Anda di halaman 1dari 11

LATIHAN KOGNITIF , CARA MEMPERTAHANKAN ADL DAN

CARA MEMELIHARA DAN MEMULIHKAN KESEHATAN


LANSIA BAIK FISIK, MENTAL DAN SOSIAL PADA LANSIA

KELOMPOK 5 :
1. E R N A E RV I A N A
2. R I N A
LATIHAN KOGNITIF PADA LANSIA

1. Strategi Latihan Kognitif


 Tehnik relaksasi
 Biofeed back
 Systematic desenzatization
 Flooding
 Menurunkan cemas
 Pencegahan respon klien
2. Terapi Kognitif
• Latihan kemampuan social meliputi : menanyakan
pertanyaan, memberikan salam, berbicara dengan suara
jelas, menghindari kiritik diri atau orang lain
• Aversion therapy : therapy ini menolong menurunkan
perilaku yang tidak diinginkan tapi terus dilakukan
• Contingency therapy : Meliputi kontrak formal antara klien
dan terapis tentang apa definisi perilaku yang akan dirubah
atau konsekuensi terhadap perilaku itu jika dilakukan
3. Teknik pemakaian dan penilaian MMSE

MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai


pertanyaan. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut
(Folstein, 1975; Setiati, 2007) :
- Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan
dapat lebih spesifik jika ada bagian yang lupa
(misalnya :”Dapatkah anda juga memberitahukan
sekarang musim apa?”). Tiap pertanyaan yang benar
mendapatkan 1 (satu) poin. Pertanyaan kemudian
diganti dengan ,”Dapatkah anda menyebutkan nama
rumah sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap
pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu poin).
• Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan
jelas dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya.
Jumlah benda yang dapat disebutkan pasien pada kesempatan pertama
dicatat dan diberikan skor (0-3). Jika pasien tidak dapat menyebutkan
ketiga nama benda tersebut pada kesempatan pertama, lanjutkan dengan
mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang semuanya,sampai
6 kali percobaan. Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien untuk
mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi
ketiga kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien
tersebut. Setelah menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan
kepada pasien agar mengingat ketiga kata tersebut,karena akan ditanyakan
sebentar lagi.

- Perhatian dan kalkulasi (5poin)


Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih7.
hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika
pasien tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat
digantikan dengan mengeja kata ”DUNIA” dari belakang.Cara menilainya
adalah menghitung kata yang benar. Contohnya jika menjawab “AINUD”
maka diberi nilai 5, tetapi jika menjawab “AINDU”diberi nilai 3.
-Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya kepada pasien dan
disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan jumlah jawaban yang benar.

- Bahasa dan praktek (9 poin)


Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan menggunakan
pensil. Skor 1 poin setiap nama bendayang benar (0-2).Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta
untuk mengulangi sebuah kalimat yang diucapkan oleh penguji pada hanya sekali
kesempatan.Skor 0 atau 1.Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan
diperintahkan, ” Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di
lantai”. Skor 1 poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-
3).Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda”(hurufnya harus cukup
besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan melakukan apa yang
tertulis. Skor 1diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang diperintahkan. Tes ini bukan
penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong pasien dengan mengatakan ”silakan
melakukan apa yang tertulis” setelah pasien membaca kalimat tersebut.Menulis : Pasien diberikan
kertas kosong dan diminta menuliskan suatu kalimat. Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan
pasien menulis spontan. Kalimat yang ditulis harus mengandung subjek, kata kerja dan
membentuk suatu kalimat. Tata bahasa dan tanda baca dapat diabaikan. Menirukan : pasien
ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta untuk menggambarnya semirip
mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut yang berpotongan untuk mendapatkan skor
1 poin.Tremor dan rotasi dapat diabaikan.
4.Interpretasi penilaian MMSE
Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil
akhir. Hasil yang didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis.
Ada beberapa interpretasi yang bisa digunakan. Metode yang pertama
hanya menggunakan single cutoff, yaitu abnormalitas fungsi kognitif jika
skor <24. metode lain menggunakan range. Jika skor <21 kemungkinan
demensia akan meningkat, sedangkan jika skor >25 kecil kemungkinan
demensia. Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan
pasien. Pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP)
ambang batas abnormal diturunkan menjadi 21, pada tingkat pendidikan
setingkat SMA abnormal jika skor <23, pada tingkat perguruan tinggi
skor abnormal jika <24. Berat ringannya gangguan kognitif dapat
diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30 menunjukkan tidak didapatkan
kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan kognitif ringan.
Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat (Folstein, 1975).
MEMPERTAHANKAN ACTIVITY DAILY LIVING
(ADL) PADA LANSIA
1. Langkah-Langkah Mempertahankan Activity Of Daily Living (ADL) Pada Lansia
• Latihan kepala dan leher
• Lihat keatap kemudian menunduk sampai dagu ke dada
• Putar kepala dengan melihat bahu sebelah kanan lalu sebelah kiri
• Miringkan kepala ke bahu sebelah kanan lalu kesebelah kiri
• Latihan bahu dan lengan
• Angkat kedua bahu ke atas mendekati telinga kemudian turunkan kembali perlahan-lahan
• Tepukan kedua telapak tangan dan renggangkan lengan kedepan lurus dengan bahu.
Pertahankan bahu tetap lurus dan kedua tangan bertepuk kemudian angkat lengan keatas kepala.
• Satu tangan menyentuh bagian belakang dari leher kemudian raihlah punggung sejauh mungkin
yang dapat dicapai.Bergantian tangan kanandan kiri.
• Letakan tangan di punggung kemudian coba meraih keatas sedapatnya.
• Latihan tangan
• Letakan telapak tangan diatas meja. Lebarkan jari-jarinya dan tekan ke meja
• Baliklah telapak tangan. Tariklah ibu jari melintasi permukaan telapak tangan untuk menyentuh
jari kelingking. Kemudian tarik kembali. Lanjutkan dengan menyentuh tiap-tiap
• jari dengan ibu jari dan kemudian setelah menyentuh tiap jari.
• Kepalkan tangan sekuatnya kemudian renggangkan jari-jari selurus mungkin.
JENIS OLAH RAGA / LATIHAN

• Pekerjaan Rumah dan Berkebun


• Jalan Kaki
• Berenang
• Lompat Tali
MEMELIHARA DAN MEMULIHKAN KESEHATAN
LANSIA BAIK FISIK, MENTAL DAN SOSIAL

Latihan keseimbangan meningkatkan kualitas hidup lansia. Hal ini sejalan


dengan Hewitt, Refshauge, Goodall, Henwood, dan Clemson (2014)
menyebutkan bahwa latihan keseimbangan yang dilakukan terhadap 300
lansia selama enam bulan di Australia menunjukkan adanya pengaruh yang
signifikan terhadap kualitas hidup lansia di panti. Kualitas hidup yang
menurun akibat penuaan dapat ditingkatkan dengan latihan ini. Santos,
Dantas, dan Moreira (2011) mengatakan bahwa latihan yang salah satunya
berisi latihan keseimbangan yang dilakukan oleh 323 lansia perempuan (rerata
69 tahun) dapat meningkatkan kualitas hidup sebesar 9,19% (p= 0,001).
Penelitian yang dilakukan oleh McAuley, et al. (2012) menunjukkan bahwa
latihan keseimbangan yang dikombinasikan dengan fleksibilitas dan toning
atau FlexToBa™ dapat meningkatkan performa fungsional, keterbatasan
fungsi tubuh, kualitas hidup. Taracki, Yeldan, Huseyinsinoglu, Zenginler, dan
Eraksoy (2013) meneliti 110 lansia (yang dianalisis hanya 99 lansia akibat
dropout) dengan sklerosis multipel. Latihan dilakukan selama 12 minggu yang
dipandu oleh fisioterapis. Hasil analisis menunjukkan bahwa latihan
TERIMAKASIH