Marco vs GRAB Case
Business Law & Ethics Assignment
Group 1 - BLEMBA 61
Atmaji Haryo W. - 29119072
Chrisna Aditya W. - 29119176
Arief Probo Sisworo - 29119078
Shelena Hermin S. - 29119235
Erwin P. Surbakti - 29119242
Ong Christopher - 29119260
Latar Belakang Masalah
● Dilan merupakan pengemudi yang menjadi mitra dari perusahaan GRAB yang terlibat dalam
kasus kecelakaan kendaraan beruntun dimana Marco sebagai pengguna dan penumpang
Grab yang dikemudikan oleh Dilan.
● Akibat kecelakaan yang dialami Marco, dia harus membayar biaya perawatan 450 juta dan
mengalami kesulitan bekerja dan mendapatkan penghasilan karena tidak bisa berjalan.
● Biaya dan kerugian yang harus dikeluarkan oleh Marco jauh melebihi fasilitas asuransi AXA
yang diberikan oleh Grab (maksimum 68 juta per orang)
● Marco ingin menggugat Grab untuk mendapatkan ganti rugi
Kronologi Kejadian
● Jam 1 pagi Dilan baru selesai mengerjakan tugas kuliah
● Jam 4:30 pagi Dilan membawa seorang penumpang Grab bernama Marco Wibisono
(wiraswasta) menuju Bandara Soekarno Hatta, Tangerang
● Dilan mengemudi dalam keadaan masih mengantuk karena kurang tidur
● Marco memberitahu Dilan bahwa dia ingin sampai di Bandara untuk check-in Jam 6 pagi
● Dilan mengendarai mobil melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan sehingga terjadi
kecelakaan beruntun ketika Dilan bermanuver mendahului mobil di depanya.
● Dilan dan Marco mengalami luka yang cukup serius dimana Marco menjadi tidak bisa berjalan
● Marco harus membayar biaya perawatan sebesar 450 juta dan mengalami kerugian kesulitan
bekerja dan mendapatkan penghasilan
Kewajiban Dua Belah Pihak
MARCO - sebagai penumpang adalah orang yang berada GRAB - Sebagai pelaku usaha untuk menerima
di kendaraan selain pengemudi dan awak kendaraan. pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
jasa yang diperdagangkan.
Penumpang dalam proses pengangkutan merupakan
pengguna jasa yang mempunyai hak untuk diangkut ke Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya dan.
tempat tujuan dengan selamat. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan jasa.
Timbulnya hak pada penumpang, maka secara sendirinya
oleh hukum penumpang mempunyai suatu kewajiban Hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara
sebagaimana subjek hukum semestinya yaitu membayar hukum bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh
biaya angkutan atas dirinya yang diangkut. jasa yang diperdagangkan.
Prinsip Tanggung Jawab Dalam Hukum Pengangkut
Dalam hukum pengangkutan di Indonesia umumnya menganut 3 prinsip tanggung jawab sebagai berikut:
1. Tanggung Jawab karena Kesalahan (Fault Liability)
2. Tanggung Jawab Karena Praduga (Presumption Liability)
3. Tanggung Jawab Mutlak (Absolute Liability)
Dasar Hukum I
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN, BAB
XIV KECELAKAAN LALU LINTAS.
● Pasal 229 ayat 4
Kecelakaan Lalu Lintas berat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kecelakaan yang mengakibatkan korban
meninggal dunia atau luka berat.
● Pasal 234 ayat 1
Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/ atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita
oleh Penumpang dan/ atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian Pengemudi.
● Pasal 235 ayat 2
Jika terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban akibat Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229
ayat (1) huruf b dan huruf c, pengemudi, pemilik, dan/atau Perusahaan Angkutan Umum wajib memberikan bantuan kepada korban
berupa biaya pengobatan dengan tidak menggugurkan tuntutan perkara pidana.
Dasar Hukum I
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN, BAB
XIV KECELAKAAN LALU LINTAS (Contd).
● Pasal 236 ayat 1
Pihak yang menyebabkan terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 wajib mengganti kerugian
yang besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan.
● Pasal 236 ayat 2
Kewajiban mengganti kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 229 ayat (2) dapat dilakukan di luar pengadilan jika terjadi kesepakatan damai di antara para pihak yang terlibat.
● Pasal 240. Korban Kecelakaan Lalu Lintas berhak mendapatkan:
● ayat 1
pertolongan dan perawatan dari pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas dan/atau Pemerintah;
Dasar Hukum I
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN, BAB
XIV KECELAKAAN LALU LINTAS (Contd).
● ayat 2
Ganti kerugian dari pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas; dan
● ayat 3
Santunan Kecelakaan Lalu Lintas dari perusahaan asuransi.
Dasar Hukum II
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
Pasal 45: (1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa
antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. (2) Penyelesaian sengketa
konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
Pasal 47: Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan
besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan terulang kembali
kerugian yang diderita oleh konsumen.
Pasal 19: (1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat
mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. (2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan
dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 4: diantaranya hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa; hak untuk
mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; hak untuk
mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
Aplikasi Hukum - Point I
UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Secara mendetail terdapat pada Pasal 234 ayat (1) UU LLAJ yang berbunyi
“Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/ atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang
diderita oleh Penumpang dan/ atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian Pengemudi.”
Point I
- Berdasarkan kronologi kasus, Pengemudi (Dilan) sebetulnya masih bisa mengelak dengan cara menunda keputusan
untuk tidak mendahului mobil di sebelah kanan karena jelas-jelas jalur ada disebelah kanan dan setir mobil
pengemudi juga ada disebelah kanan. Melihat kondisi tersebut, pengemudi seharusnya masih bisa menghindari
kecelakaan. Kesimpulan pada poin pertama ini yaitu pengemudi telah lalai dalam mengambil keputusan
- Berdasarkan kronologi pengemudi sebetulnya juga dipengaruhi oleh rasa kantuk yang dialami karena begadang
sehingga mengganggu konsentrasi pengemudi.
Kesimpulan
Dalam hal ini PT Grab sebagai perusahaan yang menaungi izin operasional pengemudi, dinilai telah lalai dalam
memastikan pengemudinya dalam keadaan sadar dan fit serta keadaan kendaraan pada saat beroperasi untuk memenuhi
standar keselamatan dalam berkendara.
Aplikasi Hukum - Point II
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
Marco tidak dapat berjalan dan harus secara rutin melakukan fisioterapi untuk dapat berjalan kembali. Biaya dan
kerugian yang dialami oleh Marco, baik untuk perawatan di rumah sakit maupun pemulihan pasca perawatan di rumah
sakit akibat kecelakaan mencapai angka Rp 450 juta. Belum lagi ditambah dengan kesulitan bekerja dan mendapatkan
penghasilan akibat kecelakaan. Cakupan pertanggungan BPJS maupun asuransi yang ditanggung oleh Grab tidak
mencukupi untuk membayar seluruh biaya dan kerugian yang ia alami.
Oleh karena kerugian yang dialami Marco tersebut, maka ia berhak mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan UU
RI no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen tepatnya pasal 45 ayat 1.
Saran & Kesimpulan
1. Marco dapat menyelesaikan permasalahan dengan cara damai kepada pihak GRAB untuk
mengganti kerugian yang dialami oleh Marco sebesar minimal Rp 450.000.000,00 dan juga
kompensasi untuk ganti rugi atas hambatan masa produktif dia yang disebabkan karena luka di
kecelakaan.
2. Marco dapat menggugat pihak GRAB melalui jalur gugatan perdata berdasarkan kesimpulan dan
penjabaran dari aplikasi hukum point I & II berlandaskan dasar hukum pasal 234 ayat (1) UU LLAJ
& undang undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen
3. Melakukan gugatan dan peninjauan terhadap lembaga yang meloloskan uji KIR terhadap
kendaraan yang dipakai oleh pengemudi