Anda di halaman 1dari 22

Perundang-undangan dan Peraturan K3

KELOMPOK 2

1. Fajria Purnama Risda 1811213033


2. Juana Artika Bilfi 1811212003
3. Fuaddilla Al Humairah 1811211022
4. Ulfa Niesya Putri 1811212002
5. Delti Fitri Yeni 1911216004
6. Syafa Indah Tafsia 1811211046
7. Shafina Putri Aliffa 1811213001
8. Linda Susanti 1811211054
9. Siti Wanda Jhoyoe Putri 1811211011
10. Tiara islami 1811211005
11. Dean Jelly Rahmi Suci 1811212027
12. Icha putri 1811211018
UU no 1 tahun 1970 tentang
Keselamaan Kerja
Undang - Undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah
UU yang mengatur tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik
di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air, maupun di udara, yang
berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia
Dalam UU Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja diatur tentang:
Keselamatan Kerja yang di dalamnya antara lain memuat tentang istilah-istilah,
ruang lingkup, syarat-syarat keselamatan kerja, pengawasan, pembinaan,
Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja; kecelakaan; kewajiban dan
hak tenaga kerja; kewajiban bila memasuki tempat kerja; dan kewajiban
pengurus.

Dasar hukum UU 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja adalah:


1.Pasal-pasal 5, 20, dan 27 Undang-Undang Dasar 1945;
2.Pasal-pasal 9 dan 10 Undang-Undang No. 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1969 No. 55, Tambahan Lembaran Negara No. 2912);
Pertimbangan dalam UU 1 Th 1970
tentang Keselamatan Kerja
bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan
hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas Nasional;
bahwa setiap orang lainnya yang berada di
tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya

bahwa setiap sumber produksi perlu dipakai dan


dipergunakan secara aman dan efisien

bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala


daya-upaya untuk membina norma-norma perlindungan
kerja

bahwa pembinaan norma-norma itu perlu diwujudkan dalam


Undang-undang yang memuat ketentuan-ketentuan umum
tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan perkembangan
masyarakat, industrialisasi, teknik dan teknologi;
01 BAB I TENTANG ISTILAH-ISTILAH Berikut Isi UU
02 BAB II RUANG LINGKUP nomor 1 tahun
03 BAB III SYARAT-SYARAT KESELAMATAN
KERJA
1970 :
04 BAB VI PANITIA PEMBINA KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA

05 BAB VII KECELAKAAN


BAB VIII KEWAJIBAN DAN HAK
06 TENAGA KERJA

07 BAB IX KEWAJIBAN BILA MEMASUKI TEMPAT KERJA

08 BAB X KEWAJIBAN PENGURUS

09 BAB XI KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP


Contoh Penerapan UU no 1 tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja :
Pasal 8 ayat 1
Pasal 9 ayat 2
Perusahaan membuat sebuah prosedur
yang menyatakan bahwa setiap
penerimaan karyawan baru, sebelum Biasanya ini adalah
diterima bekerja di tempatnya, harus
domain human resource
melaksanakan Medical Check Up (MCU)
sesuai dengan risiko dan bahaya tempat atau training dept., ini yang
kerja yang direncanakan akan ditempati biasa dikenal dengan
oleh calon karyawannya. istilah safety induction
Pasal 8 ayat 2
Pasal 9 ayat 3
Perusahaan membuat sebuah
prosedur yang menyatakan Masih domain humar
bahwa dalam jangka waktu
resource atau training
tertentu (minimal 1 tahun
sekali), dept., untuk merencanakan
dan menyelenggarakan
Pasal 11 ayat 1 dan 2 training-training tentang
Perusahaan membuat dan menerapkan K3, khususnya
prosedur pelaporan dan investigasi penanganan kebakaran
kecelakaan. Pasal ini telah dijabarkan secara dan P3k bagi seluruh
lebih teknis di Peraturan Menteri Tenaga Kerja karyawannya”.
No. 03/MEN/1998.
Contoh Penerapan UU no 1 tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja :
Pasal 14
Pasal 14 poin c
Perusahaan meletakkan SOP atau WI
terkait cara kerja mesin/peralatan di
tempat tersebut yang mudah diakses Perusahaan menetapkan
oleh seluruh karyawan, dan meletakkan
sebuah prosedur yang
UU ini di beberapa tempat strategis yang
bisa dibaca oleh karyawan biasanya disebut dengan
matriks APD/manajemen
APD, kemudian
Pasal 14 poin b membagikan APD tersebut
secara gratis kepada
karyawan sesuai dengan
Menempelkan poster/sign
tentang K3 di tempat-tempat
matriks yang telah dibuat.
yang mudah dibaca oleh
karyawan
UU No. 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan
UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang bertujuan untuk
melindungi dan mengatur ketenagakerjaan di Indonesia agar tidak
merugikan berbagai pihak yaitu tenaga kerja dan perusahaan yang
bersangkutan. Perlindungan ketenagakerjaan meliputi:
1. Penyandang Cacat
Pengusaha yang memperkerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib
memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya.
Dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Anak
Pengusaha dilarang memperkerjakan anak. Dikecualikan bagi anak yang
berumur antara 13 (tiga belas) tahun sampai dengan 15 (lima belas) tahun
untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu
perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial.
Pengusaha yang memperkerjakan anak pada
pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan:
1. izin tertulis dari orang tua atau wali;
2. perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali;
3. waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam;
4. dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah;
5. keselamatan dan kesehatan kerja;
6. adanya hubungan kerja yang jelas; dan
7. menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
8. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, 2, 6, dan 7 dikecualikan bagi anak yan
bekerja pada usaha keluarganya. Pekerjaan sebagaimana dimaksud dapat dilakukan denga
syarat:
*diberi petunjuk yang jelas tentang cara pelaksanaan pekerjaan serta bimbingan dan
*pengawasan dalam melaksanakan pekerjaan; dan diberi perlindungan keselamatan dan
kesehatan kerja.
*Pengusaha yang memperkerjakan anak wajib memenuhi syarat:
di bawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali;
waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari; dan
kondisi dan lingkungan kerja tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, sosial, dan wa
sekolah.
Ketentuan mengenai anak yang bekerja untuk
mengembangkan bakat dan minat diatur dengan
Keputusan Menteri. Dalam hal anak diperkerjakan
bersama-sama dengan pekerja/buruh dewasa, maka
tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja
pekerja/buruh dewasa. Siapa pun dilarang
memperkerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-
pekerjaan yang terburuk.
Pekerjaan-pekerjaan yang terburuk meliputi:
segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan atau
sejenisnya;
segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan,
atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi
pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian;
segala pekerjaan yang memanfaatkan, menyediakan,
atau melibatkan anak untuk produksi dan
perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika,
dan zat adiktif lainnya; dan/atau;
semua pekerjaan yang membahayakan kesehatan,
keselamatan, atau moral anak.
Syarat Pekerja Perempuan
• Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18
(delapan belas) tahun dilarang diperkerjakan antara pukul
23.00 sampai dengan pukul 07.00. Pengusaha dilarang
memperkerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang
menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan
keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja
antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
• Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh perempuan
antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 wajib:
– memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
– menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
• Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi
pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja
antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00. Ketentuan
Ketentuan Waktu Bekerja

1. Setiap pengusaha wajib melaksanakan


ketentuan waktu kerja. Waktu kerja sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat
puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat
puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari
kerja dalam 1 (satu) minggu.
2. Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja harus memenuhi syarat:
*Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja wajib membayar *upah kerja
lembur
3. Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja/buruh. Waktu istirahat dan cuti
4. Pelaksanaan waktu istirahat tahunan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja
bersama.
5. Pengusaha wajib memberikan kesempatan yang secukupnya kepada pekerja/buruh untuk melaksanakan
ibadah yang diwajibkan oleh agamanya
6.Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada
pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
7.Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya
melahirkan anak dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan
atau bidan.
8.Setiap pekerja/buruh yang menggunakan hak waktu istirahat sebagaimana dimaksud berhak mendapat
upah penuh.
Pekerja/buruh tidak wajib bekerja pada hari-hari libur resmi.
Keselamatan Kesehatan Kerja
Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan
produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan
kesehatan kerja. Perlindungan dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Setiap perusahaan wajib menerapkan
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi
dengan sistem manajemen perusahaan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Moral dan Kesusilaan

Perlakuan yang sesuai dengan Setiap pekerja/buruh mempunyai


harkat dan martabat manusia dan hak untuk memperoleh
nilai2 agama perlindungan atas
Contoh kasus implementasi UU No.
13 tahun 2003
Diambil dari Jurnal Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan
judul IMPLEMENTASI UU NO. 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN BAGI
TENAGA KERJA PEREMPUAN DI KABUPATEN PURBALINGGA, penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui implementasi Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan kaitannya dengan perlindungan hukum bagi tenaga kerja perempuan di
Kabupaten Purbalingga. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah:

• Perlindungan tenaga kerja perempuan di bawah umur


• Izin tertulis dari orang tua atau wali
• Sebelum mereka mendaftar, mereka terlebih dahulu harus mendapatkan surat izin dari
orang tua atau wali dengan diketahui ketua RT/RW tempat tinggal calon tenaga kerja
perempuan tersebut serta penandatanganan perjanjian kerja antara pengusaha dengan
orang tua atau wali
• Berdasarkan hal tersebut, maka perlindungan HAM terhadap tenaga kerja perempuan di
bawah umur belum sesuai dengan Pasal 69 ayat (2) Undang-undang No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Hal ini disebabkan oleh masih adanya tenaga kerja di bawah
perusahaan kecil/ rumah tangga.
Perlindungan terhadap tenaga kerja
perempuan yang hamil

Tenaga kerja perempuan telah memperoleh hak istirahat


selama 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan
sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau
bidan, sebagaimana digariskan dalam Pasal 82 ayat (1). Namun
demikian, di tambahkan oleh SPSI (Serikat Pekerja Seluruh
Indonesia) bahwa pelaksanaan ketentuan ini masih 50%. Kalimat
“50% telah dilaksanakan” dalam hal pemberian cuti hamil,
mengindikasikan bahwa masih terdapat pelanggaran dalam
memberikan waktu istirahat bagi tenaga kerja perempuan yang
hamil
Perlindungan terhadap waktu kerja dan
istirahat

Berdasarkan keterangan dari informan, ketentuan mengenai


waktu kerja dan jam istirahat telah dipenuhi oleh perusahaan.
Namun demikian, dalam hal lembur, para pekerja hanya diberitahu
bahwa hari ini ada lembur, tanpa melalui kesepakatan dengan
pihak pekerja sebagaimana digariskan dalam ketentuan Pasal 77
ayat (2). Bagi tenaga kerja yang berhalangan untuk lembur dapat
meminta izin kepada kepala bagian dimana tenaga kerja tersebut
bekerja. Menurut keterangan dari SPSI, hanya alasan-alasan yang
urgen saja yang dapat membebaskan mereka dari kerja lembur,
misalnya sakit atau hamil.
UU Nomor 36 tahun 2009 Terkait Kesehatan Kerja

Ketika pekerja diterima dengan status sehat,


maka pekerja tersebut berhak untuk tetap memiliki
status sehat selama bekerja, di luar pekerjaan dan
hingga pensiun atau berakhirnya hubungan kerja
dengan perusahaan/majikan. Hal ini telah menjadi
persetujuan negara-negara di dunia termasuk
Republik Indonesia. Di tingkat dunia, terdapat dua
badan yang langsung berkaitan dengan pengaturan
kesehatan kerja, yaitu International Labor
Organization (ILO) dan World Health Organization /
WHO. Sedangkan Pemerintah Indonesia telah
merumuskan aturan dasar yaitu Undang-Undang
nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan kerja, bab
XII pasal 164-166.
isi dari UU no. 36 tahun 2009
KESEHATAN KERJA
Pasal 164
Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari
gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pekerja di sektor formal dan
informal.
Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku bagi setiap orang selain
pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja.
Upaya kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berlaku juga bagi
kesehatan pada lingkungan tentara nasional Indonesia baik darat, laut, maupun udara serta
kepolisian Republik Indonesia.
Pemerintah menetapkan standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2).
Pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat
(5) dan menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab atas terjadinya
kecelakaan kerja.
Pengelola tempat kerja wajib bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan
kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
isi dari UU no. 36 tahun 2009
Pasal 165
Pengelola tempat kerja wajib melakukan segala bentuk upaya kesehatan melalui upaya
pencegahan, peningkatan, pengobatan dan pemulihan bagi tenaga kerja.
Pekerja wajib menciptakan dan menjaga kesehatan tempat kerja yang sehat dan menaati
peraturan yang berlaku di tempat kerja.
Dalam penyeleksian pemilihan calon pegawai pada perusahaan/instansi, hasil pemeriksaan
kesehatan secara fisik dan mental digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan.
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 166
Majikan atau pengusaha wajib menjamin kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan,
peningkatan, pengobatan dan pemulihan serta wajib menanggung seluruh biaya pemeliharaan
kesehatan pekerja.
Majikan atau pengusaha menanggung biaya atas gangguan kesehatan akibat kerja yang diderita
oleh pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pemerintah memberikan dorongan dan bantuan untuk perlindungan pekerja sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
Contoh penerapan UU no. 36 tahun 2009
• Bagi perusahaan yang memperkerjakan perempuan, mereka wajib memperhatikan pemberian ASI (air
susu ibu) secara eksklusif kepada perempuan yang baru memiliki anak, yakni sekurang-kurang selama 6
bulan, sang ibu sebagai pekerja harus didukung untuk memberikan ASI. Oleh karenanya pihak
perusahaan wajib menyediakan ruangan yang cukup untuk dilakukan pemerasan ASI yang meliputi
tempat, dan peralatan menyimpan ASI maupun peralatan pendukung lainnya. Pasal 128 dan 129 dalam
UU no. 36 tahun 2009, mengamanatkan hal tersebut.

• Kemudian melalui peraturan pemerintah (PP) no. 33 tahun 2012, pemerintah menegaskan keharusan
tempat kerja mendukung pemberian ASI eksklusif, dengan menyediakan ruangan khusus penyedotan
ASI bagi Ibu tenaga kerja. Kriteria teknis terkait ruangan dan peralatan yang harus disediakan diatur
lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Kesehatan no. 15 tahun 2013

• Kemudian ada sebuah pasal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu pasal 200, di mana
bunyinya : “Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”.
Peraturan Lainnya
Bagi perusahaan yang memperkerjakan perempuan, mereka wajib memperhatikan
pemberian ASI (air susu ibu) secara eksklusif kepada perempuan yang baru memiliki anak,
yakni sekurang-kurang selama 6 bulan, sang ibu sebagai pekerja harus didukung untuk
memberikan ASI. Oleh karenanya pihak perusahaan wajib menyediakan ruangan yang cukup
untuk dilakukan pemerasan ASI yang meliputi tempat, dan peralatan menyimpan ASI maupun
peralatan pendukung lainnya. Pasal 128 dan 129 dalam UU no. 36 tahun 2009,
mengamanatkan hal tersebut.
Kemudian melalui peraturan pemerintah (PP) no. 33 tahun 2012, pemerintah
menegaskan keharusan tempat kerja mendukung pemberian ASI eksklusif, dengan
menyediakan ruangan khusus penyedotan ASI bagi Ibu tenaga kerja. Kriteria teknis terkait
ruangan dan peralatan yang harus disediakan diatur lebih lanjut melalui Peraturan Menteri
Kesehatan no. 15 tahun 2013.
Kemudian ada sebuah pasal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, yaitu pasal 200,
di mana bunyinya : “Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air
susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling
lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”.
Oleh karenanya, perusahaan dituntut untuk menyediakan ruang menyusui, terutama bagi
mereka yang memiliki banyak pekerja wanita, demi mendukung program pemerintah
mencerdaskan bangsa, melalui pemberian gizi yang baik bagi bayi pada awal tumbuh
kembangnya.
Thank You