Anda di halaman 1dari 12

Mekanisme Toksisitas Cemaran Dioksin

(TCDD) dan Rute Masuknya ke Dalam Tubuh


Cemaran dioksin masuk ke dalam tubuh melalui selaput sel mukosa di mulut
maupun melalui selaput mukosa di saluran pernapasan, kemudian di bawa oleh
darah untuk didetosifikasi di hati oleh enzim fase 1 (cytochrome P-450
monooksigenase) dan enzim fase 2 (Glutation-S-transferase).
Enzim fase 1 akan mengoksidasi dioksin (TCDD) menjadi senyawa yang lebih polar
dan mudah untuk dikonjugasi oleh enzim fase 2, akan tetapi senyawa intermediate
metabolit ini bersifat lebih reaktif dan dapat menyebabkan terjadinya kanker ketika
berikatan dengan ROS (Reaktif Oksigen Spesies) dan senyawa radikal bebas lainnya
(anion superoksida, hidrogen peroksida maupun radikal hidroksil). Apabila jumlah
senyawa metabolit reaktif hasil oksidasi dioksin (TCDD) oleh enzim fase 1 lebih
besar jumlahnya dibandingkan dengan enzim fase 2 (Glutation-S-transferase) yang
diproduksi oleh hati, maka senyawa metabolit reaktif dioksin ini akan bersatu
dengan protein reseptor dan ikut masuk ke dalam inti sel.
Di sini, metabolit reaktif dioksin berikatan dengan DNA pada basa nukleotida
Adenin dan Guanine sehingga menghasilkan DNA adduct. Selain itu dioksin
juga dapat menyerang gen yang mengontrol banyak reaksi biokimia seperti
sintesis dan metabolisme hormon, enzim, maupun faktor pertumbuhan,
sehingga berdampak pada kelainan janin sampai kanker.Keberadaan
antioksidan diperlukan oleh tubuh agar jumlah senyawa metabolit reaktif
dioksin tidak dihasilkan dalam jumlah berlebih sehingga enzim fase 2
(Glutation-S-transferase) dapat berkonjugasi dan mengubah dioksin menjadi
senyawa yang lebih polar (larut air) dan mudah ditranspor oleh serum darah
sehingga dengan mudah dapat dikeluarkan oleh ginjal melalui urine maupun
dibawa ke kantung empedu untuk selanjutnya dibuang melalui usus besar
dalam bentuk feses padat.
Mekanisme TCDD dalam menyebabkan gangguan
sekunder dengan terjadinya cross talk estrogen
AhR adalah suatu ligan faktor transkripsi yang dipengaruhi oleh faktor
transkripsi milik family gen bHLH-PAS. Partner factor ARNT bersama-
sama dengan AhR akan melakukan mediasi biologis terhadap sejumlah
ligan yang lain dengan dipengaruhi oleh faktor makanan, turunan
triptofan dan polutan lingkungan seperti poliaromatik hidrokarbon dan
poly-chlorinated dioxin. Paparan dioksin (TCDD) ini menyebabkan
dampak negatif yaitu terganggunya jalur sinyal hormonal estrogen.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa paparan dioksin akan menghambat
 jalur sinyal (signaling pathway) reseptor estrogen.
Salah satu mekanisme di balik efek gangguan dioksin pada sinyal E2
disebabkan oleh ikatan antara ARNT dengan AhR. Kejadian ini akan
menurunkan pool intraselular ARNT yang tersedia untuk reseptor
estrogen ERα dan ERβ. Selanjutnya ligan AhR dapat mengaktifkan atau
menekan baik sinyal ERα maupun ERβ tergantung pada konteks selnya.
Sel dan ligan ini akan memberikan efek khusus yang dipengaruhi oleh
aktivitas enzim P-450 dan kemampuannya untuk menghasilkan
metabolit yang akan mengaktifkan transkripsi ERα dan ERβ. Paparan
yang berbeda pada ligan AhR akan mengaktifkan profil ekspresi gen
yang berbeda sehingga diperoleh hasil selular yang berbeda pula.
Mekanisme TCDD dalam menyebabkan gangguan sekunder
dengan terjadinya cross talk antara NF-kappaB dengan ReIB

Penemuan crosstalk baru antara reseptor aril hidrokarbon (AhR) dan


NF-kappaB subunit ReIB dapat memperluas pemahaman kita tentang
fungsi biologis dari AhR. Karakteristik ini berbeda dengan interaksi AhR
dengan ReIA yang tampaknya dapat menimbulkan efek negatif jika
dibandingkan dengan interaksi kolaboratif AhR dengan ReIB. Dimer
AhR/RelB yang terbentuk mampu mengikat DNA Respon Elemen
termasuk Dioxin Respon Elemen (DRE) serta mengikat situs NF-kappaB
yang akan meningkatkan aktivasi gen target AhR serta NF-kappaB
pathway.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kompleks AhR/ReIB dapat
ditemukan tidak hanya di sel limfoid, tetapi juga di line cell hepatoma manusia
(HepG2) maupun line cell kanker payudara (MDA-MB-231). ReIB telah terlibat
dalam karsinogenesis misalnya terjadinya kanker payudara dan ReIB diketahui
menjadi faktor yang sangat penting untuk fungsi dan diferensiasi sel-sel
dendritik. Partisipasi AhR dalam kedua proses tersebut telah dikemukakan
baru-baru ini, sehingga menawarkan potensi besar untuk memperluas ruang
lingkup peran fisiologis AhR. Ada bukti yang menunjukkan bahwa ReIB dapat
berfungsi sebagai pro-survival factor, termasuk kemampuannya untuk
mempromosikan inflammation resolution di samping asosiasi ReIB dengan
adanya gangguan inflamatory. Berdasarkan informasi tersebut, AHR bersama-
sama dengan RelB berfungsi sebagai koordinator respon inflamasi.
Mekanisme TCDD dalam menyebabkan terjadinya
crosstalk antara Faktor Transkripsi AhR dan Nrf2
TCDD dapat menginduksi gen ARE (Antioksidan Respon Elemen) dengan
melibatkan setidaknya dua mekanisme tidak langsung . Pertama, cross-
talk dua arah tampak ada pada tingkat genetik antara AhR dan Nrf2.
Promotor gen Nrf2 mengandung setidaknya satu gen fungsional XRE
(Xenobiotik Respon Elemen) dan gen promotor AhR berisi beberapa ARE
(Antioksidan Respon Elemen). TCDD dapat meningkatkan transkripsi DNA
menjadi m-RNA untuk Nrf2 dan meningkatkan translasi protein dengan
jumlah beberapa kali lipat. Ini adalah hasil yang mengejutkan karena
dengan tidak adanya stress (cekaman), gen Keap1 seharusnya mampu
menerjemahkan gen Nrf2 untuk ubiquitilasi dan degradasi proteasomal
sehingga TCDD akan melakukan represi antagonis terhadap Nrf2.
Kedua, mekanisme yang menyebabkan TCDD dapat menginduksi ekspresi gen
ARE (Antioksidan Respon Elemen) adalah dengan menstimulasi interaksi
protein-protein antara AhR dan Nrf2 yang akan meningkatkan stabilitas faktor
CNC-bzip. Bukti terbaru menunjukkan bahwa aktivasi ligan AhR dapat
berinteraksi dengan berbagai faktor transkripsi seperti reseptor estrogen atau
androgen, dan meningkatkan aktivitas mereka. Penemuan crosstalk antara
AhR dan Nrf2 memiliki implikasi biologis yang signifikan. Secara historis, AhR
telah dikaitkan dengan karsinogenesis, sedangkan Nrf2 adalah terkait dengan
sitoproteksi terhadap penyakit degeneratif. Tantangan masa depan adalah
membuat cross-talk antara dua faktor transkripsi ini dapat dimanfaatkan
secara menguntungkan untuk kemoterapi pencegahan kanker atau untuk
meningkatkan strategi kemopreventif.
Bahaya Dioksin
• Dioksin merupakan senyawa yang mampu mengacaukan sistem hormon, yaitu dengan
cara bergabung dengan reseptor hormon, sehingga mengubah fungsi dan mekanisme
genetis dari sel.
• Menyebabkan timbulnya penyakit genetis dan dapat mempengaruhi pertumbuhan anak.
• Menurunkan daya tahan tubuh, karena secara langsung dioksin mampu menurunkan sel
B dan secara tidak langsung menurunkan jumlah sel T yang berperan dalam sistem
Imun.
• Mengacaukan sistem saraf.
• Keguguran pada kandungan,
• Mengakibatkan cacat kelahiran (birth deformity), seperti gangguan intelektual.
• Mengganggu fungsi reproduksi, dimana berakibat pada jumlah sperma laki-laki
menurun dan endometriosis pada perempuan meningkat.
• Mengganggu metabolisme glukosa yang dapat menyebabkan diabetes tipe 2.
• Menyebabkan penyakit jantung iskemik.
Pencegahan Toksisitas Dioksin
• Memisahkan sampah-sampah organik yang mudah terdegradasi oleh
mikroorganisme dengan sampah yang susah terdegradasi seperti plastik.
• Melakukan pembakaran sampah berkisar antara 800 – 1100 0C, sebab
dengan incinerator yang mampu membakar sampah hingga temperatur
1000 0C tidak akan menghasilkan dioksin.
• Pencegahan pembentukan senyawa de novo.
• Terhadap debu terbang yang dikumpulkan dengan penghisap debu yang
banyak mengandung dioksin, ada teknologi pemrosesan reduksi
khlorinat dengan panas.
• Bersikap ekstra hati-hati dalam mengkonsumsi makanan.
Upaya Pengendalian Dioksin
• Menggunakan Titanium dan Ultraviolet
• Mengurai Dioksin dengan Enzim