Anda di halaman 1dari 31

TRAFFIC LIGHT MATRIX

Oleh :
Widhi Setiyani 14/368637/KG/9953
TrafficLight-Matrix (TL-M) merupakan salah satu tabel
model pemeriksaan faktor risiko karies.

Fungsi utamanya adalah sebagai peringatan kepada klinisi


tentang adanya lingkungan yang kondusif bagi karies,
sehingga adanya satu atau lebih faktor risiko ini dapat
dipertimbangkan dalam menentukan diagnosis dan
rencana perawatan.

Variabel- variabel yang digunakan dalam penilaian resiko


karies gigi di Traffic Light Matrix (TL-M) terdiri dari saliva,
plak, diet, penggunaan fluoride, dan faktor lain yang
semua itu tidak terlepas dari peran aktif pasien.
Perilaku dan status penyakit
• Elemen pertama (model Traffic Light) tidak hanya menilai risiko
yang ada, namun juga menilai motivasi pasien dan gaya hidup
pasien.
• Elemen dengan model matrix dirancang sebagai sarana untuk
menilai status penyakit pasien saat ini dan sikap untuk menjaga
kesehatan gigi mereka sendiri.
Penilaian
sumbu vertikal sumbu horizontal
a. Termotivasi: Pasien sadar dan 1. Tidak ada penyakit, tidak ada
memiliki motivasi tinggi dalam pengobatan pada saat ini, belum
menjaga kesehatan gigi dan atau tidak ada restorasi atau bukti
mulut. penyakit masa lalu.
b. Menyadari: Pasien sadar tetapi 2. Perlu perawatan, mungkin ada
masih bergantung pada tim pengobatan yang diperlukan untuk
kesehatan gigi untuk memotivasi alasan fungsional, seperti
dan membantu menjaga restorasi yang rusak, tetapi tidak
kesehatan gigi dan mulut. ada tanda-tanda penyakit aktif.
c. Tidak termotivasi: Motivasi untuk 3. Penyakit aktif, Penyakit aktif jelas
menjaga kesehatan gigi dan mulut terjadi seperti adanya lesi baru
pasien berada pada tingkat atau adanya aktivitas penyakit
terendah serta tidak sadar tentang restorasi disekitarnya
kesehatan gigi dan mulut.
• Model Traffic Light Matrix (TLM) memiliki
19 kriteria yang terdapat dalam 5 kategori.
Kategori tersebut yaitu saliva, biofilm
oral, diet, fluor, dan faktor modifikasi.
Warna merah menunjukkan bahwa pasien
memiliki risiko karies yang tinggi, warna
kuning menunjukkan pasien memiliki risiko
karies sedang dan warna hijau
menunjukkan bahwa risiko karies rendah.
Kategori saliva
Pengukuran saliva
Pemeriksaan dilakukan dengan 2 tahapan
yaitu stimulasi dan tidak distimulasi.
Pengukuran yang dilakukan adalah berupa
pengukuran hidrasi saliva, viskositas, serta
laju aliran saliva.
1)Kemampuan kelenjar ludah minor memproduksi saliva
(hydration)
Cara pemeriksaan:
• Pasien duduk tegak
• Bibir bawah pasien ditarik ke arah luar dan dikeringkan dengan
kasa
• Waktu yang dibutuhkan saliva untuk keluar dari duktus kelenjar
saliva minor dicatat
• Petunjuk interpretasi hasil tes hidrasi pada pemeriksaan saliva
dengan menggunakan Saliva Check Buffer Kit
Waktu yang dibutuhkan bagi titik-
• Merah :
titik saliva untuk muncul  Dehidrasi parah
mengindikasikan keadaan kelenjar  Kerusakan kelenjar saliva
saliva minor: karena radioterapi atau
karena proses patologis
Merah : jika produksi saliva  Ketidakseimbangan
> 60 detik. hormonal
 Efek samping obat
Kuning : jika produksi saliva
30-60 detik.
• Kuning :
Hijau : jika produksi saliva <
 Dehidrasi
30 detik.  Efek samping obat

• Hijau : normal
2) Pengukuran viskositas saliva

Cara kerja:
- Pasien duduk tegak
- Pasien diminta untuk berhenti menelan saliva selama 30 detik
- Kepala pasien dimiringkan ke depan
- Pasien diminta untuk membuka mulut dan keadaan saliva dicatat
- Pasien diminta untuk menyentuhkan ujung lidah ke daerah palatum
- Keadaan mukosa dan saliva pada dasar mulut dicatat
- Web test dilakukan dan hasil dicatat
Saliva yang telah dikumpulkan pada gelas kumur lalu di
miringkan untuk melihat aliran saliva. Adapun penilaian
untuk konsistensi saliva normal, yaitu :

• Merah: konsistensi lengket berbusa, berwarna putih,


kental
• Kuning: konsistensi saliva putih, berbusa, sedikit kental,
jika dialirkan pergerakannya sedikit
• Hijau: konsistensi saliva bening tidak berbusa dan cair
Pengukuran laju aliran saliva
3)
Stimulasi : mengunyah malam (wax)

Non Stimulasi :mengumpulkan saliva di dalam mulut selama 5menit


lalu diludahkan ke dalam gelas aqua dan kemudian
saliva diambil menggunakan spuit injection
Komposisi air liur yang dirangsang tergantung pada laju aliran dan itu
merupakan produksi gabungan dari kedua kelenjar mayor dan minor.
Rata -rata laju alir adalah 1.6 ml/menit. Adapun penilaian untuk aliran
saliva stimulated, yaitu :

• Merah : setelah 5 menit < 3,5ml


• Kuning : setelah 5 menit 3,5 – 5ml
• Hijau : setelah 5 menit > 5ml
4) Melakukan pengukuran pH saliva
Cara kerja:

- Pasien diminta untuk meludah ke dalam kontainer plastik


- Strip pH dicelupkan ke dalam saliva yang telah terkumpul
- Setelah 10 detik, pH diukur berdasarkan aturan pabrik

pH unstimulated saliva merupakan indikator umum keadaan asam


rongga mulut. Umumnya, pH kritis hidroksi apatit adalah 5,5, sehingga
semakin dekat pH unstimulated dengan pH kritis, maka semakin besar
resiko demineralisasi. Adapun penilaian untuk pH saliva, yaitu :

• Merah : pH < 5,8


• Kuning : pH 5,8 – 6,8
• Hijau : pH > 6,8
5)
Cara kerja:
Kapasitas buffer saliva

 Sampel yang digunakan adalah saliva yang dikumpulkan pada tes


kuantitas saliva
 Masing-masing strip test ditetesi oleh saliva
 Kelebihan saliva dibuang dengan memiringkan strip sebesar 90
derajat untuk memastikan volume konstan
 Setelah 5 menit, warna pada strip test dibandingkan dengan
panduan dari pabrik
Masing-masing warna memiliki skor berdasarkan instruksi pabrik.
Seluruh skor dijumlahkan dan diinterpretasikan sesuai:
Kategori plak
Pada ketegori pemeriksaan plak ada 3
komponen yang diperiksa yaitu :

1) Pengukuran pH plak
2) Pemeriksaan aktivitas/kematangan plak
3) Jumlah bakteri S. Mutans
Pengukuran pH plak
1)
pH plak diukur dengan cara mengambil plak menggunakan
dental floss lalu celupkan plak pada pH plak indikator
selama 5 menit kemudian dicocokkan dengan indikator
warna plak pada pH plak indikator.

Adapun penilaian untuk pengukuran pH plak, yaitu :


• Merah : kurang dari 5,5
• Kuning : antara 6,9 dan 5,5
• Hijau : di atas 7
2) Pemeriksaan aktivitas/kematangan plak
Pemeriksaan plak dilakukan dengan mengaplikasikan Triplaque Idgel
pada permukaan gigi. Pasien diinstruksikan untuk berkumur satu kali
dan dilihat perubahan warna yang terjadi. Adapun penilaian
aktifitas/kematangan plak sebagai berikut :
• Hijau : Plak dengan warna merah muda (pink) menandakan
plak masih muda, dan tidak terlalu bersifat asam
• Kuning : Plak warna biru tua menandakan bahwa plak sudah
agak lama
• Merah : Plak dengan warna biru muda memiliki tingkat
keasaman yang tinggi serta plak sudah matang.
Jumlah bakteri S. Mutans
Melakukan wawancara
dengan subjek terkait diet
Konsumsi makanan yang bersifat manis dan asam dalam sehari
seperti permen, minuman bersoda, dan lainnya. Jumlah gula yang
dikonsumsi setiap hari. Adapun penilaian untuk diet, yaitu :
• Merah : gula > 2, asam > 3
• Kuning : gula > 1, asam > 2
• Hijau : gula tidak, asam < 2
Melakukan wawancara dengan subjek
terkait penggunaan fluoride
Seperti penggunaan pasta gigi dan perawatan fluor secara rutin di
dokter gigi. Adapun penilaian untuk fluor, yaitu :
• Merah : pasta gigi dan air minum tidak mengandung fluor
• Kuning : pasta gigi atau air minum mengandung fluor
• Hijau : pasta gigi dan air minum mengandung fluor
Melakukan wawancara dengan subjek terkait
faktor lain yang mampu mempengaruhi
terjadinya karies gigi
• Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan berkaitan dengan
faktor modifikasi adalah :
• 1. Konsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan laju aliran saliva
• 2. Penyakit yang dapat mengakibatkan mulut kering
• 3. Pasien menggunakan protesa lepasan (termasuk alat ortodontik)
• 4. Kerjasama pasien buruk
• 5. Pasien memiliki karies aktif baru-baru ini.
•  
• Adapun penilaian untuk faktor modifikasi, yaitu :
• Merah : YA untuk salah satu pertanyaan di atas.
• Kuning : tidak diterapkan.
• Hijau : TIDAK untuk semua pertanyaan di atas.
Setelah data terkumpul, data tiap variabel disesuaikan
dengan tingkat resikonya pervariabel pada bagian
kesimpulan. Kemudian menentukan tingkatan resiko karies
gigi pada tiap individu berdasarkan pada yang paling
beresiko atau yang paling parah kondisinya dan dengan
begitu didapatkan sebuah kesimpulan mengenai resiko
karies gigi seseorang.
Rekomendasi untuk pasien dengan
tingkat karies tinggi :

• Peningkatan teknik menggosok gigi untuk


kebersihan mulut
• Meningkatkan pH
• Peningkatan asupan kalsium dan fosfat
• Penggunaan flouride
• Penggunaan bahan antibakteri
• Menurunkan frekuensi konsumsi karbohidrat
terfermentasi
Rekomendasi untuk pengguna ortodontik cekat
dengan resiko tingkat karies tinggi :

– Menjaga oral hygiene


– Berkumur dengan Chlorhexidine
– Penggunaan fluoride
– Penggunaan CPP-ACP Casein Phosphopeptides Amorphous
Calcium Phosphate (CPP-ACP)
Casein Phosphopeptides Amorphous Calcium
Phosphate (CPP-ACP)
Peranan CPP pada gigi, yaitu untuk mereduksi karies dengan cara :
• Meningkatkan ion kalsium untuk menghambat fermentasi plak.
• Berikatan dengan molekul perlekatan yang ada pada Streptococcus
mutans lalu merusak penyatuan bakteri tersebut ke plak.
• Menyediakan buffer protein dan fosfat untuk menekan pertumbuhan
bakteri saat terdapat karbohidrat terfermentasi berlebihan (Hasanah
dkk., 2014).
Untuk cara pengaplikasian CPP-ACP dapat dilakukan oleh tenaga
profesional maupun klien sendiri. Untuk aplikasi oleh klien sendiri klien
dapat diajarkan cara aplikasi pasta CPP-ACP. Salah satu produk pasta
CPP-ACP adalah GC Tooth Mousse Plus. Pasta GC Tooth Mousse
Plus diaplikasikan pada seluruh permukaan gigi dengan ujung jari atau
cotton bud. Pasta diaplikasikan langsung pada permukaan gigi dan
biarkan selama 3 menit.
Salah satu contoh Amorphous
Calcium Phosphate (CPP-ACP)
Konsumsi sugar free gum
Mengunyah dapat meningkatkan aliran saliva di
rongga mulut. Jika mengunyah setelah makan,
aliran saliva dapat membantu menetralkan dan
membersihkan asam yang dihasilkan ketika
makanan dipecah. Studi klinis telah membuktikan
bahwa mengunyah permen karet tanpa gula
selama 20 menit setelah makan dapat membantu
mencegah kerusakan gigi.
Perubahan gaya hidup

Gaya hidup merupakan faktor modifikasi yang dapat


mempengaruhi karies gigi. Apaila seseorang suka
mengkonsumsi makanan yang manis dan mengandung
asam dan tidak didukung dengan menjaga kebersihan
rongga mulutnya maka dapat mengakibatkan risiko karies
tinggi. Gaya hidup yang seperti ini harus diubah. Boleh saja
mengkosumsi makanan manis dan mengandung asam,
asal jangan terllu sering dan kebersihan rongga mulutnya
juga harus dijaga.
Terimakasih