Anda di halaman 1dari 22

PNEUMONIA

FARAH MAULIDA MARTA


1907101030061

PEMBIMBING:
dr. Dewi Behtri Yanifitri, Sp.P(K)
BAB I
PENDAHULUAN
Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi atau peradangan akut pada
parenkim atau jaringan paru yang diakibatkan bakteri,
virus, jamur atau parasit.

Anak-anak, dewasa atau orang tua dapat


terserang pneumonia

Angka kematian yang disebabkan oleh pneumonia sekitar 1.4 juta


pertahunnya secara global (7% penyebab kematian didunia)

Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan paru serta


pemeriksaan penunjang yaitu foto rontgen dada, pemeriksaan
bakteri penyebab dari dahak (pemeriksaan Gram dan kultur
mikroorganisme) dan pemeriksaan darah untuk menegakkan
diagnosis

Tatalaksana adekuat meliputi pemberian antibiotik dan tatalaksana


non-farmakologis

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Press Release: World Pneumonia Day 2018. [Internet]. In 2018. Available from: https://www.klikpdpi.com/index.php?mod=article&sel=8704
TINJAUAN
PUSTAKA
DEFINISI

Pneumonia adalah inflamasi ruang alveolar, paling


umum disebabkan oleh bakteri namun juga dapat
disebabkan oleh patogen lainnya dan jarang terjadi
karena proses autoimun

Pneumonia dapat diperoleh di komunitas, di


lingkungan rumah sakit dan aspirasi

Casserly B, Rounds S. Infectious Diseases of the Lung. In: Andreoli TE, Benjamin IJ, Griggs RC, Wing EJ, editors. Andreoli and Carpenter’s Cecil Essentials o f Medicine. 8th ed. Elsevier Inc.; 2010. p. 254–65.
Epidemiologi
Tahun 2015 menunjukkan bahwa 3,2 juta dari 56,4 juta kematian di seluruh dunia

Amerika
63 kasus per
10.000 orang
dewasa

Indonesia
1.017.290 kasus

Argentina, Chili, Aceh terdapat 20.244 kasus


Brazil
120.000, 170.000, dan
920.000 kasus
Kesehatan BP dan P. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehat Republik Indones. 2018;1–100.
Cilloniz C, Martin-Loeches I, Garcia-Vidal C, Jose AS, Torres A. Microbial Etiology of Pneumonia: Epidemiology, Diagnosis and Resistance Ratterns. Int J Mol Sci. 2016;17(12):1–18.
ETIOLOGI
Streptococcus pneumonia, Pseudomonas aeruginosa
Klebsiella pneumonia, Haemophilus influenza,
Mycoplasma pneumonia, Staphylococcus aureus

Virus respiratory syntical virus,


Influenza A or B virus, Human
rhinovirus, Human merapneumovirus,
Adenovirus, parainfluenza virus

Aspergillus spp, cryptococcus spp

Aspirasi substansi asing


Klasifikasi
Berdasarkan Etiologi:
Berdasarkan Klinis dan 1) Pneumonia Tipikal Berdasarkan Epidemiologi:
Epidemiologi: 2) Pneumonia Atipikal Berdasarkan Predileksi 1) Community-acquired
1) Pneumonia Komuniti (Mycoplasma pneumoniae, Lokasi / Luasnya Infeksi pneumonia (CAP)
2) Pneumonia Nosokomial Chlamydia pneumonia, 1) Pneumonia Lobaris 2) Hospital-acquired
3) Pneumonia Aspirasi Legionella spp. Dll) 2) Bronkopneumonia pneumonia (HAP)
4) Pneumonia pada penderita 3) Pneumonia Virus 3) Pneumonia Interstitialis 3) Ventilator-associated
immunocompromised 4) Pneumonia Jamur pneumonia (VAP)

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003;
Faktor Resiko
Usia >65 tahun

Penyakit Penyerta

Riwayat Infeksi saluran nafas


bagian atas atau infeksi virus

Alkoholismus dan merokok

Keadaan dimana dapat terjadi


aspirasi misalnya gg. Kesadaran
dan pada penderita yang sedang
di intubasi

Malnutrisi
Manifestasi Klinis

Batuk+dahak
(purulent, kadang Sesak Napas
bercak/garis darah) Selera makan
Demam (menggigil) menurun

Detak jantung
Nyeri Dada (menarik Diare meningkat
Mual/muntah
napas atau batuk)
Myialgia dan Lemas

Howie SRC, Hamer DH, Graham SM. Pneumonia. In: International Encyclopedia of Public Health. 2016. p. 500–8.
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: Terlihat sakit,sesak bahkan sianosis, dada yang sakit terlihat
Anamnesis tertinggal
Batuk, dahak/purulent, Palpasi: Fremitus Taktil meningkat pada bagian yang terdapat infiltrat
Perkusi: Redup/Pekak
sesak nafas, malaise, nyeri
Auskultasi: + pleural frinctin rub, nafas bronkial (suara utama), ronki basah
dada, dan anoreksia. (suara tambahan)

Pemeriksaan darah, kultur sputum dan serologi


untuk identifikasi kuman penyebab abnormalitas mungkin timbul
Dapat berupa infiltrat Leukositosis tergantung dari luasnya kerusakan
sampai konsolidasi Tingkat sedimentasi eritrosit (ESR), protein C- paru-paru, biasanya menunjukkan
dengan " air reaktif (CRP), dan prokalsitonin juga dapat adanya hipoksemia dan hikarbia,
broncogram" meningkat, kultur urine (untuk infeksi Legionella) pada stadium lanjut dapat terjadi
asidosis respiratorik

Radiologis Pemeriksaan Analisis Gas


Laboratorium Darah
SKOR PORT

Perawatan
Kelas Poin Mortalitas
Pasien
I <51 0.1% Rawat jalan
II 51-70 0.6% Rawat jalan
III 71-90 2.8% Rawat jalan atau
rawat inap
IV 91-130 9.5% rawat inap
V >130 26.7% rawat inap

Arlini, Yunita. Diagnosis Community Aquired Pneumonia (CAP) dan Tatalaksana Terkini. 2014;86–97.
SKOR CURB-65

Buharman BF, Pitoyo CW, Singh G, Koesnoe S. Validasi C-Reactive Protein dan CURB-65 pada Awal Perawatan Pasien Pneumonia Komunitas sebagai Prediktor Mortalitas 30 Hari. J Penyakit Dalam Indones. 2018;5(1):17.
TATA LAKSANA

Istirahat Pasien Rawat Jalan

 Tanpa faktor modifikasi: Golongan β laktam atau β laktam + anti β


laktamase
Minum secukupnya untuk
mengatasi dehidrasi
 Dengan faktor modifikasi: Golongan β laktam + anti β laktamase

Antipiretik  Fluorokuinolon respirasi (levofloksasin, moksifloksasin,


gatifloksasin)

Mukolitik dan ekspektoran  Bila dicurigai pneumonia atipik: makrolid baru (roksitromisin,
klaritromisin, azitromisin)

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003;
TATA LAKSANA

Terapi Oksigen Pasien Rawat Inap

 Tanpa faktor modifikasi: Golongan atau β laktam + anti β


IV line untuk rehidrasi dan laktamase iv; atau Sefalosporin G2, G3 iv; atau Fluorokuinolon
koreksi kalori dan elektrolit respirasi iv

 Dengan faktor modifikasi: Sefalosporin G2, G3 iv; atau


Antipiretik
Flurokuinolon respirasi iv

 Bila dicurigai pneumonia atipik: makrolid baru (roksitromisin,


Mukolitik
klaritromisin, azitromisin)

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003;
TATA LAKSANA

Terapi Oksigen
Pasien Rawat ICU

IV line untuk rehidrasi dan  Tidak ada faktor risiko infeksi pseudomonas: Sefalosporin G3 I
koreksi kalori dan elektrolit non pseudomonas ditambah makrolid baru atau fluorokuinolon
respirasi iv
Antipiretik
 Ada faktor risiko infeksi pseudomonas: Sefalosporin anti
pseudomonas in atau karbapenem iv + fluorokuinolon anti
pseudomonas (siprofloksasin) iv atau aminoglikosida iv; atau Bila
Mukolitik
curiga disertai infeksi bakteri atipik sefalosporin anti
pseudomonas iv atau carbapenem iv ditambah aminoglikosida iv,
ditambah lagi makrolid baru atau fluorokuinolon respirasi iv
Ventilator mekanik apabila
terdapat indikasi.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pneumonia Komuniti: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2003;
DIAGNOSIS BANDING
Asma
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
Edema paru
Emboli paru
Bronkiektasis
Kanker paru

KOMPLIKASI
Abses paru
Empiema
Efusi pleura
Gagal nafas
Meningitis

Vardhmaan Jain RV. Pneumonia Pathology. University of Pennsylvania, StatPearls Publising; 2020.
Sattar S, Sharma S. Bacterial Pneumonia. StatPearls Publishing; 2019.
PENCEGAHAN
- Vaksinasi untuk mencegah influenza musiman. Flu adalah
penyebab umum pneumonia, jadi mencegah flu adalah cara
yang baik untuk mencegah pneumonia.
- Personal hygiene seperti mencuci tangan, terutama setelah
pergi dari kamar mandi, dan sebelum makan atau menyiapkan
makanan untuk meminimalisir paparan mikroorganisme
penyebab pneumonia.
- Merokok karena tembakau bisa merusak kemampuan paru-
paru untuk melawan infeksi, dan perokok terbukti berisiko
lebih tinggi terkena pneumonia.
- Kebiasaan kesehatan lain seperti diet sehat, istirahat,
olahraga teratur, dll bisa membantu terhindar dari serangan
virus dan penyakit pernapasan.
PROGNOSIS
- Angka mortalitas tergantung dengan tingkat
keparahan penyakit, mulai dari 1% pada pasien
rawat jalan hingga sekitar 20-25% pada pasien
dengan pneumonia parah
- Keparahan penyakit, usia yang lebih tua,
komorbiditas (misalnya, PPOK, diabetes mellitus,
penyakit kardiovaskular), infeksi dengan patogen
tertentu (misalnya, S. pneumoniae), dan
komplikasi jantung akut masing-masing
dikaitkan dengan peningkatan mortalitas
Kesimpulan

Pneumonia merupakan suatu radang pada sistem nafas saluran bawah yang ditandai dengan gejala yang sangat
sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari berupa batuk, sesak, serta suhu tubuh yang meningkat. Terdapat
beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan pneumoni Setelah anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang memiliki hasil yang mengarah pada pneumonia, maka harus segera ditatalaksana dengan terapi
simptomatik dan pemberian antibiotik yang sesuai dengan penyebab infeksi. Untuk pencegahan bisa dilakukan
vaksin pada kelompok yang rentan, tidak merokok, personal hygiene, dan jaga tubuh agar tetap sehat sehingga
imun akan tetap baik. Prognosis sangat tergantung dengan faktor virulensi dan ada tidaknya faktor komorbid
seperti adanya penyakit penyerta yang diderita pasien
Terima Kasih