Anda di halaman 1dari 23

KASUS PELANGGARAN ETIKA

PROFESI AKUNTAN PADA


LAPORAN
KEUANGAN PT GARUDA
INDONESIA
Oleh Kelompok 2

Dosen Pengampu:
Ibu Novika Rosari, SE, M.Si, Ak, CA
ANGGOTA KELOMPOK 2

ALMER BARIQ PADLI ANANDA PUTRI APRISCA DAFFA PRAMANA PUTRA


RAHMIATI SABELA
(1810313310005) (1810313320053) (1810313320035) (1810313210047)

IKHWANNUL HAKIM NATASYA AJIE PRAMADAN NUR


MAGHFIRA MAULIDIANSYAH
(1810313210019) (1810313220011) (1810313310029)
Dalam menyajikan laporan keuangan manajemen
berpotensi dipengaruhi kepentingan pribadi, sementara
pihak prinsipal yaitu pemilik modal (investor) sebagai
pemakai laporan keuangan sangat berkepentingan untuk
mendapatkan laporan keuangan yang akurat, dapat
dipercaya dan pertanggungjawaban atas dana yang
mereka investasikan. Banyaknya pihak yang
berkepentingan atas laporan tersebut, maka diperlukan
01 adanya pihak ketiga yaitu akuntan publik. Akuntan
publik adalah pihak independen yang dianggap mampu
menjembatani benturan antara kepentingan antara pihak
prinsipal (investor) dengan pihak agen (manajemen), yaitu
sebagai pengelola perusahaan. Dalam hal ini peran
LATAR BELAKANG akuntan publik adalah memberi opini terhadap
kewajaran 2 laporan keuangan yang dibuat manajemen.
MEMILIH Dalam melaksanakan tugasnya auditor harus mampu
menghasilkan opini audit yang berkualitas yang akan
PT GARUDA berguna tidak saja bagi dunia bisnis, tetapi juga
masyarakat luas (Wibowo dan Hilda, 2009 dalam
INDONESIA Wijayani dan Januari, 2011).
LATAR BELAKANG MEMILIH PT GARUDA
INDONESIA

Garuda Indonesia sebagai Perusahaan Go Public melaporkan


kinerja keuangan tahun buku 2018 kepada Bursa Efek
Indonesia. Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero),
Tbk yang berhasil membukukan laba bersih US$809 ribu
pada 2018, berbanding terbalik dari 2017 yang merugi
US$216,58 juta. Kinerja ini terbilang cukup mengejutkan
lantaran pada kuartal III 2018 perusahaan masih merugi
sebesar US$114,08 juta. Sehingga timbulnya polemik antara
pihak-pihak yang bersangkutan dengan Laporan keuangan
Tahunan PT Garuda Indonesia.
Semua berawal dari hasil laporan keuangan PT Garuda
Indonesia untuk tahun buku 2018. Dalam laporan keuangan
tersebut, Garuda Indonesia Group membukukan laba bersih
sebesar US$809,85 ribu atau setara Rp11,33 miliar
(diasumsikan kurs Rp14.000 per US$). Angka ini melonjak
tajam dibanding 2017 yang menderita rugi US$216,5 juta.

Namun laporan keuangan tersebut menimbulkan polemik,


02 lantaran dua komisaris Garuda Indonesia yakni Chairal
Tanjung dan Dony Oskaria (saat ini sudah tidak menjabat),
menganggap laporan keuangan 2018 Garuda Indonesia tidak
sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
KRONOLOGI (PSAK).

POLEMIK LAPORAN Pasalnya, Garuda Indonesia memasukan keuntungan dari PT


Mahata Aero Teknologi yang memiliki utang kepada
KEUANGAN maskapai berpelat merah tersebut. PT Mahata Aero
Teknologi sendiri memiliki utang terkait pemasangan WiFi
PT GARUDA yang belum dibayarkan.

INDONESIA
KRONOLOGI POLEMIK LAPORAN KEUANGAN PT GARUDA
INDONESIA

• Dengan menandatangani kerja sama dengan Garuda,


Mahata mencatatkan utang sebesar US$239 juta kepada
Garuda, dan oleh Garuda dicatatkan dalam Laporan
Keuangan 2018 pada kolom pendapatan.

• Pada tanggal 14 Juni 2019 Kemenkeu telah menyelesaikan


pemeriksaan terhadap KAP Tanubrata Sutanto Fahmi
Bambang dan Rekan (Member of BDO Internasional)
terkait laporan keuangan tahun 2018 milik Garuda.

• Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto menyatakan,


berdasarkan hasil pertemuan dengan pihak KAP
disimpulkan adanya dugaan audit yang tidak sesuai
dengan standar akuntansi. Kementerian Keuangan juga
masih menunggu koordinasi dengan OJK terkait
penetapan sanksi yang bakal dijatuhkan pada KAP
Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan (Member
of BDO Internasional), yang menjadi auditor pada laporan
keuangan Garuda Indonesia tahun 2018.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memutuskan bahwa PT
Garuda Indonesia (Persero), Tbk melakukan kesalahan
terkait kasus penyajian Laporan Keuangan Tahunan per 31
Desember 2018. Pihak OJK yang diwakili oleh Deputi
Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen
Strategis, Anto Prabowo, mengungkapkan bahwa Garuda
Indonesia telah terbukti melanggar:
1. Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal (UU PM)
2. “(1) Laporan keuangan yang disampaikan kepada
03 Bapepam wajib disusun berdasarkan prinsip akuntansi
yang berlaku umum. (2) Tanpa mengurangi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam dapat
menentukan ketentuan akuntansi di bidang Pasar
PELANGGARAN Modal.”
3. Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang
YANG Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten
dan Perusahaan Publik.
DILAKUKAN 4. Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8
tentang Penentuan Apakah Suatu Perjanjian
OLEH Mengandung Sewa.
5. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30
PT GARUDA tentang Sewa.

INDONESIA
Setelah perjalanan panjang, pada tanggal 29 Juni 2019
akhirnya Garuda Indonesia dikenakan sanksi dari berbagai
pihak. Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II, Fakhri
Hilmi, mengatakan setelah berkoordinasi dengan
Kementerian Keuangan Republik Indonesia ,Pusat
Pembinaan Profesi Keuangan, PT Bursa Efek Indonesia, dan
pihak terkait lainnya, OJK memutuskan memberikan
sejumlah sanksi, yaitu:
1. Memberikan Perintah Tertulis kepada PT Garuda
Indonesia (Persero), Tbk untuk memperbaiki dan
menyajikan kembali LKT PT Garuda Indonesia
04 (Persero), Tbk per 31 Desember 2018 serta melakukan
paparan publik (public expose) atas perbaikan dan
penyajian kembali LKT per 31 Desember 2018 dimaksud
SANKSI UNTUK PT paling lambat 14 hari setelah ditetapkannya surat sanksi,
atas pelanggaran Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8
GARUDA Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UU PM), Peraturan
Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang Penyajian dan
INDONESIA DAN Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan
Perusahaan Publik, Interpretasi Standar Akuntansi
PIHAK YANG Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan Apakah Suatu
Perjanjian Mengandung Sewa, dan Pernyataan Standar
TERKAIT Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa.
SANKSI UNTUK PT GARUDA INDONESIA DAN PIHAK
YANG TERKAIT

2. Selain itu juga Perintah Tertulis kepada KAP Tanubrata,


Sutanto, Fahmi, Bambang dan Rekan (Member of BDO
International Limited) untuk melakukan perbaikan
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu atas
pelanggaran Peraturan OJK Nomor 13/POJK.03/2017 jo.
SPAP Standar Pengendalian Mutu (SPM 1) paling lambat
3 (tiga) bulan setelah ditetapkannya surat perintah dari
OJK. Untuk auditor, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga
memberikan sanksi pembekuan izin selama 12 bulan.

3. Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan


Manajemen Strategis, Anto Prabowo mengatakan, OJK
juga mengenakan Sanksi Administratif berupa denda
sebesar Rp 100 juta kepada PT Garuda Indonesia
(Persero), Tbk atas pelanggaran Peraturan OJK Nomor
29/POJK.04/2016 tentang Laporan Tahunan Emiten atau
Perusahaan Publik.
SANKSI UNTUK PT GARUDA INDONESIA DAN PIHAK
YANG TERKAIT

4. Sanksi denda kepada masing-masing anggota Direksi PT


Garuda Indonesia (Persero), Tbk sebesar Rp 100 juta atas
pelanggaran Peraturan Bapepam Nomor VIII.G.11
tentang Tanggung Jawab Direksi atas Laporan Keuangan.

5. Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menjatuhkan sanksi


kepada PT Garuda Indonesia, Tbk (GIAA) atas kasus
klaim laporan keuangan perseroan yang menuai polemik.
Beberapa sanksi yang dijatuhkan antara lain denda
senilai Rp 250 juta dan restatement atau perbaikan
laporan keuangan perusahaan dengan jangka waktu
paling lambat tannggal 26 Juli 2019.
SANKSI UNTUK PT GARUDA INDONESIA DAN PIHAK
YANG TERKAIT

Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Nyoman


Gede Yetna menuturkan, manajemen BEI hingga kini belum
sampai pada keputusan untuk membekukan (suspensi)
saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meski laporan
keuangan perusahaan menuai polemik.
 
“Kami dari Bursa berpendapat belum perlu melakukan
suspensi perdagangan saham Perseroan pada saat ini,”
ujarnya di Jakarta, Jumat (28/6).
 
Nyoman pun melanjutkan, BEI ke depannya akan terus
melihat pergerakan saham Garuda Indonesia untuk
mempertimbangkan tindakan selanjutnya. “Selanjutnya,
Bursa akan senantiasa memantau pergerakan harga saham
dan keterbukaan informasi Perseroan serta melakukan
tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku,” papar dia.
Jadi, menurut pandangan kami mengapa kasus tersebut
terjadi adalah karena akuntan dan beberapa manajer PT
Garuda Indonesia telah melakukan pelanggaran terhadap
laporan keuangan yang dimana mereka melebihkan
pendapatannya padahal hal tersebut tidak sesuai dengan
kebenarannya dan bahkan melanggar standar akuntansi.
Dengan menandatangani kerja sama dengan Garuda, Mahata
mencatatkan utang sebesar US$239 juta kepada PT Garuda
Indonesia, namun oleh PT Garuda Indonesia sendiri malah
05 dicatatkan dalam Laporan Keuangan 2018 pada kolom
pendapatan.
 
Hal yang mendasari para oknum melakukan hal tersebut
adalah karena demi mendapatkan keuntungan, soalnya jika
HASIL ANALISIS pendapatan perusahaan ditingkatkan maka akan banyak
orang-orang yang ingin menanamkan sahamnya di PT
Garuda Indonesia dimana semakin banyak orang
menanamkan saham maka semakin banyak pula modal yang
akan di dapat sehingga hal tersebut akan menguntungkan
bagi pihak perusahaan.
HASIL ANALISIS
Sedangkan, akuntan yang melakukan pembuatan dan
pengauditan laporan keuangan pada PT Garuda Indonesia
tersebut telah melanggar kode etik profesinya sebagai
akuntan dimana dalam kode etik akuntan sendiri, membuat
laporan keuangan haruslah sesuai dengan standar akuntansi
yang berlaku sedangkan akuntan tersebut malah melanggar
kode etik tersebut.
 
Dalam prinsip-prinsip kode etik, akuntan tersebut telah
melanggar beberapa prinsip kode etik diantaranya yaitu:
1. Tanggung Jawab Profesi
Pada permasalahan yang terjadi berkaitan dengan kasus
laporan keuangan pada PT Garuda Indonesia, akuntan
publik tersebut tidak melakukan tanggung jawabnya
secara profesional. Hal ini dikarenakan akuntan publik
tersebut tidak menjalankan tugas profesinya dengan baik
yang berkaitan dalam hal pembuatan laporan keuangan
dengan melebihkan pendapatannya dan terjadi
ketidaksesuaian dalam pencatatan laporan keuangan
yang tidak sesuai dengan standar akuntansi yang
berlaku.
HASIL ANALISIS

2. Kepentingan Publik
Seorang akuntan hendaknya harus secara terus menerus
menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai
profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus ini, pihak
akuntan telah mengorbankan kepentingan publik demi
kepentingan mereka semata. Akuntan tersebut tidak
menghormati kepercayaan publik dikarenakan
melakukan kesalahan dalam laporan keuangan pada PT
Garuda Indonesia.
 
3. Objektivitas
Dalam kasus ini, akuntan tersebut tidak menjalankan
prinsip objektivitas dengan cara melakukan tindak
ketidakjujuran secara intelektual dengan melakukan
kecurangan dalam pembuatan laporan keuangan PT
Garuda Indonesia. Serta melakukan kecurangan untuk
kepentingan agar memperoleh untung yang lebih banyak.
HASIL ANALISIS
4. Perilaku Profesional
Dalam kasus ini, akuntan tersebut berperilaku tidak baik dengan
melakukan pembuatan laporan keuangan palsu sehingga
menyebabkan reputasi profesinya buruk dan dapat mendiskreditkan
profesinya. Pihak yang terlibat dalam penyusunan laporan
keuangan PT Garuda Indonesia berperilaku tidak profesional
sehingga menimbulkan reputasi perusahaan yang buruk. Bukan
hanya itu saja, citra kinerja profesionalisme dari seorang akuntan
publik juga dapat merusak reputasi mereka selaku akuntan serta
dapat merugikan bagi pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini yang
menjadi perkara tindak pidana korupsi. Setiap anggota harus
berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.
 
5. Integritas
Dalam kasus ini, akuntan tidak dapat mempertahankan
integritasnya sehingga terjadi benturan kepentingan (conflict of
interest). Kepentingan yang dimaksud adalah kepentingan publik
dan kepentingan pribadi dari akuntan publik itu sendiri.
HASIL ANALISIS

6. Kompetensi dan Kehati-Hatian Profesional


Dalam kasus ini, akuntan tersebut tidak dapat melaksanakan
pekerjaannya secara profesional dan tidak berhati-hati dalam
melakukan pekerjaannya sehingga terjadilah kecurangan dalam
pembuatan laporan keuangan PT Garuda Indonesia.
 
7. Standar Teknis
Dalam kasus ini, akuntan tersebut tidak menjalankan etika/tugasnya
sesuai pada etika profesi yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia-Komparatemen Akuntan Publik (IAI-KAP), diantaranya
etika tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Independensi, integritas, dan obyektivitas
b. Standar umum dan prinsip akuntansi
c. Tanggung jawab kepada klien
d. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
e. Tanggung jawab dan praktik lain
HASIL ANALISIS
Lalu, teori etika yang pas terhadap kasus ini adalah teori
etika yang berkaitan dengan egoisme dimana seseorang
melakukan tindakan yang merugikan banyak pihak, sesuai
dengan kasus ini dimana akuntan dan beberapa manajer PT
Garuda Indonesia melakukan kecurangan dan mengedit
laporan keuangannya agar menguntungkan mereka dan
merugikan sebagian besar pihak lainnya.
 
Dan dampak yang ditimbulkan dari kasus tersebut dari segi
investor atau pemegang saham itu sangat merugikan, yang
dimana PT Garuda Indonesia telah menipu para investor
bahwa pada tahun 2018 laporan keuangannya mengalami
keuntungan yang sangat pesat, hal ini menyebabkan
beberapa investor jadi enggan menanamkan sahamnya di PT
Garuda Indonesia.
 
Untuk dari segi usahanya menurut kami tidak terjadi
dampak yang signifikan seperti tidak terjadi penurunan
pengguna jasa terhadap PT Garuda Indonesia, semua
berjalan seperti biasa saja walaupun telah mengalami kasus
tersebut.
Kinerja keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) menuai
polemik karena adanya pencatatan transaksi kerja sama
penyediaan layanan konektivitas (WiFi) dalam penerbangan
dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) dalam pos
pendapatan yang seharusnya masih menjadi piutang.
 
Dalam kasus ini PT Garuda Indonesia telah melanggar:
1. Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang

06 Pasar Modal (UU PM),


2. Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang
Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten
dan Perusahaan Publik,
3. Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8
tentang Penentuan Apakah Suatu Perjanjian
KESIMPULAN Mengandung Sewa, dan
4. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30
tentang Sewa.

Dan diberikan sanksi sesuai dengan UU yang dilanggar.


1. Seharusnya untuk menghindari kerancuan, PT Garuda
Indonesia (Persero), Tbk (GIAA) sebagai perusahaan
tercatat di pasar modal seharusnya menjelaskan ke publik
07 nature transaksi yang terjadi serta poin poinnya sudah
eksis atau belum. Sehingga tidak menimbulkan
pertanyaan bagi publik bahwa perusahaan di kuartal III-
2018 yang masih merugi tiba-tiba mengantongi laba di
tiga bulan terakhir apalagi sudah disahkan dalam RUPS.
SARAN
SARAN
2. Pihak KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang dan Rekan (Member of
BDO Internasional Limited) seharusnya melakukan crosscheck terhadap
piutang PT Garuda Indonesia (Persero), Tbk (GIAA) atas Mahata sebesar
US$239,94 juta dengan cara:
a. Melakukan pengecekan histori dokumen penjualan dan penerimaan
uang sesuai dengan classes of transaction, account, business function
and related documents and records for the sales and collection cycle,
diantaranya:
1) Dokumen Penjualan:
a) Customer order
b) Sales order
c) Shipping document
d) Sales invoice
e) Sales transaction file
f) Sales journal or listing
g) Account receivable master file
h) Account receivable trial balance
i) Monthly statement
2) Dokumen Penerimaan Uang:
a) Remittance advice
b) Prelisting of cash receipts
c) Cash receipt transaction file
d) Cash receipt journal or listing
SARAN
Melakukan pengujian control dan pengujian substantive
terkait dengan transaksi penjualan dan penerimaan uang,
dengan cara sebagai berikut:
SARAN

Transaction related audit objective diantaranya terkait


dengan:
1) Occurrence
2) Completeness
3) Accuracy
4) Posting and summarization
5) Classification
6) Timing
TERIMA KASIH!

Anda mungkin juga menyukai