Anda di halaman 1dari 13

MODEL EKSEKUSI

KELOMPOK 1
PERBEDAAN MODEL
EKSEKUSI
 PS. 116 UU NO.5 Tahun 1986
Eksekusi Otomatis
Menururt ketentuan Pasal 116 ayat (2), yaitu 4 bulan setelah putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dikirimkan, tergugat tidak melaksanakan kewajibannya, maka KTUN yang
disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.
Dengan demikian tidak perlu lagi ada tindakan-tindakan ataupun upaya-upaya lain dari
pengadilan, misalnya surat peringatan dan sebagainya. Sebab KTUN itu dengan
sendirinya akan hilang kekuatan hukumnya. Cara eksekusi seperti ini disebut dengan
eksekusi otomatis.
Eksekusi Hierarkis
Eksekusi hierarkis diatur oleh Pasal 116 ayat (4) dan (5) Undang-undang Nomor 5
Tahun 1986.
Karena adanya pengaruh jenjang jabatan dalam pelaksanaan keputusan maka disebut
sebagai eksekusi hierarki.
 PS. 116 UU NO. 9 Tahun 2004
Eksekusi Otomatis
Dalam ps.116 uu no.9 tahun 2004 ketentuan ayat (2) masih mengandung eksekusi
otomatis. . Sebab KTUN itu dengan sendirinya akan hilang kekuatan hukumnya. Yaitu
4 bulan setelah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikirimkan, tergugat tidak melaksanakan
kewajibannya, maka KTUN yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan
hukum lagi.
Eksekusi Upaya Paksa
Dalam pasal 116 uu no.9 tahun 2004 pada ayat (4) dan (5) diatur, apabila tergugat
tidak bersedia melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap, dikenakan upaya paksa berupa pembayaran uang paksa dan/ sanksi
administratif. Adanya sanksi menunjukkan adanya paksaan bagi tergugat untuk
melaksanakan putusan. Serta pada ayat (5) diatur mengenai akan diumumkan dimedia
massa cetak, hal ini juga dapat memberi tekanan sosial dan psikologi bagi tergugat.
 PS. 116 UU NO. 51 Tahun 2009
Eksekusi Otomatis
Menururt ketentuan Pasal 116 ayat (2), yaitu 60 hari setelah
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterima tergugat tidak
melaksanakan kewajibannya, maka KTUN yang disengketakan itu
tidak mempunyai kekuatan hukum lagi.
Dengan demikian tidak perlu lagi ada tindakan-tindakan ataupun
upaya-upaya lain dari pengadilan, misalnya surat peringatan dan
sebagainya. Sebab KTUN itu dengan sendirinya akan hilang
kekuatan hukumnya. Cara eksekusi seperti ini disebut dengan
eksekusi otomatis.
Eksekusi Upaya Paksa
Penerapan sanksi pembayaran uang paksa dan/ atau sanksi
administrasi serta pengumuman di media massa cetak bagi
Tergugat atau Pejabat Tata Usaha Negara yang tidak bersedia
melaksanakan putusan Peradilan Tata Usaha Negara (Pasal
116 ayat (4) dan (5) Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009)
masih dipertahankan serta dipertegas lebih lanjut dalam ayat
(6) dan ayat (7) Pasal 116.
Upaya paksa bisa dianggap sebagai suatu upaya tekanan
(secara psikologis maupun materi), agar terhukum mau
mematuhi atau melaksanakan hukuman pokok.
PENGARUH KEADAAN EKONOMI, POLITIK DAN TEKNOLOGI
PADA MODEL EKSEKUSI ITU DIPAKAI SAAT ITU

 Faktor Ekonomi

PS. 116 UU NO.5 Tahun 1986

Pada masa Orde Baru dikenal dengan sistem pemerintahan, dimana


kekuasaan dan wewenang tertinggi ada pada pemerintah dan akrab dengan
praktek KKN. Ada pandangan bahwa, pemerintahla yang diutamakan. Sehingga,
meski dengan keadaan perekonomian yang tidak stabil, pemerintah tentunya
tidak mau dipersulit dengan ketentuan undang- undang maupun sanksi yang
menyertainya.
Seharusnya, untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara yang tidak stabil,
dapat memanfaatkan sanksi dalam undang undang berupa sanksi denda sejumlah
uang. Tetapi, pada masa orde baru pejabat kekuasaanya sangat besar sehingga
hal – hal seperti ini ditentang karena dapat menyulitkan peejaba pemerintahan.
Ps. 116 UU No. 09 Tahun 2004

Ps. 116 setelah diadakan perubahan menjadi UU No. 116 tahun 2004,
awalnya tidak dikenai sanksi sebelum ada perubahan. Tapi dalam UU tahun 2004
nya mengatur mengenai sanksi sejumlah uang paksa, dan/ sanksi administratif.
Hal ini bisa saja, terjadi karena desakan ekonomi yang tidak kunjung stabil, akibat
dari tindakan pemerintah di Orde Lama.

Ps. 116 UU No. 51 Tahun 2009


Karena keadaan perekonomian yang belum juga membaik, serta uang
paksaan dan sanksi administrasi dianggap memiliki daampak menjerakan, juga
dapat membantu perkembangan ekonomi maka hal ini tetap diatur dalam UU
No.51 tahun 2009.
• Faktor Teknologi

Ps. 116 UU No. 05 TAHUN 1986


Pada masa Orde Baru Media Massa sangat terbatas dalam peredarannya.
Karena pemerintahan sangat ketat dalam pengawasan media massa. Hal ini
dilakukan pemerintah seringakli semata mata untuk melindungi kekuasaannya
dari masyarakat. Bahkan tidak jarang dilakukan penahanan terhadap
masyarakat, karena melakukan sesuatu hal yang menyinggung pejabat
pemerintahan lewat media massa. Dengan kata lain, media massa belum
menjadi wadah informasi yang bebas saat itu, karena ada banyak interfensi dari
pemerintah.
Mengenai tenggang waktu yang diberikan juga masih sangat lama, karena
teknologi belum secanggih saat ini, sehingga membutuhkan waktu yang lama
dalam penyampaian informasi.
Karena faktor diatas, sehingga belum ada pengaturan mengenai
pengumuman lewat media massa, dan tenggang waktu yang diberi lebih lama.
Ps. 116 UU No. 09 Tahun 2004
Namun, setelah jatuhnya pemerintahan orde baru, media massa (cetak)
memiliki kekuatan yang sangat besar dalam pemberian informasi bagi
masyarakat.
Tenggang waktu juga semakin dipercepat karena kemajuan teknologi
memungkinkan mobilitas dan informasi dapat bergerak dan diperoleh dengan
cepat.
Tidak lagi terbatas, dan tidak ada intervensi pemerintah dalam muatannya.
Sehingga, dianggap perlu dan membantu dalam pelaksanaan UU ini.
Ps. 116 UU No. 51 Tahun 2009
Mengenai hal ini tidak ada perbedaan selain tenggang waktu yang semakin
dipercepat. Hal ini tentu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang semakin
maju. Mengakibatkan perolehan informasi serta komunikasi dan mobilitas dalam
maasyarakat semakin cepat, sehingga disesuaikan dengan tenggang waktu yang patut
pula.
• Faktor Politik

Ps. 116 UU No. 05 TAHUN 1986


Pemerintah (Presiden dan /pejabat pemerintahan) memiliki
kekuasaan yang tidak terbatas. Sehingga, KKN sering terjadi.
Sehingga, disini bisa kita lihat jelas bahwa, eksekusi pada
UU lama cenderung menerapkan eksekusi hierarkis dan
otomatis, adalah bentuk eksekusi yang sangat efektif,
karena rasa takut dan tunduk kepada instansi atasan
sangat besar pada saat itu.. Tetapi, ada kendala lain,
yaitu maraknya praktek kkn juga berpengaruh, dan
cenderung menghambat jalannya eksekusi. Contohnya,
jika tergugat dengan pejabat atasan saling kenal, atau
mempunyai relasi yang kuat,maka bisa saja eksekusi tidak
dilaksanakan dengan baik.
Ps. 116 UU No. 09 Tahun 2004
Keadaan Politik sudah jauh lebih netral dibanding masa orde lama, dilihat dari
perubahan pada muatan UU setelah diadakan perubahan.
Pada UU baru, dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan
yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan
dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi
administratif.
dapat diktakan eksekusi yang diatur sangat efektif, karena, terhadap pejabat yang
bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau
sanksi administratif. Dengan begitu, dapa dikatakan proses eksekusi ini telah dilaksanakan
dengan adil.
Ps. 116 UU No. 51 Tahun 2009
Pada UU baru dapat diktakan eksekusi yang diatur sangat efektif, karena,
terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran
sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif. Dengan begitu, dapa dikatakan
proses eksekusi ini telah dilaksanakan dengan adil.