanan obat
2. Pengeluaran obat
7. Pencatatan dan Pelaporan

1. Pencatatan dilakukan pada setiap proses


1. Pemusnahan obat pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
2. Pemusnahan resep Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
5. Pemusnahan dan 3. Penarikan sediaan farmasi, alkes, dan 2. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal
Penarikan BMHP dan eksternal.

Bertujuan untuk menghindari terjadinya


kelebihan, kekurangan, kekosongan,
6. Pengendalian kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta
pengembalian pesanan.
PELAYANAN FARMASI KLINIK

• Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi,


1. Pengkajian dan Pelayanan kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis
Resep • Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, penyiapan Sediaan Farmasi, pemeriksaan,
penyerahan disertai pemberian informasi

2. Dispensing Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan


pemberian informasi Obat.

Kegiatan penyediaan dan pemberiaan informasi,


3. PIO rekomendasi obat yang independen, akurat, tidak bias,
terkini dan komprehensif.
PELAYANAN FARMASI KLINIK

Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan


4. Konseling
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman
kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku
penggunaan Obat. Metode yang digunakan yaitu three prime
question

5. Pelayanan Kefarmasian di Apoteker diharapkan juga dapat melakukan Pelayanan Kefarmasian


rumah (pharmacy home care) yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia
dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.

6. Pemantauan Terapi Obat Pasien mendapatkan terapi Obat yang efektif dan terjangkau dengan
(PTO) memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.
PELAYANAN FARMASI KLINIK

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap Obat yang


7. Monitoring Efek Samping
merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal
Obat (MESO)
yang digunakan pada manusia
SARAN

1. Perlu adanya pengetahuan tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek


dan petunjuk teknis pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
2. Perlu adanya SOP/Protap sesuai standar pelayanan kefarmasian di apotek.
3. Perlu adanya sosialisasi tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek dan
petunjuk teknis pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
4. Perlu adanya pembinaan tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek oleh
Dinas Kesehatan setempat.
5. Perlu adanya pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek.
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Sudiro & Suparwati, A., 2015, Pelaksanaan Standar Pelayanan Kefarmasian pada Apotik di Kabupaten Semarang, Jurnal
Manajemen Kesehatan Indonesia, Universitas Diponegoro, Semarang.

Depkes RI, 2009, Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Permenkes RI, 2016, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Kemenkes RI, 2017, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 9 Tahun 2017 Tentang Apotek, Jakarta.

Permenkes RI, 2015, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan,
Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.

Republik Indonesia, 2009, Undang-Undang no.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Seketariat Republik Indonesia, Jakarta.
TERIMA KASIH