Anda di halaman 1dari 35

PENURUNAN HOSPITAL MALNUTRITION

DENGAN PELAYANAN ASUHAN GIZI


YANG BERKUALITAS & PROFESIONAL
PENDAHUL
UAN
• Malnutrisi adalah ketidakseimbangan antara asupan
dan kebutuhan zat gizi, yang diikuti dengan gangguan
fungsi dan metabolik sehingga terjadi gangguan
komposisi tubuh.

• Malnutrisi rumah sakit : malnutrisi selama dalam


perawatan, ditandai dengan penurunan berat badan.

Agostoni C, dkk. JPGN. 2005; 41:8--‐11.


PENDAHUL
UAN
• Angka Malnutrisi di rumah sakit : masih sering
terjadi : 15,5% --‐ 51,6%

Konsekuensinya adalah peningkatan morbiditas, lama


rawat, biaya dan mortalitas

 Pentingnya peran Nutrisionis Dietesien dalam


menurunkan angka malnutrisi  asuhan gizi yang tepat
dan berkualitas serta dilakukan secara profesional
THE MALNUTRITION
SYNDROME
Malnutrisi
Undernutrition
Gizi kurang Obesity
•Kelaparan kronik tanpa peradangan
Obesity > 30 BMI
•Penyakit kronis dengan peradangan
•Penyakit akut/luka dengan peradangan

Defisiensi Defisiensi Sarcopenia Metabolic


makronutrien mikronutrien syndrome

Jensen GL, et al. JPEN 2012;36:267-274.


PENYEBAB MALNUTRISI

 Impaired nutritional intake

 Increased nutritional requirements

 Impaired digestion and absorption

 Excess nutrient loss


MALNUTRISI DAN
KONSEKUENSINYA
Menurunkan fungsi GI
 Pengaruhi barrier, fungsi absorpsi, cerna, dan imunitas

Menurunkan fungsi otot


Menurunkan fungsi ginjal
 Menurunkan flitrasi glomerolus

Menurunkan fungsi jantung


Hambat pertumbuhan pada anak
Pengaruhi farmakokinetik obat
Saunders J, et al.Clin Med 2010;10:624-627.
Roediger WE. JPEN 1994;18:4-8.
Green R, et al. Semin Hematol 1999;36:47-64.
Zarowitz BJ, et al. Clin Pharm 1990;9:40-44.
MALNUTRISI DAN
KONSEKUENSINYA
Hambat penyembuhan luka
Ganggu imunitas
Meningkatkan kematian
Memperlama durasi rawat inap
Meningkatkan biaya rawat
Meningkatkan readmission

Loser C. Dtsch Arztebl Int 2010;107:911-917.


Lim SL, etal. Clin Nutr 2012;31:345-350.
Hiesmayr M, et al. Clin Nutr 2009;28:484-491.
FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERJADINYA
HOSMAL

INTERNAL EKSTERNAL

Umur (anak, usia lanjut) Kegagalan mengidentifikasi


Depresi (tidak termotivasi) pasien dengan status gizi
kurang
Penyakit (HD, Ca, DM, HIV,
Tidak ada nya skrining gizi atau
jantung)
penilaian status gizi pada saat
Ketidakmampuan mengkonsumsi pasien masuk RS
makanan krn tidak mampu Kegagalan dalam mencatat tinggi
mengunyah, atau menelan (gigi dan berat badan serta asupan
rusak) pasien
Kehilangan cita rasa
Efek samping dari
pengobatan/terapi obat
ASUPAN GIZI YANG BAIK PADA
PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH
SAKIT

KENDAL
I MUTU
&
KENDAL
I BIAYA
PERAN NUTRISIONIS DIETESIEN DALAM
ASUHAN GIZI
ASUHAN GIZI

• Bagian dari pelayanan gizi


• Sarana dalam upaya pemenuhan zat gizi kepada
pasien/klien/group
• Sasaran : Orang sehat, kelompok, orang sakit
• Setting : Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik
• Jenis asuhan berkaitan dengan :
Potensi penyakit, lingkungan, status tumbuh kembang,
sos-ek, asupan makanan, nutrition support dsb.
Brylinsky,2000
Depkes RI, 2005
ASUHAN GIZI
TUJUAN
• Memenuhi kebutuhan zat gizi pasien secara optimal
baik berupa pemberian makanan pada pasien yang
dirawat, maupun konseling gizi pada pasien rawat jalan
• Mencegah terjadinya Hospital Malnutrition
atau penurunan status gizi yang terjadi selama masa
perawatan
•Dampaknya adalah bertambahnya lama rawat,
menurunnya respon pengobatan, dan dampak jangka
panjang adalah menurunnya kualitas hidup

Pedoman, DepKes RI, 2005


HOSPITAL MALNUTRITION

TANTANGAN UNTUK MEMBERIKAN


PELAYANAN GIZI YG BERKUALITAS

DILAKUKAN OLEH PROFESIONAL PEMBERI


ASUHAN GIZI

 LENGTH Of STAY
 HOSPITAL COST
13
ASUHAN GIZI

Serangkaian kegiatan yang


terorganisir/terstruktur yang
memungkinkan untuk identifikasi
kebutuhan gizi dan penyediaan
asuhan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut (PGRS, 2015)
 RAWAT
INAP
 RAWAT
JALAN
PROSES & KONTEN
ASUHAN
PROSES TERSTANDAR

ASUHAN
PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR
TERSTANDAR
Terapi Diet / Medical
(PAGT) /
Nutrition Therapy
NUTRITION CARE
PROCESS
• 4 langkah Konsiten • Spesifik untuk
(ADIME) mengelola penyakit
• Terminologi terstandar tertentu
(Internasional)
KONSEP PELAYANAN
BERFOKUS PASIEN
(PATIENT CENTERED CARE)
BERDASARKAN SNARS
2018
Tujuan Pelayanan berfokus Pasien
KONSEP
PELAYANAN
Model Patient-centered Care

“Dokter =
Staf Klinis
Team Leader” Perawat
Fisio
terapis Apoteker

>
“Interdisciplinary
Team
Asuhan Dokter/
DPJP
Pasien Ahli
Model” Integrasi Gizi

>
Radio
Kompetensi grafer Lainnya
Analis
yg memadai

Case
 Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) sebagai pimpinan Manager

klinis/ketua tim PPA (clinical leader).


 PPA bekerja sebagai tim interdisiplin dengan kolaborasi
interprofesional, menggunakan alur klinis/clinical pathway,
perencanaan pemulangan pasien terintegrasi/integrated discharge
planning
 Keterlibatan serta pemberdayaan pasien dan keluarga dalam 19
Profesional
Pemberi Asuhan CE PA
NT TI
ER EN
DPJP ED T
CA
RE
Perawat/
Bidan Apoteker

Psikologi Nutrisionis
Klinis Dietisien

Terapis Teknisi Medis


Fisik Penata Anestesi

Profesional Pemberi Asuhan : Lainnya PPA


mereka yg secara langsung memberikan Tugas Mandiri,
asuhan kpd pasien, a.l. dokter, perawat, Tugas Kolaboratif,
bidan, ahli gizi, apoteker, psikolog klinis,
penata anestesi, terapis fisik dsb SUMBER :KARS DR.NICO LUMENTA Tugas Delegatif
20
Profesional Pemberi Asuhan (PPA)

 Tenaga kesehatan yang secara


langsung memberikan asuhan kepada
pasien, a.l. dokter, perawat, bidan,
nutrisionis/ dietisien, apoteker, penata
anestesi, terapis fisik dsb., dengan
kompetensi yang memadai, sama
pentingnya pada kontribusi
profesinya, masing-masing
menjalankan tugas mandiri, PPA harus memastikan:
kolaboratif dan delegatif. oAsuhan direncanakan untuk
 Memberikan asuhan yang terintegrasi memenuhi kebutuhan pasien yang unik
dalam satu kesatuan sebagai tim berdasar atas asesmen
interdisiplin dengan kolaborasi oRencana asuhan diberikan kepada tiap
interprofesional. pasien;
oRespons pasien terhadap asuhan
dimonitor;
o
Profesional Pemberi Asuhan
(PPA)

Masing-masing PPA memberikan asuhan melalui tugas mandiri,


delegatif dan kolaboratif dengan pola IAR.
 Menggunakan Pola IAR dan penulisan SOAP / ADIME (untuk
GIZI)
 Berkolaborasi interprofesional
 Meningkatkan kompetensi untuk praktik kolaborasi
interprofesional dalam 4 ranah :
o Nilai dan etika praktik interprofesional
o Peran dan tanggung jawab
o Komunikasi interprofesional
o Kerjasama dalam tim klinis/ interdisiplin
 Edukasi untuk kolaborasi interprofesi
PPA melaksanakan asuhan pasien dalam 2 proses,
Asesmen pasien dan Implementasi rencana termasuk monitoring.

Asesmen pasien terdiri dari 3 langkah (IAR) :


1. Informasi dikumpulkan, antara lain anamnesa, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan lain / penunjang, dsb (I)
2. Analisis informasi, menghasilkan kesimpulan antara lain
masalah, kondisi, diagnosis, untuk mengidentifikasi kebutuhan
pelayanan pasien (A)
3. Rencana pelayanan / Care Plan dirumuskan, untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan pasien (R)

Implementasi rencana serta monitoring adalah pemberian


pelayanannya. Pencatatannya dilakukan dengan metode SOAP
pada Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi
Proses Asuhan Pasien
Diagram
IAR
1 Asesmen Pasien
(Skrining, “Periksa Pasien”)
1. Informasi dikumpulkan :
Anamnesa, pemeriksaan-pemeriksaan lain / penunjang, dsb  I
2. Analisis informasi :

 A
Dihasilka Diagnosis / Masalah / Kondisi
PPA : Untuk mengidentifikasi Kebutuhan Yan Pasien
Dokter
3. Rencana Asuhan/Plan of Care:
 R
Perawat
Bidan Merumuskan rencana dan sasaran terukur
Apoteker Untuk memenuhi Kebutuhan Yan Pasien
Nutrisionis
Dietisien
Teknisi Medis 2 Pemberian Pelayanan
(Penata- Implementasi Rencana
Anestesi)
Tugas
Terapis Fisik Monitoring
Mandiri
Tugas
kolaboratif
Tigas
delegatif 24
NUTRISIONIS
DIETESIEN SEBAGAI
PROFESIONAL
PEMBERI ASUHAN GIZI 25
NUTRISIONI
S
-DIETESIEN
???
DEFINISI TENAGA GIZI
Undang-undang Nakes no 36, 2014

“NUTRISIONIS dan
DIETESIEN”
Permenkes RI Nomor 26 ,2013

“setiap orang yang


mengabdikan diri dalam bidang gizi
serta memiliki pengetahuan
dan/atau keterampilan melalui
pendidikan di bidang gizi,
mempunyai kewenangan untuk
melakukan upaya kesehatan dan
gizi”
UNDANG-UNDANG NO.36 TAHUN 2014
TENTANG TENAGA KESEHATAN
TENAGA GIZI (NUTRISIONIS & DIETISIEN)
KEWENANGAN TENAGA GIZI
PERMENKES RI NO 26 TAHUN 2013
PASAL 17
1. Melakukan pengkajian gizi
2. Membuat Diagnosis Gizi
3. Membuat Intervensi Gizi meliputi perencanaan,
preskripsi diet, implementasi, konseling, edukasi,
fortifikasi dan suplemen zat gizi makro dan mikro
4. Melakukan Monitoring/pementauan dan Evaluasi
5. Melakukan dokumentasi
6. Merujuk kasus gizi
7. Melakukan Konseling dan Edukasi gizi dan dietetik
8. Melakukan Pendidikan, pelatihan, penelitian,
pengembangan pelayanan gizi
9. Menyelenggarakan makanan untuk orang banyak
Proses Asuhan Gizi Pasien
Diagram IAR

1
Asesmen Pasien Penca
(Skrining, “Periksa Pasien”) tatan
1. Informasi dikumpulkan :
Anamnesa, pemeriksaan-pemeriksaan lain / penunjang, dsb  I A

2. Analisis informasi :
Dihasilka Diagnosis / Masalah / Kondisi A
 D
PPA : Untuk mengidentifikasi Kebutuhan Yan Pasien
Dokter
Perawat 3. Rencana Asuhan/Plan of Care:  R
Bidan Merumuskan rencana dan sasaran terukur i
Apoteker Untuk memenuhi Kebutuhan Yan Pasien
Nutrisionis
Dietisien
2
Teknisi Medis Pemberian Pelayanan M
Tugas Mandiri
(Penata- Implementasi Rencana
Anestesi)
Monitoring E
Terapis Fisik

30
PERAN TENAGA
GIZI MELAKUKAN
ASUHAN GIZI
RANAP & RAJAL
ELEMEN PRAKTEK
PROFESIONAL
PRINSIP DASAR PRAKTEK
PROFESIONAL
 Berfikir kritis
OTONOMI
 Membuat keputusan sendiri

•  Berbuat baik
BENEFICIENC
E  Adil
• JUSTICE  Menjunjung tinggi moral legal
dan kemanusiaan

 Tidak merugikan
•  Tidak menimbulkan bahaya fisik
NORMALEFICIE atau psikis
NCE
PRINSIP DASAR PRAKTEK
PROFESIONAL
 Kejujuran, kebenaran
VERACITY  Membangun hubungan saling
percaya
• FIDELITY  Menepati & mmenghargai janji
 Komitmen tehadap orang lain

•  Kerahasiaan
CONFIDENTIALI  Menjaga privacy klien
TY
 Hak otonomi pasien
• MORAL  Menentukan apa yang boleh
dilakukan
TERIMA KASIH
HATUR NUHUN